Tampilkan postingan dengan label Narasi Lain Sisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi Lain Sisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Desember 2021

PADA SEBUAH MALAM

 



Udara terasa dingin semenjak sore, gerimis semenjak pagi. Tidak deras, karena gerimis, namun karena  lamanya maka situasi menjadi terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu kamar tengah menyala terang, di kamar-kamar semua rumah juga sudah menyala. Puji Syukur, semua kamar penginapanku penuh, dan itu menjadikanku lebih berbahagia.  Kebijakan Kaisar untuk mengadakan sensus adalah anugerah bagi kami, para pengusaha rumah penginapan. Tiga belas kamar penuh dengan tamu, dan itu menjadikanku tersenyum lebih leluasa, itu juga yang kulihat di raut istri dan anak-anakku. Ada harapan yang mulai merekah, ada senyum yang mengembang.

Tidak ada satupun penghuni kamar penginapanku kukenal, meskipun leluhur mereka berasal dari kampung kecil ini, namun mereka semua ramah-ramah. Nampaknya mereka kaum beragama, itu kesimpulanku dari yang kulihat dan kurasakan. Kulihat bahasa-bahasa mereka kukenal bahasa relegius, dan itu menjadikan aku sebagai pemilik penginapan ini jauh lebih tenag, karena , pikirku, orang relegius pastilah baik hati. Sempat ada yang mengajakku bercakap, Tanya beberapa hal dan kujawab semampuku, semua berjalan dengan ramah. Aku merasa menemukan saudara-saudara sesama manusia yang baru.

Malam semakin beringsut, bergerak dengan pasti dalam ketenangannya. Udara dingin semakin terasa menyusup ke raga, bahkan terasa sampai ke tulang-tulang di dalam tubuh yang menjelang renta ini. Tidak kutahu waktu saat itu, namun nampaknya sudah jauh mendekati puncak malam. Kuhabiskan cerutu warisan leluhurku, juga kutuang sisa-sisa anggur dari hasil panen kebunku sendiri. Kuminum demi membantuku mengatasi dinginnya malam. Saat aku bergerak hendak menutup gerbang penginapanku, karena kurasa malam semakin larut dan juga karena kamar penginapanku sudah penuh, dari jauh kulihat bayangan mendekat.

Aku tidak tahu siapa yang berjalan itu, dan bisa kubayangkan betapa berat meniti malam dalam dingin seperti ini. Aku yakin, dia pendatang yang juga hendak mengadakan sensus. Akupun juga yakin, jika desa ini tujuan mereka, pastilah ada garis kerabat di desa ini. Aku memutuskan menunggu mereka mendekat, siapa tahu mereka membutuhkan bantuanku. Suara kaki keledai letih merintih pile dalam pelukan dinginnya malam. Semakin mendekat, semakin deat hingga aku mulai bisa mengidentifikasi mereka, secara jumlah. Ada dua orang, dan satu bayangan lain, yaitu keledai mereka. Temaram lampu minyak yang ada di pinggir jalan membuat aku mampu melihat  secara lebih jelas, siapa mereka. Dua orang, laki-laki muda dan seorang perempuan.  Dan saat semakin mendekat, kutahu yang perempuan sedang mengandung.  Ya Tuhan, betapa berat perjalanan mereka.

“Selamat malam Pak, apakah di penginapan bapak masih tersisa kamar? Saya sudah terlalu letih Pak, semua penginapan penuh dan sudah tutup. Ini istri saya yang sedang hamil tua, nampaknya sudah waktunya melahirkan” Suara laki-laki yang datang mendekat. Aku terkesiap, nampak wajah mereka ppucat, seperti menahan lehitu yang tiada terkira. Bahkan, keledainyapun kulihat sangat kelelahan. Beberapa detik kemudian, aku tersadar dan menjawab.

“Mari masuk dulu kisanak, soal kamar nanti bisa kita bicarakan” Jawabku polos, demi ikut merasakan derita mereka. Lalu aku mengajak mereka masuk, setelah terlebih dahulu menunggu si laki-laki menambatkan keledainya di tempat penambatan yang juga sudah penuh. Lalu setelah laki-laki itu usai menambatkan keledainya, kembali ke depan dan bersamaku masuk ke ruangan depan, yang terbiasa untuk proses administrasi. Kulihat perempuan muda yang sedang hamil tua itu diam, seolah menahan rasa sakit karena hendak melahirkan. Aku bisa ikut merasakan rasa itu. Rintih yang tertahan dan juga tangan kanan yang menutup mulut, tidak bisa menyembunyikan getir rasa di perempuan itu.

“Maaf pak, sudah semua penginapan di desa ini saya datangi, namun semuanya penuh. Hanya bapak yang mau menerima kami masuk” Ungkap Lelaki itu sembari mengatur nafasnya yang terengah, menandakan letih tak terkira. Aku tertegun namun maklum dengan keadaan yang terjadi. Perintah Kaisar memang wajib dipatuhi dan itu menjadikan semua orang berbondong mendaftarkan diri untuk sensus ini. Penginapankupun sangat penuh, aku sendiri hanya berjaga di ruangan ini, sehingga tidak mungkin jika ada proses persalinan.

“Sebenere sama Pak, penginapan saya juga penuh. Tetapi akan saya akan coba menaya yang sedang menginap di masing-masing kamar” Jawabku akan mencoba bertanya kepada para penyewa kamar yang sudah masuk ke kamar, karena memang letih dan hak mereka untuk menempati kamarnya, karena mereka sudah membayar sesuai harga yang aku patok. Kemudian aku mencoba mendekati kamar satu persatu, akan kucoba menanyai mereka, semoga ada yang  mengiklaskan kamarnya ditempati ibu muda yang semakin menahan sakit itu.

“Selamat malam, bolehkan saya bicara barang beberapa saat?” Sambil kuketok pintu sebuah kamar. Aku menungga bebrapa saat, namun tidak dibukakan, mungkin sudah terlelap. Aku bergerak ke kamar yang lain, dan seperti kamar sebelumnya, aku mengetok pintu dan menanyai. Namun sampai pintu kamar ke empat, semua diam, tidak ada yang merespon. Dan aku maklum, mereka semua letih dan punya hak menolak pintaku. Aku menlanjutkan ke kamar berikutnya, dan setelah aku ketok, pintu dibuka. Nampak lelaki yang menghuni kamar itu menampilkan wajah agak marah.

“Ada apa mengganggu istirahat kami? Apakah ada kekurangan bayarannya ?” Sengol penghuni kamar itu membuka percakapan. Aku agak rishi, berat untuk bernegosiasi dengan orang yang seperti ini, namun tetap aku memberanikan diri.

“Maaf kisanak, ini ada keluarga, seorang bapak dan istrinya yang sedang hamil tua dan hendak melahirkan. Penginapan saya sudah penuh semua bolehkan saya meminta ses…” Belum sempat aku merampungkan kalimatku, laki-laki itu menutup pintunya sembari menajwab kaku.

“Aku tidak ada urusan dengan  siapapun. Kalau mau melahirkan dan kehabisan kamr, silakan resiko ditanggung sendiri!” Jawab penghuni kamar itu. Aku tertegun, setahuku orang tampilannya sangat agamis,sangat relegius, namun sikapnya itu…Akhh. Aku mencoba ke kamar-kamar yang lain, sembari terus berharap ada yang mau dan iklas berbagi dengan ibu yang melahirkan itu. Namun sampai kamar ke delapan semua sia-sia. Jangankan dibukakan, dijawab saja tidak. Aku semakin cemas, kudengar lirih rintih perih perempuan itu. Dalam letih karena perjalanan panjangnya, dia menawah rasak sakit kodrati seorang perempuan dan dalam situasi seperti ini, tidak ada ora yang mau memberikan hatinya, termasuk akukah? Akhirnya aku sampai di kamar paling ujung, dua kamar sebelum kamar terakhir, karena kamar terakhir ada di lokasi berbeda dengan ramah utama, lokasinya dekat kandang ternakku.

“Selamat malam, maaf mengganggu. Bolehkah saya bicara sesaat saja?” Tanyaku sopan sembari mengetok pintu, karena kudengar masih ada suara-suara dari kamar itu. Diam, kemudian kudengar suara membuka kancing pintu, dan seorang perempuan yang muncul, wajahnya ketus dan lalu berbicara.

“Saudara itu kurang kerjan ya? Ini kamar sudah aku pesan, aku bayar lunas. Ada apa masih mengganggu di saat malam seperti ini?” Tanyanya sangat ketus.

“Maaf ibu, kalau berkenan, bisakah menitipkan seorang ibu yang sudah mendekati saat persalinan?Dia baru saja datang dan nampak sangat kelehahan. Hampir semua kamar sudah saya ketok namun tidak ada yang berkenan. Semoga ibu berkenan..”Jawabku ramah, mencoba mengusik nurani perempuan itu.

