Tampilkan postingan dengan label Bahan Kotbah Minggu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahan Kotbah Minggu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2018

Penyesatan, Masih Adakah Saat ini? Markus 9:38-50



Fenomena media sosial yang menggelora tanpa bisa dibendung, menjadikanbanyak orang menjadi was-was, kuatir dan bahkan sudah sampai k tahap ketkutan. Mengapa demikian? Karena memang melalui media sosial, semua informasi mengalir bagai air bah ke dalam serambi kehidupan masyarakat. Ironisnya tidak semua informasi itu benar pada dirinya sendiri. Banyak informasi yang hanya bertujuan demi kepuasan diri dan kelompok tertentu, ada informasi yang isinya hanya fitnah,makian,tuduhan, hoax dan semua yang salah dengan tujuan mendiskriditkan kelompok atau orang yang sedang tidak disukainya. Semua informasi itu tanpa filter menerobos kehidupan kita semua. Jangankan anak kecil, orang dewasapun akan sulit memilah dan kemudian memilih mana yang benar dan mana yang salah, semua sudah memiliki kepentingan dan tidak mau bercerita untuk informasi itu, melainkan menggunakan informasi demi tujuan-tujuan tertentu. Semua yang terjadi di atas kenyataan yang ada yang bisa menjadikan orang lain kebingungan, itulah yang bisa dikategorikan penyesatan.  Maka dalam ibadah minggu ini, marilah kita merefleksikan kehidupan kita, bercermin dari Alkitab, supaya tidak tersesat dan tidak menyesatkan. Kita akan belajar dari Injil Markus 9:38-50.

Kisah dalam bancaan Injil di minggu ini, 30 september 2018 sangat menarik. Ada dua bagian perikop menurut LAI, yang pertama di Markus 9 ayat 38-41 yang berkisah tentang kedegilan hati para murid yang diwakili oleh  Yohanes. Kedegilan yang tergambarkan dalam ungkapan “bukan pengikut kita”. Kedegilan hati yang langsung direspon Yesus dengan tegas dan kugas, bahwa KITA itu bukan sekedar serombongan,sekumpulan,sekelompok tertentu, namun KITA bagi Yesus bermakna sangat luas. KITA menurut Yesus adalah siapa saja yang berbuat kebaikan.Sebenarnya mengapa Yohanes merasa perlu melapor kepada Yesus, ketika ada orang yang berbuat baik, dan itu bukan dari kelompoknya? Manusia memiliki kecenderungan untuk selalu menjadi yang nomor satu, pada bidang apapun itu. Manusia enggan tersaingi,mereka mau bersaing, namun enggan kalah. Nah, dalam titik inilah Yohanes sedang berada. Ia tidak bisa melakukan sesuatu dan pada saat bersamaan, ada “Orang lain” yang bisa melakuan tindakan itu. Disinilah Yohanes terhinggapi kecemburuan,kedengkian dan rasa iri hati berlebihan, maka dia lapor ke Tuhan Yesus. Ironisnya, bukannya dibela, justru Yohanes yang ditampar Tuhan Yesus dengan sikap dan pernyataan Tuhan Yesus.

Perikop kedua, dari Markus  pasal 9 ayat 42-50, yang berkisah tentang PENYESATAN. Digambarkan batapa  beratnya hukuman bagi siapa saja yang melakukan penyesatan . Artinya, siapapun itu,, jika melakukan penyesatan akan mendapatkan hukuman dengan api yang takterpadamkan. Yang menarik lagi adalah, Yesus memilah tentang apa saja yang bisa menyesatkan, dan itu seluruh anggota tubuh. Namun ada satu hal perlu dijadikan perhatian, meskipun Yesus tidak menyebutkan, namun terkait penyesatan itu sering terjadi dalam ranah ini :PEMAHAMAN

Yohanes memiliki pemahaman yang salah, karena berpikir bahwa yang menjadi golongannya adalah yang selalu bersamanya,yang sepaham, yang sama segalanya, yang manut dan tidak pernah memberontak, pokoknya yang selalu seragam. Itulah pemahaman Yohanes, dan ketika itu diungkapkan dihadapan Yesus, Yohanes berpikir akan dibela oleh Yesus, namun yang terjadi justru sebaliknya. Mengapa demikian? Karena dalam pandangan Yesus, PEMAHAMAN Yohanes SALAH, tidak benar, tidak hanya mereka yang grudak-gruduk saja yang harus menjadi satu golongan, namun siapa saja yang bertindak baik, itulah golongan Yesus. Menurut Yesus, konsep atau pandangan Yohanes itu menyesatkan dan bisa terjadi Penyesatan, oleh karena itu perlu dihentikan.

