Tampilkan postingan dengan label Narasi Akhir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi Akhir. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Agustus 2019

Puisi Untuk Somad


Ustad Abdul Somad
Bukan, bukan ...
Apa yang kau ucapkan:
di salib ada jin kafir
sesungguhnya bukan hinaan
Bukan ejekan
Apalagi cemoohan
Bukan pula penistaan agama.
Bagi kami, apa yang kau ucapkan
Ya, yang kau ucapkan di depan jemaahmu
Bahwa sosok yang tersalib adalah "jin kafir" dan karenanya pantas dijauhi adalah kata-kata mutiara bagi kami.

Kami marah?
Tidak, sebab kemarahan bukan milik kami
Kami balas dendam?
Tidak, sebab pembalasan, apalagi dengan dendam, bukan ajaran dan hak kami.
Sebaliknya, kami justru berterima kasih kepadamu Somad, sebab kami jadi ingat bahwa "jin kafir" yang kau sebut itu telah mengajarkan kami "ampunilah akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami."

Lalu, haruskah kami membela sosok yang kau sebut "jin kafir"?
Tidak Ustad Somad
Buat apa kami membela-Nya, sebab Dia lebih berkuasa dan perkasa atas kami, termasuk engkau Abdul Somad.
Sia-sia kami membela-Nya, sebab jika pun kami nekat menjadi makhluk bodoh yang membela-Nya, Dia yang kau takuti itu sudah lebih dulu memaafkan dan mengampunimu.

Karena itu Abdul Somad, tertawalah seriang jemaahmu setelah mendengar engkau berceloteh tentang salib dan jin kafir.
Tidak, kami yakin engkau pun tak akan dipolisikan
Pasal penistaan agama dalam undang-undang tidak berlaku bagi golonganmu.
Biarlah penistaan agama hanya berlaku bagi kami agar kami lebih berhati-hati dan menghormati keyakinan saudara-saudara kami.

Kau bilang jin kafir yang tergantung di salib menoleh ke kiri atau ke kanan?
Ketahuilah, Yesus yang kau sebut jin kafir itu kini dan selamanya sedang menoleh ke arahmu.
Dan Dia membisikkan kata-kata ke telingamu: "Somad, Aku mengasihimu."



Dari Seorang Sahabat

Selasa, 02 April 2019

TRAGEDI TIGA KATA




Terminal in sangat megah, dan mungkin benar, ini terminal terbaik dan terapi di negeri ini, meski aku belum mengenal semua terminal di negeri ini. Aku bergegas, dari peron penurunan penumpang, menuju terminal pemberangkatan. Aku menyusuri jalan, menuju arah timur, bising terminal masih terasa, meski tidak seperti di film-film tahun sembilanpuluhan dan sebelumnya.


Kuikuti petunjuk arah,mendung di langit atas kota ini, nampak menggelap. Setelah sekian menit, aku sampai tempat di mana ada bus yan ada tertulis kea rah daerah yang akan kutuju. Awak bus yang namanya sama dengan nama bus itu segera menghampiriku, dan menanya akan pergi ke mana. Setelah aku jelaskan, segera aku naik, ternyata bus ini ber-AC. Agak lama bus ini ngetem, entah menunggu penumpang atau waktu kebrangkatan, aku tidak tahu. Hatiku masih dirundung perih tiada terkira, dan waktu penantian di bus itu serasa seribu hari.

Sesaat kemudian, bus itu beringsut. Lamban, menyusuri jalanan kota, yang katanya rapi namun kesemrawutan masih nampak di sana-sin. Kota yang katanya rapi saja masih semrawut begini, apalagi kota yang lain ya?Gumanku dalam hati. Kucoba memejamkan mata, mencoba menenangkan pikiran yang terasa berat, sangat berat. Dalam situasi seperti ini, waktu seolah berjalan lambat, sangat lambat. Dan juga, dalam situasi seperti ini, memejamkan mata untuk kemudian sekejab tidur adalah kemewahan untukku.

