Tampilkan postingan dengan label Narasi Akhir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi Akhir. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 Agustus 2019
Puisi Untuk Somad
Ustad Abdul Somad
Bukan, bukan ...
Apa yang kau ucapkan:
di salib ada jin kafir
sesungguhnya bukan hinaan
Bukan ejekan
Apalagi cemoohan
Bukan pula penistaan agama.
Bagi kami, apa yang kau ucapkan
Ya, yang kau ucapkan di depan jemaahmu
Bahwa sosok yang tersalib adalah "jin kafir" dan karenanya pantas dijauhi adalah kata-kata mutiara bagi kami.
Kami marah?
Tidak, sebab kemarahan bukan milik kami
Kami balas dendam?
Tidak, sebab pembalasan, apalagi dengan dendam, bukan ajaran dan hak kami.
Sebaliknya, kami justru berterima kasih kepadamu Somad, sebab kami jadi ingat bahwa "jin kafir" yang kau sebut itu telah mengajarkan kami "ampunilah akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami."
Lalu, haruskah kami membela sosok yang kau sebut "jin kafir"?
Tidak Ustad Somad
Buat apa kami membela-Nya, sebab Dia lebih berkuasa dan perkasa atas kami, termasuk engkau Abdul Somad.
Sia-sia kami membela-Nya, sebab jika pun kami nekat menjadi makhluk bodoh yang membela-Nya, Dia yang kau takuti itu sudah lebih dulu memaafkan dan mengampunimu.
Karena itu Abdul Somad, tertawalah seriang jemaahmu setelah mendengar engkau berceloteh tentang salib dan jin kafir.
Tidak, kami yakin engkau pun tak akan dipolisikan
Pasal penistaan agama dalam undang-undang tidak berlaku bagi golonganmu.
Biarlah penistaan agama hanya berlaku bagi kami agar kami lebih berhati-hati dan menghormati keyakinan saudara-saudara kami.
Kau bilang jin kafir yang tergantung di salib menoleh ke kiri atau ke kanan?
Ketahuilah, Yesus yang kau sebut jin kafir itu kini dan selamanya sedang menoleh ke arahmu.
Dan Dia membisikkan kata-kata ke telingamu: "Somad, Aku mengasihimu."
Dari Seorang Sahabat
Selasa, 02 April 2019
TRAGEDI TIGA KATA
Terminal in sangat megah, dan mungkin benar, ini terminal
terbaik dan terapi di negeri ini, meski aku belum mengenal semua terminal di
negeri ini. Aku bergegas, dari peron penurunan penumpang, menuju terminal
pemberangkatan. Aku menyusuri jalan, menuju arah timur, bising terminal masih
terasa, meski tidak seperti di film-film tahun sembilanpuluhan dan sebelumnya.
Kuikuti petunjuk arah,mendung di langit atas kota ini, nampak
menggelap. Setelah sekian menit, aku sampai tempat di mana ada bus yan ada
tertulis kea rah daerah yang akan kutuju. Awak bus yang namanya sama dengan
nama bus itu segera menghampiriku, dan menanya akan pergi ke mana. Setelah aku
jelaskan, segera aku naik, ternyata bus ini ber-AC. Agak lama bus ini ngetem,
entah menunggu penumpang atau waktu kebrangkatan, aku tidak tahu. Hatiku masih
dirundung perih tiada terkira, dan waktu penantian di bus itu serasa seribu
hari.
Sesaat kemudian, bus itu beringsut. Lamban, menyusuri
jalanan kota, yang katanya rapi namun kesemrawutan masih nampak di sana-sin. Kota
yang katanya rapi saja masih semrawut begini, apalagi kota yang lain ya?Gumanku
dalam hati. Kucoba memejamkan mata, mencoba menenangkan pikiran yang terasa
berat, sangat berat. Dalam situasi seperti ini, waktu seolah berjalan lambat,
sangat lambat. Dan juga, dalam situasi seperti ini, memejamkan mata untuk
kemudian sekejab tidur adalah kemewahan untukku.
Kucoba melihat ke luar, sudah ke luar dari kota ternyata.