Pertanyaan buat kita sekarang adalah seperti judul renunganatau  di atas, Penyesatan, masih adakah saat ini? Menurut saya masih subur pertumbuhannya, baik dalam ranah konsep atau tindakan. Dan gereja justru sering melakukan itu, meski terkadang tanpa disadari. Sebagai contoh, soal perkunjungan orang sakit. Konsep yang hidup dan dihidupi adalah bareng-bareng mengunjungi yang sakit, dan itu seolah menjadi kebenaran mutlak, ketika tidak seperti itu maka penilaian yang muncul adalah SALAH, lalu mengkritik mejelis gereja. Apaka memang benar harus demikian?Nampaknya tidak, karena Yesus selalu sendirian saat mengunjungi yang sakit. Maksutnya adalah, jangan pernah memegangi satu pengalaman sebagai kebenaran mutlak, karena itu bisa menyesatkan.

Berkenaan dengan perjamuan kudus, gereja tanpa disadari telah memegangi satu konsep teologi tertentu dan itu dijaga sedemikian erat, sehingga mendiskriditkan anak. Anak dilihat sebagai “bakal manusia” yang selalu dikatakan belum dewasa,karena memang ukuran dewasa adalah usia dan menurut kaca mata orang dewasa. Bukankah ini juga meyesatkan dan bisa dikatakan penysatan?
Adakah yang lain?Silakan saudara-saudara membuat daftar untuk pribadi masing-masing..
Kembali ke persoalan Yohanes yang menuduh orang lain, meski berbuat baik, sebagai musuh karena bukan dari golongannya, nampaknya “Yohanesisme” itu masih tumbuh subur dijaman ini. Orang selalu melihat tang tidak dikenalinya sebagai lawan, sebagai “Mereka” atau “dia” dan bukan sebagai bagian dari kami. Semestinya, seperti pengalaman Yohanes, yang harus dikerjakan adalah bercapak, membangun dialog untuk kemudian bekerjasama. Sepanjang berpikir dia atau mereka, maka spirit membuka diri untuk bekerjasama sangat sempit dan itu berbahaya. Oleh karena itu, marilah kita meletakkan konsep hidup sederhana, bahwa siapapun itu, yang berbaut baik demi kebaikan bersama, kenal atau tidak kenal, dialah saudara kita dan sebaiknya diajak bekerjasama demi kebiakan yang lebih luas..

Nalen 280918

Sabtu, 25 Maret 2017

MENYEMBUHKAN KEBUTAAN



Kebutaan secara jasmaniah adalah gagalnya indera mata menangkap obyek yang ada. Bisa jadi ini dikarenakan oleh karena penyakit tertentu atau karena kecelakaan yang menjadikan mata sebagai indera pelihat mengalami persoalan. Akibat dari situasi buta adalah keberadaan sepi dan seolah sendiri untuk si penderita. 

Selain akibat langsung ini, buta juga menyebabkan bangunan relasi sosial penderita dengan lingkungan mengalami persoalan. Oleh karena itu, bisa dibayangkan betapa hal kebutaan merupakan beban hidup yang berat bagi si penderita. Secara medis mungkin ada jalan keluar mengatasi kebutaan, salah satunya dengan donor mata, namun biayanya pastilah sangat mahal, sehingga penderita buta sering pasrah dengan keadaan dirinya.

Saat sebagian manusia melihat buta sebagai sebuah kemestian hiduo, Yesus melihat dan menempatkan situasi buta dengan cara pandang yang berbeda. Saat para murid sibuk mencari-cari siapa yang salah dengan kebutaan, Yesus justru melihat bahwa kebutaan itu adalah panggilan Illahi untuk siapa saja yang melihat segera terlibat. Ini ditunjukkan Yesus saat melihat orang buta. Ia segera  bertindak dengan caraNya yang selalu unik. Dan akibat dari tindakan Yesus, si buta menjadi sembuh dan bisa melihat dunia dengan sempurna.

