Tampilkan postingan dengan label Menjaga Semesta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menjaga Semesta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2020

NGAMUK


Selasa Wage 24 Maret 2020
BENINGE EMBUN ESUK



Yesaya 42:14-21
Jabur 146
Yokanan 5:1-16
Padha rungokna, he para wong budheg padha mandenga lan ndelenga, he para wong wuta! Sapa kang wuta yen dudu panunggalane abdiningSun, tuwin kang budheg kaya utusaningSun? Sapa kang wuta kaya utusaningSun lan kang budheg kaya abdining Yehuwah? Sira ndeleng prakara akeh, nanging ora nggatekake, sira ngengklengake kuping, nanging ora krungu.Pangeran Yehuwah demi karsane nylametake kepareng maringake piwulange kang agung lan mulya;

Sapa wae pernah NGAMUK, mbuh merga sebab sing lumrah lan tinemu nalar, uga merga kahanan kang ora lumrah lan tinemu nalar. Sejatine NGAMUK luwi kahanan kang lumrah, merga kuwi akibat kahanan sing ora jumbuh karo kekarepan. Ananging ya kudu eling yen ora kabeh kekarepan kuwi apik lan nalika ora klakon njur sah-sah wae NGAMUK. Dene NGAMUK dewe ana pirang-pirang model. Ana model NGAMUK lumantar meneng wae, ora gelem dijak caturan lan uga ana NGAMUK ndadekne rusaking kahanan. Lha sing kaya mengkene iki sing kudu didandani.

Gusti Allah ya nate NGAMUK, malah bola-bali. Kaya kang tinulis ing Kitab Yesaya 42 kuwi. Ing kana dicritakne kaya ngapa NGAMUK’e Gusti Allah merga ngeyel bangsa ngisrael sing ndubillah encit. Dikandani ngeyel bareng sengsara ngamuk marang Gusti.  NGAMUK’e Gusti kuwi tujuan utawa ancase apik, beda karo NGAMUK’e menungsa, mesti okeh sing mung merga kekarepane pribadi ora klakon. yen Gusti NGAMUK kuwi merga mirsa kahanan menungsa sing tumuju marang karusakan, yen tumuju marang bab sing apik, tangeh lamun Gusti NGAMUK. Ananging sanadyan diamuk dening Gusti, akeh menungsa sing ora (gelem) nyadhar lan sakbanjure mertobat, anane mung ngrusak lan ngrusak.

Saka piwulange Kitab Suci ing dina iki, ayo padha nyadhari bab polah tingkahe awake dewe. Aja nganti kabeh ndadekne Gusti NGAMUK lan duka marang jagad iki. Yen ana sing lumaku ora bener lan pener, ayo padha dielikne cikben mbalik marang laku kang apik lan becik.

“Kok wingi esuk tangga tan omah ana swara pating krompyang ana apa In?” Dalijo nakoni dulure wedok.
“Kuwi lho kang, wetan omah padha engkel-engkelan lan sakbanjure bablas tukar padu. Lanang wedok bareng-baeng olehe NGAMUK, mula akeh barang sing remuk” Wangsulane Nduk I’in.
“Wong kok ora sabaran cah, sithik-sithik ngamuk. Wong kuwi sing sareh,sabar ben subur..”Lik Ndoleng njedul langsung melu urun rembug.
“Halaaahhh..tuku rokok sing ndodoli dudu Yu Wasti wae NGAMUK Lik sampeyan ki..ndaak nggaya sok wicaksana..” Nduk I’in mangsuli ukarane Lik Ndoleng lan Lik Ndoleng ndingkluk sinambi mbatin misuh-misuh.
“Dusss…bajindull…kenek meneh…”

Mbah’e..

Jumat, 18 Januari 2019

YANG TERSISA DARI DEBAT CAPRS RONDE 1


Hujan kemarin sudah mencumbui tanah semanjak siang. Gelap dan dingin. Kabut menyapa semenjak hujan berlangsung sekitar 20 memit, namun demikian toh aktifitas yang rutin tetap berlangsung. Petani sebisa mungkin mengerjakan bagiannya, meski hujan dan dingin menemaninya, sopir angkot tetap perkasa menjual jsa, anak sekolah setia menerobos hujan, baik yang menggunakan penghalang hujan ataupun yang nekat mencumbui hujan. 