Dan ketika kondukteur bus menghampiriku, baru aku sadar,aku ternyata tertidur. Kemudian
aku mengulurkan tangan, memberikan uang limapuluhribuan ke arah konduktur. Kembalian
aku terima,dan aku kembali mencoba menikmati perjalanan. Kulihat hamparan sawah
menguning, ada para petani, entah buruh atau penggarap, aku tidak tahu. Yang pasti
merekalah pahlawan kehidupan ini, meski mereka tidak begitu dihargai, namun
keberlanjutan kehidupan ini seutuhnya bergantung dari mereka, secara jasmani.
Sawah, rumah, sungai,bukit,waduk dan pepohonan mengantar
perjalananku ke tempat yang dahulu beberapa kali aku lewati. Namun kini
berbeda, karena dahulu dalam suasana suka, apalagi yang terakhir kemarin,
kulakukan bersama-sama dan juga sesaat setalah hari bahagiaku. Namun kini
berbeda, aku harus sendiri dan juga tanpa sepengetahuan siapa-siapa. Aku pamit
untuk menjenguk sahabat yang sakit, dan malam berjanji akan sampai di rumah
kembali.
Aku terkejut, manakala konduktur bus kembali
mengingatkanku, bawa tempat yang aku tuju sudah dekat. Aku bersiap, dan ketika
sampai di depan sebuah bangunan berbentuk limas,pendapa,aku turun. Kupesan jasa
angkutan motor oline,dan ternyata ada. Sungguh sebuah kemajuan yang dasyat, untuk
kota sekecil ini sudah ada angkutan modern. Kucari titik yang akan kutuju,
kuingat-ingat nama dusun itu. Namun aku sulit mengingatnya. Kacaunya pikiranku
membuat semua memory masa laluku terhempas entah ke mana. Sulit menemukan jasa
angkutan motor online, lalu aku menyapa seseorang yang ternyata seorang ojek
konvensional. Kutanya alamat yang akan kutuju,dan ternyata dia sangat paham.
Ternyata peristiwa itu juga dikenal ojek ini. Dengan detail
dia bercerita sepanjang perjlanan kami menuju dusun itu. Aku meminta untuk
tidak ke rumah, namun langsung ke makam. Dan ojek ini mengerti, memahami. Ketika
kutanya siapa aku, kujawab dengan deplomatis.beberapa saat kemudian, sampai di
sebuah jalan yang berbelok kekiri, menuju hutan pinus. Aku turun, kemudian
membayar beberapa lembar puluhan ribu. Setelah mengucap terima kasih, aku
beranjak meninggalkan si ojek. Ojek itu tersenyum, namun tidaksegera berbalik
arah.
Ku tengok saat aku mulai menjauh, masih tersenyum dan beringsut kea rah lanjutan,
bukan berbalik. Ah..bodo amat…aku harus segera sampai.
Jalanan menanjak kutempuh, terengah nafasku. Sepi,
sehingga nafasku aku bisa mendengarnya sendiri. Sekian kemudian aku sampai, dan
di tanah yang agak datar, kusapu pandanganku, kucari pusara terbaru. Ada beberapa,
kemudian kuperiksa, akhirnya kutemukan. Di ujung selatan, di bawah dua pohon
pinus yang besar. Aku melangkah ke sana, dan kemudian kutatap pusara yang masih
baru, bahkan bunga-bunga yang tertabur ada yang masih nampak segar.
Berjongkok aku mencoba mengamati tulisan di lambang salib
itu..Dan kemudian ada air mata deras mengalir dari dua kelopak mata ini. Aku tidak
peduli, kutumpahkan segala sedih dan sesalku. Semua yang aku anggap salah. Aku tidak
peduli jika ada yang mendengar dan menghampiriku. Aku ingin meangis sepuasku. Aku
yang menjadikan semua itu.
Kuusap air mataku dan kutatap tulisan itu. Kemudian yang
kulihat bukan lagi tulisan itu, seperti layar film,banyak gambar yang
bergantian menghampiri aku. Ada wajah polos bocah-bocah yang awalnya riang
namun kemudian bersedih karena kehilangan, ada gambaran duku abadi di wajah
bocah-bocah itu. Mereka nampaknya sadar, bahwa sampai selama-lamanya tidak akan
bisa lagi berjumpa dengan sosok yang sekarang kaku di bawah timbunan tanah ini.
Kudengar juga tetiba tangisan bcah-bocah itu, nyaring,sangat nyaring. Kututp telingaku
namun tetap nyaring terdengar, karena memang itu suara batinku,bukan suara yang
masuk ke dalam telingaku.