Tindakan Yesus di Yohanes 9 :1-41 ini hendak memberikan cermin hidup, agar siapa saja yang membacanya, seolah sedang berhadapan dengan cermin. Bahwa di depan cermin itu kita bisa melihat diri kita yang sering menghindar dari panggilan saat melihat ketidak beresan situasi. Yesus menampar para murid, bahwa kebutaan yang sedang mereka saksikan adalah panggilan Tuhan untuk terlibat memberi pertolongan.

Kebutaan bisa dalam arti konotasi. Buta terhadap apa saja, terhadap ajaran gereja, situasi sosial, terhadap kemiskinan, penderitaan dan segala yang berniansa minor dalam dunia ini. Melalui narasi ini, kita yang membaca diajak untuk menghadirkan “Terang Yang Bisa Melihat”. Kebutaan kita terhadap  situasi lingkungan sering kita alami, karena kita sibuk dengan diri sendiri dan bahkan mempersalahkan situasinya.

Maka, belajar dari Yesus Sang Terang Dunia, mari kita ikut melibatkan diri dalam situasi dunia yang (mungkin) sedang dilanda kebutaan. Kita melibatkan diri untuk membuat yang buta itu mampu melihat realita dan kondisi konkrit dunia ini. Keteladanan Yesus inilah yang menjadi pokok permenungan minggu ini, menghadirkan terang untuk siapa saja.
Ke-buta-an itu juga selalu ada di dekat kita, maka mari kita meneladan Yesus, menolong “yang buta” demi bisa melihat indahnya Dunia.

Kamis, 07 April 2016

TERBUKALAH UNTUK SEGALA CARA TUHAN MEMBERI PERTOLONGAN

TEBARKAN JALAMU KE SEBELAH KANAN

Narasi Injil terkait perintah Yesus di waktu pagi hari kepada Petrus untuk menebarkan jalanya di sebelah kanan sungguh sangat menarik. Mengapa menarik?Karena ada beberapa faktor yang perlu digumuli Dan dipelajari lebih mendalam.  Faktor yang pertama adalah, mengapa Petrus dan kawan-kawan begitu patuh kepada Sosok misterius di ujung pantai itu?Mengapa mereka tidak bermain rasio, bahwa mereka adalah para nelayan ulung yang sangat paham dengan dunia perikanan namun sangat gampang taat kepada perintah orang asing?Apakah mereka benar-benar taat sembari berharap atau melakukan karena frustasi?Ataukah mereka secara batin sudah paham bahwa yang di pantai itu adalah Yesus Guru mereka?


Pertanyaan-pertanyaan di atas mengajak kita berpikir untuk kemudian merenung. Kepatuhan Petrus dan kawan-kawan bisa terjadi karena rasa frustasi yang menghinggapi mereka karena sepanjang malam mereka berkarya hasilnya NOL besar. Bisa jadi mereka sedang berspekulasi dan karenanya, mereka melakukan apa saja yang dikatakan orang untuk mereka lakukan . 
Sejatinya mereka sadar bahwa jiwa ke-Nelayan-nan mereka telah mengatakan secara naluriah bahwa tidak mungkin ada ikan di pinggir pantai dan saat pagi hari, namun sosok misterius itu telah mampu mempengaruhi seluruh jalan pikiran Petrus dan kawan-kawan.


Semua ada kemungkinannya, dan keempat pertanyaan di ataspun semua punya potensi kebenarannya, dan bahkan bisa saling melengkapi. Bisa jadi Petrus dan kawan-kawan sudah putus asa dan sisa keyakinan di atas keputus-asaan itu adalah sikap hati yang terbuka akan datangnya pertolongan dari Tuhan dengan wajah yang berbeda. Dengan dasar berpikir ini kita bisa masuk ke pengertian pengambilan keputusan Petrus taat dengan orang asing itu, toh pada akhirnya mereka juga sadar bahwa si orang asing itu adalah guru mereka.

Narasi di atas sejatinya hendak berkisah tentang kesetiaan Allah untuk umatNya. Kesetiaan dilandasi dengan cinta  kasih yang sejati, sehingga Petrus dan kawan-kawan membuka alam pikir dan iman mereka akan cara yang sedang Tuhan ijinkan untuk menolong mereka. Dengan membuka pemahaman akan karya Tuhan, maka Dia akan berkarya.
Untuk kita, mari kita belajar membuka diri akan semua kemungkinan cara Tuhan menolong kita. Seperti Petrus, mungkin kita sudah letih karena sepanjang waktu terus bekerja dan bekerja, namun tidak bisa  menghasilkan apa-apa, nah kemudian Tuhan mengirimkan model lain. Jika kita yakin dan mengambilnya, maka ada berkat untuk kita, jika tidak, kita tidak akan seperti Petrus dan kawan-kawan, tidak mendapatkan apa-apa sampai pagi.