Kucoba melihat ke luar, sudah ke luar dari kota ternyata. Dan ketika kondukteur bus menghampiriku, baru aku sadar,aku ternyata tertidur. Kemudian aku mengulurkan tangan, memberikan uang limapuluhribuan ke arah konduktur. Kembalian aku terima,dan aku kembali mencoba menikmati perjalanan. Kulihat hamparan sawah menguning, ada para petani, entah buruh atau penggarap, aku tidak tahu. Yang pasti merekalah pahlawan kehidupan ini, meski mereka tidak begitu dihargai, namun keberlanjutan kehidupan ini seutuhnya bergantung dari mereka, secara jasmani.


Sawah, rumah, sungai,bukit,waduk dan pepohonan mengantar perjalananku ke tempat yang dahulu beberapa kali aku lewati. Namun kini berbeda, karena dahulu dalam suasana suka, apalagi yang terakhir kemarin, kulakukan bersama-sama dan juga sesaat setalah hari bahagiaku. Namun kini berbeda, aku harus sendiri dan juga tanpa sepengetahuan siapa-siapa. Aku pamit untuk menjenguk sahabat yang sakit, dan malam berjanji akan sampai di rumah kembali.

Aku terkejut, manakala konduktur bus kembali mengingatkanku, bawa tempat yang aku tuju sudah dekat. Aku bersiap, dan ketika sampai di depan sebuah bangunan berbentuk limas,pendapa,aku turun. Kupesan jasa angkutan motor oline,dan ternyata ada. Sungguh sebuah kemajuan yang dasyat, untuk kota sekecil ini sudah ada angkutan modern. Kucari titik yang akan kutuju, kuingat-ingat nama dusun itu. Namun aku sulit mengingatnya. Kacaunya pikiranku membuat semua memory masa laluku terhempas entah ke mana. Sulit menemukan jasa angkutan motor online, lalu aku menyapa seseorang yang ternyata seorang ojek konvensional. Kutanya alamat yang akan kutuju,dan ternyata dia sangat paham.

Ternyata peristiwa itu juga dikenal ojek ini. Dengan detail dia bercerita sepanjang perjlanan kami menuju dusun itu. Aku meminta untuk tidak ke rumah, namun langsung ke makam. Dan ojek ini mengerti, memahami. Ketika kutanya siapa aku, kujawab dengan deplomatis.beberapa saat kemudian, sampai di sebuah jalan yang berbelok kekiri, menuju hutan pinus. Aku turun, kemudian membayar beberapa lembar puluhan ribu. Setelah mengucap terima kasih, aku beranjak meninggalkan si ojek. Ojek itu tersenyum, namun tidaksegera berbalik arah. 

Ku tengok saat aku mulai menjauh, masih tersenyum dan beringsut kea rah lanjutan, bukan berbalik. Ah..bodo amat…aku harus segera sampai.

Jalanan menanjak kutempuh, terengah nafasku. Sepi, sehingga nafasku aku bisa mendengarnya sendiri. Sekian kemudian aku sampai, dan di tanah yang agak datar, kusapu pandanganku, kucari pusara terbaru. Ada beberapa, kemudian kuperiksa, akhirnya kutemukan. Di ujung selatan, di bawah dua pohon pinus yang besar. Aku melangkah ke sana, dan kemudian kutatap pusara yang masih baru, bahkan bunga-bunga yang tertabur ada yang masih nampak segar.

Berjongkok aku mencoba mengamati tulisan di lambang salib itu..Dan kemudian ada air mata deras mengalir dari dua kelopak mata ini. Aku tidak peduli, kutumpahkan segala sedih dan sesalku. Semua yang aku anggap salah. Aku tidak peduli jika ada yang mendengar dan menghampiriku. Aku ingin meangis sepuasku. Aku yang menjadikan semua itu.

Kuusap air mataku dan kutatap tulisan itu. Kemudian yang kulihat bukan lagi tulisan itu, seperti layar film,banyak gambar yang bergantian menghampiri aku. Ada wajah polos bocah-bocah yang awalnya riang namun kemudian bersedih karena kehilangan, ada gambaran duku abadi di wajah bocah-bocah itu. Mereka nampaknya sadar, bahwa sampai selama-lamanya tidak akan bisa lagi berjumpa dengan sosok yang sekarang kaku di bawah timbunan tanah ini. Kudengar juga tetiba tangisan bcah-bocah itu, nyaring,sangat nyaring. Kututp telingaku namun tetap nyaring terdengar, karena memang itu suara batinku,bukan suara yang masuk ke dalam telingaku.

