Aku terkejut. Aku kaget,dan kemudian menoleh. Oooo… ternyata kerabat kami. Seorang perempuan yang aku kunjungi sewaktu aku dalam pengalaman iman dikehendaki Allah mengandung dan belum resmi bersuami. Aku dengan Yusuf,waktu itu baru bertunangan. Sekitar tiga tahun yang lalu, perempuan ini menemuiku dalam baluta duka nestapa yang takterperikan. Anak yang begitu dikasihinya harus meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. Kepalanya terpenggal dan itu hanya demi memenuhi permintaan seorang putri raja takberadap.
Setelah hilang kagetku,segera dia mendesak kerumunan orang banyak, beupaya menjajariku. Beberapa saat kemudian perjuangan menjajariku berhasil dan kamipun berdiri diantara kerumunan banyak orang,dalam terik matahari,dalam bauran keringat orang banyak,dalam debu musim kemarau yang semakin menyempurnakan suasana panas ini.
“Di mana Suamimu?” Demikian Elisabeth, saudaraku itu menyapaku dengan lembut, selembut sutera indah kain idaman kami.
“Tadi bersama denganku, kemudian diajak anakku yang bungsu untuk menyelinap masuk ke kota terlebih dahulu”Jawabku dengan sederhana,datar dan santai. Tidak ada pertanyaan lanjutan darinya. Kemudian kami melanjutkan mengamati perjalanan anakku,yang semakin memasuki gerbang kota itu. Masih dengan keledainya,dengan segala kesederhanannya.
“Maria, apa yang kau rasakan saat kau tatap perjalanan Yesus, Anakmu itu,dengan keledai,dengan sambutan takterperikan ini?Banggakah dikau,ataukah ada semacam sembilu menyelinap dibalik keagungan sambutan itu untuk merobek dan melukai anakmu?”
Aku terdiam,aku tahu dia mengungkapkan itu dari balik nuraninya yang luka namun telah kering, meski dibalik keringnya nurani itu ada sisa-sisa luka yang menganga. Luka yang pedih dan pilu karena ank yang dikandungnya selama hampir setahun harus mati. Dan matinyapun dengan cara yang sangat memilukan hati manusia yang masih normal. Mereka yang menyiksa dan membunuh itu tidak pernah mau menyadari betapa perjuangan seorang ibu merawat,menjaga,melindungi,mencukupi,membimbing,mendidik tak pernah kenal waktu. Kapan dan dimanapun seorang ibu akan melakukan semu hal demi anak yang dikasihinya,lebih dari semuanya.
Suasana semakin panas. Tanpa kami sadari,kaki kami melangkah mengikuti pandangan mata kami da ternyata kami sudah memasuki kota Yesusalem. Suasana kota ini makin ramai,karena telah berdatangan banyak warga yang dari jauh. Memang ini paskah sabat dan karenanya semua saabat dan handai taulan kami berkumpul. Mereka sering disebut Yahudi Diaspora oleh beberapa saudara Yunani. Panas masih saja menyengat,meski sudah agak berkurang. Matahari telah melewati ubun-ubun kami. Tanpa menunggu suami dan anak-anakku yang lain, aku mengajak Elisabeth kerabatku itu mencari rumah salah seorang kerabat kami. Memang kami telah bersepakat untuk menginap di rumahnya selama paskah tahun ini.
Setelah seperjalanan sabat,kami sampai di tempat kerabat. Yesus, anakku itu,tidak kuketahui sedang di mana dan dengan siapa, mungkin bertemu dengan kolega dan sahabat-sahabatnya dan juga mungkin telah bersepakat menginap di tempat itu. Setelah membersihkan badan dan menikmati hidangan paskah kerabatku,kami hendak beristirahat. Sebentar lagi senja dan bagi kami hari telah berganti. Perayaan Paskah dengan segala pernak-perniknya akan segera di mulai. Kami sedang bersantai di serambi rumah kerabatku itu,ketika dari ujung jalan terdengar suara-suara orang bercakap dan sepertinya rombongan. Mungkin hal biasa dalam paskah sabat kali ini ujung-ujung jalan kota Yerusalem banyak yang melewati,sehingga seharusnya aku tidak begitu terkejut. Namun yang mampir ke pendengaranku ini aneh, sepertinya aku sangat hafal dan akrab dengan salah satu suara itu. Suara siapa gerangan??
Saat suara-suara itu semakin mendekat, semakin jelas dan aku semakin berdebar. Kuberanikan diri beranjak menuju dekat jalan, meski itu menyalahi adat budaya kami. Dan kekagetanku meledak saat kulihat,yang terdepan dari rombongan itu,wajah dan cara berjalan yang sangat kekenal. Yesus anakku….
Sejenak anakku dan rombongannya berdiri,lalu Anakku menghampiriku. Merunduk dan bersimpuh. Kemudian berdiri sambil berkata,”Sukaria ibu aku bisa berjumpa dan bersujud denganmu untuk yang terakhir kalinya, mulai malam nanti hari kehidupanku akan segera usai… Kemudian berdiri,mencium tanaganku dan melanjutkan perjalanan. Aku kaget namun segera sadar. Dia bukan hanya milikku,dia milik seluruh semesta ini. Tanpa ijin kerabatku Elisabet, aku mengikuti dari jauh perjalanan rombongan anakku….
Bersambung....bag 3
http://www.cintasemesta.org/view/view.php?read=TANGISAN-HATI-SEORANG-IBU
Rabu, 29 April 2015
Selasa, 28 April 2015
Belum tentu yang dilukai yang mesti menunggu..
Belajar Dari Kisah Perseteruan Iskhak vs Yakub
Palagan Kurusetra, dalam epos yang popular adalah saksi bisu betapa akibat sebuah perbedaan yang tak terdamaikan akan berakibat fatal. Perbedaan itu sejatinya sangat sederhana, salah peersepsi dan kemudian berbahay saat perbedaan yang belum terkomunikasikan itu diboncengi “Penumpang Sialan” bernama keinginan.
Kenyataan konflik ini tidak hanya dialami oleh umat manusia zaman sekarang tetapi juga dialami oleh para tokoh iman yang ada dalam Kitab Suci. Salah satu contohnya adalah konflik antara Esau dan Yakub. Dengan demikian, kita dapat bercermin pada kesaksia iman masa lalu dalam menghadapi kenyataan hidup kita sekarang yang syarat dengan konflik, baik itu konflik yang sifatnya internal maupun eksternal.
Bagaimana seharusnya konflik itu disikapi dan bagaimana cara mengatasinya? Salah satu penyelesaian konflik adalah rekonsiliasi. Rekonsiliasi bisa menjadi keadaan hidup yang sehat karena kita mampu mengolah perbedaan menjadi sarana yang memperkaya sekaligus memperteguh kebersamaan. Melalui rekonsiliasi, perbedaan-perbedaan yang ada dalam hidup manusia ditransformasi ke dalam satu kehendak untuk saling menghormati dan saling menghargai martabat luhur manusia. Dengan bercermin pada kisah Esau dan Yakub, penulis mau mencobai memaknai apa itu konflik dan bagaimana proses mentransformasi konflik tersebut ke dalam rekonsiliasi.
Konflik Esau dan Yakub
Kalau kita mengamati lingkaran kisah Yakub (Kej 25:19-36:43) dan kisah-kisah Abraham, maka kita akan menemukan tema yang mirip satu sama lain yaitu tema tentang janji. Dalam lingkaran Abraham (Kej 11:28-25:28), tema tentang janji ini tampaknya menjadi tema pengikat dari keseluruhan kisahnya. Sedangkan dalam lingkaran Yakub, selain tema tentang janji yang terus mengalir sepanjang cerita, kita menemukan juga tema perselisihan antara dua bersaudara, yakni Esau dan Yakub.
a. Kelahiran Esau dan Yakub
Dalam Kej 25:19-34, dikisahkan bagaimana Ishak berdoa kepada Tuhan untuk istrinya, Ribka, yang mandul agar ia mengandung dan dikaruniai anak. Doa Ishak ini kemudian dikabulkan Tuhan sehingga mengandunglah Ribka. Akan tetapi, kegembiraan Ribka atas kandungannya itu cepat berubah menjadi putus asa karena perselisihan yang ada di dalam rahimnya.[1] Ribka bersusah hati karena bayi yang ada di dalam rahimnya bertolak-tolakkan satu sama lain sehingga ia pun berkata, “Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?” (25:22). Kemudian Ribka meminta petunjuk kepada Tuhan atas kejadian itu karena ia merasa heran mengapa Allah menyembuhkan kemandulannya jika kelahiran kandungannya itu akan menyedihkan, sebab pertentangan di dalam kandungannya itu menakutkan dia.[2] Tuhan memberi jawaban atas keprihatinan dan ketakutan Ribka dalam bentuk ramalan bahwa Ribka akan menjadi ibu dari dua bangsa yang berbeda satu sama lain: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan terpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda” (25:23).
Perselisahan kedua anak kembar ini kemudian tampak dalam perbedaan sifat pada saat kelahirannya. Esau lahir dengan warna kulit yang merah dan seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu (25:25), dan Yakub lahir sambil memegang tumit Esau. Sifat-sifat Esau dan Yakub ini merupakan tanda dari perilaku mereka di masa mendatang dan hubungan di antara dua bersaudara itu.[3] Kemudian bertambah besarlah kedua anak itu. Esau tumbuh sebagai seorang pemburu dan sangat dekat dengan Ishak, sedangkan Yakub tumbuh sebagai seorang yang senang tinggal di kemah dan sangat dekat dengan Ribka (Lih. 25:27-28).
b. Permulaan Konflik
Konflik Esau dan Yakub mulai tampak secara nyata ketika Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub (25:29-33). Hal ini tampaknya menjadi permulaan terpenuhinya firman Ilahi sewaktu Esau dan Yakub masih dalam kandungan (25:23). Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub, padahal hak kesulungan ini menurut peraturannya berarti memberikan bagian warisan dua kali lipat[4]. Demikianlah dikatakan bahwa hanya demi bubur kacang yang kemerahan (25:30,34), Esau memandang ringan hak kesulungannya itu (25:34). Ia bisa dengan mudah menjual hak kesulungannya kepada Yakub hanya demi makanan.
Konflik di antara mereka kian meruncing ketika Yakub menipu Esau dengan mengambil alih berkat hak anak sulung dari Ishak, ayahnya. Penipuan ini nampaknya menjadi akibat dari sikap pilih kasih yang dilakukan oleh Ishak dan Ribka terhadap anak-anak mereka (bdk 25:28). Karena sikap pilih kasih inilah, berkat yang semula dimaksudkan untuk Esau telah jatuh ke dalam diri Yakub atas rencana Ribka (lih. 27: 5-17) yang berani menanggung kutuk atas penipuan tersebut (27:13).
Puncak konflik terjadi ketika Esau mengetahui penipuan yang telah dilakukan Yakub terhadap dirinya. Esau meraung-raung sangat keras dalam kepedihannya atas penipuan tersebut dan memohon berkat yang sama kepada ayahnya (lih. 27:34-35). Kepedihan hati Esau ini dapat dimaklumi mengingat ia telah ditipu oleh Yakub untuk yang kedua kalinya. Pertama, ketika Esau menyerahkan hak kesulungannya dan ditukar dengan makanan. Kedua, Yakub mengambil alih berkat dari Ishak yang seharusnya menjadi miliknya. Karena dua penipuan inilah, Esau menaruh dendam kepada Yakub, “Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi, pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh” (27:41). Dalam kitab suci, kata-kata ini menjadi ucapan terakhir dari Esau sampai akhirnya kedua bersaudara ini bertemu lagi bertahun-tahun kemudian. Mendengar ancaman itu, Yakub menjadi ketakutan dan melarikan diri dari keluarganya. Demikianlah dua bersaudara itu telah berubah menjadi musuh dan terpisah satu sama lain.
Narasi Yakub dan Esau Paska Meledaknya konflik
Yakub
Ketika Ribka mendengar ancaman Esau terhadap Yakub (lih 27:41), ia kemudian menyuruh Yakub agar melarikan diri ke Mesopotamia, tempat tinggal Laban, saudaranya. Tujuan Ribka menyuruh Yakub agar melarikan diri ini tampaknya bukan semata-mata karena ia mau menyelamatkan Yakub dari kemurkaan Esau saja, melainkan karena ia juga mau menyelamatkan Esau. Hal ini tampak dalam ucapannya pada 27:45b, “Mengapa aku akan kehilangan kamu berdua pada satu hari juga?” Ungkapan ini merupakan kekhawatiran atas kematian Yakub dan Esau sekaligus karena kalau Esau membunuh Yakub, maka ia sendiri akan kena hukum pembalasan di bumi (bdk. Bil 35:19) sehingga Esau pun harus dibunuh. Rencana Ribka ini menyebabkan ia harus kehilangan Yakub, dan diperlukan waktu dua puluh tahun sebelum Yakub kembali ke rumah.[5]
Yakub pun menuruti permintaan Ribka dan pergi. Akan tetapi kalau kita baca secara cermat, alasan kepergian Yakub ini agak berbeda dengan alasan kepergian pada cerita sebelumnya (konflik dengan Esau). Yakub seakan-akan tidak melarikan diri dari kemarahan Esau melainkan pergi untuk mencari istri yang sesuai.
Menurut tradisi P, kisah kepergian Yakub untuk mencari istri ini (27:46-28:9) merupakan lanjutan dari 26:34-35 yang mengungkapkan ketidakpuasan Ribka atas perkawinan Esau dengan perempuan Kanaan (bdk 27:46). Akhirnya Yakub pun tidak dibunuh, ia pergi dengan kegembiraan untuk mencari istri kepada sanak familinya sambil membawa berkat dari ayahnya.[6]
Berkat yang diberikan Ishak terhadap Yakub pada saat perpisahan ini tampaknya menjadi peneguhan berkat wasiat Ishak sebelumnya yang secara langsung meneguhkan berkat Yakub ini dengan berkat yang diberikan Allah di dalam perjanjian-Nya dengan Abraham, yaitu janji tentang keturunan dan tanah. Yakub telah menjadi pembawa berkat[7]. Esau pun kemudian mencontoh Yakub dengan memperistri seorang wanita dari kalangan keluarga ayahnya, yaitu Mahalat, anak Ismael, cucu Abraham (lih. 28:8-9).
Di sini kembali ditekankan bahwa berkat merupakan kekuatan yang menyangkut keseluruhan, dimana berkat tidak bisa dikembalikan atau dirubah. Agustinus mengatakan bahwa pemberian berkat kepada Yakub bukanlah suatu penipuan, melainkan suatu misteri yang tidak pantas disedihkan[8]. Yakub adalah pembohong, tetapi ia pun adalah pembawa janji dan berkat.
b. Allah menyertai perjalanan Yakub
Dalam mimpi Yakub di Betel (28:10-22), Allah telah menyatakan diri kepada Yakub dan menyampaikan kembali janji-Nya. Allah menyatakan diri sebagai Allah Abraham dan Allah Ishak, serta menjamin Yakub dengan perlindungan dan kehadiran ilahi dalam perjalanannya. “Akulah Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; …sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu” (28: 13a,15). Pernyataan diri Allah ini menjadi pertanda bahwa Allah tetap menyertai Yakub, sekalipun Yakub telah berbuat licik terhadap kakaknya. Warisan perjanjian yang telah disampaikan melalui berkat Ishak sekarang secara langsung diteguhkan oleh Allah. Makna mimpi ini adalah kontaks dengan Allah, pencipta bumi dimana “utusan” (malaikat Allah) hadir menyampaikan kehendak ilahi[9]. Mimpi Yakub ini juga adalah suatu teofani dimana Allah tampak dan memperbarui perjanjian-Nya, yaitu perjanjian akan tanah dan keturunan. Janji tentang keturunan ini menjadi berkat bagi seluruh bangsa di bumi (bdk. Kej 12:3, 26:3-4).
Di samping itu, perlindungan Allah terhadap Yakub (28:15) menunjukkan bahwa perlindungan Allah diperluas, seperti kuasa Yahwe, melewati batas daerah khusus Kanaan.[10] Allah tidak hanya melindungi Yakub di Kanaan saja, tetapi juga di luar Kanaan. Perlindungan Allah terhadap Yakub tidak terbatas lagi oleh tempat dan tanah tertentu. Dengan demikian, Betel menjadi simbol penghubung antara masa lalu Yakub di tanah Kanaan dan masa depannya di Haran.[11]
c. Pergumulan dengan Allah
Pada Kej 32:1-21, dikisahkan bahwa Yakub mengirim utusan kepada Esau dengan harapan akan memperoleh kemurahan hatinya. Akan tetapi, ketika utusan itu kembali dan melaporkan bahwa Esau sedang dalam perjalanan untuk menemuinya bersama empat ratus orang, Yakub menjadi ketakutan sehingga ia memisahkan rombongannya menjadi dua kelompok agar terhindar dari bencana total. Setelah itu, Yakub berpaling kepada Allah dan berdoa (32:9). Doa Yakub ini mengungkapkan keadaan dirinya yang cemas dan meminta bantuan Allah dengan mengingatkan kembali janji-Nya.
Setelah itu, Yakub membagi rombongannya menjadi tiga kelompok, masing-masing berjalan mendahuluinya untuk berjumpa dengan Esau. Sementara itu, setelah semua rombongannya berangkat dan Yakub tinggal seorang diri, Yakub diserang oleh seseorang dan mereka berdua bergumul sampai fajar (32:23-24). Dalam pergumulan tersebut tidak disebutkan siapa yang menang dan siapa yang kalah, namun dalam ay 9 disebutkan bahwa si penyerang itu tidak bisa mengalahkan Yakub sehingga ia kemudian memukul sendi pangkal paha Yakub. Pada ay 26, orang itu meminta dilepaskan supaya bisa pergi. Yakub tidak melepaskan orang itu begitu saja, tetapi ia meminta berkat kepadanya.
Pergumulan Yakub di atas dapat diartikan sebagai pergumulan batin dan berhasilnya doa yang dipanjatkan kepada Allah dengan tekun.[12] Setelah menghadapi Esau dan Laban, kini Yakub berhadapan dengan Allah sendiri. Dan sejak pergumulannya dengan Allah inilah sifat Yakub berubah menjadi seorang yang terhormat dan tulus sampai pada kematiannya. Di samping itu, Yakub, yang telah menyandang nama baru, yaitu Israel (32:27-28), dalam hidupnya mengungkapkan suatu perjuangan Israel dengan Allah selaku bangsa yang mempunyai perjanjian.
d. Pertemuan Yakub dan Esau
Setelah sekian lama berpisah, akhirnya Esau dan Yakub bertemu kembali secara dramatis (Kej 33). Pertemuan kedua bersaudara ini seakan-akan menjadi antiklimaks dari perselisihan mereka. Persiapan Yakub yang banyak untuk menghormati Esau pun ternyata memang efektif. Esau tidak lagi menyimpan dendam terhadap Yakub, sebaliknya, ia menyatakan sukacitanya atas pertemuan tersebut. Dalam kitab suci digambarkan bahwa Esau berlari mendapatkan Yakub, memeluk lehernya, menciumnya, dan mereka menangis satu sama lain (bdk. 33:4). Yakub pun mengalami sukacita yang sama. Bahkan ia menyatakan bahwa pertemuannya kembali dengan Esau ini dianggap sebagai pertemuan dengan Allah. Yakub berkata, “… karena memang melihat wajahmu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkau pun berkenan menyambut aku” (33:10).
Dari kisah pertemuan ini, tampak bahwa melalui pergumulan dan perjalanan yang panjang, kedua bersaudara yang saling bertikai ini akhirnya berdamai kembali. Dua bersaudara ini, khususnya Yakub, telah melewati masa yang panjang untuk bergumul baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain sampai akhirnya mereka berekonsiliasi satu sama lain. Walaupun pada akhirnya Esau dan Yakub berpisah kembali (33:12-20), akan tetapi pertemuan yang singkat itu telah menjadi “ruang” dimana dua pihak yang saling berselisih dapat saling bertemu dan berdamai kembali.
IV. Rekonsiliasi
a. Pengertian
Rekonsiliasi berasal dari bahasa Latin reconciliatio yang kata kerjanya adalah reconciliare. Reconciliare berarti kembali,membangun kembali, memperbaharui, merukunkan. Terjemahan Yunani dari reconsiliare ini adalah katalassein yang berartiberubah sikap. Kata ini kemudian menjadi bahasa keagamaan yang memiliki makna relasional dalam merefleksi tentang dosa, sesal, tobat, silih, ampun, dan penyembuhan luka-luka batin.[13] Sementara itu Gerald O’Collins dan Edward G. Farrugia, dalam Kamus Teologi, mendefinisikan rekonsiliasi sebagai perdamaian kembali atau pemulihan persahabatan sesudah keadaan konflik dan saling menjauhi diatasi.
Sedangkan John Paul Lederach mendefinisikan rekonsiliasi ini dengan mengacu pada kisah Esau dan Yakub. Menurutnya, rekonsiliasi berarti berlari dan memeluk sebagaimana Esau berlari dan memeluk Yakub. Dari pandangan Lederach ini makarekonsiliasi harus dibedakan dengan memaafkan. Rekonsiliasi adalah “perjalanan” atau proses menuju perdamaian,[14]sedangkan memaafkan identik dengan melupakan kesalahan. Dalam memaafkan, seringkali perdamaian terjadi karena adanya sikap saling melupakan kesalahan masa lalu. Sedangkan dalam rekonsiliasi, kesalahan masa lalu itu belum tentu dilupakan, melainkan tetap diolah sebagai proses menuju perdamaian.
b. Beberapa Metafor
Berdasarkan kisah Esau dan Yakub yang telah dibahas pada Bab II dan Bab III, tampak bahwa Yakub yang telah melarikan diri dari Esau dan keluarganya akhirnya berani kembali kepada Esau. Apa yang membuat Yakub berani untuk kembali? Apa yang membuat hati Esau luluh sehingga mau berdamai dengan Yakub? Apa makna keterpisahan mereka dalam proses rekonsiliasi? Apakah ini juga merupakan suatu penyelenggaraan ilahi? Untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, penulis mencoba mencari jawabannya dengan mengacu pada beberapa metafor seperti halnya dikemukakan oleh Lederach.[15]
1. Rekonsiliasi sebagai “perjalanan”
Metafor rekonsiliasi pertama yang dapat diambil dari lingkaran kisah Esau dan Yakub adalah “perjalanan”. Yakub telah melarikan diri dan mencari jarak dari konflik sehingga ia harus berpisah dari Esau dan keluarganya. Bagi Yakub, bisa jadi perjalanan keberpisahan ini merupakan bentuk pelarian diri dari rasa takut dan juga karena rasa bersalahnya yang tidak bisa dihadapinya sendiri. Sedangkan bagi Esau, hal ini merupakan pengalaman pahit dan menyakitkan dari ketidakadilan yang dialaminya. Akan tetapi, kita tidak boleh menganggap bahwa kepergian Yakub ini merupakan bentuk pelarian diri dari konflik. Kita perlu menyadari bahwa kepergian Yakub ini merupakan salah satu jalan untuk mencapai rekonsiliasi yang di dalamnya mengandung misteri ilahi. Lederach mengungkapkan bahwa misteri rekonsiliasi itu adalah aspek yang paling utama dalam perjalanan.[16] Kembalinya Yakub kepada Esau bukanlah karena hasil dari perjuangan Yakub sendiri, melainkan juga karena adanya kehendak Allah.
Yakub telah mengalami proses perjuangan yang panjang dalam mengahadapi rasa takutnya sendiri terhadap Esau sampai akhirnya ia mempunyai kekuatan untuk kembali. Ia telah berusaha mengolah ketakutannya menjadi keberanian untuk kembali melalui proses refleksi dan perjuangan yang panjang. Dalam Kej 31:3 Allah berfirman kepada Yakub, “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau.” Firman Allah ini bagi Yakub berarti bahwa ia harus kembali untuk mengahadapi “musuhnya,” yaitu Esau. Maka sebagai perjalanan, rekonsiliasi memiliki dua unsur penting yaitu pengalaman jatuh dan perjuangan untuk bangun kembali.
Akhirnya bisa dikatakan bahwa rekonsiliasi adalah suatu perjalanan menuju dan melalui konflik. Dalam contoh ini, Allah tidak menjanjikan bahwa Ia akan melindungi Yakub dalam seluruh perjalanannya, tetapi Ia berjanji bahwa Ia akan menyertai Yakub sampai kapan pun.[17]
Dari metafor ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa proses pertama dari rekonsiliasi adalah sikap mengambil jarak dari konflik sehingga kita dapat melihat konflik secara lebih jujur dan terang. Sikap ini bukan berarti mau melarikan diri dari konflik, melainkan untuk mengambil waktu agar dapat melihat konflik dalam kacamata rohani-spiritual. Pergi dari konflik berarti menarik diri untuk berefleksi untuk kemudian kembali lagi.
2. Rekonsiliasi sebagai “pertemuan”
Rekonsiliasi adalah suatu pertemuan dimana kedua belah pihak yang berkonflik saling bertemu satu sama lain, saling berlari mendapatkan dan saling memeluk (bdk. Kej 33:4). Dalam perjalanan Yakub, kita bisa melihat adanya tiga pertemuan yang dialami Yakub, yaitu pertemuan dengan dirinya sendiri, dengan sesama (termasuk musuh) dan dengan Allah.
Perjalanan konflik menuju suatu rekonsiliasi selalu melibatkan pertemuan dengan diri sendiri. Dalam perjalanan Yakub, pertemuan dengan diri sendiri ini tampak dalam sikapnya yang mau menghadapi rasa takutnya dan juga masa lalunya. Hal ini bisa dilihat dalam pergulatan Yakub dengan Allah (Kej 33:22-32). Pergumulan ini bisa dipahami sebagai pergumulan melawan masa lalu dan rasa takutnya terhadap masa depan. Pergumulan atau pertemuan dengan diri sendiri ini akhirnya membuat Yakub mampu bertemu dengan Allah, yang kemudian memanggilnya untuk kembali.
Rasa takut dan rasa bersalah terjadi karena adanya suatu pengalaman atau peristiwa yang berhubungan dengan orang lain. Perasaan bersalah dan takut yang dialami Yakub pun terjadi sebagai akibat dari relasinya yang buruk dengan orang lain, yaitu Esau. Maka pertemuan kedua, setelah bertemu dengan diri sendiri adalah bertemu dengan orang lain, sebagaimana Yakub bertemu dengan Esau dari muka ke muka. Maka rekonsiliasi membutuhkan keberanian untuk bertemu dengan orang-orang yang kita takuti apa pun resikonya.
Sedangkan rekonsiliasi dikatakan sebagai pertemuan dengan Allah terjadi ketika kita mengalami bahwa musuh yang semula kita takuti telah berubah menjadi sahabat atau saudara yang terbuka dan penuh kasih. Hal ini kelihatannya memang paradoks. Ketika kita bergumul dalam ketakutan dan kegelapan jiwa kita, kita bergumul dengan Allah, dan ketika kita kembali kepada musuh, kita kita melihat wajah Allah.[18] Tetapi itulah perjalanan rekonsiliasi seperti juga yang dialami oleh Yakub. Yakub telah bergumul dengan Allah, yang berarti bergumul dengan dirinya sendiri, sampai akhirnya ia bertemu Allah yang tampak dalam diri Esau.
Dengan demikian, rekonsiliasi dalam metafor ini merupakan proses transformasi konflik menuju perdamaian. Pertemuan dengan diri sendiri dan dengan Allah merupakan saat untuk merefleksikan pengalaman dan peristiwa konflik. “Pertemuan” merupakan saat untuk melihat diri sendiri dan juga orang lain secara baru, dimana Allah hadir dan membimbing kita. Setelah menraik diri dari konflik, kita mempunyai waktu untuk “diam” bersama Allah dalam refleksi guna mencari makna, nilai dan juga jalan ke luar dari konflik yang dihadapi.
3. Rekonsiliasi sebagai “tempat”
Perjalanan selalu membawa kita pada suatu tempat tertentu. Akan tetapi tempat atau ruang ini bukanlah suatu tujuan terakhir karena perjalanan selalu melewati berbagai tempat yang selalu baru. Masing-masing pertemuan pun, baik itu pertemuan dengan diri sendiri, dengan Allah, maupun dengan sesama, selalu berada pada tempat atau ruang tertentu yang selalu berbeda. Tempat adalah ruang dan waktu dimana hal-hal yang konkret turut serta dalam perjalanan. Dalam kisah Esau dan Yakub, tempat ini ditandai, dinamai dan dikenang. Tempat merupakan suatu ruang dimana orang dapat bertemu dengan musuh, Allah dengan umat-Nya, dan individu-individu memasuki dirinya sendiri untuk memperoleh kesadaran baru.[19]
Rekonsiliasi pun merupakan perjalanan dimana melalui perjalanan ini kita berusaha untuk mencapai tempat tertentu. Rekonsiliasi adalah tempat untuk saling bertemu, dimana Allah hadir dalam setiap diri manusia.
Dalam rekonsiliasi antara Esau dan Yakub, tempat pertemuan bukanlah tujuan akhir dari mereka. Perjalanan mereka masih terus berlangsung dan kedua bersaudara ini tidak tnggal bersama lagi. Memang rekonsiliasi selalu diwarnai tempat dan pertemuan tertentu, akan tetapi tempat dan pertemuan ini akhirnya selalu menjadi titik awal untuk suatu perjalanan yang baru, sebagai hidup baru yang harus ditempuh.
Dengan demikian, dari metafor ke tiga ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa tempat merupakan titik balik untuk kembali menghadapi konflik yang sempat ditinggalkan. Setelah menarik diri dan melakukan refleksi, konflik kembali dihadapi dengan sikap yang sama sekali baru. Tempat tidak lagi menjadi pertemuan yang memperuncing konflik, tetapi berubah menjadi ruang untuk saling berdamai dan menjalani hidup yang baru.
c. Spiritualitas rekonsiliasi
Rekonsiliasi pada akhirnya mampu menciptakan kedamaian hidup. Konflik dan kekerasan berubah menjadi persaudaraan, ancaman berubah menjadi berkat. Kalau kita berani menyikapi konflik dalam kacamata kedalaman spiritual, maka kita akan mampu mentransformasikan hidup dari ketakutan dan ketidaknyamanan menjadi keadilan dan damai. Melalui rekonsiliasi, Allah mengundang kita pada relasi damai yang baru.[20]
Hidup dalam Roh Allah yang penuh kedamaian adalah suatu peziarahan hidup yang terus-menerus mengalir. Maka spiritualitas rekonsiliasi berarti hidup dalam kehadiran Allah sehingga kita mampu mencintai orang lain, bertahan dalam segala rintangan, dan berani berdamai dengan lawan. Di sini, rekonsiliasi bukanlah pertama-tama suatu strategi untuk menciptakan perdamaian, melainkan spiritualitas hidup yang menuntun pada perdamaian. Ketika kita mencari dimensi spiritual perdamaian, baik di dalam hati dan jiwa kita sendiri maupun di dalam diri orang lain, maka kita memasuki transformasi dalam diri Allah yang terus menerus, yaitu transformasi dari kehancuran diri menuju pada kerajaan Allah yang penuh kedamaian dan keadilan.[21]
Dengan demikian, rekonsiliasi kita pahami harus kita pahami sebagai spiritualitas hidup. Robert J. Schreiter mengungkapkan bahwa ada tiga karakteristik dari spiritualitas rekonsiliasi sebagai spiritualitas hidup ini, yaitu: [22]
1. Sikap mendengar dan menunggu
Pada sikap ini kita harus memberi kesempatan kepada para korban kekerasan dan penderitaan untuk menceritakan kembali kisah hidup mereka. Hal ini bertujuan untuk memetakan kekerasan dan penderitaan agar kita mampu membatasi atau mengurangi kekerasan itu. Maka pelayan rekonsiliasi pada taraf ini adalah menjadi seorang pendengar yang setia. Disamping itu, kita harus bersikap menunggu. Menunggu adalah suatu kemampuan aktif untuk membedakan antara ilusi dan kenyataan hidup[23]. Menunggu berarti menjadi tenang dan senang dengan diri sendiri dan dengan sesama, sekaligus sambil menantikan Allah dan perdamaian rahmat Allah. Menunggu juga merupakan sikap untuk membiarkan kenangan-kenangan yang menyakitkan untuk muncul kembali supaya luka-lukanya dapat disembuhkan, dan dengan demikian, maka terciptlaha rekonsiliasi di dalam hati.
2. Perhatian dan keprihatinan
Perhatian itu tumbuh dari sikap belajar menunggu. Perhatian ini harus dibangun jika rekonsiliasi benar-benar ingin terjadi. Karenanya, perhatian membutuhkan ketenangan hati. Sebagaimana setiap spiritualitas tidak dapat diharapkan berkembang tanpa secara teratur mengarahkan perhatiaannya pada Allah, demikian juga perhatian untuk menyembuhkan kenangan-kenangan yang sakit merupakan inti dalam pelayanan rekonsiliasi. Dengan demikian, perhatian merupakan dasar keprihatinan, dasar suatu kemampuan untuk menunggu dan berada bersama, agar bisa berjalan berdampingan bersama para korban kekerasan dan penderitaan.
3. Spiritualitas rekonsiliasi adalah mental pasca-pembuangan[24]
Di sini Schreiter menandaskan bahwa masyarakat baru itu harus terbentuk di atas puing-puing masyarakat lama. Pengalaman pembuangan akan memberi suatu pandangan baru terhadap orang-orang yang kembali dari pembuangan. Kalau kita merenungkan peristiwa pembuangan pada saat sekarang, maka hal ini dapat mendukung spiritualitas rekonsiliasi, yaitu rekonsiliasi yang mengalir dari dalam hati.
Dari ketiga karakteristik spiritualitas rekonsiliasi ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa rekonsiliasi bukanlah semata-mata suatu tugas dan kewajiban, melainkan juga suatu panggilan hidup bagi kita semua. Dengan spiritualitas rekonsiliasi, kita mampu membangun semangat rekonsiliasi di dalam diri kita sendiri sekaligus menjadi pelayan rekonsiliasi bagi orang lain.
Di samping itu, rekonsiliasi bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan konkret. Rekonsiliasi adalah suatu spiritual yang berhubungan langsung dengan pengalaman nyata manusia. Rekonsiliasi bukan hanya menjadi urusan keagamaan saja tetapi juga menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk ekonomi, sosial, budaya dan politik. Mahatma Gandhi mengatakan bahwa agama dan politik bukanlah dua entitas yang terpisah, kedua-duanya merupakan pelayanan hidup bagi Allah dan bagi kemanusiaan.[25]
V. Penutup
Kisah Esau dan Yakub merupakan salah satu contoh bibles dari perjalanan manusia dalam relasinya dengan sesama. Dari kisah ini kita tidak hanya menemukan konflik semata-mata, tetapi juga kita menemukan bagaimana konflik itu diatasi. Konflik merupakan kisah hidup yang harus dihadapi sekaligus dilalui. Rekonsiliasi adalah proses bagaimana konflik itu direfleksikan dan diolah di hadapan Allah dalam terang kehendak-Nya sehingga konflik pada akhirnya dapat diatasi. Maka, rekonsiliasi merupakan suatu perjalanan dalam dan melalui konflik. Hanya kehendak Allah sendirilah yang mampu membawa manusia pada rekonsiliasi sejati yaitu damai baru dan hidup baru dalam ikatan kaih.
Rekonsiliasi akhirnya merupakan proses yang hanya bisa dicapai dengan bantuan rahmat Allah. Manusia tidak bisa mengendalikan konflik tanpa adanya campur tangan dan penyertaan Allah karena manusia seringkali tidak terlepas dariself-interest yang bersembunyi di balik tindakan-tindakannya, termasuk tindakan rekonsiliasi itu sendiri. Allah yang telah menciptakan alam semesta ini baik adanya tidak menghendaki adanya kekacauan dan perpecahan yang merusak. Dengan demikian, Allah sendirilh yang menjadi tumpuan kita dalam mentransformasi konflik menjadi suasana hidup yang damai dan tenteram.
Di samping itu, rekonsiliasi juga mengandung misteri ilahi yang tidak dapat terselami sepenuhnya oleh manusia. Konflik seringkali menjadi sarana Allah untuk menyampaikan kehendak-Nya. Hal ini tampaknya paradoksal karena Allah yang menghendaki perdamaian malah menggunakan konflik untuk menciptakan perdamaian itu. Allah yang memilih Yakub untuk menjadi penerus perjanjian-Nya, telah mengakibatkan Yakub harus berkonflik dengan saudaranya dan juga dengan dirinya sendiri sehingga ia harus mengalami “petualangan” panjang untuk sampai pada kesadaran akan kehendak Allah tersebut. Demikian pun dengan kita. Konflik menjadi titik balik iman dan harapan kit terhadap Allah. Berbagai pengalaman dalam perjalanan hidup kita – termasuk di dalamnya konflik – menyadarkan kita bahwa kita ini sedng berziarah menuju “tanah terjanji” yaitu kerajaan surgawi di mana tidak ada lagi perseteruan.
Dengan demikian, rekonsiliasi merupakan perjalanan eskatologis menuju kerajaan surgawi. Kalau kita membandingkan kisah Esau dan Yakub dengan Mzm 23, maka kita akan menemukan tujuan akhir rekonsiliasi ini. Rekonsiliasi itu bagaikan perjalanan dalam lembah kelam yang menakutkan; tanpa penyertaan Allah tidak mungkin dapat dilewati. Karena penyertaan Allah inilah, kita bisa sampai pada perjamuan di mana kita bisa duduk sehidangan dengan musuh-musuh kita. Pengalaman masa lalu yang menakutkan dan musuh yang semula menjadi ancaman, berubah menjadi kedamaian yang penuh cinta, di mana Allah hadir bersama-sama dengan kita dalam perjamuan-Nya yang kudus.
Akhirnya, rekonsiliasi menjadi panggilan bagi kita semua. kita dipanggial untuk membangun spiritualitas rekonsiliasi di dalam diri kita sendiri sekaligus menjadi pelayan rekonsiliasi bagi orang lain. Semangat rekonsiliasi yang kita timba dalam “pergumulan” dengan Allah hendaknya diimplementasikan dalam hidup sosial-kemasyarakatan kita agar tercipta tatanan dunia baru sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian, mengahayati rekonsiliasi sebagai perjalanan berarti membangun semangat “sehati sejiwa.”[26] Kita semua dipanggil untuk membangun persaudaraan sejati dalam perjalanan menuju Allah dengan cara menyediakan diri bagi pelayanan rekonsiliasi di dunia ini.
Dafta Pustaka
Bergant, Dianne dan Robert J. Karris, ed., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yoryakarta: Kanisius, 2002.
Brown, Raymond E., S.S., dkk., ed., The New Jerome Biblical Commentary, New Jersey: Prentice Hall, Inc, 1990.
Dear, John, The God of Peace: Toward A Theology of Nonvolence, New York: Orbis Books, 1994.
Guthrie, D., dkk., ed., Tafsiran Alkitab Masa Kini 1(Kejadian-Ester), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998.
Lederach, John Paul, The Journey Toward Reconciliation, Waterloo: Herald Press, 1999.
Schreiter, Robert J., Reconciliation: Mission and Ministry in A Changing Social Order, New York: Orbis Books, 1992.
———–, Rekonsiliasi: Membangun Tatanan Masyarakat Baru, Ende: Nusa Indah, 2000.
Seputra, A. Widyahadi, dkk., ed., Rekonsiliasi: Menciptakan Hidup Damai dan Sejahtera – Tinjauan Perspektif Religius. Jakarta: APP-KAJ, LDD-KAJ dan Komisi PSE-KWI, 2001.
O’Colllins, Gerald dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 1996.
[1] Dianne Bergant dan Robert J. Karris, ed., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yoryakarta: Kanisius, 2002, hlm. 62.
[2] Tafsiran Alkitab Masa Kini 1(Kejadian-Ester). Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998, hlm. 115.
[3] Dianne Bergant, Op. Cit., hlm. 62.
[4] Tafsiran Alkitab Masa Kini, Op. Cit., hlm. 116.
[5] Raymond E. Brown, S.S., dkk., ed., The New Jerome Biblcal Commentary. New Jersey: Prentice Hall, Inc., 1990, p. 30.
[6] Ibid., p. 30.
[7] Ibid., p. 30. Lih. Mal 1:3, “Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau”. Ungkapan cinta dan benci di sini bukanlah soal perasaan atau emosi melainkan menunjuk pada kepastian bahwa Israel-lah yang dipilih Allah, bukan Edom.
[8] Ibid., p. 29.
[9] Ibid. p. 30.
[10]Tafsiran Alkitab Masa Kini, Op. Cit., hlm. 119.
[11] Dianne Bergant, Op. Cit., hlm. 64.
[12] Ibid., hlm. 75.
[13] A. Widyahadi Seputra, ed., Rekonsiliasi: Menciptakan Hidup Damai dan Sejahtera – Tinjauan Perspektif Religius. Jakarta: APP-KAJ, LDD-KAJ dan Komisi PSE-KWI, 2001, hlm. 79.
[14] John Paul Lederach, The Journey Toward Reconciliation. Waterloo: Herald Press, 1999, p. 20-21.
[15] Ibid., p.22-26.
[16] Ibid., p. 21.
[17] Ibid., p. 23.
[18] Ibid., p. 25.
A. Jenis Konflik:
Dalam konflik Yakub dengan Esau terjadi konflik substansial, Yakub yang artinya ‘penipu’ (‘memegang tumit seseorang’; Kej 25:26; 27:36; Hos 12:3; Yer 9:4), telah memulai konflik mengenai fakta (perebutan hak kesulungan dan warisan keluarga), nilai (Esau kehilangan pengakuan social bahwa dirinya adalah pengganti orangtua secara social dan keagamaan[i]) dan tujuan (Ribkah agar Yakub yang diberkati) terhadap kakaknya Esau.
B. Penyebab Konflik[ii]
Perbedaan Pendapat yang mengakibatkan perlakuan diskriminatif. Perbedaan pendapat orangtua Yakub menjadi pemicu terjadinya konflik. (Ishak lebih suka Esau dan Ribka lebih menyukai Yakub) Kej 25:28.
Salah satu dari keduabelah pihak merasa dirugikan. Dalam Hal ini Esau merasa dirugikan karena merasa ditipu hak kesulungannya dan direbut hak waris yang disiapkan Ayahnya Ishak kepadanya, serta secara tidak langsung diturunkan dari pengakuan social/masyarakat bahwa dirinya seharusnya sebagai pengganti kepala keluarga dalam mengemban tanggung jawab social dan keagamaan.[iii]
Dipengaruhi pihak lain baik secara sengaja maupun tidak. Ketika Yakub menggeser Esau dan memperoleh berkat ayahnya, Ribka mengambil prakarsa dan merencanakan tindak penipuan itu (Kej 27:5-17). Setelah berhasil, karena takut Esau akan membunuh Yakub, Ribka menyuruh Yakub lari ke Haran kepada paman Yakub, Laban. Ribka membenarkan perbuatan itu kepada Ishak dengan saran, Yakub harus mencari istri dari kaum mereka sendiri (Kej 27:42-28:5).[iv]
C. Tahap-tahap Terjadinya Konflik.
1) Berawal perlakuan orangtua yang diskriminatif (Yakub selaku ayah lebih suka kepada Esau dan Ribka sebagai ibu lebih menyukai Yakub) terhadap kedua anaknya, Kej 25:28. 3) Kelicikan Yakub, berakibat Esau menjual hak kesulungan, Kej 25:29-34 dan berakibat Ishak salah memberikan berkat, Kej 27:27-29. 4) Kelicikan Ribka, mempengaruhi Yakub supaya mengelabui Ishak, Kej 27:5-17. 5) Kecerobohan Esau, mengakibatkan hak kesulungannya jatuh ke tangan Yakub, Kej 25:29-34 6) Tidak bertanya kepada Tuhan, Sempat ragu terhadap siapa orang yang akan diberkati tetapi tetap memberkati, Kej. 27:18-19. 7) Terjadilah kesalahan fatal, berkat yang semestinya diterima oleh Esau menjadi milik Yakub, Kej 27:27-29. Inilah yang akhirnya menjadi pemicu terjadinya konflik sehingga Esau kecewa terhadap Yakub, Kej 27:36.
D. Akibat Konflik
Akibat Positif.: Rencana Tuhan tetap berlaku, rekonsiliasi antara Yakub dan Esau, dalam masa keterpisahan masing-masing mengalami pematangan rohani, dan pada akhirnya terjadi perubahan sikap yang positif pada keduanya.
Akibat Negatif. Esau : marah, benci, dendam dan keinginan untuk membunuh adiknya Yakub (Kej.27:41) Bagi Yakub: Hidup dihantui ketakutan, bersembunyi dan terpisah dari keluarga, masyarakat dan orang-orang yang dikasihi. Terjadi permusuhan yang berkelanjutan di antara kedua suku. (Bil 20:18-21;1Raj 11:14; Mazm 137:7)
E. Penyelesaian Konflik/Managemen Konflik.
Fakta
ESAU YAKUB
Anak Sulung, Secara hukum berhak menerima warisan, Tidak berhak
Arti teologis “penolakan” tidak dipilih Allah;. Mal 1:2; Rom 9:13; Ibr 12:16 Melambangkan orang yang dipilih Allah (dipilih sebelum lahir); Mal 1:2; Rom 9:13; Ibr 12:16
Hidup rohani kurang baik (kawin campur dengan perempuan kanaan); meremehkan hak kesulungan Hidup rohani baik (tidak seperti Esau, sekalipun banyak kekurangannya).