Salam Hormat


Sabtu, 12 Maret 2016

PAK TANI MEMPERSEMBAHKAN SAPI

Seorang Petani di desa, hidup sederhana. Saat perayaan Pesta Panen, ia membawa Sapi jantan muda seharga 4 juta. banyak yang kaget sekaligus kagum, meski banyak juga melihatnya sebagai sebuah kebodohan.

Kebijaksanaan dan Kedunguan sering ada dalam satu peristiwa. semua tergantung sudut pandang yang melihatnya. selengkapnya silakan baca..di..............

BAHAN KOTBAH 13 MARET 2013 
http://rata.in/1nf38

Salam Sejahtera

MELIHAT PAK TANI MENCANGKUL SAAT HUJAN


Bulan Februari baru berjalan sepertiga. Hujan mulai tumpah ruah membasahi bumi. Puncak musim hujan adalah berkah buat para petani daerah pegunungan, karena kesempatan menanam padi di sawah tadah hujan mereka. Bagi mereka yang  berada di perbukitan tandus itu, puncak musim hujan adalah anugerah tida terkira. Mereka bisa menanam padi yang akan menjadi sumber makanan mereka sampai musim hujan dan musim tanam berikutnya.

Mengerti keadaan seperti itu, maka bagi para petani di perbukitan tandus  selatan Jawa Tengah itu akan memanfaatkan dengan sebaik mungkin. Hujan dan panas tidak mereka perhatikan. Mereka bekerja dan bekerja. Mencangkul dan mencangkul, letih seolah tidak mereka kenal. Yang mereka kenal adalah bekerja secepat mungkin agar segera bisa menanam padi. Terlambat bagi mereka adalah bencana. Mengapa demikian?Karena jika terlambat tanam dan saat tanaman sawah sedang butuh air banyak namun curah hujan turun, celaka bagi mereka.

Kondisi lahan yang teras ering membuat alat canggih sulit masuk sehingga yang dilakukan adalah bekerja secara manuai. Inilah yang menjadikan mereka saat musim tanam seolah kehilangan bentuk dan rupa biasa. Wajah legam dan seluruh tubuh legam, wajah letih namun ada senyum cerah penuh harap  di balik wajah-wajah letih itu.

Bagi para petani ujung tenggara Jawa Tengah itu, pekerjaan menanam bukanlah derita, bukanlah hukuman. Mereka sedang menanam harapan. Mungkin bagi yang tidak mengerti mereka dengan benar, mereka dianggap sedang menjalani hukuman, karena pernah ada yang menginginkan mereka dipindahkan ke lokasi lain semisal transmigrasi. Namun mereka menolak. Bagi mereka, pekerjaan berat atau tidak tergantung cara menyikapinya. Mereka bersukacita saat menanam karena saat menanam itu sejatinya sedang menanam harapan.

Bagi mereka, para petani tadah hujan itu, menanam dan menuai bukanlah sesuatu yang terpisah. Keduanya adalah sebuah kesatuan yang utuh dan tidak mungkin terpisahkan. Keterpisahan tanam dan tuai itu justru sebuah dosa. Sebuah pelanggaran dan kesalahan. Jika menanam dan tidak menuai karena gagal panen, itu karena keteledoran manusia. Jika gagal panen karena tercuri, itupun kegagalan petani menjaga tanaman harapannya.

Jka ada yang melihat para petani di Perbukitan Kapur Tenggara Jawa Tengah berpeluh dalam panas dan hujan dan berpikir mereka sedang dihukum alam, sadarlah. Justru  mereka itu sedang menanami harapan untuk hidup mereka. Cara mereka melihat hidupnya berbeda dengan cara kita melihat hidupnya. Penderitaan dan beratnya hidup bagi kita ternyata adalah sumber sukacita bagi mereka.


Akhh..ternyata sudut pandang saya berbeda dengan mereka..