Aku terisak dalam kesendirian. Aku terhempas dalam
kedukaan. Hanya karena abaiku, hanya karena sombongku, hanya karena keras
kepalaku semua ini terjadi. Tiga Kalimat, itu yang berulangkali disampaikan
untukku, tidak lebih. Berulangkali juga aku mencoba menawar, namun tetap
bertahan dengan prinsip. Tiga kalimat yang tidak berat, namun entah mengapa,
aku tidak pernah mau menuruti harapnya. Berulangkali mengingatkanku baik dengan
bahasa sindiran atau langsung, namun aku tetap kukuh dengan tindakanku yang aku
pikir benar. Sampai suatu waktu, entah mengapa ada semacam ancaman, bahwa jika
tidak ada tiga kalimat itu, semua akan menjadi berat untuk banyak orang. Dengan
itupun aku tetap diam, bahkan sengaja menghindari.
Kulihat pusara dan papan kayu berlambang salib itu. Kembali
banyak gambaran melintas dalam mataku, waktu-waktu yang telah berlalu. Tidak pernah
sosok yang sekarang kaku di bawah timbunan tanah ini menolak apapun yang aku
minta, bahkan naywapun dipertaruhkan
untukku. Sampaisebelum peristiwa itu, semua yang aku pinta, diupayakan sampai
dapat. Dari semua yang telah dilakukan, beliau tidak pernah menolak, selalu
diakukan sebisa beliau.
Tiga Kalimat, itu yang selalu diharap dariku, dan aku
kadang bisa, namun sering abai. Ketika abai, sering melempar isyarat ke aku,
namun kuabaikan. Anacaman itu, tempo waktu, aku pikir canda. Dan semua seperti
tsunami manakala aku mendengar kabar, bahwa beliau telah berpulang. Lebih perih,
ketika taksempat aku menatap wajah beliau untuk yang terakhir kalinya.
Isakku tinggal sisa-sisa, semilir angin hutan menyibak
rambut panjangku. Kulihat sekeliling, sepi dan aku baru sadar, aku sendirian. Gemuruh
lembut suara dedaunan pinus dihempas angina, yang semestinya zimfoni indah,
tetap saja bernada pilu dalam telinga dan relung sanubariku.
Aku pejamkan mata ini dan kemudian kembali terlintas
banyak sekali peristiwa. Kemuian kutemukan wajah-wajah polos bocah-bocah yang
sedang menangis, meraung,merintih karena kehilangan.tangisan itu bukan tangisan
kesedihan dalam rasaku, tiba-tiba seperti tangisan kemarahan, tangisan
kebencian yang tertuju ke arahku. Wajah-wajah polos bocah-bocah itu kemudian
berubah menjadi wajah penuh kebencian, menatapku, menajam ke arahku yang masih
bersimpuh dalam kedukaan tiada terkira.
Aku pasrah, aku menyerah. Kudiamkan saja ketika kurasa
sosok-sosok bocah yang biasanya menghiasi hariku dalam suka itu melucur ke
arahku dengan sejuta amarah dan dendam. Aku merasa bersalah dan aku pasrah. Detak
langkah bocah-bocah itu seolah derab tentara pembunuh, menuju ke aku dengan
pedang dantombak yang siap merajamku. Desah nafas merek, gemerutuk gigi-gigi
mereka seolah ledakan bom dalam telingaku. Aku terdiam, siap terhakimi.
Aku sadar, sesadar-sadarnya bahwa akulah titik awal semua
kedukaan mereka terjadi. Hanya gara-gara tiga kalimat yang selalu beliau pinta,
namun kuabaikan. Akulah yang bersalah, akulah yang menyebabkan bocah-bocah tu
kehilangan hangatnya dekapan seorang ayah. Akulah yang menyebabkan mereka,
bocah-bocah itu kehilangan pelindung masa kanak-kanak mereka, akulah yang
menghempaskan asa mereka hanya karena
sebuah hal kecil yang takjua mau kukerjakan.
Suara derap langkah kaki-kaki kecil itu kurasa semakin
mendekat dan hempasan kemarahan mereka sudah siap aku terima dengan terbuak,
sebagai wujud sesalku. Sesaat kemudian, aku merasa dihempasi tubuh lunglai
bocah-bocah itu, dan bukan kemarahan yang mereka urai ke aku, namun justru
tangislah yang mereka hamburkan ke arahku. Aku terkejut, aku kaget. Semua takpernah
kusangka.. Jeritan dan isak tangis mereka semakin membuatku tersayat-sayat. Kudekap
tubuh-tubuh mungil itu, kupeluk dengan sejuta tangis. Kedengar detak jantung
kehilangan dari detak-detak jantung mereka, dan itu menyatu dengan detak
jantungku.
Tangisan kami menyatu, semenyatu jiwa-jiwa kami. Kuelus rambut
di kepala bocah-bocah itu, isakku menjadikan aku takmampu berkata-kata. Dan tangsian
bocah kecil itu terasa sangat pilu, sangat getir. Kurasa alam semestapun ikut
bersedih. Aku tenggelam, terhannyut dalam kedukaan,dalam kesedihan sempurna. Ketakutanku
hilang, membaur dalam sedih bocah-bocah itu…Aku meniti jalan-jalan penyesalan
bersama tubuh bocah-bocah yang masih sangat polos ini,hingga kemudian ada
sesosok tangan menyentuh pundakku. Aku menoleh dan betapa kagetnya aku, seolah
jantung ini hendak terlepas dari ragaku. Belum sempat kagetku tertata, kudengar
suara lembut nan abadi, yang menjadikan aku tegar menghadapi semuanya.
“Semua sudah menjadi kehendaNya, jangan terlalu disesali.
Kita iklaskan kepergian beliau kembali dalam naungan keabadian. Kita semua akan
mengalami seperti yang beliau alami, namun kapan kita tida tahu. Biarlah beliau
tenang meniti keabadiannya bersama Sang Kehidupan Sejati. Mari menata kehidupan
kita supaya kapanpun kita dipanggilNya, kitapun siap.” Suara itu mengalir
lembut dan tenang, menjadikanku seperti tertuang air sejuk yang abadi.
Betapa kokohnya
sosok ini, dan aku akan belajar dari beliau, batinku.
Ketika aku diajak meninggalkan makam, dengan santun dan
lembut aku menolaknya. Aku ingin meniti sisa-sisa sedihku. Namun tangisan
bocah-bocah itu meraguku. Bimbang melanda batinku, dan kembali sedih menderaku.
Bocah-bocah itu pasti tidak tahu, bahwa akulah salah satu penyebab terpisahnya
mereka dari sosok yang mereka banggakan.
Rayuan takbisa menggoyakanku, namun tangisan bisa
meruntuhkanku. Kemudian akau meminta, untuk diijinkan tinggal sementara waktu
sendiri, mereka mengijinkanku. Kutatap sosok-sosok tegar, yang sejatinya
kulukai itu berjalan sampai takterlihat di belokan. Kemudian kembali
kubersimpuh, ingin kuberdoa, namun sulit sekali melanikan doa dalam kebingungan
yang sempurna ini.
Aku diam, mencoba mengikuti batinku, suara teriakan bocah
itu, yang memintaku menyusul, makin memaksaku untuk berdoa. Diam…
“Maafkan aku ini, yang terlalu sombong, maafkan aku ini
yang terlalu menuruti keendak pribadiku. Pintamu tidaklah berat, hanya tiga
kalimat, namun takjua aku turuti. Kini, akibat dari semuanya, Tuhan sudah memanggilmu
pulang. Kacaunya pikirnmu menyebakan engkau tabisa mengendalikan kendaraan itu,
sehingga masuk jurang dengan kehancuran. Maafkan aku..maaf. sebisaku aku
berjanji untuk ikut menjaga bocah-bocah itu. Maaf..maaf…selamat jalan…Tiba-tiba
terdengar sebuah suara yang sangat kukenal..Inginku membaca tiga kalimat itu…”
Dan kemudian kurasakan semuanya gelap….
#padasebuahwaktu
Minggu, 18 Maret 2018
BERCERMIN DARI KETAATAN KABUT
Kembali aku membuka pagi dengan berharap akan menjumpai
kabut. Maka kubangunkan raga dan kesadaranku jauh sebelum siang hadir. Masih dingin,
udara dan kabut masih sangat lembut, angina sangat lembut, bahkan semilirnyapun
takbisa kurasa,saat aku berjalan meniti jalan-jalan kampung di tempatku berdiam
bersama masyarakat yang lain.
Jalanan masih seperti beberapa waktu saat proyek jalan
Tol dibangun, dan saat usai serta beroprasipun belum ada tanda-tanda akan
diperbaiki. Namun justru dengan jalan yang takberaturan ini, bisa kunikmati
betapa berhati-hati saat berjalan itu benar-benar dibutuhkan.