Dan sampai senja hujan teta setia, mencurahkan rindunya untuk tanah yang tertunda.
Air hujan menggutuy bumi, namun sebelumnya menyapa dedaunan,menyusuri dahan dan ranting. Sesampai di bawah, ada yang langsung ke tanah, meresap dan menyatu dengan bumi, ada yang langsung mangalir ke lapisan rendah tanah, karena memang demikianlah sifat air yang selalu mencari keadaan yang rendah. Air hanya akan meluap jika dalam situasi tertentu, secara naluriah air akan selalu meluncur ke bawah..

Hujan kemarin nampaknya ikut mempersiapkan debat capres-cawapres untuk menjadi nahkoda negeri indah ini 5 tahun ke depan. Tidak sempat aku menyaksikan seuanya,selain kalah dengan anak-anak yang melihat sinetron gombal, juga karena ada yang mesti dikerjakan dan itu menurutku lebih penting. Menontonku hanya selang-seling, tidak utuh, karena memang malas menyaksikan. Ada percakapan yang semestinya dua arah dalam wujud “Dialog”, namun nampaknya yang terjadi tidak demikian.

Salah satu  menyerang,menyerang,menyerang dengan brutal..semua amunisi dihamburkan, entah itu amunisinya tepat atau tidak. Layaknya seseorang yang kalap, apa saja yang di dekatnya diambil, dihantamkan,diamburkan, dan juga bisa laksana hujan, derasnya serangan seolah akan berdampak lunglainya pasangan yang satunya, yang incumbent. Namun nampaknyanya sang incumbent, memiliki ajian hebat, ajian yang mampu menyerap semua bentuk serangan yang di arahkan kearah dirinya. Bagaikan hujan yang menyerang tanah tidak mematikan tanah, namun justru tanah semakin subur, semakin lentur,bahkan terkadang malah membuat si hujan kehilangan akal..

Saat amunisi hampir habis, Nampak wajahnya semakin  nampak memelas, sememlas nasipnya yang ditinggal istri dan anaknya. Smemelas nasipnya yang selalu gagal dan gagal. Ada iba saat aku memandangnya di layar tipi, sebuah iba naluriahku sebagai manusia. Betatpun keberadaannya, ia punya sisi yang bisa diteladani, meski sangat minim. Semangat pantang meyerahnya, keberaniannya sendiri, penampilan awal yang (Nampak) gagah, adalah upaya membentuk citra diri, meski menurutku terlambat.
Dan, manakala lonceng “pertarungan” berbunyi, Nampak gontai langkahnya,mungkin belum sadar,dan kemudian saat sadar, ada joget tersaji. Bukan joget panggilan hati, namun joget pelipur kegundahan. Pasangannya lebih lucu lagi, semua hal ditempatkan pada satu titik, UANG. Seolah dengan uang semua rampung, dan dari jawabanya Nampak jelas, dia tidak berkualitas sebagai pemimpin.
Dan hujan reda, saat ebat di tipi juga reda. Gemuruh hujan seperti mengirih gemuruh khalayak yang disajikan tontonan menarik, antara Hujan melawan Bumi.. semoga anak-anak negeri ini semakin paham, mana yang akan dilalui untuk kebaikan negeri..

Salam

Sabtu, 10 Juni 2017

Menyadari Diri Sebagai Peminjam Semesta




Ada sebuah ungkapan yang menurut saya penting untuk dipahami secara cermat dan seksama. Ungkapan ini tidak terlihat relegius ataupun bernuansa politik, sehingga aman untuk dikomentari dan siapa saja yang membaca tulisan ini serta mengomentarinya, tidak mungkin terjerat pasal UU apapun. Ungkapan itu adalah, “Apa yang kita kerjakan hari ini adalah upaya mengembalikan pinjaman kepada anak cucu”. Ini terkait dengan alam semesta.