Minggu, 19 April 2015

Minggu 19 April 2015



Minggu 26 April 2015
KUASA KASIH KRISTUS

Pengantar
Begitu banyak kuasa yang berkuasa di dunia ini. Ada kuasa politik,kuasa ilmu, kuasa sehat,kuasa hokum dan lain sebagainya. Semua menunjuk pda adanya sebuah kekuatan yang menggerakkan sebuah tindakan. Kalau tema kita minggu ini adalah Kuasa KAsih, pertanyaannya adalah, apakah Kasih itu?
Jika kasih dipahami sebagai sebuah kekuatan konstruktif bagi seluruh semsta, lalu bagaimana jika di dalam berkarya itu, KAsih itu mesti harus melakukan gerakan destruktif?
Kuasa kasih, akan bisa diterima saat orang paham akan tujuan dari tindakan dan kasih itu sendiri. Tujuan dari tindakan kasih adalah kebahgiaan.

Bacaan 1
Konsweksi logis dari keberanian para Rasul menceriterakan kebangkitan Yesus harus dihadapi. Mereka ditangkap dan di tawan pemimpin Bait Allah. Semestinya orang yang dituduh salah dan kemudian ditangkap adalah merasakan sedih, namun bagi Petrus dan para murid tidak,justru dengan ditangkapnya mereka, itu adalah sebuah kesempatan untuk mengenal Yesus bangkit dengan sedemikian jelas dan terang. Bagi para murid, tantangan hidup itu tidak ditangisi dan disesali,justru itu dijadikan sebagai sebuah kesempatan untuk bersaksi
Keberanian para murid yang berubah 180 derajat menjadikan banyak orang bertanya,dengan kuasaorang telah kalian bunuh namun yang telah bangkit. Keberanian mereka terjadi karena ada kesehatian antara watak manusia dan   KAsih Karunia Allah. Para rasul sadar dan yakin bahwa mereka telah diberi kuasa itu, mereka sadar  dengan kuasa itu, mereka harus berani karena kehadiran Yesus selalu untuk melengkapi dan menyempurnakan sukacita.

Mazmur tanggapan
Mazmur 23
Narasi puisi ini kembali menjumpai kita dalam rentang kalender leksionari kita. Kekuatan Mazmur ini adalah keyakinan yang kuat akan penyertaan Yesus yang dilambangkan dengan konsep gembala dalam tradisi Israel. Pemazmur sangat sadar serta yakin bahwa sejarah hidupnya terlaksana karena penyertaan Tuhan,dalam susah dan sedih,dalam gunung dan lembah. Begitu menyatunya Pemazmur dengan Allah, sampai-sampai ditegor dan disesah (Gambaran gada dan tongkat)pun mereka senang. Mengapa demikian?Karena dengan mendengar bunyi tongkat dan gada, meski bisa memukul mereka,justru itu tanda bahwa Tuhan itu dekat dengan mereka.

Bacaan 2
1 Yohanes 3 :16-24
Ajaran Praktis Paulus tentang bagaimana mengimplemantisakan iman akan Yesus yang bangkit. Bahwa para murid harus meneladani Yesus sepenuhnya. Bagaimana caranya?Banyak yang bisa dikerjakan. Yesus dalam hidupnya selalu melakukan tindakan yang sederhana, namun dibutuhkan umat manusia. Dari anggur sampai nyawa, semua sudah Yesus sediakan. Tinggal bagaimana kita menerapkannya
Yohanes menekankan bahwa Bertindak kasih bukan sekedar pada tataran teoritis, melainkn harus dalam tataran tindakan. Kasih tidak harus diketahi saja, melainkan  juga harus dilaksanakan.


Yohanes 10:11-18
Konsep gembala kembali dijadikan pokok pewartaan. Dalam narasi ini Yesus memproklamasikan diri sebagai gemabala, bukan sembarang gembala,namun gembala yang sempurna. Kebaikan itu patokannya adalah relasi yang sangat baik yang menjadikan domba dan penggembala saling  mengenal dan mengerti. Yesus menghendaki umat memahamiNya sebagai gembal yang baik, yang menyerahkan segenap hidupnya.


