Tampilkan postingan dengan label Tentang Bapak dan Simbok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Bapak dan Simbok. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 April 2016

Kembali Mengenang Yang Telah Berpulang

Bapak
Angin mendesis dan menyusup melalui daun jendela cokelat yang semakin usang. Malam beranjak tua. Bulan setengah bulat perlahan naik tepat di atas pohon kelapa  di depan rumah agak sebelah barat,yang menjulang tinggi. Pohon kelapa peninggalan Simbah, yang sudah berdiri kokoh lebih dari setengah abad yang lalu. Dulu, Simbah yang menanamnya.
Kata bapak, sewaktu aku kecil, ketika umurku 6 tahun, bapak sering memanjat pohon itu. Menaikinya pijakan demi pijakan hanya untuk mengambilkan sebiji kelapa untukku.
Bapak dulu begitu cekatan dan sangat hati-hati ketika menyusuri setiap jengkal batang pohon kelapa yang begitu tinggi mencengkram langit. Dengan kaki telanjang, celana cokelat tua yang kusam dan banyak noda di mana-mana, kaos oblong yang terkoyak di bagian ketiak kanannya, serta sebilah Arit Cantheng kesayangan yang diselipkannya di celana kolor usang dengan tali ravia namun kokoh, bapak terlihat sigap dan tangguh menjejaki setiap titian yang dibuatnya tiap setengah meter di batang pohon.
Kalau bapak sudah berhasil menaklukan pijakan demi pijakan, Bapak selalu berseru, “Bapak sampai, Nak.” Begitu kata bapak dengan lantang di antara onggokan kelapa yang hijau ranum.
Bagi bapak, kebiasaannya memanjat pohon kelapa bukan semata hanya untuk menuruti kemauanku untuk merasakan segarnya buah yang kaya manfaat ini, terlebih karena bapak merasa lebih berseri dan merasa lebih hidup karena dapat menaklukan pohon kelapa yang tingginya lebih dari 20 meter ini.
Setidaknya, dalam satu minggu bapak harus naik pohon kelapa, biar apapun alasannya, bapak merasa perlu memanjatnya, begitu kata bapak suatu sore yang cerah.
Bapak memang penuh dengan semangat dalam hidupnya. Hal itulah yang selalu beliau tularkan pada kami, aku dan ibuku. Jika bapak melihat kami berdua tengah murung dengan wajah yang kusut, ada saja hal yang bapak lakukan untuk membuat kami bergairah kembali. Dan akhirnya tertawa bersama.
Bapak sering mengajak kami ke kebun untuk mencabut singkong, memetik pisang, dan kalau sedang musim mangga, kami bertiga berbondong-bondong dengan karung beras untuk mengalap buahnya.
Kadang pula setiap akhir pekan, bapak suka sekali mengajakku untuk memancing di pinggir sungai yang terletak tak jauh dari kebun bapak, kebun peninggalan Simbah juga. Ikan yang kami dapatkan dari hasil memancing seharian kadang tak seberapa. Pernah pula kami tak dapat seekor pun ikan yang terjebak oleh kail kami. Hingga kami pulang tanpa hasil apapun.
Aneh, bapak selalu terlihat ceria dan semangat yang tak pernah luntur, padahal seharian lelah memancing, tapi tak ada hasilnya. Namun, yang kulihat di wajah bapak hanyalah semangat dan bahagia yang tak pernah aku lihat dari bapak-bapak manapun. Sepanjang jalan pulang, bapak selalu mengajakku bersenda gurau. Aku yang sangat lelah dan bosan hanya ikut tersenyum saja meladeni bapak. Aku tak bisa seceria bapak.
“Pak, kok bapak senang sekali? Padahal kita tidak dapat ikan,” kataku seraya mengelap peluh di kening. “Aku aja capek sekali, Pak.” Keluhku seperti bergumam.
“Apa bapak tidak capek? Sudah lama-lama kita mancing tapi tidak ada hasilnya.” Keluhku lagi. Keringat di tubuhku semakin bercucuran seiring dengan bertambah naiknya matahari pagi itu.
Kulihat baju bagian belakang bapak hampir kuyup oleh keringat. Bapak tetap terlihat bergairah. Entah rahasia apa yang bapak sembunyikan, hingga selelah apapun bapak tetap tampil prima.
“Iya dong, kita memang harus tetap semangat,”
“Ingat, Nak! Memancing itu bukan sekedar untuk mencari ikan saja. Kita juga belajar sabar,” tiba-tiba langkah bapak terhenti.
“Nak, ikan yang kita pancing ibarat suatu kebahagiaan dan kesejahteraan dalam hidup kita. Kita harus pandai-pandai memancingnya, Nak. Ingat, Nak! Kebahagiaan dan kesenangan tidak akan datang dengan sendirinya. Kita harus berusaha mendapatkannya. Kita tidak boleh hanya berdiam diri menunggu orang lain memberikan kedua hal itu pada kita…”
“Tanpa usaha dan kerja keras, dan disertai dengan ketekunan yang kita miliki, mustahil jika kita dapat mendapatkan nikmat-Nya.” Lanjut bapak seraya mengacungkan telunjuknya ke atas.
“Nikmat-Nya?” tanyaku mengikuti gerakan tangan bapak.
“Nikmat Allah, Nak.”
“Oh..” jawabku singkat.
“Tapi, Pak. Kita kan tadi sudah bersusah payah dan sabar. Kita sudah berjam-jam duduk di pinggir sungai untuk memancing, tapi kita tidak dapat apa-apa. Ikan yang bapak bilang seperti kebahagiaan dan kesenangan itu tidak berhasil kita dapatkan.”
Bapak diam sejenak. Pundakku dirangkulnya dengan lembut. Kami berjalan kembali, kali ini agak pelan.
“Nak, tidak penting kebahagiaan dan kesenangan apa yang kita cari.”
“Aku tidak mengerti, apa yang bapak maksud?”
“Begini, Nak.”
Bapak diam sejenak. Tak berhasil jua aku mendapatkan raut kecewa atau pun lelah yang mencakar wajahnya. Tutur katanya tetap lemah lembut penuh rasa sayang, rasa sayang seorang bapak yang luar biasa.
“Apapun dan bagaimanapun hasil yang kita peroleh di hidup ini, tidaklah begitu penting kita bicarakan. Yang terpenting bagaimana kita menjalani semuanya, Nak. Menjalani semuanya dengan ikhlas. Ikhlas melakukan suatu proses yang membuat kita menghargai setiap perjuangan dalam diri kita.
Ingat, Nak!