Janji lisan seorang ayah kepada anaknya dapat dipertahankan di pengadilan (lih ANET, hlm 220). Maka berkat yang sudah diberikan Ishak tak dapat ditarik kembali, seperti ditekankan oleh Alkitab (Kej 27:33).
Gaya manajemen konflik yang diterapkan Ribkah dan Yakub adalah “Gaya Tanpa Konfrontasi, yaitu dengan menghindar atau menarik diri dari konflik. Ribkah mendapat izin dari Ishak supaya Yakub lari menghindari amarah Esau ke kampung asalnya di Padan Aram (Kej 28:1) untuk menikah dengan anggota sukunya.
Kategori gaya manajemen konfliknya adalah:”menghindari (kura-kura) dan kompromi (rubah)” asumsi dasar nya adalah : semua pihak yang sedang konflik akan mendapatkan titik temu dari konflik tersebut.
Taktik penanganan konflik Yakub adalah sebagai berikut: a) penundaan: Yakub menghindar dari Esau ke Laban dengan tujuan agar emosi Esau dapat reda (terlihat ketika mereka bertemu ‘Esau menangis’) b) Mengendalikan proses: Lalu Yakub sekeluarga tiba di Mahanaim. Di situ Yakub berjumpa dengan malaikat-malaikat Allah. Sesudah itu ia menyuruh beberapa orang untuk mengetahui bagaimana sikap Esau (Kej 32:1 dab). Begitu Yakub mengetahui bahwa Esau datang menjumpai dia, ia berusaha menyelamatkan setengah dari harta miliknya dan segera mengirim banyak hadiah untuk kakaknya itu.
D. Kesimpulan.
1. Pesan : Dari sudut pandang teologis, kedudukan Yakub sangat kuat karena mempunyai backup Janji Tuhan, tetapi faktor dosa, ego dan kelemahan manusia telah menyamarkan Janji Tuhan tersebut sehingga Yakub harus memperolehnya dengan caranya sendiri. Akibatnya konflik terjadi dengan Esau yang berbuntut Yakub harus menanggung akibat dari kesalahan dalam pengambilan keputusan.
Sekalipun demikian “Jalan Tuhan” tidak dapat dihalangi oleh kelemahan dan kesalahan manusia, Allah menyatakan kehendak-Nya kepada Yakub, Allah memberi kekuatan bagi Yakub untuk mengambil keputusan tepat pada tempat yang tepat untuk memanaging konflik. Dengan keterbatasan dan karakternya Yakub mengambil pendekatan ‘persuasif’ dalam manajemen konfliknya. Tuhan memberkati dan rekonsiliasi terjadi.
2. Aplikasi : Konflik akan terus terjadi dalam kehidupan ini, menciptakan konflik untuk mendapatkan keuntungan bukanlah jalan ‘bijaksana’. Mengerti rencana Tuhan dan berhikmat dalam mengambil keputusan meminimalisir risiko akibat munculnya konflik.
Sekalipun konflik terjadi dalam hubungan kakak beradik, tidak perlu kuatir dan takut seperti apa yang dialami Yakub, dengan pemilihan pendekatan manajemen konflik yang relevan (situasi dan kondisinya), dengan berpegang pada fakta dan firman Tuhan, seyogyanya kita (jangan seperti Yakub) mengawalinya dengan konfrontasi secara pribadi dulu, dengan tetap memperhitungkan agar ‘kemungkinan terburuk’ dapat diminimalisir atau bahkan tidak terjadi, Dengan kepekaan dari Tuhan, kita dapat mendeteksi akar konflik dan segera memberikan tanggapan atas konflik sedini mungkin, dalam penanganannya tetap berpusat pada isu konflik, mengembangkan beberapa alternative untuk penyelesaian konflik, dan bersama sama berkomitmen untuk menjaga hasil rekonsiliasi.
Di sisi lain, dalam kapasitas-Nya, Allah meneguhkan dan memberikan kehendakNya serta menguatkan kita untuk keluar dari konflik, seperti Ia meneguhkan Yakub melalui pergumulan dengan malaikat di tepi sungai Yabok sebelum bertemu Esau sekaligus mempersiapkan hati Esau untuk menerima rekonsiliasi dari Yakub.
Disampaikan dalam PA GKJ Salatiga
Doni Setyawan
Palagan Kurusetra, dalam epos yang popular adalah saksi bisu betapa akibat sebuah perbedaan yang tak terdamaikan akan berakibat fatal. Perbedaan itu sejatinya sangat sederhana, salah peersepsi dan kemudian berbahay saat perbedaan yang belum terkomunikasikan itu diboncengi “Penumpang Sialan” bernama keinginan.
Kenyataan konflik ini tidak hanya dialami oleh umat manusia zaman sekarang tetapi juga dialami oleh para tokoh iman yang ada dalam Kitab Suci. Salah satu contohnya adalah konflik antara Esau dan Yakub. Dengan demikian, kita dapat bercermin pada kesaksia iman masa lalu dalam menghadapi kenyataan hidup kita sekarang yang syarat dengan konflik, baik itu konflik yang sifatnya internal maupun eksternal.
Bagaimana seharusnya konflik itu disikapi dan bagaimana cara mengatasinya? Salah satu penyelesaian konflik adalah rekonsiliasi. Rekonsiliasi bisa menjadi keadaan hidup yang sehat karena kita mampu mengolah perbedaan menjadi sarana yang memperkaya sekaligus memperteguh kebersamaan. Melalui rekonsiliasi, perbedaan-perbedaan yang ada dalam hidup manusia ditransformasi ke dalam satu kehendak untuk saling menghormati dan saling menghargai martabat luhur manusia. Dengan bercermin pada kisah Esau dan Yakub, penulis mau mencobai memaknai apa itu konflik dan bagaimana proses mentransformasi konflik tersebut ke dalam rekonsiliasi.
Konflik Esau dan Yakub
Kalau kita mengamati lingkaran kisah Yakub (Kej 25:19-36:43) dan kisah-kisah Abraham, maka kita akan menemukan tema yang mirip satu sama lain yaitu tema tentang janji. Dalam lingkaran Abraham (Kej 11:28-25:28), tema tentang janji ini tampaknya menjadi tema pengikat dari keseluruhan kisahnya. Sedangkan dalam lingkaran Yakub, selain tema tentang janji yang terus mengalir sepanjang cerita, kita menemukan juga tema perselisihan antara dua bersaudara, yakni Esau dan Yakub.
a. Kelahiran Esau dan Yakub
Dalam Kej 25:19-34, dikisahkan bagaimana Ishak berdoa kepada Tuhan untuk istrinya, Ribka, yang mandul agar ia mengandung dan dikaruniai anak. Doa Ishak ini kemudian dikabulkan Tuhan sehingga mengandunglah Ribka. Akan tetapi, kegembiraan Ribka atas kandungannya itu cepat berubah menjadi putus asa karena perselisihan yang ada di dalam rahimnya.[1] Ribka bersusah hati karena bayi yang ada di dalam rahimnya bertolak-tolakkan satu sama lain sehingga ia pun berkata, “Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?” (25:22). Kemudian Ribka meminta petunjuk kepada Tuhan atas kejadian itu karena ia merasa heran mengapa Allah menyembuhkan kemandulannya jika kelahiran kandungannya itu akan menyedihkan, sebab pertentangan di dalam kandungannya itu menakutkan dia.[2] Tuhan memberi jawaban atas keprihatinan dan ketakutan Ribka dalam bentuk ramalan bahwa Ribka akan menjadi ibu dari dua bangsa yang berbeda satu sama lain: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan terpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda” (25:23).
Perselisahan kedua anak kembar ini kemudian tampak dalam perbedaan sifat pada saat kelahirannya. Esau lahir dengan warna kulit yang merah dan seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu (25:25), dan Yakub lahir sambil memegang tumit Esau. Sifat-sifat Esau dan Yakub ini merupakan tanda dari perilaku mereka di masa mendatang dan hubungan di antara dua bersaudara itu.[3] Kemudian bertambah besarlah kedua anak itu. Esau tumbuh sebagai seorang pemburu dan sangat dekat dengan Ishak, sedangkan Yakub tumbuh sebagai seorang yang senang tinggal di kemah dan sangat dekat dengan Ribka (Lih. 25:27-28).
b. Permulaan Konflik
Konflik Esau dan Yakub mulai tampak secara nyata ketika Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub (25:29-33). Hal ini tampaknya menjadi permulaan terpenuhinya firman Ilahi sewaktu Esau dan Yakub masih dalam kandungan (25:23). Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub, padahal hak kesulungan ini menurut peraturannya berarti memberikan bagian warisan dua kali lipat[4]. Demikianlah dikatakan bahwa hanya demi bubur kacang yang kemerahan (25:30,34), Esau memandang ringan hak kesulungannya itu (25:34). Ia bisa dengan mudah menjual hak kesulungannya kepada Yakub hanya demi makanan.
Konflik di antara mereka kian meruncing ketika Yakub menipu Esau dengan mengambil alih berkat hak anak sulung dari Ishak, ayahnya. Penipuan ini nampaknya menjadi akibat dari sikap pilih kasih yang dilakukan oleh Ishak dan Ribka terhadap anak-anak mereka (bdk 25:28). Karena sikap pilih kasih inilah, berkat yang semula dimaksudkan untuk Esau telah jatuh ke dalam diri Yakub atas rencana Ribka (lih. 27: 5-17) yang berani menanggung kutuk atas penipuan tersebut (27:13).