Sugesti Penyusunan Kotbah
1.   Ajak jemaat  untuk jujur,apa yang membuat mereka takut. Setelah  itu ajaklah menyadari bahwa kebangkitan itu menjadi tugu peringatan kemenangan mereka.Kebangkitan Yesus menjadikan para murid lebih berano berkarya, dengan cara memberitakan pengalaman mereka kepada siapa saja, dan ini yang menjadikan pertentangan
2.   Ajaklah jemaat untuk menempatkan Yesus bagaikan gembala, seperti yang Daud lakukan. Sebagai gembala yang sempurna, bukan hanya menggiring ke padang rumput hijau dan air yang bening, namun juga menghardik dan membentak.
3.   Pemanggilan murid memiliki implikasi,bukan sekedar menjadi saksi (sekedar penonton), sekaligus pelaku
4.   Ajak jemaat meyakini dan kemudian menjalani hidup dan panggilan ini dengan berani,karena ada gembala agung
Penutup
Semoga catatan sederhana ini menolong siapa saja yang ingin mendalami lebih pesan Illahi dibalik kisah-kisah Kitab suci yang menjadi bacaan di minggu ini.
Selamat mencoba mendalami lebih lagi

Jumat, 10 April 2015

Bahagia yang Sempurna



Catatan-Catatan untuk kotbah..
MINGGGU 12 April 2015
Sebuah Sukacita yang Penuh
Pengantar
Penuh, itu berarti alat yang dipakai untuk menampung telah tidak muat lagi. Penuh dalam arti ideal, bukan ketika alat penampung tidak cukup tidak dipaksakan,namun penuh itu ketiga semua “Ruang Kosong” telah terisi. Tidak ada tambahan. Demikian juga saat seseorang merasa sukacitanya/senangnya/bahagianya penuh, berarti duka,sedih kepilian hidup sudah tidak bersemayam ladi dalam hidupnya, meski masih ada di sekitar hidupnya.
Para murid Yesus merasakan sukacita yang hebat saat tahubahwa Yesus,Guru mereka telah bangkit dari antara orang mati. Mereka –antara takut dan tidak percaya- merasa bahagia,namun belum sempurna. Dan, sempurnanya adalah saat meereka telah bertemu Yesus. Dalam bacaan-bacaan Alkitab minggu ini, kita diajak untuk melihat beberapa pokok teologi penting tentang sukacita dan penuh. Bacaan-bacaan di atas akan membimbing kita.
Bacaan I
4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
4:34 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
Catatan Teks
Pasca trilogy Yerusalem Golgota, Penangkapan,Penyiksaan dan Pembunuhan Yesus, keadaan Kota Yerusalem masih agak heboh,meski sudah mulai sepi karena sebagian sudah tidak begitu mempedulikan lagi trilogy itu,meskipun bagi sebagian besar orang –utamanya pendatang-,ada kekaguman luar biasa. Kekaguman yang berdasar dari kisah sengsara itu sampai desas-desus bahwa Si Mesias yang di salib itu ternyata telah bangkit. Nach…melihat situasi yang sungguh sangat “Ideal” ini, para Rasul yang dikomandani Petrus, menggunakan kesempatan untuk menyatakan pengalaman dan yang kemudian ia dan kawan-kawannya yakini. Dalam sebuah perkumpulan (mungkin semacam PA bersama), Petrus dengan lantang berbicara (Mungkin berpidato/berkotbah) tentang pengalaman yang diyakininya,yaitu Yesus yang telah bangkit. Mereka semua kemudian menjadi satu tekad,satu tujuan,satu sasara.  Yang agak unik, Petrus justru bisa memanfatkan situasi sulit sebagai sebuah peluang. Daripada repot-repot menemui Ahli taurat dan imam kepala yang belum tentu bisa dan berkenan ditemui,justru dengan penangkapannya menjadikan ia dan kawan-kawan memiliki kesempatan itu dan memanfaatkannya.
Perhatikan, catatan khusus ayat 32, semua menjadi satu, baik psikis maupun non psikis secara proporsional. Semua menjadi keluarga,milik bersama. kemilik bersaman itu digambarkan sebagai sesuatu yang sangat menggembirakan. Kemenyatuan hidup menjadi tanda kesehatian mereka. Semua terpadukan dalam semangat KEBANGKITAN.
Catatan Reflektif. Ini yang bisa menjadi cermin kita sekarang ini,ketika kebersamaan sirna digantikan dengan kesendirian dalam segala aspek kehidupan, tak terkecuali kehidupan relegius. Maka, sejatinya gereja sedang berjalan mundur,bukan maju mengikuti langkah Yesus, namun mundur,meninggalkan jalan yang dahulu dilalui Yesus.

