Rintik hujan sore itu tidak menghalangi Dalijo untuk ke
tegalan. Dia mesti ngarit, demi makan ternak-ternaknya, dua ekor sapid an empat
kambing. Hujan bagi Dalijo adalah sahabat, sebagaimana panas, karena bagi
Dalijo, panas dan hujan itu adalah kesatuan dan mereka selalu hadir dalam
keberbedaan demi saling melengkapi. Jika terjadi hujan da nada pansa sinar
matahari, sejatinya mereka sedang bercinta, sedang melepas rindu.
Jalur Istimewa
“Ngarit Dal, Tanya Sarpin, lelaki setengah baya, tetangga
dusun Dalijo. Dalijo di dusun selatan kali dan Sarpin di seberang utara. Meski
demikian masyarakat dua dusun di lembah salah satu sudut pegunungan seribu itu
hidup dalam kerukunan luar biasa.
“Iya kang, lha sapi dan wedusku butuh makan. Kasihan kalau
tidak diberi makan, wong kita saja klisikan
kalau lapar..” Jawab Dalijo sederhana. Lalu mereka meneruskan perjalanan
menuju tempat mencari rumput atau ngarit mereka. Hujan nampaknya sangat
mencintai bumi, sehingga kemudian tertumpahkan luar biasa. Dalijo dan Sarpin
akhirnya terpaksa berteduh di sebuah gubug milik pemilik lading yang namanya
Sanakrama.
“Pie pilkada njakarta Dal menurutmu sing lagi wae bar
mertapa?”, Tanya Sarpin mengawali percakapan di dalam gubug itu.
“Wah, biaa saja kang. Kebenaran dan kejujuran selalu akan
mendapatkan lawan sepadan. Bagiku, Ahok sedang dalam jalan yang benar dan
baik,sehingga dimusuhi banyak orang, banyak pihak. Dan mala mini, malam
terkahir sebelum pencoblosan, ada tokoh lama, dari keluarga penguasa lama,
sedang mengumpulkan banyak orang demi memenangkan paslon 3 dengan segala cara. Mata
batinku mengatakan bahwa kubu paslon 3 sedang panic, mereka sedang menyusun
strategi kotor demi kemenangannya dan saat mereka berambisi, mereka lupa diri
bahwa dia manusia,bukan hewan”, Jawab Dalijo.
“Tapi kalau Ahok kalah repot Dal?”, Lanjut Sarpin.
“Enggak juga kang. Ahok sangat dewasa dan pendukungnya
juga dewasa. Bagi Ahok, menang berarti sedang dipakai Tuhan melayani masyarakat
namun bila kalah, maka itu waktu untuk anak dan istri, sehingga Ahok santai,
sangat santai” Jawab Dalijo sembari menghisap rokok andalannya.
“Lha kalau yang kalah Anies pie Dal?”, Lanjut Sarpin.
“Haha..akan ada sedikit kerjaan untuk banyak pihak kang. Aparat
penegak hukum akan sibuk menghadang demo yang sudah dirancang, Komisi Yudisial
akan deserbu dan mahkamah konstitusi akan dapat laporan” Jawab Dalijo santai.
“Wah kok medeni Dal?”, Sergah Sarpin.
“Biasa saja mas, paling juga sebentar, habis itu reda dan
kembali ke habitatnya sendiri-sendiri. Mereka akan malu dengan apa yang mereka
lakukan selama ini” Jawab Dalijo.
“Pokoknya tungglah mas, Ajok lebih dewasa dari yang
diberitakan selama ini. Dian akan siap menerima semua rsiko,maka ayo kita
buktikan”, Jawab dan tantang Dalijo.
Hujan sudah reda dan dua orang itu saling bersiap
melanjutkan karya, Ngarrit. Dan mereka sepakat untuk mendoakan kebaikan pilkada
Jakarta, sembari menunggu nubuatan Dalijo..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar