Tampilkan postingan dengan label tentang bapak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang bapak. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2016

SAAT KERINDUAN ITU MEMANGGIL KEMBALI





Tiba-tiba aku mengingat kalian…yang sudah terlebih dahulu pulang ke dalam keabadian. 
Saat aku gagal memahami engkau, aku gagal memaklumimu,memaklumi kalian…
Saat aku marah dan geram ketika engkau menjadi seperti anak-anak. Aku saat itu lupa, betapa dahulu, dengan sangat sabar dan telaten, kalian berdua memanduku,menopangku, membimbingku..

Saat pikun menyergapmu dalam erangan sakit dan perihnya derita..aku baru sadar, betapa sabar kalian menolongku mengerti dunia ini..
Saat aku agak malas memandikanmu..aku abru sadar saat ini, saat engkau, saat kalian sudah tidak bersamaku, betapa dahlu kalian sabar membujukmu mandi dalam segala kenakalanku..

Malam ini..dalam keheningan..dalam kesepian..dalam kesdaran..aku teringat..betapa berat aku memapahmu menuju kamar mandi untuk sekedar beritual jasmani… dan aku tersadar, betapa dahulu dengan tidak mengenal letih, kau mangajariku berjalan, memapahku…menuntunku…
Bapak…Simbok..
Maafkan aku..yang terlambat sadar..terlambat mengerti ingin dan harapmu..sementara selalu kalian mengerti aku..mengerti kami anak-anakmu…
Kini..saat ruang dan waktu memisahkan..meski hati dan rasa ini takmungkin terpisah..aku tersadar…
Betapa pengorbanan kalian tiada terbatas…
Kesunyian ini..memanggilku rinduku pada kalian.. memanggil kenangan maa silam..saat keindahan dalam perjuangan pekerjaan menyatukan kita.. saat hujan dan panas mengurng kita…
Bapak.. Simbok…
Aku merindumu… ingin kau hadir dalam mimpiku..ingin kau menyapaku kembali… meski harapku sulit terwujud..

Sabtu, 16 Mei 2015

Upaya Menjaga Keutuhan



UTUH
Seorang lelaki, berusia sekitar 79 tahun, dengan wajah yang telah mulai keriput,rambut yang mulai memutih serta punggung yang sudah terbungkuk, terlihat asyik memainkan sebuah benda kecil,dan setelah disimak dari dekat, ternyata benda itu adalah sebuah Handphone jadul namun kuat karena sedikitnya fitur yang ada. Wajah lelaki itu tenang dan teduh serta terlihat damai, meski jejak-jejak derita bisa terbaca dari otot-otot kaki dan tangan yang berebut keluar menonjol di kulit-kulit daging. Kaos oblong biru tua, bertuliskan nama toko musik terkenal di ibukota sebuah propinsi di pulai jawa, itu yang dikenakannya.
“Santai mbah..”Sapa seorang anak remaja santun menyapa lelaki tua itu, saat melintas di depan halaman rumahnya.
“Iya Gus, lha mau apa lagi. Ini lho aku santai sembari berkabar ke anak-anakku, pakde-budhemu itu”, Jawab Lelaki itu. Kemudian lelaki remaja itu berbelok dan mampir ke rumah lelaki tua itu.
“Meskipun sekarang mereka ada di tempat jauh dan berlainan, ketujuh anak-anak eyang ini selalu eyang ajak berkomunikasi,meski sibuk dan lelah. Karena dengan komunikasi ini, keutuhan mereka tetap terjaga. Dengan terjaganya keutuhan mereka-meski jauh-maka damai dan sukacita akan saling dirasakan ngger, cah bagus. Bukankah ajaran Guru Agung demikian?Bahkan Sang Guru Agung itu mendoakan para murid dan pengikutNya agar tetap utuh,karena hari-hari ke depan tantangan keretakan semakin ganas menunggu dan bahkan menerjang. Uang,teknologi,peradaban, semua itu bisa membuat kuatnya keutuhan sekaligus bisa menjadi monster yang menghancurkan keutuhan. Makanya, eyang selalu berupaya menjga keutuhan mereka dengan selalu berkabar,selalu menyapa. Memang terlihat sepele dan tidak menghasilkan materi atau uang, tetapi kebahagiaan tidak harus diukur dengan uang ngger, cah bagus”, Demikian lelaki tua itu memberikan nasehat,petuah kepada lelaki remaja yang mampir di rumahnya.
Remaja itu manggutmanggut, seolah memahami apa yang diucapkan lelaki tua itu. Kemudian mereka terlihat saling tersenyum. Dua manusia berbeda generasi itu telah saling berupaya menjaga keutuhan dengan saling memberi, memberi sapaan dan memberi waktu. Akh, betapa indahnya dan utuhnya semesta ini jika semua saling mau memberi, memberi sapaan dan juga waktu untuk saling berbagi.
Kenangan akan almarhum bapak pada suatu waktu..