Mazmur 133
133:1 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
133:2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.
133:3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Jujur, teks ini kerap kali saya pakai dasar untuk penghiburan,terkhusus untuk hari-hari setelah ke 40. Mengapa demikian?Karena dalam teks ini digambarkan dengan begitu jelas betapa yang menjadi point penting dari “Baik” dan “Indah” itu adalah rukun. Rukun itu dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti damai,tidak bertengkar,berseteru. Jadi ini berkenaan dengan hidup bersama,buka hidup sendirian.
Keindahan dari sebuah hidup yang rukun dikaitkan Pemazmur dengan sebuah ritus yang di dalamnya menyertakan Tuhan. Minyak yang melelh dari kepala ke janggut kemudian ke leher jubahnya. Ini adalah saat dimana seseorang diwisuda,diteguhkan untuk sebuah tugas-tugas khusus,bisa nabi,bisa raja. Dan untuk tugas itu, nabi yang ditugasi menahbiska diyakini menjadi kepanjangan tangan Tuhan dengan menuang minyak zaitun ke kepala si tertahbis,dan kemudian meleleh ke janggut (Pasti berewok),leher dan jubah. Saat orang Yahudi diurapi minyak,itulah saat yang sangat membahagiakan. Oleh karenanya,semua berharap diurapi minyak peneguhan itu.
Hal itu diungkapkan dalam sebuah puisi nan elok,bahwa kerukunan itu bak sumber kehidupan,seperti embun Gunung Hermon yang meleleh turun,menyatu dan kemudian menjadi aliran-aliran air bening yang menghadirkan kehidupan. ITULAH SUKACITA YANG SEMPURNA.

Bacaan II I Yohanes 1:1-2:2
1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup -- itulah yang kami tuliskan kepada kamu.
1:2 Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.
1:3 Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.
1:4 Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.
1:5 Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.
1:6 Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
1:7 Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.
1:8 Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
1:10 Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.
2:1 Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.
2:2 Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.
Dasar Surat Yohanes yang pertama ini adalah kerinduan Penulis agar jemaat (yang ia kirimi surat) tetap setia hidup untuk,dengan dan di dalam Allah. Ini terjadi karena pada waktu itu,berkembang ajaran bahwa Allah itu kudus dan dunia ini jahat,oleh karenanya,tidak mungkinlah Yesus itu Allah, karena hidup seperti manusia. Sebegitu kuatnya ajaran yang mengatakan bahwa Allah itu kudus dan oleh karenanya tidak boleh bersentuhan dengan Dunia yang tidak kudus itu, sampai-sampai Penulis Surat ini di ayat pertama terkesan agak marah. Ia menegaskan bahwa ia telah mendengar,melihat dan bahkan merabanya,semua demi keterjagaan iman umat. Itu yang akan menjadikan Si Penulis Surat bahagia,sukacita.
Teks yang kit abaca adalah teks pengantar, yang menekankan betapa pentingnya pengertian akan Karya Yesus dan konsep iman,pengampuan, hidup bersama. sebuah harapan yang sederhana, hidup yang tanpa berbuar dosa lagi. Namun jikapun berbuat dosa karena “Sebuah Keadaan”, kita sudah memiliki “Jembatan Imam” yang akan mengantarkan langsung kita ke Sang Pemilik Kehidupan.
Yohanes mengungkapkan sedikit konsep dan paham tentang keberadaan Yesus yang untuk semua bangsa,bukan hanya untuk Israel dan orang Kristen saja. Ini yang semstinya menegor kita bahwa karunia Illahi itu untuk semua umat, bukan terbatas di sekitar gereja.