“Enak sajak. Ini saya capek, saya juga sudah membayar lunas dan kami tidak kenal dengan orang yang bapak maksut. Ngapain merepotkan diri. Dulu dia menikah hingga hamil kan enak, sekarang biar dirasakan sendiri jika merasakan sakit. Dia bukan siapa-siapa kami”. Semprot perempuan itu. Kembali aku tertegun, karena aku juga ingat, dia juga kulihat sangat relegius, namun nampaknya nurani atay hatinya tidak serelegius penampilannya. Miris. Benar bahwa perempuan yang sedang menahan perih itu bukan siapa-siapanya, namun kan sesama manusia dan ciptaan Tuhan Juga? Ya Tuhan.. Aku tertegun, kamar terakhir itupun nampaknya akan sama saja, tidak ada hasil.

Dingin malam mulai membuat raga tuaku menggigil. Namun nurani manusiaku berontak, bergerak mencari pertolongan untuk si ibu muda itu. Mungkinkah tempat makanan domba-dombaku bisa untuk persalinannya? Mendandak terbesit pemikiranku. Aku tidak mau memberikan ruang tamu itu demi menjada proses persalinan, dan mungkin lebih baik aku tata palungan tempat makan dombaku beserta ruangan dombaku untuk persalinan dan palungan untuk bayinya, kelak. Aku bergegas menuju ruang belakang, ruangan domba-dombaku berada. Aku tidak berbicara dengan ibu dan bapak itu, namun saat aku melintas di dekat mereka, kulirik lelaki itu mengelus tengkuk istrinya dan kudengar lirih perempuan itu tetap merintih. Kau sampai di kandang domba, meski sempat beberapa saat gaduh, namun aku tak peduli, kubersihkan semuanya. Dingin lenyap karena aku justru mengeluarkan keringat. Beberapa saat kemudian aku usai membersihkan kandang ini, menjadi tidak lagi baud an kotor . Kemudian aku kembali menuju ruangan di mana si ibu  yang hendak bersalin dan suaminya berada.

“Kisanak, semua kamar sudah penuh dan tidak ada yang mau berbagi. Sebelumnya maaf, saya tinggal punya sebuah ruangan, namun jujur saja itu sangat tidak layak untuk ki sanak berdua. Ruangan itu adalah kandang domba-domba kami, tetapi sudah saya bersihkan semampu saya. Kalau berkenan mari saya antarkan. Ini selimut dan sarung saya, ini alas juga saya bawa untuk ibu..” Ungkapku terbata karena menahan gejolak gundah gulana. Kulihat lelaki itu mengangguk, tersenyum dan dengan suara berat dan lembab, menjawab.

“Sungguh terimah kasih pak, sudah mau peduli dengan kami. Bagi kami yang penting ada tempat berteduh dan terhadang dari pandangan orang serta terhalang dari hempasan udara dingin ini. Kami mau di ruangan itu pak” Jawab lelaki itu sembari memapah istrinya yang semakin menahan rasa sakit. Aku berjalan di depan dan sesampai di ruangan itu, mereka masuk sembari berucap terimakasih yang tiada henti-hentinya. Setelah mereka masuk, bergegas aku menuju rumah simbah tetangga sebelah yang adalah dhukun beranak. Beberapa saat kemudian simbah kuantar ke kandang domba-dombaku yang sudah kusulap menjadi ruangan bersalin. Aku kemudian bergegas kembali ke tempatku semua, tiada kuat aku mendengar rintih sakit persalinan itu.

Udara semakin dingin, keringatku mulai sirna tertelan dinginnya malam. Suara burung hutan nyaring nun di sana, di sekitaran hutan.Seekor kelelawar hinggap di ujung ranting dan berhasil mengambil buah yang sudah masak. Aku melamun.

“Sedari kemarin tamu-tamuku datang. Mereka dari berbagai daerah perantauan. Mereka orang-orang berada, juga nampak sangat relegius. Pakaiannya, ucapannya, aksesorisnya, sungguh sangat agamis. Namun ketika ada sesama yang membutuhkan, bahkan sangat membutuhkan dengan nyawa sebagai taruhannya, mereka menutup pintu hidup mereka. Mereka merasa bukan urusannya, buka kerabatnya, bukan sesuatu yang mesti dipikirkannya. Sungguh ironis! Dan aku juga hanya mampu memberikan kandang domba-dombaku untuk perempuan itu, juga aku terima biaya kamar ini seperti kamar-kamar yang lain. Ya Tuhan, betapa bejatnya aku ini. Sebenernya aku bisa mengubah kamar tamu itu menjadi kamar yang cocok untuk persalinan, namun aku tidak iklas,aku tidak mau di kemudian hari akan dikomplain para pelanggan penginapanku.” Batinku semakin bergumul.

Dari ajaran kitab suci, aku tahu apa itu berbuat baik. Juga dari kitab suciku, aku paham hokum agama, namun aku masih  berat untuk melakukannya. Aku melamun dan lamunanku pecah ketika terdengar tangisan bayi menggelegar memecah sunyi dan dingginya malam. Aku ikut senang dengan tangisan bayi itu, namun rasa Maluku menjadikan aku enggan mendekat ke kandang domba itu, Aku malu, sangat malu.

Tetiba ada suara masuk ke dalam  getaran telingaku.Sangat jelas, namun aku tidak tahu suara siapa gerangan itu. “Bayi yang baru saja lahir di kandang dombamu itulah yang akan menyelamatkanmu dari hukuman dosa!” Sangat jelas dan kemudian aku terjaga. Suara tangisan bayi itu makin nyaring dan sebuah pintu kamar terbuka.

“Penginapanmu juga rumah bersalin ya? Berisik tahu! Mengganggu tidurku dan istriku!” Suara seorang lalaki yang juga selalu berpenampilan agamis. Aku diam, tak merespon ujaran lelaki itu, kamudian dia menutup pintu kamarnya. Kembali senyap. Masih kudengar tangisan bayi, dan di gendang telingaku terasa seperti nyanyian sugawi. Aku kembali terdiam, belum sampai ke ruangan yang aslinya kandang domba itu. Aku kembali termenung dan tiba-tiba suara itu datang kembali.

“Terimalah dia jauh lebih baik di kemudian hari. Jangan hanya memandang kehinaan, karena dalam kehinaanlah aku hadir.Aku tidak hadir dalam kemewaha, tidak hadir dalam gebyar nan gembira. Aku hadir dalam kesederhanaan. Jangan gelisah, upayamu membersihkan kandang itu adalah hidupmu sendiri, yang berniat membersihkan sudut kecil ruangan hatimu untuk menerimaKU” AKu tertegun. Ampuni aku Tuhan.

Dalam permenunganku kemudian berharap, agar kelak di kemudian hari, mereka yang percaya akan Bayi itu tidak melupakanNya. Jangan sampai peringatan akan lahirNya tenggelam oleh samudera ambisi pribadi yang terkadang menjadi lupa mengampuni. Aku ke dapur, aku hendak merebus air, semoga bisa berguna untuk ibu dan bayi yang baru terlahir itu.

 

Tuntang, Ujung Desember 2021

 

 

Selasa, 22 September 2020

ANGKER

 

Selasa Legi 22 September 2020

BENINGE EMBUN ESUK



Purwaning Dumadi 28 : 10-17

Jabur 106 :1-12

Lukas 8 :16-18

Bareng Yakub tangi saka anggone turu, banjur ngucap: “Satemene Sang Yehuwah ana ing panggonan kene, aku ora ngreti.” Yakub wedi lan ngucap: “Saiba angkere panggonan iki, iki ora liya padalemane Gusti Allah lan iki gapurane swarga.”

Purwaning Dumadi 28:16-17

 

Nalika krungu tembung ANGKER, ora sithik wong sing njur mrinding, kuwi amarga wedi. Sanadyan durung nate ngalami apa-apa neng papan kang kinaranan ANGKER,ananging perbawane tembung ANGKER kuwi jian pol temenan. Lha jan-jan’e apa ta tegese tembung ANGKER kuwi? Tembung ANGKER kuwi tegese yakuwi kahanan kang ora lumrah, dene ora lumrahe kuwi isa bab sing marakne seneng lan uga marakne wedi, kuwi sejatine artine tembung ANGKER. Ananging merga kahanan, tembung sing sejatine netral kuwi njur dadi mung nduweni arti kang sansaya ciut, kuwi ya merga pokale menungsa. Dadi dudutane, tembung ANGKER kuwi ora kudu marakne wedi,  merga isa wae kuwi kahanan kang nggumunake, mula bubar maca tulisan BENINGE EMBUN ESUK iki, ora usah wedi liwat cedak kuburan, cedak danyangan lan cedak papan pangibadah, santai wae ya..