Aku terisak dalam kesendirian. Aku terhempas dalam kedukaan. Hanya karena abaiku, hanya karena sombongku, hanya karena keras kepalaku semua ini terjadi. Tiga Kalimat, itu yang berulangkali disampaikan untukku, tidak lebih. Berulangkali juga aku mencoba menawar, namun tetap bertahan dengan prinsip. Tiga kalimat yang tidak berat, namun entah mengapa, aku tidak pernah mau menuruti harapnya. Berulangkali mengingatkanku baik dengan bahasa sindiran atau langsung, namun aku tetap kukuh dengan tindakanku yang aku pikir benar. Sampai suatu waktu, entah mengapa ada semacam ancaman, bahwa jika tidak ada tiga kalimat itu, semua akan menjadi berat untuk banyak orang. Dengan itupun aku tetap diam, bahkan sengaja menghindari.

Kulihat pusara dan papan kayu berlambang salib itu. Kembali banyak gambaran melintas dalam mataku, waktu-waktu yang telah berlalu. Tidak pernah sosok yang sekarang kaku di bawah timbunan tanah ini menolak apapun yang aku minta, bahkan  naywapun dipertaruhkan untukku. Sampaisebelum peristiwa itu, semua yang aku pinta, diupayakan sampai dapat. Dari semua yang telah dilakukan, beliau tidak pernah menolak, selalu diakukan sebisa beliau.

Tiga Kalimat, itu yang selalu diharap dariku, dan aku kadang bisa, namun sering abai. Ketika abai, sering melempar isyarat ke aku, namun kuabaikan. Anacaman itu, tempo waktu, aku pikir canda. Dan semua seperti tsunami manakala aku mendengar kabar, bahwa beliau telah berpulang. Lebih perih, ketika taksempat aku menatap wajah beliau untuk yang terakhir kalinya.

Isakku tinggal sisa-sisa, semilir angin hutan menyibak rambut panjangku. Kulihat sekeliling, sepi dan aku baru sadar, aku sendirian. Gemuruh lembut suara dedaunan pinus dihempas angina, yang semestinya zimfoni indah, tetap saja bernada pilu dalam telinga dan relung sanubariku.

Aku pejamkan mata ini dan kemudian kembali terlintas banyak sekali peristiwa. Kemuian kutemukan wajah-wajah polos bocah-bocah yang sedang menangis, meraung,merintih karena kehilangan.tangisan itu bukan tangisan kesedihan dalam rasaku, tiba-tiba seperti tangisan kemarahan, tangisan kebencian yang tertuju ke arahku. Wajah-wajah polos bocah-bocah itu kemudian berubah menjadi wajah penuh kebencian, menatapku, menajam ke arahku yang masih bersimpuh dalam kedukaan tiada terkira.

Aku pasrah, aku menyerah. Kudiamkan saja ketika kurasa sosok-sosok bocah yang biasanya menghiasi hariku dalam suka itu melucur ke arahku dengan sejuta amarah dan dendam. Aku merasa bersalah dan aku pasrah. Detak langkah bocah-bocah itu seolah derab tentara pembunuh, menuju ke aku dengan pedang dantombak yang siap merajamku. Desah nafas merek, gemerutuk gigi-gigi mereka seolah ledakan bom dalam telingaku. Aku terdiam, siap terhakimi.

Aku sadar, sesadar-sadarnya bahwa akulah titik awal semua kedukaan mereka terjadi. Hanya gara-gara tiga kalimat yang selalu beliau pinta, namun kuabaikan. Akulah yang bersalah, akulah yang menyebabkan bocah-bocah tu kehilangan hangatnya dekapan seorang ayah. Akulah yang menyebabkan mereka, bocah-bocah itu kehilangan pelindung masa kanak-kanak mereka, akulah yang menghempaskan  asa mereka hanya karena sebuah hal kecil yang takjua mau kukerjakan.