Minggu, 26 April 2015

Bersihkanlah Pikiran dari Racun Kehidupan

PELAJARAN BERHARGA DARI AIR IKAN-IKAN MATI DI SUNGAI
Siang yang panas. Kemarau musim itu terasa hadir lebih cepat dari "Jadwal" yang biasanya. Maklumlah, daerah tropis ini mengajari kami semua bisa hafal dengan jadwal alam,bahwa kemarau dan mudim hujan akan adil saling membagi waktunya. april sampai oktober,hjan letih sehingga beristirahat, sementara bulan-bulan berikutnya, Hujan akan berganti menjalankan fungsi dan tugas naturalnya. Panasnya sinar sang surya begitu menyengat seluruh tubuh menjadikan banyak makluk yang berjuang mencari tempat berteduh.
Dua orang remaja bersama dengan seorang setengah baya,berjalan beriringan melewati jalan setapak menuju sebuah tempat. Mereka berjalan dengan santai dan sesekali terdengar mereka bercakap. Dari percakapan itu,diketahui,bahwa ternyata mereka hendak mencari ikan di sungai yang mengalir di lembah-lembah diantara bukit-bukit di kampung itu. Memang, kampung itu sangat indah,hijau dan  enak dengan segala suasana khas alamiahnya. Dikelilingi perbukitan yang berhutan lebat, dengan pohon pinus dan jati mendominasi. Tegalan dan sawah model teras ering menjadi lukisan Illahi yang menghiasi kampung sederhana itu.
Rombongan kecil itu terus berjalan, melewati jalanan setapak penuh bebatuan,terkadang menuruni bukit-bukit kecil, namun keriangan menghiasi wajah-wajah polos sederhana mereka bertiga. Dalam balutan peluh dan nafas yang terengah, mereka akhirnya sampai pada sebuah sungai dengan cekungan bening. Saking beningnya,bebatuan di dalam cekungan itupun dapat dilihat dengan amat sangat jelas. Namun, sesaat kemudian, mereka bertiga diajak kaget melihat sebuah keanehan di cekungan sungai itu. Nampak bangkai ikan-ikan kecil dan katak serta beberapa hewan air tawar menyembul di pinggiran cekungan itu. Mereka bertiga seolah bertanya, ada apa gerangan sehingga hewan-hewan itu mati?
"Pak, kenapa semua binatang ini mati?", Tanya salah seorang anak remaja itu.
"Bapak tidak tahu, namu  mungkin baru saja ada orang yang nyari ikan dengan menggunakan racun", Jawab orang tua setengah baya yang ternyata adalah bapak dari dua remaja itu.
"Ayo,kita naik, kita cek, apa semua ikan-ikan dan hewan sungai ini mati!", Hela bapak itu dengan segera bergegas tanpa meminta persetujuan kedua remaja yang adalah anaknya itu.
Udara di sekitar sungai itu tidak sepanas di tempat jauh dari sungai itu, ada semilir angin yang tiba-tiba disajikan alam untuk mereka. Gemericik air sungai gunung ini seolah instrumenabadi yang akan terjaga sepanjang manusia bisa menjaga keseimbangan alam semsta ini. Mereka terus meniti pinggiran sungai itu,dan sampailah mereka di puncak sungai,sebuah lembah kecil dengan belukar alami yang masih indah di lihat. Bertiga kemudian mengamati sebuah botol kecil, dan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, si bapak itu berujar.
"Cara-cara seperti ini yang akan merusakalam indah ciptaan Tuhan!", Sambil kemudian duduk.  Mengambil rokok dari balik saku bajunya,kemudian menyalakannya sambil melanjutkan perkatannya.
"Nak, ketahuilah, alam ini diciptakan untuk dinikmati bersama,bukan untuk dirampok sendiri. Maka, jangan sekali-kali kalian nanti ikut-ikutan serakah seperti orang yang meninggalkan botol ini", Demikian si Bapak itu berbicara sambil menunjuk pada botol bertuliskan, "Cara Jitu mengusir hama". Dan ketahuilah, dari pengalaman ini kalian mesti sadar, bahwa Racun hama yang di taruh di hulu sungai ini membunuh semua hewan sungai sampai ke hilir sana. Demikian juga dengan kalian, jika pikiranmu sudah teracuni dengan sesuatu yang salah, mka sikap dan tindakan hidupmu akan selalu salah sampai selama-lamanya. Untuk itu, bersihkanlag pikiranmu dari racun-racun kehidupan ini".
Dua anak itu diam sambil mengangguk-angguk. Seolah mencerna perkataan bapak mereka. Semilir angin kembali menyapa mereka, dan kemudian mrereka kembali untuk pulang. Ikan yang mereka cari takjua mereka dapati, namun "Pelajaran Kehidupan" yang sejati mereka dapatkan.

sebuah kenangan akan almarhum bapak pada suatu waktu..prampalan medio juni 1989..