 

Neng Kitab Suci ana crita bab papan dalah kahanan sing diarani ANGKER, yakuwi crita nalika rama Yakub nembe tindakan. Nalika kuwi nembe kesel, njur nggolek papan kanggo ngaso. Amarga nembe mlaku, mbuh arep ngapeli Lea po Rakhel, aku dewe durung dong..hehe..mulane nalika kesele ngeram ya njur ngaso lan turu ing sadengah papan, merga wektu kuwi durung isa pesen hotel liwat aplikasi internet..hehe. Lha nalika ngaso njur turu kuwi rama Yakub ngimpi. Dene ngimpine jian jos temenan, ana andha dawa utawa dhuwure ngeram, sundul langit. Lan lumatar andha mau Gusti Allah wira-wiri munggah mudun nemoni dewekne. Bareng tangi njur sadhar lan rumangsa yen papan kang dinggo turu kuwi ANGKER, amarga kuwi manut penemune rama Yakub omahe Gusti Allah. Mulane, sakwise kuwi, rama Yakub njur ngawe tanda yen ing papan kono kuwi jan-jane omahe Gusti Allah, mula kudu diurmati, ora sembrana!

 

Saka crita ing ndhuwur isa dipethik pasinaon, yen sejatine kabeh papan lan kahanan kuwi omahe Gusti lan ing kono Gusti kersa dipethuki sapa wae sing gelem methuki. Eling, Gusti kersa dipethuki, merga jagad iki pancen omahe Gusti! Gusti kersa dipethuki neng ngendi wae lan kapan wae, mung menungsa wae sing wegah methuki, apa meneh menehi tenger yen kabeh papan ing njagad mokamat iki omahe Gusti. Menawa eling utawa sadhar yen kabeh papan  kuwi ANGKER, merga ing kono Gusti anal an kabeh kahanan kuwi ya ANGKER, merga Gusti pirsa, kudune menungsa kuwi ora tumindak sing ora migunani, didelikna kaya ngapa Gusti pirsa, wong kabeh papan kuwi ANGKER, merga kabeh omahe Gusti. Ditutupana kaya ngapa, Gusti pirsa, merga kabeh kahanan kuwi ANGKER,amarga dipirsani dening Gusti. Jal piye yen wis ngene iki, kabeh jebule ANGKER Luuurrrr!!

 

“ Jo,ndek minggu wingi apa diumumke neng warta greja?” Takone Lik Ndoleng neng Dalijo.

“Iyo, diumumke..”Dalijo semaur sinambi milihi Bibit Porang sing meh ditandur merga udane sajake wis muntub-muntub.

“Disebutake jumlahe pira Jo?” Takone Lik Ndoleng sajak sansaya penasaran.

“Weh, lha iki baba pa sing diumumake ta Lik?” Dalijo leren anggone makarya, njur lungguh neng Sor Wit Gedang, njupuk MLDne lan disumet, gerr..

“Hmm..anu..kui lho Jo, aku pisungsung khusus. Ora okeh sih, tapi lumayan, “ Semaure Lik Ndoleng.

“Rasah kuatir Lik, ora’o diumumake wae Gusti pirsa, merga jarene Mbah’e, kabeh papan lankahanan kuwi dipirsani Gusti, utawa isa diarani ANGKER..” Wangsulane Dalijo, Lan sakdurunge mbacutake rembug, Iin njedul nggawa kopi lan kimpul bakar, lan kaya padatan, muni sakrasane.

“Mulane aja sempulitan karo Yu Wasti wae Lik, sanadyan kang Markun ora ngerti tur ya sajake mung mesam-mesem wae, Gusti ngerti lho. Awas kesiku Gusti nembe sambat! “Unine Iin, lan Lik Ndoleng langsung abang ireng, kukur-kukur sirahe sing rambute mung kari limang las, mlunthun kae!!

“Jindulll…kenek neh!!” Batine Lik Ndoleng!

 

Mbah’e..

 

Selasa, 23 Juli 2019

MEMAKNAI (SEBUAH) PERPISAHAN




Hukum semesta ini lengkap, tidak ada yang timpang, meski terkadang ada anomali, di sana-sini. Namun, meski ada anomali, kesempurnaan hukum semesta itu adalah pasti. Ada gelap,ada terang, ada jauh ada dekat,ada sedikit ada banyak dan juga pada akhirnya, ada pertemuan untuk kemudian sempurna dengan hadirnya perpisahan.

Perpisahan seolah selalu diposisikan dalam posisi yang salah, manakala dalam rentang waktu yang telah terlampaui, ada sebongkah sukacita dalam kebersamaan, meski perpisahan bisa menjadi siraman air kehidupan manakala kebersamaan laksana penjara atau neraka (saya sendiripun belum tahu keberadaan neraka ding..hehe). Namun demikian, Perpisahan tetaplah sebuah keadaan yang bisa memompa air mata hingga luber taktersisa.
Dalam sebuah cerita Alkitab, yang dinarasikan dengan sangat elok oleh Lukas, Ada kisah perpisahan Rasul Paulus dengan sebuah jemaat (nampaknya Miletus), yang dilaporkan oleh Lukas di Kisah Rasul 20:36-21:14. Di sana ada doa dan kemudian tangisan, artinya memang perpisahan (hampir) selalau menghadirkan duka dan kesedihan. Jemaat nampaknya tidak rela Paulus pergi, tentunya dengan harapan-harapan yang menurut mereka BENAR. Adapun tentang benar inipun bisa jadi hanya menurut mereka, karena tidak selalu benar itu bersifat universal.

Kedukaan jemaat yang hendak ditinggalkan Paulus sangat beralasan, karena (menurut Paulus) setelah itu mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Mungkin kalau dilihat dari pespektif  saat ini, apa yang diucapkan oleh Paulus terasa Lebay dan juga tangisan jemaat yang hendak ditinggalkan Paulus juga terasa Lebay. Namun benarkah ada nuansa lebay dalam hal ini?

Dari sudut Paulus, mengapa ia sampai mengatakan “Bahwa ini adalah perpisahan dan tidak akan mungkin berjumpa kembali?”. Ini sangat rasional, karena medan serta jarak dan juga tugas Paulus. Tidak mungkinlah Paulus harus “ngrumati” sebuah jemaat dengan totalitas waktu dan fisik sempurna, karena memang ada banyak tugas yang lain yang mesti dikerjakan. Artinya, bagi Paulus, perpisahan dan kata-kata “tidak akan mungkin berjumpa kembali” adalah wajar.

Kemudian dari sudut Jemaat yang akan ditinggalkan, mengapa mereka nampak lebay?Lukas melaporkan..” Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia.” . Menangis dengan tersedu-sedu, artinya menangis dengan amat sangat. Menangis dengan tersedu-sedu bisa terjadi karena rasa duka dan sedih yang sangat mendalam. Dan ini bisa dipahami bersama,karena memang mereka tidak akan mungkin berjumpa lagi.

Lalu, mengapa toh akhrnya mereka mengijinkan atau (rela) melepaskan Paulus untuk pergi?Ini yang pantas kita perhatikan dengan seksama. Benar bahwa mereka sangat mengasihi atau menyayangi Paulus, namun berkat penjelasan Paulus, mereka bisa menerima semua yang menjadi alasan Paulus untuk pergi. Ini yang sangat menarik. Jemaat Miletus sadar, bahwa mereka menginginkan keberadaan Paulus di situ, namun kesadaran itu terkalahkan oleh “kepentingan yang lain” dari Paulus. Di sini kita bisa melihat betapa kebesaran hati jemaat Miletus patut diteladani.  Mereka tidak ngotot dengan sejuta argument (dan kalau sekarang bisanya mutung..hehe), mereka menerima itu dengan iklas dan tangisan mereka adalah pertanda ikatan emosional yang mendalam, buka tangisan cengeng.

Dari sisi Paulus, mengapa ia “begitu tega” meninggalkan sekelompok orang yang sungguh-sungguh tulus mengasihinya?Adakah misi yang lain? Paulus sadar, betapa cinta dan kasih jemaat Miletus kepadanya sempurna, namun demikian, ia juga sadar bahwa masih banyak pekerjaan yang lain, yang lebih bisa menumbuhkan dan mengembangkan kebaikan Kristus. Maka, meski sangat berat, boleh dilihat narasi melo yang dilukiskan Lukas, Paulus tetap harus pergi.