Suara derap langkah kaki-kaki kecil itu kurasa semakin mendekat dan hempasan kemarahan mereka sudah siap aku terima dengan terbuak, sebagai wujud sesalku. Sesaat kemudian, aku merasa dihempasi tubuh lunglai bocah-bocah itu, dan bukan kemarahan yang mereka urai ke aku, namun justru tangislah yang mereka hamburkan ke arahku. Aku terkejut, aku kaget. Semua takpernah kusangka.. Jeritan dan isak tangis mereka semakin membuatku tersayat-sayat. Kudekap tubuh-tubuh mungil itu, kupeluk dengan sejuta tangis. Kedengar detak jantung kehilangan dari detak-detak jantung mereka, dan itu menyatu dengan detak jantungku.

Tangisan kami menyatu, semenyatu jiwa-jiwa kami. Kuelus rambut di kepala bocah-bocah itu, isakku menjadikan aku takmampu berkata-kata. Dan tangsian bocah kecil itu terasa sangat pilu, sangat getir. Kurasa alam semestapun ikut bersedih. Aku tenggelam, terhannyut dalam kedukaan,dalam kesedihan sempurna. Ketakutanku hilang, membaur dalam sedih bocah-bocah itu…Aku meniti jalan-jalan penyesalan bersama tubuh bocah-bocah yang masih sangat polos ini,hingga kemudian ada sesosok tangan menyentuh pundakku. Aku menoleh dan betapa kagetnya aku, seolah jantung ini hendak terlepas dari ragaku. Belum sempat kagetku tertata, kudengar suara lembut nan abadi, yang menjadikan aku tegar menghadapi semuanya.

“Semua sudah menjadi kehendaNya, jangan terlalu disesali. Kita iklaskan kepergian beliau kembali dalam naungan keabadian. Kita semua akan mengalami seperti yang beliau alami, namun kapan kita tida tahu. Biarlah beliau tenang meniti keabadiannya bersama Sang Kehidupan Sejati. Mari menata kehidupan kita supaya kapanpun kita dipanggilNya, kitapun siap.” Suara itu mengalir lembut dan tenang, menjadikanku seperti tertuang air sejuk yang abadi. 

Betapa kokohnya sosok ini, dan aku akan belajar dari beliau, batinku.
Ketika aku diajak meninggalkan makam, dengan santun dan lembut aku menolaknya. Aku ingin meniti sisa-sisa sedihku. Namun tangisan bocah-bocah itu meraguku. Bimbang melanda batinku, dan kembali sedih menderaku. Bocah-bocah itu pasti tidak tahu, bahwa akulah salah satu penyebab terpisahnya mereka dari sosok yang mereka banggakan.

Rayuan takbisa menggoyakanku, namun tangisan bisa meruntuhkanku. Kemudian akau meminta, untuk diijinkan tinggal sementara waktu sendiri, mereka mengijinkanku. Kutatap sosok-sosok tegar, yang sejatinya kulukai itu berjalan sampai takterlihat di belokan. Kemudian kembali kubersimpuh, ingin kuberdoa, namun sulit sekali melanikan doa dalam kebingungan yang sempurna ini.

Aku diam, mencoba mengikuti batinku, suara teriakan bocah itu, yang memintaku menyusul, makin memaksaku untuk berdoa. Diam…

“Maafkan aku ini, yang terlalu sombong, maafkan aku ini yang terlalu menuruti keendak pribadiku. Pintamu tidaklah berat, hanya tiga kalimat, namun takjua aku turuti. Kini, akibat dari semuanya, Tuhan sudah memanggilmu pulang. Kacaunya pikirnmu menyebakan engkau tabisa mengendalikan kendaraan itu, sehingga masuk jurang dengan kehancuran. Maafkan aku..maaf. sebisaku aku berjanji untuk ikut menjaga bocah-bocah itu. Maaf..maaf…selamat jalan…Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat kukenal..Inginku membaca tiga kalimat itu” Dan kemudian kurasakan semuanya gelap….

#padasebuahwaktu


Minggu, 18 Maret 2018

BERCERMIN DARI KETAATAN KABUT



Kembali aku membuka pagi dengan berharap akan menjumpai kabut. Maka kubangunkan raga dan kesadaranku jauh sebelum siang hadir. Masih dingin, udara dan kabut masih sangat lembut, angina sangat lembut, bahkan semilirnyapun takbisa kurasa,saat aku berjalan meniti jalan-jalan kampung di tempatku berdiam bersama masyarakat yang lain.