Jalanan menanjak,
gelap masih menaungi tanah dan rerumputan. Nafas usia 40 tahunan dan tubuh 78
kg mengiring inginku menikmati kabut di lereng bukit. Suara deru mobil melesat
di jalan tol ikut menggoda konsentrasiku meniti jalan sepi.
Sesampai di bukit yang terpenggal demi proyek tol,
kulihat bukit sebelah selatan tempatku berada, masih agak hitam, namun di sana
dapat kulihat putih kabut yang memeluk bukit, ada batas jelas di bagian bawah
bukit, sementara beberapa kabut nampak asyik bermain-main dengan mobil-mobil
yang menderu kencang, TAAT kepada sang pengemudi.
Tak tahu juga apa kesan sang pengemudi, sewaktu digoda
kabut itu, mungkin kesal atau bahkan ada juga yang behagia, karena selalu
merindu kabut dengan segala keberadaannya. Dari kabut pagi ini aku belajar apa
itu kesetiaan, apa itu ketaatan. Meski berhak ikut menikmati alam semesta,
namun kabut selalu taat dengan kebijakan semesta.
Saat malam dan dingin serta
tiada udara bergerak, ia, si kabut itu akan hadir dengan sangat nyaman dan
merdeka, seolah malam milik mereka sendiri.
Namun saat ada yang mencoba menghardik mereka, entah itu
manusia, usara ataupun mobil yang bergerak cepat, ia akan TAAT, menyingkir
penuh canda tanpa pernah hendak meluka kepada siapa dan apa saja yang mengusir
mereka. Betapa ketaatannya menjadikan semesta rapi tertata dan sangat teratur. Karena
sejatinya, kabut itu adalah air dalam rupa berbeda, yang sedang meniti jalan
hidupnya dengan setia. Akan tiba saatnya
dia naik bersama kerabatnya, semua kabut, naik keangkasa dan kemudian menyatu,
menjadi mendung dan sewaktu-waktu, jika tiba saatnya, akan menjadi hujan.
Hujan begitu dibutuhkan makluk penghuni semesta ini, dan
itulah kabut dalam wajah yang berbeda. Kabut yang taat serta setia memainkan
peran hidupnya untuk semesta. Dan pagi ini, nuansa TAAT akan mengisi ziarah
iman, mereka yang akan berbakti. Spiritualitas kabut, yang setia serta TAAT,
menjadi nafasku pagi dan sepanjang hari ini.
Salam Kabut
NALEN18032018
Jumat, 21 April 2017
Agama Yang Tersesat
Suara gemericik air di pancuran membuat Dalijo semain
bersemangat menyelesaikan pekerjaannya. Mencangkul untuk ditanami padi. Memang menjadi
pilihan hidup Dalijo. Dan Dalijo gembira menjalani pilihan hidupnya itu.
Anda menyayangi Anak-anak anda?
Sawah di sebuah lembah, di gugusan pegunungan seribu,
sebuah tempat yang sejatinya terkenal tandus di propinsi jawa tengah. Namun berbeda
dengan sawah Dalijo, sawah itu subur dan penuh berlebih air, sangat berbeda
dari mitos bahwa daerahnya selalu kekurangan
air. Nama wilayah sawah milik Dalijo adalah Prampalan. Yah, sawah itu warisan
leluhur Dalijo.
Gemericik air itu dari sebuah pancuran, untuk mengalirkan
air dari saluran air yang di daerah Dalijo dinamakan uwangan. Terbuat dari bamboo
yang dipotong sekitar 60-100cm, ruasnya dilobangi. Saluran dibuat agar tidak
terjadi pengikisan tanah sehingga mengurangi kesuburan. Gemericik itu selalu
menjadi semacam simfoni dalam hidup Dalijo dengan sawahnya, dan itu yang
membuat Dalijo bahagia.
“Udud sik Dal, tinggal sedikit itu. Santai wae, nanti
usai udud dilanjut lagi”, Sapa Kartolo, anaknya Kang Sutimin, pemilik sawah
yang berseberangan dengan sawah Dalijo.