Jujur saja harus kita akui bahwa kita seringkali meenaknya sendiri melakukan tindakan apapun dalam kehidupan ini. Dan tindakan itu tidak jarang merusak alam sememsta ini. Baik membuang sampah sembarangan, menebang pohon di hutan., menggunakan bahan bakar tanpa kendali dan masih banyak daftarnya yang lain, silakan tambahkan jika berkenan menambahkan.

Semua kita lakukan tanpa menyadari bahwa sebenarnya alam semesta ini terbatas. Dan karena terbatasm suatu saat pasti akan rusak dan habis. Kita tidak tahu atau sebenarnya tahu namun lupa atau melupakan diri bahwa kita ini bukan pemilik alam semesta ini. Kita ini hanya meminjam kepada anak cucu kita. Apakah kita akan mengembalikan pinjaman kita ke anak cucu kita dalam keadaan baik atau buruk, ya semua tergantung kita saat ini.

Polah tingkah kita yang konsumtif dan boros menjadikan cadangan energi alam ini semakin menipis. Perilaku kita yang sok-sokan kaya dan memiliki banyak uang meskipun cara mendapatkannya tidak selalu baik, menjadikan kita pongah dengan sikap kita. Merasa mampu membeli lebih dari satu kendaraan bermotor maka rumah dipajang motor laksana dealer motor. Semua anggota keluarga memkai satu-satu alat transportasi ini tanpa menyadari betapa semua itu membutuhkan bahan bakar.

Pada akhirnya, semesta ini semakin letih dan rentan. Jika tidak segera ditolog, maka kondisi kritis alam semesta akan naik ke kondisi koma. Setelah itu…

Salam

Rabu, 14 Desember 2016

MEMULIHKAN HARMONY KEHIDUPAN



Alam semesta ini tercipta dalam sebuah harmoni atau keseimbangan yang ideal, yang sempurna. Maka,dalam sejarahnya,jika ada apapun yang mencoba mengganggu keseimbangan atau harmoni itu, maka alam dengan hukumnya sendiri,yang tidak terpahami oleh manusia, akan membuat upaya pemulihan harmoni ini. Dan, selalu,cara alam memulihkan keseimbangannya,keharmoniannya,mencengangkan dan terkadang membuat manusia ngeri melihat dan merasakannya.

Jalan Harmoni Masa depan anda..klik   SINI

Seorang kawan,seorang Rahoniawan Kristen yang tampangnya sangar,rambut kribo jika panjang, kumis dan jenggot acak-acakan, suatu waktu pernah mengatakan, “Cara alam ini melakukan pembalasan atas ketidak adilan selalu menyeramkan dan lebih menyakitkan disbanding cara manusia”. Munkin benar apa yang dikatakan rekan saya itu,meski juga tidak boleh menutup kemungkinan salah juga. Namun tulisan ini tidak hendak bicara tentang hukuman alam,namun hendak mengajak merenungkan tentang memulihkan harmoni, terkait Natal di bulan ini. Tulisan ini berangkat dari permohonan renungan Natal kepada penulis untuk siswa Kristen di SMA 1 Jepara,tanggal 14 Desember 2016,di kompleks GMKA (Goa Maria Kereb Ambarawa). Tema yang di sodorkan adalah “Harmony of Christmas”

Penulis berangkat atau berpijak dari teks Alkitab yang dijadikan tema Natal PGI dan KWI di tahun 2016 ini. “Jangan Takut, sesbab hari ini telah lahir bagimu di kota Daud” kata hari ini, sengaja saya bold karena dari situ, refleksi akan saya bangun. Natal dalam makna pengahyatan tidak sekedar melihat pada waktu yang telah dan akan datang, namun natal adalah keabadian. Kata “Hari Iini”, dalam narasi Alkitab,akan selalu bermakna up to date saat di baca. Itulah harmoni yang perama. Natal bukan masalah masa lampau, juga bukan masalah yang akan dijemput, namun natal adalah kekinian yang selalu terkini.