Bacaan Injil, Yohanes 20 :19-30
20:19 Pada hari Minggu itu juga, ketika sudah malam, pengikut-pengikut Yesus berkumpul di sebuah rumah dengan pintu-pintu yang terkunci, sebab mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Tiba-tiba Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, "Salam sejahtera bagimu."
20:20 Sesudah berkata begitu, Ia menunjukkan kepada mereka tangan dan lambung-Nya. Pada waktu melihat Tuhan, mereka gembira sekali.
20:21 Lalu Yesus berkata kepada mereka sekali lagi, "Salam sejahtera bagimu. Seperti Bapa mengutus Aku, begitu juga Aku mengutus kalian."
20:22 Lalu Ia meniupkan napas-Nya kepada mereka dan berkata, "Terimalah Roh Allah.
20:23 Kalau kalian mengampuni dosa seseorang, Allah juga mengampuninya. Kalau kalian tidak mengampuni dosa seseorang, Allah juga tidak mengampuninya."
20:24 Tomas (yang disebut si "Kembar"), seorang dari dua belas pengikut Yesus, tak ada bersama yang lain ketika Yesus datang.
20:25 Maka pengikut-pengikut Yesus yang lain berkata kepada Tomas, "Kami sudah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas menjawab, "Kalau saya belum melihat bekas paku pada tangan-Nya, belum menaruh jari saya pada bekas-bekas luka paku itu dan belum menaruh tangan saya pada lambung-Nya, sekali-kali saya tidak mau percaya."
20:26 Seminggu kemudian pengikut-pengikut Yesus ada lagi di tempat itu, dan Tomas hadir juga. Semua pintu terkunci. Tetapi Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka, lalu berkata, "Salam sejahtera bagimu."
20:27 Kemudian Yesus berkata kepada Tomas, "Lihatlah tangan-Ku, dan taruhlah jarimu di sini. Ulurkan tanganmu dan taruhlah di lambung-Ku. Jangan ragu-ragu lagi, tetapi percayalah!"
20:28 Tomas berkata kepada Yesus, "Tuhanku dan Allahku!"
20:29 Maka Yesus berkata kepadanya, "Engkau percaya karena sudah melihat Aku, bukan? Berbahagialah orang yang percaya meskipun tidak melihat Aku!"
20:30 Masih banyak lagi keajaiban-keajaiban lain yang dibuat Yesus di depan pengikut-pengikut-Nya, tetapi tidak ditulis di dalam buku ini.
20:31 Tetapi semuanya ini ditulis, supaya kalian percaya *percaya: beberapa naskah kuno: tetap percaya.* bahwa Yesus adalah Raja Penyelamat, Anak Allah, dan karena percaya kepada-Nya, kalian memperoleh hidup.
Setting narasi di atas, adalah  waktu satu minggu paska kebangkitan. Dulu tidak ada Thomos,seting di atas si Thomas hadir. Namun jelas sekali meski sudah beberapa kali Yesus yang telah bangkit itu menampakkan diri, nuansa ketakutan masih kuat. Takut akan kebenaran Yesus yang bangkit dan juga takut kepada tentara Romawi. Sejatinya mereka telah pernah ditemui dalam kebersamaan,suatu malam,namun tanpa Thomas. Di narasi ini, Thomas ada.

Berita kebangkitan itu semestinya membahagiakan mereka semua, namun mereka belum sempurna,karena belum melihat Yesus (Thomas), maka demi kesempurnaan, maka mereka (dia) meski berupaya menjumpainya.
Kesimpulan
Kebangkitan Yesus menghasilkan sukacita tak terbatas, dan itu sebagai berkat atau karunia. Juga Thomas yang yang sempat meragukan Yesus yang bangkit itu. Namun Yesus tidak tega “Membiarkan “ Thomas hidup dalam kegamangan dan kegalauan akan kebangkitannya,maka ia berkenan menemui Thomas dengan saksi semua murid yang tersiksa.

Sugesti Penyusunan Kotbah
1.   Ajaklah jemaat untuk merenung tentang sebuah kebahagiaan. Bisa digambarkan manakala sesorang menemukan barang yang paling berharga miliknya,yang sudah dinyatakan hilang bertemu lagi. Ini seperti kisah Kematian Yesus yang menghasilkan duka dan kehilangan mendalam namun kemudian ditemukan lagi. sukacita itu digambarkan dengan tidak adanya lagi "Batas-batas" kepemilikan. semua menjadi satu,bersama.
2.   Kebahagian itu saat ada perdamaian. Perdamaian tidak pernah akan muncul jika tidak ada kerukunan dan kerukunan tidak aka nada jika tidak adakarunia pengampunan.
3.   Yohanes bersaksi sebagai seorang saksi yang otentik,oleh karenanya tidak mungkin akan diragukan. Seperti seorang pilot yang selamat saat pesawatnya jatuh. Dia akan bercakap tentang hal ini, maka ajaklah jemaat tidak ragu akan Yesus yang bangkit itu. Keselamatan itu adalah karunia, maka jangan menyia-nyiakannya.
4.   Perjumpaan dengan Yesus selalu menghadirkan sukacita,pun demikian dengan orang yang masih ragu (Thomas).

Penutup
Catatan ini sangat sederhama, karena bertujuan bukan untuk dikorbahkan,namun hanya mengajak melihat teks dengan jujur dan terbuka. Setelahnya kita bisa menarik kesimpulan sendiri. Satu dengan yang lainnya pasti berbeda tentang kesimpulan karena tergantung banyak keadaan.

FIKSI Di Malam PASKAH