“Siap Kar, tapi sebentar, tinggal sebentar usai”, Jawab
Dalijo sembari mengusap keringat yang membanjiri dahi dan muka, bercampur air
lumpur yang sangat keruh. Kemudian Dalijo melanjutkan pekerjaannya, mencangkul
sementara Kartolo duduk du gubug sembari menikmati rokok 76 kesukaannya. Dan tidak
kurang dari sebatang rokok, Dalijo menyelesaikan sisa pekerjaannya.
“Ndi rokokmu Kar, aku sekali-kali penegn ngrasain
rokokmu..hehe..”, Sapa Dalijo sembari mencari tempat duduk di gubug sederhana
itu. Kemudian Dalijo melepas “baju dinas” yang kotor, mengambil rokok milik
Kartolo dan menyalakannya. Menghisapnya dengan hisapan yang tulus serta jujur
tanpa pernah takut dosa, seperti kata beberapa pendeta di desanya bahwa merokok
itu dosa.
“Dal, menurutmu ngrokok itu dosa enggak sih?”, Ujug-ujug
Kartolo bertanya agak serius. “Kemarin aku Tanya Sareh tapi dia tidak bisa
menjawab, makane saiki aku bertanya padamu”, Lanjut Kartolo.
Ingin Usaha Ticketing?
modal minimal hasil maksimal
Dalijo menghela nafas, kemudian diam. Lalu beberapa detik
kemudian menghisap rokoknya kembali. Suasana hening, dan dalam keheningan,
suara gemericik air, suara dedaunan terhempas angin menjadi lebih jernih. Juga
dari pepohonan di sekitaran sawah itu, suara aneka burung masih riuh, berebut
dengan suara angina menabuh dedaunan serta gemericik air sungai gunung
mengahntam bebatuan.
“Agama sudah berubah Kar. Dia sudah tidak hadir sebagai
penyejuk kehidupan, sebagai penuntun kea rah kebajikan dan kepada kehidupan
kekal. Rokok itu tidak berkaitan dengan iman atau agama. Namun sekarang semua
sudah dicampuraduk tidak karuan. Agama sudah dijadikan semacam bumbu dan
keidupan ini adalah bahan makanan, maka semua dimasuki atau ditaburi agama,
meskipun sama sekali tidak membutuhkan agama. Lihat saja di tipi-tipi itu,
agama kok dibawa untuk demo, itu yang ngelakuin kan kenthir ta Kar, gendeng
tingkat tinggi”, Jawab Dalijo serius dengan nada datar dan berat.
Dari jawabannya,
dapat diraba betapa Dalijo, betapapun tinggal di dusun terpencil dan memilih pekerjaan sederhana, namun kepedulian terhadap
kehidupan bersama masih sangat tinggi.
“Aku juga risih Dal, melihat orang-orang yang berpakaian
sok agamis, namun kelakuannya seperti ekstrimis. Mereka seolah yang empunya
dunia dan malah surga, semua harus tunduk kepada mereka. Aku juga gemes dengan Negara
ini, pemerintah yang sah kok sepertinya kalah dengan preman berbaju agama itu
ya?”, Ungkap Kartolo yang sempat kuliah di jogja.
Suasana kemudian hening lagi, Dalijo dan Kartolo seolah
masuk ke dunia imajinasi mereka masing-masing, entah apa yang mereka pikirkan,
mungkin mereka bertemu di alam imajinasi dan bercakap sedangkan raganya
terlihat terdiam. Panas mentari semakin terasa menyengat sementara di ujung
timur laut, nampak mendung hitam sudah siap menyramkan air hujannya ke tanah di
pegunungan itu.
“Dal, ayo pulang sik. Nanti malam kita lanjut di rumahmu,
di lincak dekat jendela teras rumahmu ya. Semoga Sareh, Ibot, Remik dan yang
lain isa nggabung”, Sapa Kartolo. Suasana kemudian kembali sepi, mereka berdua
bergegas meninggalkan sawah,gubug dan semua yang ada, mereka pulang. Mereka meninggalkan
ruangan diskusi tentang "agama yang sudah tersesat dibelantara dunia yang rusak
dan kejam".
Salam
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Senen Wage 3 Juni 2019 BENINGE EMBUN ESUK dalijo in eksen Pangentasan 40:16-38 Jabur 29 Yokanan 15:26-16:4a “Nanging...
-
Selasa Legi 20 April 2021 BENINGE EMBUN ESUK Hosea 5 : 15- 6:6 Jabur 150 2 Yokanan 1 : 1-6 Mulane payo padha tetepungan lan mb...