Jalanan masih seperti beberapa waktu saat proyek jalan Tol dibangun, dan saat usai serta beroprasipun belum ada tanda-tanda akan diperbaiki. Namun justru dengan jalan yang takberaturan ini, bisa kunikmati betapa berhati-hati saat berjalan itu benar-benar dibutuhkan. 

Jalanan menanjak, gelap masih menaungi tanah dan rerumputan. Nafas usia 40 tahunan dan tubuh 78 kg mengiring inginku menikmati kabut di lereng bukit. Suara deru mobil melesat di jalan tol ikut menggoda konsentrasiku meniti jalan sepi.

Sesampai di bukit yang terpenggal demi proyek tol, kulihat bukit sebelah selatan tempatku berada, masih agak hitam, namun di sana dapat kulihat putih kabut yang memeluk bukit, ada batas jelas di bagian bawah bukit, sementara beberapa kabut nampak asyik bermain-main dengan mobil-mobil yang menderu kencang, TAAT kepada sang pengemudi.

Tak tahu juga apa kesan sang pengemudi, sewaktu digoda kabut itu, mungkin kesal atau bahkan ada juga yang behagia, karena selalu merindu kabut dengan segala keberadaannya. Dari kabut pagi ini aku belajar apa itu kesetiaan, apa itu ketaatan. Meski berhak ikut menikmati alam semesta, namun kabut selalu taat dengan kebijakan semesta. 

Saat malam dan dingin serta tiada udara bergerak, ia, si kabut itu akan hadir dengan sangat nyaman dan merdeka, seolah malam milik mereka sendiri.

Namun saat ada yang mencoba menghardik mereka, entah itu manusia, usara ataupun mobil yang bergerak cepat, ia akan TAAT, menyingkir penuh canda tanpa pernah hendak meluka kepada siapa dan apa saja yang mengusir mereka. Betapa ketaatannya menjadikan semesta rapi tertata dan sangat teratur. Karena sejatinya, kabut itu adalah air dalam rupa berbeda, yang sedang meniti jalan hidupnya  dengan setia. Akan tiba saatnya dia naik bersama kerabatnya, semua kabut, naik keangkasa dan kemudian menyatu, menjadi mendung dan sewaktu-waktu, jika tiba saatnya, akan menjadi hujan.

Hujan begitu dibutuhkan makluk penghuni semesta ini, dan itulah kabut dalam wajah yang berbeda. Kabut yang taat serta setia memainkan peran hidupnya untuk semesta. Dan pagi ini, nuansa TAAT akan mengisi ziarah iman, mereka yang akan berbakti. Spiritualitas kabut, yang setia serta TAAT, menjadi nafasku pagi dan sepanjang hari ini.

Salam Kabut
NALEN18032018

Jumat, 21 April 2017

Agama Yang Tersesat



Suara gemericik air di pancuran membuat Dalijo semain bersemangat menyelesaikan pekerjaannya. Mencangkul untuk ditanami padi. Memang menjadi pilihan hidup Dalijo. Dan Dalijo gembira menjalani pilihan hidupnya itu.


Anda menyayangi Anak-anak anda?



Sawah di sebuah lembah, di gugusan pegunungan seribu, sebuah tempat yang sejatinya terkenal tandus di propinsi jawa tengah. Namun berbeda dengan sawah Dalijo, sawah itu subur dan penuh berlebih air, sangat berbeda dari mitos bahwa daerahnya  selalu kekurangan air. Nama wilayah sawah milik Dalijo adalah Prampalan. Yah, sawah itu warisan leluhur Dalijo.

Gemericik air itu dari sebuah pancuran, untuk mengalirkan air dari saluran air yang di daerah Dalijo dinamakan uwangan. Terbuat dari bamboo yang dipotong sekitar 60-100cm, ruasnya dilobangi. Saluran dibuat agar tidak terjadi pengikisan tanah sehingga mengurangi kesuburan. Gemericik itu selalu menjadi semacam simfoni dalam hidup Dalijo dengan sawahnya, dan itu yang membuat Dalijo bahagia.