Point kedua yang hendak mendekat dengan tema,Harmony of Christmas, adalah KEBERANIAN. Yesus yang dalam perspektif iman Kristen adalah keberadaan Sang Illahi itu sendiri (tidak usah diperdebatkan), berani menerobos ruang dan waktu, peradaban dan budaya demi menjangkau kehidupan yang sudah tidak dalam harmoni lagi. Batas-batas social, penindasan,perbudakan,korupsi saat itu (sekitar kelahiran Yesus)merajalela. Dan di situasi seperti itulah Allah hadir, dalam bentuk dan rupa manusia yang penuh kesederhanaan. 

Keberanian mendobrak tembok tebal bernama budaya dan peradaban. Konsep Raja, meski raja damai, seharusnya lahir da hadir dalam segala kemegahan dan kemewahan, namun Raja Damai itu justru kesulita mencari tempat demi hadirNya.
Dalam kacamata reflektif, kesulitan Maria dan Yusuf mencari tempat itu, sama dengan saat ini, bahwa Damai itu sulit mencari tempat di dalam kehidupan manusia. Ruang untuk damai telah dicapok oleh keserakahan,angkara murka,kesombongan,keangkuhan dan kemunafikan. Sang Harmoni itu sendiri, juga semakin kesulitan mencari landasan untuk mendarat. Namun tetap mencarinya dan akhirnya mendapati sebuah tempat yang sangat sederhana,namun MAU MENERIMA.

Point berikutnya adalah kebebasan. Sang Damai itu bebas memilih siapa yang akan dijumpainya. Bukan kaum elit ternyata, melainkan kaum marginal. Para gembala. Gembala saat itu, dalam konstelasi social di Israel jaman Yesus lahir, adalah komunitas yang sangat tidak berharga,namun meski tidak berharga, Sang Damai itu menyapa mereka sebagai yang pertama kali mendapatkan kabar damai itu. Yesus melintasi batas apapun demi mengembalikan harmoni yang kacau,  dan yang rusak ini.

Harmony of Christmas, ruh itu yang kembali diangkat dalam permenungan natal serta perayaannya saat ini. Jika dahulu, Yesus berani melintasi batas-batas social,peradaban dan juga politik demi memulihkan harmoni yang kacau balau itu,sekarang ini beranikah kita semua meneladaninya?Beranikah melawan arus kuat peradaban manusia yang sudah kehilangan ruh manusianya? Siap dan sanggupkan kita semua (peserta natal lho ya) memilih jalan sunyi sepi Yesus memulihkan harmoni hidup,dengan derita?

Terkhusus untuk anak-anak  Kristen SMA 1 Jepara, beranikah menunjukan semangat harmoni meski berhadapan dengan berbagai ancaman dan godaan?Godaan ketidakjujuran,ketidaksetiaan,ketidakdisipilan dan sebagainya?Jika ingin menghembusi dunia serta peradaban dan budayanya dengan harmoni,maka tidak ada jalan lain, keberanian melintasi jalan sunyi kehidupan menjadi syarat mutlak pulihnya harmoni kehidupan semesta.

Salam

Sabtu, 13 Februari 2016

Cara hidup pak tani

TELADAN SEMANGAT PAK TANI

Malam itu, hujan belum juga usai mengguyur bumi. Udara dingin suasana sepi. Gemericik air hujan  mengiringi laju malam yang terasa sendu. Dalam perjalanan pulangku, sebelum sampai dusun tempat aku tinggal, kujumpai sesosok bayangan dalam temaram lampu dan air hujan. Setelah dekat dan saling tatap, aku kenal dia tetanggaku.

Sejenak terjadi percakapan dan aku tahu, bapak petani tetanggaku itu hendak ke sawah. Ia hendak melihat keadaan sawahnya, karena hujan sepanjang hari bisa jadi merusak sawahnya. Saat kutanya, apakah tidak dingin dan lelah, dia menjawab bahwa dingin dan  lelah itu adalah bagian utuh dari kehidupan ini. Baginya, hujan, malam, panas, dingin, letih adalah menu kehidupan yang mesti dilahap, untuk menjaga keseimbangan hidup dan kesehatannya.