Senin, 13 April 2015

Untuk Almarhum Bapak..

SERPIHAN JEJAK-JEJAK KEHIDUPAN BAPAK
Sedikit Sejarahmu Yang Pernah Kudengar
Dimatamu masih tersimpan Selaksa peristiwa
Benturan dan hembasan terpahang dikeningmu
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah .... hmmm hmmm ...
Meskinafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin syarat
Kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dalam terbungkus..........hmmm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Ayah dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Namun kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu banyak menanggung beban ho ho
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dalam terbungkus hmmm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

Lagu itu,syairnya, telah lama membuatku terkesima. Selalu kubayangkan dirimu, suatu saat nanti, akan menjadi sebuah kenangan yang takmungkin terhapus dari lembaran-lembaran kehidupanku.
Tidak banyak yang aku tahu tentang masa kecil dan masa mudamu. Hanya, pernah kau berkisah bahwa kau lahir saat jepang masuk ke Nusantara ini menggantikan “Peran” Belanda (Londo) sebagai penjajah. Dari ceritamu bahwa kau sudah angon kebo saat diajari menyanyikan “Hitni sansi”,bisa kuperkirakan bahwa saat itu, sekitar tahun 1942-1945, engkau sudah berusia sepuluh tahun lebih. Data tentang saat kau pertama kali menghirup udara dunia ini sungguh sangat minim, sehingga takpernah sekalipun kami,anak-anakmu- mengenang hari jadimu, hari kelahiranmu. Kami sungguh tidak tahu,dan yang kami tahu pasti adalah saat kau kembali pulang ke pangkuan keabadian.
Setahuku, kau bersaudara lima, enam dengan dirimu. Yang pertama aku tidak begitu mengenal dan oleh karenanya tidak memiliki kenangan-kenangan,beliau namanya Kariojoyo. Anak-anak dari pakde Kariojoyo tergolong sudah mapan semua, ada yang jadi guru dan ada pula yang menjadi pendeta.  Yang kedua, juga sangat tidak kuenal karena bertempat tinggal berbeda dengan desa di mana kita tinggal,aku hanya kenal anak-anak pakde, beliau bernama Sutiyo Sowiryo. Kedua beliau, pakde-pakde itu hidup sebagai petani dan saat kurangkai huruf-hruf ini sudah berpulang ke pangkuan keabadian. Lalu bude giyem, yang sangat dekat denganmu. Ada lik waginem dan juga yang bungsu bernama lik satino. Wo giyem tinggal sekampung denganmu, juga wo kariojoyo dan lik waginem. Mereka bertani sebagai tumpuan melanjutka hidup. Dari mereka, amat jarang kuketahui tentang dirimu yang sejatin.
Kata Siwo[1] Giyem, Saudara tua terdekatmu, engkau adalah tipe anak ngeyel,selalu membantah dan berani sendiri meski tidak ada yang membela. Itulah salah satu wujud kekuatan pribadimu, meski juga bisa jadi merupakan kelemahan pribadimu juga. Kau juga pernah bercerita bahwa masa kecilmu sungguh jauh dengan masa kecilku,apalagi sekarang setelah masuk abad yang baru. Kau hanya memiliki satu celana yang digunakan untuk semua kegiatan,baik sekolah maupun angon. Kau berkisah bagaimana saat angon dan kemudian berendam di sungai/kali,baik pluncing maupun mandoran dengan menjemur celana goni untuk ganti dan tidur saat malam tiba. Masa-masa yang bagimu sungguh semangat indah. Kau bercerita bagaimana ramai dan serunya mengejar burung-burung saat hujan pertama, serunya nyuluh iwak kali dan juga jangkrik serta burung-burung. Semua begitu dekat di telingaku ini, seolah membawaku ke masa, saat kau kecil. Membayangkan suasana ceria penuh cawa dan canda, meski kampung di manakau hidup dan berkarya saat itu belumlah seterang saat ini.