Dalam hal ini, kita bisa melihat sebuah ketegaran hati dan kekuatan batin yang luarbiasa dari sosok Paulus. Ada dua kisah yang mungkin bisa menolong kita semua menempatkan kisah Paulus dan Jemaat Miletus dalam sebuah perspektif KEPENTINGAN UMUM DI ATAS KEPENTINGAN PRIBADI. Yang pertama adalah Kisah Pertemua terakhir Ibu Kunthi dengan anaknya yang sulung, Karna.

Di sebuah malam, dengan diam-diam, Kunthi menyuruh orang untuk menemuai Karna. Kunthi ingin menjumpai Karna, selain ingin meluapkan rasa rindunya juga ingin mengngatkan akan pilihan Karna memihak Kurawa. Di tepian sungai Suci Gangga, dua anak manusia, ibu dan anak saling bertatap, setelah sekian lama (bahkan mungknin hampir sleuruh usia) takpernah berjumpa. Ada keharuan,ada rindu,ada cinta,ada marah dan ada harapan, semua tertumpah dalam sebuah perjumpaan malam itu. Dan dalam potongan di akhir perjumpaan (sebelum berpisah), satu kalimat harapan dari Kunthi. “Mereka, Pandawa itu, adalah adik-adikmu nak…” dengan sepenuh hati kunthi mengatakan hal ini, namun Karna tetap tegar. Meski hatinya luluh lantak, namun jiwa ksatrianya menarinya dari pusaran nuansa melankolis, sehingga Karna tetap berpamitan.

“Aku tahu semua Ibu, namun biarlah ini semua terjadi. Aku di pihak Kurawa,bukan karena aku benci adik-adik Pandawa, namun justru aku sangat menyayangi mereka. Kehadiranku di Kurawa justru akan mempercepat kejahatan menemukan jalan kehancurannya. Sudahlah ibu, selamat tinggal. Sampai berjumpa di Surga!” Dengan berat, Karna berpamitan dan kemudian pergi dengan iringan derai air mata seorang ibu, yang bahkan tidak pernah mengasuhnya.

Karna meninggalkan ibunya, Kunthi, bukan karena tidak cinta, justru ia sangat mencintai ibunya. Dan di seberang lain, Kunthi, melepaskan anaknya juga bukan karena tidak cinta, ia (meski berat) mengerti pilihan hidup anak sulungnya. Itu semua yang menjadikan “harmoni” kehidupan tetap terjaga. Kunthi tidak memaksa anak sulungnya menginkari panggilan Ksatrianya, siapa yang memberinya hidup dan Karna, tidak terdera cinta dan bakti kepada sosok ibunda, panggilan kehidupan bersama, kepentingan orang banyak yang lebih utama.

Selain Kisah Barathayuda dengan episode perjumpaan Kunthi dengan Karna, ada juga sebuah film yang cukup menarik, untuk dijadikan sebuah refleksi. Film itu adalah WaterWorld. Yang akan saya ambil sebagai refleksi adalah epilog film tersebut. Setelah menyelamatkan Enola, Gregor pada akhirnya berhasil memecahkan peta di pungguna Enola. Setelah itu mereka bertiga kemudian menemukan Dryland. Gregor, Enola dan Helen memulai peradaban yang baru di pulau tersebut. Tetapi Pengembara merasa tidak nyaman dan membuat kapal dan melaut kembali, kembali pada hidup asalnya. Sebelum pergi Helen memberinya nama dari mitos kuno, Ulysses.

Sebelum berpisah, Gregor berpamitan dan nampaknya “Perjalanan Mereka” sudah menumbuhkan cinta dalam hati Helen. Semua bujuk rayu Helen, tidak mampu menghentikan hasrat Gregor untuk melanjutkan perjalanan. Bagi Gregor, hidupnya adalah perjalanan dan itu yang dipilihnya,maka seberapapun kuatnya rayuan, tak akan mungkin mampu menhentikan langkahnya, kecuali maut.

Dari tiga cerita tadi, ada beberapa poin yang bisa diambil sebagai sebuah referensi untuk kehidupan, utamanya soal pilihan hidup,perjumpaan dan juga perpisahan. Jemaat (terutama para penatua) di Miletus dan juga yang baru datang dari Effesus, menginginkan Paulus tetap bersama mereka. Namun mereka sadar, bahwa itu adalah ambisi pribadi (kelompok) mereka saja,maka demi kebaikan bersama, mereka mengijinkan Paulus melanjutkan perjalanannya. Demikian juga dengan Paulus, ia merasa nyaman dengan mereka semua dan perjalanan adalah menhemput ancaman serta tantangan. Namun Paulus berani memilih, untuk tetap setia dengan JANJI yang pernah ia ungkapkan, entah kapan, namun paska ia ditangkap Tuhan Yesus, ia pernah berjanji untuk SETIA, meski diperhadapkan dengan maut. Tiada ia akan undur sejengkalpun dari sumpah imannya. Ia tidak melo, apalagi baper. Ia tegar.

Dalam hal ketegaran, Karna juga mirip Paulus. Ia bisa saja memilih masuk dalam dekapan bunda yang sepanjang usia, tiada pernah ia dekap. Namun panggilan jiwa Ksatria, ebih kuat menggerakkan nurani Karna. Demikian juga dengan Kunthi. Jiwa seorang ibu, bisa untuk mengikat hati dan rasa sang anak, namun itu tiada dilakukannya. Kunthi mampu bertindak itu, karena bisa melihat “sesuatu” yang lebih  besar, daripada kepuasan dirinya. Ia, ibu Kunthi, mengiklaskan rasa serta cintanya, demi kepentingan yang lebih luas.

Juga Kisah dalam Film Water World, Gregor menepiskan “hangatnya dekapan Helen”, demi sebuah panggilan hidup,dan bahkan demi hidup itu sendiri. Meninggalkan Helen dan Enola sendirian di Dryland, juga bukan sebuah kejahatan, karena di tanah kering itu mereka berdua bisa hidup. Pada akhirnya, semua kembali pada “Panggilan” mula-mula. Paulus mampu menepis kehidupan yang lebih nyaman dengan beberapa tawaran kepuasan daging dibandingkan dengan kemungkinan bahaya  dan bencana. Semua terjadi karena kesetian terhadap panggilan. Pun demikian denganJemaat (penatua) di Miletus, mereka bisa iklas melepaskan Paulus, sejatinya melepaskan kepentingan dirinya, demi kebaikan bersama. Kisah Karna,Kunthi, Gregor,Helen dan Enola, juga memberi kepada kita semua sebuah “map” kehidupan. Di sana ada perjumpaan dan juga cinta,namun di sana juga ada perpisahan yang tidak harus diartikan tanpa cinta. Tiga kisah ini, Paulus dan rombongan dengan Jemaat dan para Penatua, Kisah Karna dan Kunthi, Sang Bunda serta Kisah Water World, yang di sana ada Romansa Gregor, Helen dan Enola,mengajak kita semua sadar, bahwa melepaskan ego adalah kunci utama damai sejahtera itu menyapa dan hadir dalam kehidupan kita.

Tanggal 20 Juli 2019, sudah bergulir sekitaran 3 hari, karena saya menulis ini di tanggal 23, namun nuansa Perpisahan itu masih sangat terasa. Masih ada yang tiada percaya, masih ada yang belum sepenuhnya iklas sehingga mengambil pilihan-pilihan lain. Namun bagaimanapun juga, hidup harus tetap dianjutkan. Biarlah “perpisahan” ini menjadi sebuah spirit bersama, untuk saling bertumbuh dalam segala yang berbeda. Mari bercermin dari tiga kisah yang saya angkat, Paulus dan Jemaat (para penatua) di Miletus, Ibu Kunthi dengan sang sulung, Karna dan juga dari Kisah Gregor,Helen dan Enola di film Water World. Mereka semua iklas menikmati sebuah perpisahan, karena dengan demikian, mereka sedang menghargai sebuah perjumpaan.

Sebuah Ungkapan Cinta 
Salam..

Sabtu, 20 April 2019

SEBUAH CATATAN DALAM KEBIMBANGAN



Namaku Nikodemus, aku seorang Farisi, aku sangat lama mempelajari Hukum Taurat, sekitar 13 tahun, baru aku bisa disebut Ahli Taurat. Mohan dimengerti, meskipun aku asli Yahudi, namun namaku sangat Yunani. Ini pengaruh penjajahan Aleksander Agung tiga ratus tahun sebelum kelahiranku, dan semua menjadikan budaya kami bercampur, juga soal nama. Nikodemus, dari dua kata Nikos yang berarti  kemenangan, sementara Demos berarti rakyat. Jadi kalau boleh aku mengartikan namaku, seseorang yang  diharapkan menjadi pejuang untuk membawa kemenangan rakyat atau bangsa kami. Mungkin itu doa dan harap kedua orangtuaku. Kalau kemudian ditanya, sudahkah aku melaksanakan makna dari namaku, jujur aku tidak bernai menjawabnya.