Keberhasilan dalam hidup ini tidak akan berarti apa-apa tanpa proses yang rumit, tanpa proses yang begitu sulit. Karena hal itu yang akan membuat kita menjadi pribadi yang patut disejajarkan dengan orang-orang sukses.
Malam kian beranjak pergi ketika jarum jam berkutat tepat di angka 3 dini hari. Samar-samar kokok ayam terdengar bersahutan satu sama lain. Irama prajurit malam malah semakin santer terdengar. Silih beradu menjadi yang paling kencang.
Dingin udara dan koko ayam jantan kompak membangunkanku yang masih berselimut mimpi semalam. Kulihat ibu masih terlelap di atas kasur yang usang. Lampu temaram membuat tidurnya nyenyak bak bayi baru lahir. Tak ada gerak. Hanya desah nafas yang berhembus ringan.
Di balik daun jendela yang semakin rapuh termakan usia, lambaian siluet daun kelapa tersapu hembusan lembut angin pagi. Mataku terlempar jauh di antara bulatan kelapa. Bayangan wajah bapak senantiasa bersama dengan menjulangnya pohon itu. Ratusan langkah kaki bapak tertanam kuat di antara pijakan tiap tengah meternya. Goloknya, seakan menancap di setiap cangkang ranumnya kelapa.
Senyum lembut bapak yang tak kenal lelah bersemayam di setiap onggokan hijau yang menggoda tenggorokan untuk menelannya habis-habis.
Ah, andai bapak masih hidup.


Sabtu, 27 Februari 2016

Cara Aku Mengingatmu..


Pada Sebuah Pagi
Sebuah kenangan tentang sosok ibu (simbok)

Tidak seperti biasanya, aku terlelap ketika jarum jam belum melintasi angka 12. Mungkin letih,mungkin juga aku kekenyangan. Yang pasti aku terlelap, bersama kedua anak. Entah apa sebabnya pula, saat hampir dini hari, aku terjaga,kemudian sadar bahwa tugas dan tanggungjawab belum usai,maka segera kuberingsut menuju ruangan tempatku biasa berkarya.

Saat separo jalan aku mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabku,aku mendengar ayam jantan berkokok. Hal yang biasa tentunya, karena memang kokok ayam jantan pada pagi hari –dulu- sering dipakai sebagai penanda bahwa hari telah berganti. Suara itu tidak tidak sendiri ternyata, bersama dengan azan dan peringatan bahwa waktu  sudah tiba.

Bukan kedua suara itu yang menarik perhatianku. Justru dengan suara kokok ayam di waktu sepagi ini seolah memanggil ingatanku akan sebuah waktu. Yah,,,waktu dulu yang telah berlalu,waktu masih ada ibu (simbok). Dulu, sepagi ini beliau sudah bangun meski selalu berangkat tidur saat larut telah tiba. Dulu, beliau selalu paling awal membuka hari, saat semua orang di dalam rumah masih sibuk dengan segala mimpi dalam dekapan selimut kusam dan tikar robek yang terkadang baunya sangat khas dan sulit dilupakan.