Puncak konflik terjadi ketika Esau mengetahui penipuan yang telah dilakukan Yakub terhadap dirinya. Esau meraung-raung sangat keras dalam kepedihannya atas penipuan tersebut dan memohon berkat yang sama kepada ayahnya (lih. 27:34-35). Kepedihan hati Esau ini dapat dimaklumi mengingat ia telah ditipu oleh Yakub untuk yang kedua kalinya. Pertama, ketika Esau menyerahkan hak kesulungannya dan ditukar dengan makanan. Kedua, Yakub mengambil alih berkat dari Ishak yang seharusnya menjadi miliknya. Karena dua penipuan inilah, Esau menaruh dendam kepada Yakub, “Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi, pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh” (27:41). Dalam kitab suci, kata-kata ini menjadi ucapan terakhir dari Esau sampai akhirnya kedua bersaudara ini bertemu lagi bertahun-tahun kemudian. Mendengar ancaman itu, Yakub menjadi ketakutan dan melarikan diri dari keluarganya. Demikianlah dua bersaudara itu telah berubah menjadi musuh dan terpisah satu sama lain.
Narasi Yakub dan Esau Paska Meledaknya konflik
Yakub
Ketika Ribka mendengar ancaman Esau terhadap Yakub (lih 27:41), ia kemudian menyuruh Yakub agar melarikan diri ke Mesopotamia, tempat tinggal Laban, saudaranya. Tujuan Ribka menyuruh Yakub agar melarikan diri ini tampaknya bukan semata-mata karena ia mau menyelamatkan Yakub dari kemurkaan Esau saja, melainkan karena ia juga mau menyelamatkan Esau. Hal ini tampak dalam ucapannya pada 27:45b, “Mengapa aku akan kehilangan kamu berdua pada satu hari juga?” Ungkapan ini merupakan kekhawatiran atas kematian Yakub dan Esau sekaligus karena kalau Esau membunuh Yakub, maka ia sendiri akan kena hukum pembalasan di bumi (bdk. Bil 35:19) sehingga Esau pun harus dibunuh. Rencana Ribka ini menyebabkan ia harus kehilangan Yakub, dan diperlukan waktu dua puluh tahun sebelum Yakub kembali ke rumah.[5]
Yakub pun menuruti permintaan Ribka dan pergi. Akan tetapi kalau kita baca secara cermat, alasan kepergian Yakub ini agak berbeda dengan alasan kepergian pada cerita sebelumnya (konflik dengan Esau). Yakub seakan-akan tidak melarikan diri dari kemarahan Esau melainkan pergi untuk mencari istri yang sesuai.
Menurut tradisi P, kisah kepergian Yakub untuk mencari istri ini (27:46-28:9) merupakan lanjutan dari 26:34-35 yang mengungkapkan ketidakpuasan Ribka atas perkawinan Esau dengan perempuan Kanaan (bdk 27:46). Akhirnya Yakub pun tidak dibunuh, ia pergi dengan kegembiraan untuk mencari istri kepada sanak familinya sambil membawa berkat dari ayahnya.[6]
Berkat yang diberikan Ishak terhadap Yakub pada saat perpisahan ini tampaknya menjadi peneguhan berkat wasiat Ishak sebelumnya yang secara langsung meneguhkan berkat Yakub ini dengan berkat yang diberikan Allah di dalam perjanjian-Nya dengan Abraham, yaitu janji tentang keturunan dan tanah. Yakub telah menjadi pembawa berkat[7]. Esau pun kemudian mencontoh Yakub dengan memperistri seorang wanita dari kalangan keluarga ayahnya, yaitu Mahalat, anak Ismael, cucu Abraham (lih. 28:8-9).
Di sini kembali ditekankan bahwa berkat merupakan kekuatan yang menyangkut keseluruhan, dimana berkat tidak bisa dikembalikan atau dirubah. Agustinus mengatakan bahwa pemberian berkat kepada Yakub bukanlah suatu penipuan, melainkan suatu misteri yang tidak pantas disedihkan[8]. Yakub adalah pembohong, tetapi ia pun adalah pembawa janji dan berkat.
b. Allah menyertai perjalanan Yakub
Dalam mimpi Yakub di Betel (28:10-22), Allah telah menyatakan diri kepada Yakub dan menyampaikan kembali janji-Nya. Allah menyatakan diri sebagai Allah Abraham dan Allah Ishak, serta menjamin Yakub dengan perlindungan dan kehadiran ilahi dalam perjalanannya. “Akulah Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; …sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu” (28: 13a,15). Pernyataan diri Allah ini menjadi pertanda bahwa Allah tetap menyertai Yakub, sekalipun Yakub telah berbuat licik terhadap kakaknya. Warisan perjanjian yang telah disampaikan melalui berkat Ishak sekarang secara langsung diteguhkan oleh Allah. Makna mimpi ini adalah kontaks dengan Allah, pencipta bumi dimana “utusan” (malaikat Allah) hadir menyampaikan kehendak ilahi[9]. Mimpi Yakub ini juga adalah suatu teofani dimana Allah tampak dan memperbarui perjanjian-Nya, yaitu perjanjian akan tanah dan keturunan. Janji tentang keturunan ini menjadi berkat bagi seluruh bangsa di bumi (bdk. Kej 12:3, 26:3-4).
Di samping itu, perlindungan Allah terhadap Yakub (28:15) menunjukkan bahwa perlindungan Allah diperluas, seperti kuasa Yahwe, melewati batas daerah khusus Kanaan.[10] Allah tidak hanya melindungi Yakub di Kanaan saja, tetapi juga di luar Kanaan. Perlindungan Allah terhadap Yakub tidak terbatas lagi oleh tempat dan tanah tertentu. Dengan demikian, Betel menjadi simbol penghubung antara masa lalu Yakub di tanah Kanaan dan masa depannya di Haran.[11]
c. Pergumulan dengan Allah
Pada Kej 32:1-21, dikisahkan bahwa Yakub mengirim utusan kepada Esau dengan harapan akan memperoleh kemurahan hatinya. Akan tetapi, ketika utusan itu kembali dan melaporkan bahwa Esau sedang dalam perjalanan untuk menemuinya bersama empat ratus orang, Yakub menjadi ketakutan sehingga ia memisahkan rombongannya menjadi dua kelompok agar terhindar dari bencana total. Setelah itu, Yakub berpaling kepada Allah dan berdoa (32:9). Doa Yakub ini mengungkapkan keadaan dirinya yang cemas dan meminta bantuan Allah dengan mengingatkan kembali janji-Nya.
Setelah itu, Yakub membagi rombongannya menjadi tiga kelompok, masing-masing berjalan mendahuluinya untuk berjumpa dengan Esau. Sementara itu, setelah semua rombongannya berangkat dan Yakub tinggal seorang diri, Yakub diserang oleh seseorang dan mereka berdua bergumul sampai fajar (32:23-24). Dalam pergumulan tersebut tidak disebutkan siapa yang menang dan siapa yang kalah, namun dalam ay 9 disebutkan bahwa si penyerang itu tidak bisa mengalahkan Yakub sehingga ia kemudian memukul sendi pangkal paha Yakub. Pada ay 26, orang itu meminta dilepaskan supaya bisa pergi. Yakub tidak melepaskan orang itu begitu saja, tetapi ia meminta berkat kepadanya.
Pergumulan Yakub di atas dapat diartikan sebagai pergumulan batin dan berhasilnya doa yang dipanjatkan kepada Allah dengan tekun.[12] Setelah menghadapi Esau dan Laban, kini Yakub berhadapan dengan Allah sendiri. Dan sejak pergumulannya dengan Allah inilah sifat Yakub berubah menjadi seorang yang terhormat dan tulus sampai pada kematiannya. Di samping itu, Yakub, yang telah menyandang nama baru, yaitu Israel (32:27-28), dalam hidupnya mengungkapkan suatu perjuangan Israel dengan Allah selaku bangsa yang mempunyai perjanjian.
d. Pertemuan Yakub dan Esau
Setelah sekian lama berpisah, akhirnya Esau dan Yakub bertemu kembali secara dramatis (Kej 33). Pertemuan kedua bersaudara ini seakan-akan menjadi antiklimaks dari perselisihan mereka. Persiapan Yakub yang banyak untuk menghormati Esau pun ternyata memang efektif. Esau tidak lagi menyimpan dendam terhadap Yakub, sebaliknya, ia menyatakan sukacitanya atas pertemuan tersebut. Dalam kitab suci digambarkan bahwa Esau berlari mendapatkan Yakub, memeluk lehernya, menciumnya, dan mereka menangis satu sama lain (bdk. 33:4). Yakub pun mengalami sukacita yang sama. Bahkan ia menyatakan bahwa pertemuannya kembali dengan Esau ini dianggap sebagai pertemuan dengan Allah. Yakub berkata, “… karena memang melihat wajahmu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkau pun berkenan menyambut aku” (33:10).