Saat angon, adalah saat-saat indah dalam sejarah hidupmu bersama dengan teman-teman seusiamu. Kau bermain sepuasnya. Mencari burung,ikan disungai,umpet-umpetan dan juga sering menjadi pesta makan dengan obor-obor telo atau kimpul yang kau dapatkan bersama teman-temanmu di sekitar tempatmu angon. Angon, sebuah pekerjaan dan juga media bermain kanak-kanak dan remaja kampung, itu merupakan kepingan indah sejarahmu yang sempat kau ceriterakan kepadaku. Dan aku bisa mengerti, karena akupun sempat melakukan apa yang dahulu pernah kau lakukan juga, yaitu angon. Kau yang mengajariku angon. Setiap sore, sekitar pukul 13.30 sampai 14.00, kau menyebutnya cah icul,kami bergegas dengan sapid an kambing kami menuju pangonan, baik di Teken maupun di Salatan.
Takbanyak yang kudapati kisah dan sejarahmu sewaktu kau remaja dan pemuda. Hanya saja, yang kutahu, engkau pernah menikah sebanyak lima kali. Dari lima istrimu, dua yang sangat kukenal,yaitu almarhum simbok,yang menemanimu selama tiga puluh tahun dan jugabudhe Miyem,istrimu sebelum almarhum simbok. Dari kisah mbakyu Parsi,anak tirimu, aku tahu betapa engkau memiliki ketegasan yang hebat meski itu juga dibarengi dengan sikap dan tindakanmu yang semenangmu dewe.
Kisahmu saat terserempet kisah 1965 juga takbanyak yang kudapati. Kau sendiri enggan berkisah tentang hal itu. Dan aku hanya mencoba menerka, bahwa tujuanmu tidak menceriterakan itu,mungkin agar aku tidak memelihara dendam kepada siapapun,karena itulah pribadi mulai yang aku kenal tentangmu, tak pernah mendendam, bahkan kepada mereka-mereka yang membenci dan melukaimu. Kau sempat berkisah, meski hanya sepinyas, saat di dalam penjara,betapa kepedihan dan luka yang kau derita. Setiap hari hanya luka dan penghinaan yang kau dapatkan, namun takjua dendam mengusik jiwa muliamu. Mungkinkah itu wujud perubahan sikapmu setelah kemudian aku tahu kau mengenal “Ngelmu” lain yang mengalahkan semua ngelmu yang kau miliki?Entahlah, mungkin suatu saat aku akan megetahuinya.
Dari beberapa sumber yang berkisah tentangmu,aku juga bisa mendengar bahwa kau sangat menyayangi aku, sebab aku anak kandungmu yang pertama. Meski tubuh kecilku sangat tidak membuatmu lega dan bangga, namun selalu setiap pagi, kau gendong aku mengitari desa. Kau selalu menjawab sedang mbun-mbunke thole ben ndang cepet gede. 
 Sebuah awal saat kumulai mengingat akan sebuah pengalaman
Waktu itu usiaku sekitar lima tahun,dan adikku mungkin dua atau satu setengah tahun. Kami sedang berkunjung ke rumah saudara yang tinggal di ibukota, tepatnya di Jakarta. Berkunjung ke rumah adikku,pamanku, yaitu paklik Satino. Kebetula, tinggalnya beliau bertetanggan dengan beberapa saudara dari kampung. Maka lengkaplah keceriaan itu. Kami berangkat dengan menumpang bis malam yang saat itu seingatku adalah PO Jadi Mulyo. Entah berapa harga tiket saat itu, yang jelas kami turun dan paklik jemput di Mampang.
Kemuadian terus naik bajaj ke kebayoran baru, di sekitar pinggiran sungai radio dalam. Ingatku saat itu aku senang sekali. Oleh paklik aku dbelikan baju baru, diajak ke blok m dan melihat pancuran seerta dbelikan bakso. Sebuah makanan yang hanya singgah dalam bayanganku waktu itu. Kami jalan-jalan saat senja yang cerah, dan aku lupa,bulan apa itu meski bisa kuduga dalam ingatan,pastilah saat libur sekolah.
Aku masih ingat bahwa saat kecilku,hal yang paling aku larang dalam dirimu adalah saat makan. Aku selalu menolaknya,entahlah,aku sendiri tidak mengerti. Dalam sebuah kesempatan, masih saat di radio dalam, karena marah melihatmu makan, saat aku dirumah Yu Sakiyem yang bertingkat itu, aku kencing di atas dan hebohlah semua. Kau  tidak marah, hanya tersenyum. Juga saat aku masih kanak-kanak, saat sering kau ajak ke rumah pakde lurah Parno yang kaya itu, sering aku gobrak-abrik pepanenan yang sedang dijemur, dank au juga tidak diam.
Bersambung....

[1] Siwo, panggilan untuk saudara tua bapak atau ibu, sejajar dengan wak,makde,budhe atau juga pakde…sebutan ini akrab di daerah Jawa Tengah bagian selatan timur, seperti wonogiri dan Gunung Kidul

FIKSI Di Malam PASKAH