Ibu, selalu menghadirkan rinduku. Rinduku untuk mengenang dan mengingatmu. Terkadang banyak hal kujumpai memanggil rinduku akan sosok dirimu. Sosok yang sabar dan penuh semangat bekerja, meski baru kutahu setelah berpulangmu bahwa ternyata dalam tubuhmu,kau simpan sembilu yang justru melukaimu. Seandainya dulu aku kau beri tahu dan aku kemudian berjuang, mungkin saat ini engkau akan masih bersama dengan kami. 

Masih bisa kberharap melihatmu menimang danmenggendong serta memanjakan dua cucumu  dariku. Karena aku tahu ibu, itulah yang selalu kaurindu.
Sepagi ini, dulu, engkau telah bersibuk diri di dapur. Menyalakan tungku, merebus air, erebus kedelai untuk membuat tempe. Takpernah engkau membangunkan kami, karena engkau selalu berpendapat,” Wong turu kui wong sing paling merdika, mula aja pisan-pisan ngganggu. Yen wis wancine tangi ngko lakyo tangi,,,”. 
Sungguh mulia kesadaranmu itu. Dan manakala aroma masakan sederhanamu hinggap di hidungku, terjagalah aku. Sebelum kau berangkat berkeliling menjajakan sayuran dan tempe buatanmu, kau berpesan “Sebelum berkarya, sarapanlah dulu”. Dan itu selalu aku lakukan meski aku juga tahu, hal itu malah takpernah kau lakukan. Kau berjuang sedari wagi sampai malam, mengelilingi desa demi desa tuk menjajakan sayuran dan tempe. 

Terkadang uang lembaran-lembaran kumal rupiah kau dapatkan,terkadang kepingan-kepingan logam,terkadang barteran barang-barang kau kumpulkan dan bahkan malah terkadang ada yang berbisik lirih,”Aku ngutang sik yo,,,”. Dan senyumu, walau letih terlihat dari sebening keringat di dahimu, masih kau sunggingkan.

Saat pagi ini, kepingan-kepingan kenanganku bersamamu terlintas jelas kembali. Suara air kau tuangkan dari Jun dan ember yang kau ambil dari sumur tetangga, dan itu kau lakukan manakala aku masih tertidur,jelas menggema kembali dalam ruangan kenangan ini. Sesuatu yang terkadang memanggil air mataku tuk menetes, meski lamban dari ujung mata ini. 
Kenangan yang juga akan terpanggil saat malam, sepulangku dari aktifitas harianku dan kudapati sosok bapak yang terggolek lemah dalam kelumpuhannya,kudapati pada tiga sosok yang terlelap,istri dan kedua anakku. Aku ingat pesanmu, sesaat sebelum kau akhiri derita akibat sakitmu, kau memintaku untuk menjaga bapak. Aku sudah lakukan bu,wis tak lakoni mbokk…Juga welingmu untuk segera membangun rumah tangga, juga sudah aku lakukan. Sekarang, gurauan dan teriakan saling berebut mainan dari dua buah kasihku selalu menemani hari-hariku ibu. Aku tidak tahu dengan jelas, apakah engkau bisa melihat dari alammu tentang keadaanku sekarang ini, harapku kau bisa dan dengan itu,kau bisa tersenyum meski kami takbisa menyapamu langsung. 
Terkadang, sengaja kukatakan pada kedua cucumu cerita-cerita tentangmu. Dan si kecil.yang oleh bapak dipanggil “Kunil” karena belum mau makan nasi,sampai usia dua tahun akan bertanya dalam ceracaunya,’bapak,,mbbbah mimi,,,mbahh mimi,,”Akh,,,betapa bahagiamu ibu andai saja kau dengar langsung suara itu meski aku yakin dan percaya, saat ini kau lebih bahagia.

Saat pagi seperti ini,aku selalu merindumu ibu. Sekarang,aku akan mantapkan langkah,akan kusediakan selalu waktuku, selalu sepagi ini untuk memanggil rinduku untukmu…
Kuangkat wajahku,kulihat benda penunjuk waktu. Ternyata sejam telah berlalu kugerakkan jemariku pada tuts computer portable ini. Dan di monitor juga menunjukkan hitungan waktu yang sama. Akh,,,ternyata rinduku padamu ibu,memanggil gairah semangat hidupku,,

Suara mercon itu kemudian mengakiri kenangan rinduku untukmu saat ini, dan juga diikuti tangisan si Kunil yang memanggilku tuk dibuatkan minuman. Salam kangen dari kami ibu…


FIKSI Di Malam PASKAH