LUNNA NIKODEMUS

Dalam peziarahanku dengan iman Yahudi yang kental dalam hidupku, juga dalam pembelajaran tentang Kitab Musa, aku menemukan banyak hal yang sebenarnya mengantarkanku untuk membela sosok yang baru saja aku minyaki dengan minyak wangi, sosok yang sangat aku idolai, meski aku sangat kerdil untuk memprokalmasikan di depan semua orang. Meski aku kerdil, ini pengakuanku, naun berulang kali aku mencoba mengajak berdiskusi sesame ahli taurat, tujuanku jelas, ingin menyadarkan mereka, bahwa membenci Rabbi Muda nan Revolusioner dari Nazaret itu adalah sebuah kesalahan.

Berulang kali aku mencoba, namun seperti menghantam karang-karang gunung Sinai, gagal. Meski gagal namun aku tidak berputus asa, sesekali aku mencoba mendekati pemuda hebat dari Nazaret itu, hingga yang paling aku ingat adalah ketika suatu malam, aku mengunjungiNya, aku menjumpaiNya. Dalam percakapan sembari minum anggur dan juga menghisap cigarette, aku diajarinya tentang Hidup Baru. Oiya, pemuda dari Nazaret itu penggemar cigarette khas daerahnya, dan sesekali aku diberinya, aku mencoba serta menikmatinya. Sungguh bahasa cinta yang unik dariNya.

Kembali ke ceritaku tentang pertemuanku, dan saat aku sebagai orang yang bergelar Ahli Taurat, dipermalukan dengan bahasa lembut. Saat aku selalu menggunakan akal pikranku untuk menjangkau ajaran Illahi melalui Kitab suci, Dia, pemuda revolusioner dari Nazaret itu menamparkan dengan bahasa hati, bahasa cinta. Tidak akan mungkin seseorang, siapapun dia, akan bisa berjumpa dengan Allah kalau tidak lahir baru. Bagiku itu mustahil, bagaimana mungkin yang sudah besar dan dewasa masuk lagi ke Rahim ibunya, namun ternyata kelahiran baru itu adalah perubahan cara berpikir, perubahan orientasi hidup, perubahan pandangan hidup. Dan aku ternganga dalam selaksa pesona.

Aku menulis tulisan ini, selagi aku dalam gundah sekaligus sedih.  Aku menulis tidak di ruangan kerja, anmun di sebuah tempat sepi dalam kesendirianku. Aku masih berdiam di sekitaran Bukit Tengkorak itu, setelah semua proses penyaliban dan pemakaman usai. Aku diajak Yusuf yang dari daerah Arimatea, membantu menurunkan jenasah Rabbi Revolusioner dari Nazareth itu, kemudian aku meminyakinya dengan minyak mur dan gaharu, yang selalu aku bawa. Aku sadar, harga minyak yang aku pakai meminyaki jenasah Rabbi dari Nazaret itu bisa untuk membeli empat rumah di sekitaran desa Nazaret, namun aku melakukannya dengan sukacita.

AKUN FB NIKODEMUS

Usai meminyaki Jenasah Rabbi Dari Nazareth itu, aku hanya bisa menyaksikan Yusuf dan beberapa pembantunya mengotong jenasah itu, kemudian aku menyingkir ke tempat tersembunyi, tidak jauh dari lokasi penyaliban. Sempat juga sekilas aku melihat si Yudas, yang memberikan kabar tentang keberadan Rabbi asal Nazaret itu, hingga para rekanku ahli Taurat dan penguasa meudah menangkapNya. Sekilas yang kuingat tentang si Yuada ituadalah wajah yang penuh kepedihan dan kemudian sembari terisak,karena melewati jalan di dekat aku berada, ia berlari ke arah barat daya, entah ke mana aku tidak pernah tahu.

Dalam dingin yang menusuk tulang, malam setelah penyaliban itu aku diam di sebuah gubug reyot, entah milik siapa. Aku ingin menunggui janasah Rabbi dari Nazaret yang aku yakini akan seperti janji Kitab suci,dan juga janjiNya, bangkit dari orang mati, pada hari ketiga setelah kematianNya. Malam pertama terasa berat dan menyiksaku, bekal makanan dan minum ada, namun takjua bisa mengusir dingin dan gelisah yang mendera. Hingga pagi aku merasa takbisa tidur dengan sempurna, karena berisik prajurit penjaga makam itu yang mabok anggur semalaman. Aku terheran, mengapa kalau mereka tidak percaya akan kebangkitanNya pada hari ketiga, namun mengutus prajurit untuk menjaga makam itu?Apakah sekedar ketakutan jenasah itu diambil pra murid Rabbi dari Nazaret itu?

Manusia kalau sudah didera benci, maka seluruh gerak kehidupannya adalah kebencian. Manusia kalau sudah dikuasahi benci, maka detak jantung dan tarikan nafasnya adalah dendam dan upaya untuk menghancurkan yang dibencinya itu. Energi yang sebenarnya bisa dialihfungsikan untuk mendorong daya ledak cinta kasih, menyublim habis demi mengikuti tarikan-tarikan benci. Dan aku, aku masih berputar-putar antara meniti jalan kebenaran sesuai jeritan nuraniku, juga masih bertahan dengan jabatanku yang dengannya aku mendapatkan segala kemudahan dan penghormatan. Akh…harusnya aku berani seperti Rabbi dari Nazaret itu!!

Sepanjang Sabbat, aku mengasingkan diriku di bukit tengkorak, sendirian. Hanya beberapa prajurit penjaga, yang entah tahu atau tidak keberadaanku. Juga yang aku heran, ke mana rimbanya para murid Rabbi dari Nazaret ini? Simon yang berwajah sangar dengan watak berangasan, tidak terlihat di penyaliban, meski dari beberapa kaak-kusuk, ia mengikuti rombongan paska penangkapan di Kebun Getsmane. Yohanes sama sekali tidak terlihat, juga Andreas. Si Thomas yang apatis dan juga fatalis, tidak juga aku lihat, malah si Yudas yang sempat aku lihat, namun kemudian lari ke arah barat daya, seperti catatanku sebelumnya.

Dan yang kusaksikan serta aku alami adalah sebuah keajaiban saat siang di sabbat itu. Siang di tempat jauh dari rumah ibadah, sungguh pengalaman yang istimewa untukku, yang selama ini selalu terpenjara dalam tembok-tembok tempat ibadah dan juga penjara aturan-aturan itu. Sebuah keheningan aneh, keheningan sempurna untuk alam semesta yang kujumpai.

Berisik para prajurit yang menjaga makam sirna, karena pengaruh anggur yang mereka minum, mungkin terlalu banyak dan juga mungkin membayangkan bayaran berlebih karena tugas istimewa menjaga makam dari sosok yang dianggap musuh utama agama kami. Semua binatang liar penghuni Golgota juga sama sekali tidak beraktifitas, mungkinkah mereka juga beragama Yahudi sehingga takut dihukum para ahli taurat sepertiku?Nampaknya tidak, dan keheningan itu adalah akibat dari energi ajaib dari Makam yang di dalamnya ada Jenasah Rabbi dari Nazaret itu.

Seperti aku, semua makluk seolah mengarahkan semua perhatian ke makam itu, sehingga semesta menjadi diam dalam keheningan purba. Juga para kerabat Rabbi dari Nazaret itu taksatupun yang nampak, apalagi bapaknya, sampai setua ini, tidak lebih dari jumalh jari satu tanganku akau menjumpai bapak dari Rabbi itu. Mungkin semua sedang tenggelam dalam keharuan dalam balutan duka yang terdalam, sehingga enggan melakukan apapun.
Dan saat matahari tenggelam di sabbat itu, aku semakin berdebar dalam harap dan terbalut ragu. JanjiNya, paska kematian akan bangkit saat memasuki hari ke tiga dan manakala matahari sudah terbenam, terpelosok di punggung bukit nun jauh di ufuk barat, seharusnya ada keajaiban dari dalam makam itu. Mataku tertuju ke makam, di mana jenasah Rabbi dari Nazaret itu dimakamkan, sedari terang karena sisa-sisa cahaya matahari, hingga temaram dan sempurna gelap. Tidak ada keajaiban. Dan gelisah semakin mendera aku, kudongakkan ke atas, langit cerah, gemerlip bintang berlomba memacu cahaya yang adalah miliknya.