Saat pagi, tepatnya subuh, aku terbangun dan menulis, termasuk tulisan ini, aku melihat bayangan melintas di jalan depan rumah tempatku tinggal. Kuperhatikan, dan ternyata bapak petani yang tani malam menengok sawahnya. Sungguh sebuah semangat “Kepahlawanan” yang luar biasa. Dia, pak Tani sederhana itu berjuang untuk hidupdan kehidupan. Dia bukan pahlawan, bukan pejabat, namun keteladanannya teramat berharga untuk ditiru.

Semangat Pak Tani, adalah semangat menjaga kehidupan. Semangat menjaga semesta. Maka, bairlah aliran semangat itu juga menghembusi siapa saja, termasuk yang membaca tulisan ini. Hembusan semangat untuk kehidupan dan berjuang dengan iklas serta tulus.

Selamat pagi pak Tani.

Jumat, 12 Februari 2016

Cara Sederhana Menjaga Semesta

SEBUAH TELADAN KECIL


“Pak, kata ibu Guru, kita harus rajin menanam tanaman, supaya banyak tanaman dan bisa membuat lingkungan hijau”, Demikian anak tertuaku memberi penjelasan saat usai makan buah rambutan. Biji rambutan itu ternyata disimpannya di sebuah botol minuman kemasan yang sudah tidak terpakai. Dia bercerita bahwa ia ingin mengumpulkan biji-biji buah yang habis dimakan dan akan di tanamnya.

Saat aku tanya,akan ditanam dimana dan caranya seperti apa, dia menjawab polos. “Yang penting nanti kalau sudah terkumpul, akan saya tanam di depan rumah itu, biar tumbuh dan jadi pohon buah. Nanti bisa berbuah dan tinggal memetik”, anakku menjawabnya dengan polos.
“Lha ini ada banyak biji itu apa nanti cukup nak tempatnya?”, Tanyaku kemudian. “Yang penting ditanam pak, makin banyak kan makin baik”,Demikian dia menjawab.

Anak kecil yang sederhana dan hanya bertujuan melaksanakan perintah guru di sekolah. Namun darinya ada sebuah keteladanan. Ketaatan yang jujur dan mulia. Ketaatan yang di dalamnya tidak pernah bermain logika orang dewasa. Bagi anak kecil, yang penting taat, yang penting melakukan perintah. Namun selain taat, ada unsur penengertian yang mendalam dari tekadnya menanam, yaitu bahwa ia hendak menjadikan lingkungan rimbun dan nanti tidak usah selalu membeli buah, karena bisa memetik dari apa yang sudah ia tanam. Ada harapan di dalam ketaatannya.

Jika saja kita semua mau belajar dari anak kecil kita akan banyak memetik pelajaran berharga untuk kehidupan. Ada ketaatan di sana, ada kesetiaan di dalamnya, ada pengharapan yang tertanam dari apa yang dilakukannya. Sering orang dewasa terlalu bermain dengan logika dunia dan itu menghambat tekad mulia. Logika yang terkadang jika ditelusuri lebih dalam hanya berujung pada materi dan harta, pada keadaan untung dan rugi. Mungkin jika yang diminta mengumpulkan biji buah-buahan itu orang dewasa akan berpikir demikian, “Akh, buat apa repot-repot ngumpulin, toh petani buah banyak, buat apa menanam,belum juga tumbuh dan berbuah. Buang saja di tong sampah biji buah ini”,
Mungkin saudara yang membaca tulisan ini berpikir seperti orang dewasa, silakan. Itu hak masing-masing pribadi, namun perlu diingat bahwa kita ini hanya meminjam dunia ini untuk anak-anak dan cucu-cucu kita. Maka, mari kita jaga semesta ini, meski dengan cara yang sederhana.

Salam cinta untuk semesta


FIKSI Di Malam PASKAH