Udud sik Dal, tinggal sedikit itu. Santai wae, nanti usai udud dilanjut lagi”, Sapa Kartolo, anaknya Kang Sutimin, pemilik sawah yang berseberangan dengan sawah Dalijo.

“Siap Kar, tapi sebentar, tinggal sebentar usai”, Jawab Dalijo sembari mengusap keringat yang membanjiri dahi dan muka, bercampur air lumpur yang sangat keruh. Kemudian Dalijo melanjutkan pekerjaannya, mencangkul sementara Kartolo duduk du gubug sembari menikmati rokok 76 kesukaannya. Dan tidak kurang dari sebatang rokok, Dalijo menyelesaikan sisa pekerjaannya.

“Ndi rokokmu Kar, aku sekali-kali penegn ngrasain rokokmu..hehe..”, Sapa Dalijo sembari mencari tempat duduk di gubug sederhana itu. Kemudian Dalijo melepas “baju dinas” yang kotor, mengambil rokok milik Kartolo dan menyalakannya. Menghisapnya dengan hisapan yang tulus serta jujur tanpa pernah takut dosa, seperti kata beberapa pendeta di desanya bahwa merokok itu dosa.

“Dal, menurutmu ngrokok itu dosa enggak sih?”, Ujug-ujug Kartolo bertanya agak serius. “Kemarin aku Tanya Sareh tapi dia tidak bisa menjawab, makane saiki aku bertanya padamu”, Lanjut Kartolo.

Ingin Usaha Ticketing?
modal minimal hasil maksimal

Dalijo menghela nafas, kemudian diam. Lalu beberapa detik kemudian menghisap rokoknya kembali. Suasana hening, dan dalam keheningan, suara gemericik air, suara dedaunan terhempas angin menjadi lebih jernih. Juga dari pepohonan di sekitaran sawah itu, suara aneka burung masih riuh, berebut dengan suara angina menabuh dedaunan serta gemericik air sungai gunung mengahntam bebatuan.

Agama sudah berubah Kar. Dia sudah tidak hadir sebagai penyejuk kehidupan, sebagai penuntun kea rah kebajikan dan kepada kehidupan kekal. Rokok itu tidak berkaitan dengan iman atau agama. Namun sekarang semua sudah dicampuraduk tidak karuan. Agama sudah dijadikan semacam bumbu dan keidupan ini adalah bahan makanan, maka semua dimasuki atau ditaburi agama, meskipun sama sekali tidak membutuhkan agama. Lihat saja di tipi-tipi itu, agama kok dibawa untuk demo, itu yang ngelakuin kan kenthir ta Kar, gendeng tingkat tinggi”, Jawab Dalijo serius dengan nada datar dan berat. 

Dari jawabannya, dapat diraba betapa Dalijo, betapapun tinggal di dusun terpencil dan memilih pekerjaan sederhana, namun kepedulian terhadap kehidupan bersama masih sangat tinggi.

“Aku juga risih Dal, melihat orang-orang yang berpakaian sok agamis, namun kelakuannya seperti ekstrimis. Mereka seolah yang empunya dunia dan malah surga, semua harus tunduk kepada mereka. Aku juga gemes dengan Negara ini, pemerintah yang sah kok sepertinya kalah dengan preman berbaju agama itu ya?”, Ungkap Kartolo yang sempat kuliah di jogja.

Suasana kemudian hening lagi, Dalijo dan Kartolo seolah masuk ke dunia imajinasi mereka masing-masing, entah apa yang mereka pikirkan, mungkin mereka bertemu di alam imajinasi dan bercakap sedangkan raganya terlihat terdiam. Panas mentari semakin terasa menyengat sementara di ujung timur laut, nampak mendung hitam sudah siap menyramkan air hujannya ke tanah di pegunungan itu.

“Dal, ayo pulang sik. Nanti malam kita lanjut di rumahmu, di lincak dekat jendela teras rumahmu ya. Semoga Sareh, Ibot, Remik dan yang lain isa nggabung”, Sapa Kartolo. Suasana kemudian kembali sepi, mereka berdua bergegas meninggalkan sawah,gubug dan semua yang ada, mereka pulang. Mereka meninggalkan ruangan diskusi tentang "agama yang sudah tersesat dibelantara dunia yang rusak dan kejam".

Salam

FIKSI Di Malam PASKAH