Dalam kegudahanku, aku masih memeluk sebuah harap, bahwa dari dalam makam itu, sebelum esok matahari kembali terbenam, aka nada mujijat seperti cerita kitab suci. Biarlah aku menunggu dalam kesendirian, menunggu dalam keresahan seorang diri. Malam ini biarlah menjadi malam terakhirku di bukit ini, semoga esok aka nada cahay yang menyinari keraguanku. Aku hanya berharap, di kemudian waktu, aka nada banyak orang meniti jalan sunyi dalam penantian kebangkitanNya, menanti dengan iman meski ragu mendera sepanjang masa.

Salam dariku
NIKODEMUS si Peragu

BIARLAH KUPILIH JALAN INI SAHABAT





Suasana siang menjelang sore itu sungguh sangat gaduh, ada tangisan duka dan detak kehilangan, ada keajaiban-keajaiban dan juga ada gelak tawa tanpa dosa dari mereka yang menikmati sengsara orang lain. Aku mengikuti semua peristiwa yang terjadi, semenjak menjelang makan bersama yang terakhir dengan Sang Guru, saat aku menyendiri dan dipanggil sahabat setiaku. Aku merasa tersudut ketika Guru menyatakan aka nada yang menjadi penghianat, karena melirik ke aku. Kemudian kau bergegas saat semua sibuk bercengkrama, aku menghadap para penguasa tempat ibadah yang sudah bersundal dengan penguasa Romawi.


Aku mengabarkan di mana keberadaan Guru dan sahabat-sahabatku berada. Sudah bulat tekadku, aku hendak meyelamatkan Guru. Pikirku, dengan ditangkapnya Guru, maka tidak aka nada penghakiman masa, Guru justru akan aman dalam pengawasan para imam dan para penguasa. Maka setelah mendapatkan informasiku, segera mereka menanggapinya dengan sukacita. Sekantong uang diberikan kepadaku, aku menerimanya, buka karena aku serakah, namun untuk mengelabuhi niat sejatiku.

Kutaruh kantong berisi uang itu, dan kemudian aku menjadi petunjuk jalan menuju ke tempat yang akan dituju Guru dan sahabat-sahabat, yaitu ke sebuah taman yang bernama Getsmane. Gelap malam tidak begitu terasa, karena obor yang banyak menyertai perjalanan kami. Sudah kuberi isyarakt kepada para imam dan prajurit, bahwa nanti sosok yang akan kupeluklah yang harus ditangkap. Sekali lagi, ini kesaksianku, aku berharap dengan ditangkapnya Guru, Dia akan aman dari amukan masa.

Kemudian kami menuju kota kembali, dan guru bersama dengan kami. Sementara sahabat-sahabat yang lain, entah ke mana, aku taksempat menanayi dan juga tak sempat memperhatikan mereka. Hanya, beberapa nampak sinis menatapku, saat pertama kali aku datang bersama rombongan pembenci Guru. Sesampai di kota, di gedung pengadilan agama, aku sempat melihat sahabatku Simon Petrus, dia ada dalam rona wajah takut luar biasa diantara orang banyak yang menghangatkan tubuh dengan perapian, namun setelah itu aku tidak mengetahuinya.

Malam itu aku segera tidur, sesampainya di kota, di gedung pengadilan agama. Letihku teramat sangat, baik raga yang sekian lama terserang bisul di paha. Aku sudah berusaha menjaga mataku dari kantuk, dua batang cigarette dari sahabat yang menmuiku di pinggiran kota tempo hari taksanggup mengganjal kantuk yang menderaku malam itu. Dan aku tertidur, hingga hingar suara lautan manusia membangunkanku.



Aku segera berbenah, membersihkan tubuh dan bergabung dengan lautan manusia. Dan sesampainya di kerumanan masa, betapa aku sangat terkejut, ternyata sudah terjadi penghakiman, dan Guru..Guru harus menjadi pesakitan. Guru harus terhukum, menggantikan si Barabas, durjana biadab itu. Aku terpengah, dan kemudian sebaris sesal mulai menderaku. Aku kemudian memutuskan untuk mengikuti rombongan masa yang membanjir seperti semut menuju sebuah tempat.

Panas terik mentari menghajar tubuh-tubuh yang bergerak laksana air bah di lautan. Aku mengikuti mereka, membaur bersama mereka, sembari menghindari sahabat-sahabatku yang kuyakin masih sangat membenciku. Panas dan debu menyatu, seperti kondisi pikiran manusia yang selalu diliputi dendam dan ambisi. Ambisi akan menjadi bahan bakar siapa saja untuk membuatnya mampu melakukan apa saja, dan dendam akan menjadi sahabat karib dari ambisi yang takterkabulkan.

Langkahku gontai, aku jadi ingat, ternyata saat itu aku belum makan pagi,semua karena tergesa. Dan karena langkahku terkadang melambat, aku menjadi ada di bagian belakang, dan sendiri. Justru dalam kesendirian inilah, aku bisa menyaksikan bercak-bercak darah segar di sepanjang jalan, menempel di bebatuan dan rerumputan yang melayu karena kemarau. Darah siapakah ini?Darah Gurukah?Ahhh..Guruu..ampuni akuu..

Akhirnya sampai juga aku bersama rombongan manusia ini ke sebuah bukit, yang terkenal dengan sebutan Golgota. Di bukit inilah para durjana mengakhiri hidupnya. Aku mencoba mencari tempat yang agak tinggi, ingin menyaksikan apa yang terjadi, dan benar. Guru menjadi satu dari durjana yang terhukum itu. Aku tahu, bahwa dua durjana itu tidak disiksa sepanjang perjalanan ke bukit ini, artinya benar bahwa bercak-bercak darah di sepanjang jalan tadi adalah darah Guru..

Inin Bukan Pacar Yudas LUNNA 

Meski agak jauh posisiku dari lokasi Guru disalib, namun aku dengan sangat jelas bisa menyaksikan seluruh rangkain peristiwa itu. Mereka menyesah  Guru, mendera dengan buas, menyiksa dengan brutal. Kebuasan mereka berlandaskan kebencian dan kebencian adalah virus abadi dalam  kehidupan manusia. Aku sadar, dalam beberapa kesempatan aku mengambil uang untuk kebutuhan kami bersama, dan Guru selalu mengampuniku dan dengan lembut selalu menyapaku, “Jangan kau ulangi..”

Saat kemudian ada gelap gulita, kesempatan ini kupergunakan untuk diam-diam mendekat ke salib, di mana Guru disalibkan. Suasana gelap, sangat gelap, sehingga sulit menjangkau tempat Guru tersalib, namun aku berjuang. Hingga aku akhirnya sampai di dekat Guru. Aku masih dalam keadaan takut luar biasa, karena ini semua aku menjadi bagian darinya. Aku berharap Guru tidak melihatku, aku hanya ingin mendekat dan jika bisa menyentuh kakiNya. Dalam gelap aku berharap inginku terkabul, dan Guru sama sekali tidak mengenaliku. Namun betapa aky terkejut, dalam gelap ada bisikan, “Terima Kasih telah Memainkan Peranmu…”

Aku terperangah, dan sebelum sempat menjawab dan menatap Guru, suasana mendadak menjadi agak terang. Aku bergegas menjauh kembali. Beruntung suasana penuh ketakjuban, sehingga tidak ada yang mengenaliku. Dan aku kembali ke tempatku semula. Dari sana, aku menyaksikan semua yang terjadi, hingga menjelang malam, saat ada sosok yang aku kenal, menurunkan jenasah Guru, membawanya pergi,entah ke mana, aku tidak mengetahuinya.

Nafas yang tersengal dari Guru, yang sempat kudengar dalam gelap saat aku mendekat, seperti halilintar yang menggelegar dalam batinku. Amis darah, yang di dalamnya ada darah Guru, semakin terasa  menusuk hidung, bukan saja hidung ragaku ini, melainkan hidung batinku. Isak tangis permpuan yang kukenali sebagai ibu dari Guru, seolah mencambukku dengan bengis.

Guru telah mati,dan itu karena ulahku. Aku bisa saja membela diri bahwa tujuan utamaku menyerahkan Guru karena niatan baik, namun kematian guru tidak bisa menghindarkanku dari gelar terhormat sepanjang masa, Sang Penghianat. Aku tidak menyangka, bahwa kematian yang selama ini dikatakan Guru adalah sebuah kebenaran, pikirku, Guru akan tetap aman dalam tahanan para imam dan penguasa. Lalu akan kuajak mengusir anjing-anjing Romawi beserta begundal-begundalnya. Namun semua sudah terlambat.

Sesalku mungkin tiada berguna. Kuhela nafas, dan gelap semakin sempurna melingkupi jagad raya. Sepi malam ikut mengharu dan mengaduk-aduk  batinku, dan kemudian ada air bening mengalir dari pelupuk mataku. Sesaat kemudian ada sesal yang mengganjal jiwaku. Sempat kudengar kembali lirih suara Guru, “Terima Kasih sudah memaikan peranmu”, namun cibiran dan makian serta kemungkina balas dendam dari sahabat-sahabatku lebih menakutkanku.

Ketika aku mencoba mengambil kain di saku pinggangku, tak kusadari aku meraba sesuatu. Kuambil, meski dalam gelap aku bisa teringat, ini uang dari bajingan-bajingan di Bait Allah itu. Seketika aku menjadi marah dan geram, namun takut untuk mengurai dendam. Pada saat seperti itu juga kembali muncul, wajah-wajah menatapku penuh kebencian dan kemudian dalam bayangan wajahku, aku sendirian dalam kebersamaan. Itulah siksa terberat dalam angan kehidupanku, tersendiri dalam kebersamaan.

Tiba-tiba aku beranjak, bahkan bisa dikatakan berlari. Aku berlari memabwa kedukaan dan kehampaan serta juga ketakutan meniti esok hari. Aku berlari ke arah barat agak selatan, suatu waktu akan dinamakan barat daya. Aku berlari-berlari hingga masih dalam gelapnya malam sampai di sebuah lembah. Gelap sekali, kakiku terantuk batu, kasutku terlepas dan kurasakan ada perih di jari dan betisku. Ada darah ternyata, mengucur deras. Saat aku mencoba mengambil kain di kantung yang dipinggangku, kembali aku menyentuh sebuah benda,dan aku teringat. Inilah uang laknat itu, segera kuambil dan kulemparkan. Aku tidak butuh uang itu, aku tidak butuh harta itu.

Kemudian aku terhempas, duduk di sebuah batu. Gelap dan di atas kulihat kerlip bintang gemintang, sempat kunikmati indahnya bintang-bintang itu, namun kemudian sirna. Bayangan wajah kebencian dan kesendirian menyiksaku, sangat menyiksaku. Aku tak mungkin bisa hidup dalam kebencian serta ketakutan dari mereka yang aku cinta. Saat aku tertegun dalam kegalauan smpurna, saat itu kulihat sebuah benda bekilauan tertempa sinar rembula yang tetiba muncul dari balik segumpal awan kemarau.

Uang logam yang tadi aku lempar. Aku amati kemudian aku pungut kembali. Kuraba serta kutatap dalam temaram malam bersama rembulan. “Kau uang, tidak aku saja manusia yang akan menderita karenamu. Namun tenaglah, semua bukan salahmu. Semua adalah akibat dari ambisi serta keserakahan makluk sepertiku ini. Dan masih akan ada korban-korban darimu uang. Manusia akan memelukmu melebihi Sang Illahi dan sering menjadikanmu alat dan kebanggaan semu. Keserakahan dan sifat pelit juga akan berawal darimu, namun kau tidak salah. Sifat serakah manusialah yang salah, aku berguman. Dalam pandanganku akan masa yang akan datang, bahwa akan banyak manusia yang tersiksa karena uang.
Aku letakkan kembali logam ini. Desiran angina menampar jubahku yang sudah rombeng dalam pelarianku, perih luka di kaki kembali terasakan, namun masih terasa perih gugatan batin akan salah dan dosaku. Karena tindakanku, Guru menjadi terbunuh dengan sangat kejam.

“Lenyaplah engkau penghianat!!!”,Tiba-tiba muncul suara itu dalam batinku. Aku terperanjat dan kemudian semakin terdengar nyaring meski aku menutup telingaku, karena memang itu suara sisi batinku yang lain. Dan kemudian aku berlari. Dalam pelarian malam yang dingin dan sepi, dalam luka dan perih karena terantuk bebatuan serta tertusuk onak duri, batinku bertempur hebat. Antara kembali kepada para sahabat dengan selaksa malu atau pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan ini. Ada air mengucur deras dari pelupuk mataku, aku merasakan dengan sangat perih.

Aku semakin letih dan lemah, namun tetap berlari, hingga kemudian sampai di sebuah sisi jurang. Kudengar adaaliran sungai jauh di bawah sana, kilatan kilau air tertimpa sinar rembulan  memperjelas, bahwa lembah itu ada sungainya. Aku kembali tertegun dalam letih yang luar biasa. Malam semakin menuju puncaknya, sepi, sangat sepi. Aku merasa sendir, bukan sekedar sendiri di tempat ini, namun sendiri dalam kesalahanku. Kutatap dalam gelap di depanku, Jurang! Bimbang menderaku kembali, melanjutkan hidup dengan memanggul malu tiada berakhir atau mengakhiri semua dengan caraku sendiri. BIARLAH KUPILIH JALAN INI..

Nafasku tersenggal, batuk mulai mengikuti deritaku dan dingin malam seolah ikut menyiksaku, ikut semesta yang menyesah serta menderaku. Justru dalam keadaan seperti ini, pertempuran batin yang sempurna inilah, aku  bisa merasakan derita Guru. Merasakan pedih dan perihnya luka serta lapar dan sendiri. Kembali kata-kata Guru sesaat dalam gelap manakala aku mendekat terngiang kembali. Guru menyapaku dengan cinta.

Kuhela nafas kembali, semakin sesak. Lapar dan haus mendera, dan nampaknya tiada makanan serta minuman di tempat ini. Aku bergeser, mendekat ke tepi jurang, ingin merasakan sebuah sensasi kehidupan. Sisi jurang ini menjadi tempat yang aman dan nyaman untukku, paling tidak malam ini. Aku tidak tahu akan seperti apa esok hariku, namun bayangan kebencian sahabat-sahabat dan kerabatku semakin menghujam dan mendakwaku, bahwa aku adalah sampah dunia dan kehidupan.

Aku tidak akan pernah membenci mereka, karena mereka juga berhak mendakwaku. Aku cukup puas dengan jawaban dan sapaan Guru sesaat ketika gelap tadi. Juga pilihanku untuk memilih jalan ini, seperti jawabku saat bercakap dengan sahabat dekatku, siang sebelum perjamuan dengan Guru yang terakhir itu. Aku akan menikmati sisa hidupku di tempat ini, esok, saat matahari menerangi alam semesta, jika nyawaku masih menyatu dengan ragaku, aku kan mencari makanan demi kekuatan ragaku, kemudian mencari tempat tinggal, akan kuisi hari-hariku dengan upaya menyatu dengan Guru, dengan caraku.

Kurasakan suara gemericik air sungai jauh di bawah, di lembah sana, sangat jelas dan semakin jelas. Gemericik itu terasa indah, juga kidung serangga dan burung malam, indah dan mempesona. Semilir angin malam, angin kemarau dari arah gurun terasa menyegarkan, tidak dingin seperti biasanya. Aku sungguh menikmati suasana, tubuhku seperti melambung, jauh..jauh..dan kemudian aku merasa seperti terantuk bebatuan tajam.. Ada segumpal rasa sakit menghampiriku, taksempat aku berteriak, karena kemudian gelap..Gelap yang sempurna.

Salam Hangat
Yang Diberi Gelar penghianat


Jumat, 19 April 2019

HANYA INI YANG AKU BISA




Matahari hampir merebahkan diirnya di punggung bukit  jauh di ufuk barat, artinya hari akan segera berganti. Oiya, sekedar informasi kawan, bahwa cara kami menghitung hari berbeda dengan kalian, yang membaca suratku ini, karena kami mengatur pergantian  hari bukan saat jam 00.00, melainkan saat matahari terbenam. Artinya, sebentar lagi akan masuk ke hari Sabbat, hari sangat istimewa dam aturan agama kami. Dan ketika hari berganti menjadi hari sabbat, tidak diperbolehkan dalam aturan agama kami untuk melakukan kegiatan apapun, kecuali beribadah.


Kerumunan orang sudah semakin sedikit, mereka pulang memanggul kesedihan maisng-masing,seperti luka-luka dalam raga tiga sosok yang masih tergantung di kayu salib itu. Untuk dua orang yang mengapit raga yang di tengah, mungkin tiada yang mempedulikan, termasuk aku, karena kedurjanaan mereka. Namun untuk sosok yang di tengah itu, sungguh, aku sangat terpana dan bahkan terpesona, sehingga diam-diam aku mengikutNya.  WajahNya sangat teduh, seteduh embun bukit Hermon setiap pagi. Teduh dan  bercahaya, meski derita sempurna mengoyak segenap hidupNya.

Aku tertegun, dan kulihat beberapa orang masih di area perbukitan yang dalam tradisi adat istiadat kami di namakan Golgota atau Perbukitan Tempat Berseraknya Tengkorak. Nafas-nafas mendesah masih bisa kudengar, ketika hening hari menjelang sore menyapa kami. Kutatap tiga salib bersama dengan tiga sosok tergantung itu, kilatan keringat di wajah yang tertunduk masih bisa kulihat, karena terhujam sisa-sisa sinar matahari dari ufuk nun jauh di barat sana.

Kutatap wajah yang di tengah itu, dan seolah wajah yang sudah menjadi jenasah itu memanggilku dengan senyuman. Wajah itu seolah menghisap seluruh ragaku mendekat. Dan akupun mendekat, beberapa prajurit nampak mengawasiku dengan tatapan curiga,namun tak aku pedulikan. Panggilan dari tatapan wajah itu, seolah mengalahkan seluruh kekuatan ragaku dan juga kekuatan kecurigaan banyak mata yang mengawasiku, aku mendekat dan semakin mendekat.


Tiupan angin yang tadinya dalam beberapa saat terhenti, tiba-tiba mengiringi langkah gontaiku, dan saat aku sangat dekat, kutatap wajah itu, seolah tersenyum. Amis dan anyir darah sangat kuat menuusk hidungku, dan di atas sana, segerombolan burung-burung Bangkai,terbang berputar-putar, sudah menunggu saat tepat untuk menyantap jenasah-jenasah ini.

Wajah itu kulihat tersenyum ke arahku, kulihat tidak ada tanda-tanda kematian. Aku seolah menatap wajah yang hidup, yang penuh senyum, dan semua seolah menghipnotisku. Kuberanikan diri semakin medekat dan kuraba raga tanpa nyawa itu. Dingin. Beberapa tetes darah dan air dari lambung yang tertusuk tombak prajurit, mengalir melalui betis tubuh yang tergantung itu. Jiwaku melambung, panggilan itu semakin nyaring dalam sanubariku, namun tak kutahu, apa yang harus aku kerjakan.

Dalam ketermanguanku, kudengar gerak-gerak kasar prajurit menurunkan dengan sangat kasar dua jenasah di samping tubuh yang sedang kuhadapi ini. Dan kutahu kemudian, para prajurit itu mendapat madat dari para pembesar istana dan rekan-rekanku majelis agamaku, untuk menurunkannya dan kemudian menguburkan keduanya.

Aku terhentak, lalu siapa yang akan mengurus jenasah ini?Aku memang sudah meminta ijin Pilatusm namun beranikah aku??.  Aku sempat melihat, beberapa kerabat dan para murid dari jenasah ini, sudah beringsut meninggalkan tempat ini dengan kedukaan yang takterperikan. Dalam ketertegunanku, aku seolah mendapat panggilan lembut, dari jenasah yang tergantung di atasku.

“Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan sahabatku..”

Sungguh aku kaget, dan kemudian kutatap wajah itu. Masih dingin dan nampak semakin kaku, meski terkadang seperti tersenyum ke arahku. Dingin udara menjelang sore semakin kurasakan, dan saat kumenengadah, mendongak ke arah barat, matahari semakin mendekati titik tenggelamnya, semakin bergulir bersembunyi di punggung bukit itu. Lalu aku beranjak, kuteguhkan tekadku. Aku akan menghampiri beberapa rekan kerjaku yang masih duduk dan juga berdiri, agak jauh dari tempatku.

“Kepada Pilatus aku sudah meminta ijin, untuk merawat jenasah itu”, Kukatakan itu kepada beberapa orang yang masih ada di tempat ini. Aku sebelumnya sudah menghadap Pilatus, aku meminta diijinkan untuk merawat jenasah itu, karena sejatinya aku tidak setuju dengan hukuman yang diterima oleh orang dari Nasaret itu, namun apalah arti permintaanku. Maka, manakala Pilatus mengijinkan aku  merawat jenasah itu, betapa senangnya aku, meski untuk melakukannya, aku mesti kucing-kucingan dengan beberapa orang yang sangat keras menolak usulanku ini.

Segera aku bergegas, mendekati salib itu, dibantu beberapa kerabat dan karyawanku, aku segera bertindak. Aku harus berpacu dengan laju sang mentari di ujung barat sana, sebelum tindakanku melanggar tatanan agamaku sendiri. Aku bertindak cekatan, kutegaskan sekali lagi, aku bertindak  dengan dibantu oleh beberapa kerabatku, bukan sekedar menyuruh orang upahanku mengerjakan apa yang menjadi kerinduan hatiku. Dan harapku, semoga kalian yang membaca suratku ini dikemudian hari, juga bisa meneladani tindakanku.

Sesaat kemudian, kami berhasil menurunkan dan melepas semua yang mengikat tubuh penuh luka ini dari kayu salib yang amat sangat kasar itu. Kubopong tubuh itu, kucium wajahNya, tanpa sepengetahuan orang-orang yang sedang mengawasiku dari jauh. Kurasakan aliran CINTA, mengalir deras ke tubuhku. Benar, tubuh ini tanpa nyawa, namun kekuatan CINTA yang dipancarkan dari ribuan luka dan darah yang beberapa belum kering, lebih kuat dari kebencian dunia ini.

Dalam boponganku, kunikmati kemenyatuanku denganNya, dan darah yang beberapa masih cair, belum kering, menempel di jubbah serta tanganku. Aku tidak merasa jijik, malah kurasakan keharuman darah yang belum pernah kujumpai. Mungkin kalian akan menertawakanku, karena aku merasakan harum dari darah, namun ini yang aku alami. Aku segera bertindak, mengafani tubuh itu, kemudian kubawa menuju pemakaman keluargaku.
Matahari masih menyisakan cintanya untukku, Karena dalam pengawasan super ketat para polisi agama dan moral itu, yang hanya suka dengan tindakan yang tanpa jiwa, kesalahan adalah hukuman, aku harus menyelesaikan tugasku sebelum matahari terbenam. Dan bahkan menolong orang yang membutuhkanpun,jika dirasa melanggar aturan agama, hukuman berat suah menanti dengan setia. 

Aku berjalan, malah bisa dikatakan berlari, menuju kompleks pemakaman keluargaku. Segera aku membuka batu yang menutupi kubur itu, sendiri aku mengangkatnya, meski ada beberapa orang yang mengantarkanku menawarkan bantuan, namun aku meolaknya dengan santun. Aku ingin mengungkapkan cintaku pada sosok yang semakin dingin dan membeku ini, sosok yang aku idolai meski takpernah aku berani terus terang mengikutiNya.
Agak susah aku menggeser batu penutup itu, ragaku letih  karena seharian belum makan. Setelah berhasil kugeser, aku membawa jenasah ini ke tempat peletakannya, kuletakkan dengan pelan di atas sebuah batu besar, kurebahkan dengan kehati-hatian yang sempurna,hingga kemudian semuanya selesai. 

Aku menghela nafas, kemudian kembali menatap wajah jenasah yang semakin kurasakan tersenyum kepadaku, agak remang memang, karena  lereng ini mengahdap ke arah timur, sementara matahari ada di sebelah barat. Kembali kutatap yang terakhir, sebelum kututup dan kutinggalkan sendiri jenasah itu dalam makam ini, sembari kuucapkan, “HANYA INI YANG AKU BISA”

Tepat setelah aku berhasil menutup pintu makam ini dengan batu penutupnya, kudengar jauh di hutan bukit sebelah selatan, sayup nyanyian serangga malam. Dan setelah melangkah beberapa langkah, kulihat ke arah barat, matahari telah sempurna dalam pelukan bukit jauh di barat sana. Hari telah berganti, dan kemudian aku juga sadar, ada banyak prajurit yang terus mengawasiku, kalau-kalau aku melanggar ketetapan agama kami, mereka seperti robot yang hanya menjalankan perintah,tanpa pernah mengerti yang mereka kerjakan. Mungkin saja mereka bekerja hanya karena uang dan harta, entahlah, aku tidak tahu, namun nampaknya di sepanjang jaman, orang-orang seperti mereka akan tetap ada.

Dalam temaram senja yang penuh dengan detak kedukaan, aku berjalan pulang. Ada kehampaan di relung hati ini, meski agak terobati dengan tindakanku merawat jenasah itu. Semoga ini bukan pekerjaan yang sia-sia. Dan pesanku untuk siapa saja yang membaca suratku ini, jangan pernah ragu untuk menerima panggilanNya, seberapapun bentuknya. Jangan pernah terlambat, karena keterlambatan hanya akan menghadirkan kekecewaan sepanjang usia.

Untuk kawan-kawanku di sepanjang jaman dan masa, demikian surat yang bisa aku tulis,ini pengalamanku dengan Kristus yang telah mati, yang katanya akan bangkit pada hari ketiga. Aku akan menunggunya, dan semoga saat janji itu terpenuhi, aku diberiNya kesempatan yang lebih untuk ikut melanjutkan karya kasihNya.

Suatu Senja di Golgota
Salam
Yusuf yang dari Arimatea..


FIKSI Di Malam PASKAH