Dari kisah pertemuan ini, tampak bahwa melalui pergumulan dan perjalanan yang panjang, kedua bersaudara yang saling bertikai ini akhirnya berdamai kembali. Dua bersaudara ini, khususnya Yakub, telah melewati masa yang panjang untuk bergumul baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain sampai akhirnya mereka berekonsiliasi satu sama lain. Walaupun pada akhirnya Esau dan Yakub berpisah kembali (33:12-20), akan tetapi pertemuan yang singkat itu telah menjadi “ruang” dimana dua pihak yang saling berselisih dapat saling bertemu dan berdamai kembali.
IV. Rekonsiliasi
a. Pengertian
Rekonsiliasi berasal dari bahasa Latin reconciliatio yang kata kerjanya adalah reconciliare. Reconciliare berarti kembali,membangun kembali, memperbaharui, merukunkan. Terjemahan Yunani dari reconsiliare ini adalah katalassein yang berartiberubah sikap. Kata ini kemudian menjadi bahasa keagamaan yang memiliki makna relasional dalam merefleksi tentang dosa, sesal, tobat, silih, ampun, dan penyembuhan luka-luka batin.[13] Sementara itu Gerald O’Collins dan Edward G. Farrugia, dalam Kamus Teologi, mendefinisikan rekonsiliasi sebagai perdamaian kembali atau pemulihan persahabatan sesudah keadaan konflik dan saling menjauhi diatasi.
Sedangkan John Paul Lederach mendefinisikan rekonsiliasi ini dengan mengacu pada kisah Esau dan Yakub. Menurutnya, rekonsiliasi berarti berlari dan memeluk sebagaimana Esau berlari dan memeluk Yakub. Dari pandangan Lederach ini makarekonsiliasi harus dibedakan dengan memaafkan. Rekonsiliasi adalah “perjalanan” atau proses menuju perdamaian,[14]sedangkan memaafkan identik dengan melupakan kesalahan. Dalam memaafkan, seringkali perdamaian terjadi karena adanya sikap saling melupakan kesalahan masa lalu. Sedangkan dalam rekonsiliasi, kesalahan masa lalu itu belum tentu dilupakan, melainkan tetap diolah sebagai proses menuju perdamaian.
b. Beberapa Metafor
Berdasarkan kisah Esau dan Yakub yang telah dibahas pada Bab II dan Bab III, tampak bahwa Yakub yang telah melarikan diri dari Esau dan keluarganya akhirnya berani kembali kepada Esau. Apa yang membuat Yakub berani untuk kembali? Apa yang membuat hati Esau luluh sehingga mau berdamai dengan Yakub? Apa makna keterpisahan mereka dalam proses rekonsiliasi? Apakah ini juga merupakan suatu penyelenggaraan ilahi? Untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, penulis mencoba mencari jawabannya dengan mengacu pada beberapa metafor seperti halnya dikemukakan oleh Lederach.[15]
1. Rekonsiliasi sebagai “perjalanan”
Metafor rekonsiliasi pertama yang dapat diambil dari lingkaran kisah Esau dan Yakub adalah “perjalanan”. Yakub telah melarikan diri dan mencari jarak dari konflik sehingga ia harus berpisah dari Esau dan keluarganya. Bagi Yakub, bisa jadi perjalanan keberpisahan ini merupakan bentuk pelarian diri dari rasa takut dan juga karena rasa bersalahnya yang tidak bisa dihadapinya sendiri. Sedangkan bagi Esau, hal ini merupakan pengalaman pahit dan menyakitkan dari ketidakadilan yang dialaminya. Akan tetapi, kita tidak boleh menganggap bahwa kepergian Yakub ini merupakan bentuk pelarian diri dari konflik. Kita perlu menyadari bahwa kepergian Yakub ini merupakan salah satu jalan untuk mencapai rekonsiliasi yang di dalamnya mengandung misteri ilahi. Lederach mengungkapkan bahwa misteri rekonsiliasi itu adalah aspek yang paling utama dalam perjalanan.[16] Kembalinya Yakub kepada Esau bukanlah karena hasil dari perjuangan Yakub sendiri, melainkan juga karena adanya kehendak Allah.
Yakub telah mengalami proses perjuangan yang panjang dalam mengahadapi rasa takutnya sendiri terhadap Esau sampai akhirnya ia mempunyai kekuatan untuk kembali. Ia telah berusaha mengolah ketakutannya menjadi keberanian untuk kembali melalui proses refleksi dan perjuangan yang panjang. Dalam Kej 31:3 Allah berfirman kepada Yakub, “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau.” Firman Allah ini bagi Yakub berarti bahwa ia harus kembali untuk mengahadapi “musuhnya,” yaitu Esau. Maka sebagai perjalanan, rekonsiliasi memiliki dua unsur penting yaitu pengalaman jatuh dan perjuangan untuk bangun kembali.
Akhirnya bisa dikatakan bahwa rekonsiliasi adalah suatu perjalanan menuju dan melalui konflik. Dalam contoh ini, Allah tidak menjanjikan bahwa Ia akan melindungi Yakub dalam seluruh perjalanannya, tetapi Ia berjanji bahwa Ia akan menyertai Yakub sampai kapan pun.[17]
Dari metafor ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa proses pertama dari rekonsiliasi adalah sikap mengambil jarak dari konflik sehingga kita dapat melihat konflik secara lebih jujur dan terang. Sikap ini bukan berarti mau melarikan diri dari konflik, melainkan untuk mengambil waktu agar dapat melihat konflik dalam kacamata rohani-spiritual. Pergi dari konflik berarti menarik diri untuk berefleksi untuk kemudian kembali lagi.
2. Rekonsiliasi sebagai “pertemuan”
Rekonsiliasi adalah suatu pertemuan dimana kedua belah pihak yang berkonflik saling bertemu satu sama lain, saling berlari mendapatkan dan saling memeluk (bdk. Kej 33:4). Dalam perjalanan Yakub, kita bisa melihat adanya tiga pertemuan yang dialami Yakub, yaitu pertemuan dengan dirinya sendiri, dengan sesama (termasuk musuh) dan dengan Allah.
Perjalanan konflik menuju suatu rekonsiliasi selalu melibatkan pertemuan dengan diri sendiri. Dalam perjalanan Yakub, pertemuan dengan diri sendiri ini tampak dalam sikapnya yang mau menghadapi rasa takutnya dan juga masa lalunya. Hal ini bisa dilihat dalam pergulatan Yakub dengan Allah (Kej 33:22-32). Pergumulan ini bisa dipahami sebagai pergumulan melawan masa lalu dan rasa takutnya terhadap masa depan. Pergumulan atau pertemuan dengan diri sendiri ini akhirnya membuat Yakub mampu bertemu dengan Allah, yang kemudian memanggilnya untuk kembali.
Rasa takut dan rasa bersalah terjadi karena adanya suatu pengalaman atau peristiwa yang berhubungan dengan orang lain. Perasaan bersalah dan takut yang dialami Yakub pun terjadi sebagai akibat dari relasinya yang buruk dengan orang lain, yaitu Esau. Maka pertemuan kedua, setelah bertemu dengan diri sendiri adalah bertemu dengan orang lain, sebagaimana Yakub bertemu dengan Esau dari muka ke muka. Maka rekonsiliasi membutuhkan keberanian untuk bertemu dengan orang-orang yang kita takuti apa pun resikonya.
Sedangkan rekonsiliasi dikatakan sebagai pertemuan dengan Allah terjadi ketika kita mengalami bahwa musuh yang semula kita takuti telah berubah menjadi sahabat atau saudara yang terbuka dan penuh kasih. Hal ini kelihatannya memang paradoks. Ketika kita bergumul dalam ketakutan dan kegelapan jiwa kita, kita bergumul dengan Allah, dan ketika kita kembali kepada musuh, kita kita melihat wajah Allah.[18] Tetapi itulah perjalanan rekonsiliasi seperti juga yang dialami oleh Yakub. Yakub telah bergumul dengan Allah, yang berarti bergumul dengan dirinya sendiri, sampai akhirnya ia bertemu Allah yang tampak dalam diri Esau.
Dengan demikian, rekonsiliasi dalam metafor ini merupakan proses transformasi konflik menuju perdamaian. Pertemuan dengan diri sendiri dan dengan Allah merupakan saat untuk merefleksikan pengalaman dan peristiwa konflik. “Pertemuan” merupakan saat untuk melihat diri sendiri dan juga orang lain secara baru, dimana Allah hadir dan membimbing kita. Setelah menraik diri dari konflik, kita mempunyai waktu untuk “diam” bersama Allah dalam refleksi guna mencari makna, nilai dan juga jalan ke luar dari konflik yang dihadapi.
3. Rekonsiliasi sebagai “tempat”
Perjalanan selalu membawa kita pada suatu tempat tertentu. Akan tetapi tempat atau ruang ini bukanlah suatu tujuan terakhir karena perjalanan selalu melewati berbagai tempat yang selalu baru. Masing-masing pertemuan pun, baik itu pertemuan dengan diri sendiri, dengan Allah, maupun dengan sesama, selalu berada pada tempat atau ruang tertentu yang selalu berbeda. Tempat adalah ruang dan waktu dimana hal-hal yang konkret turut serta dalam perjalanan. Dalam kisah Esau dan Yakub, tempat ini ditandai, dinamai dan dikenang. Tempat merupakan suatu ruang dimana orang dapat bertemu dengan musuh, Allah dengan umat-Nya, dan individu-individu memasuki dirinya sendiri untuk memperoleh kesadaran baru.[19]
Rekonsiliasi pun merupakan perjalanan dimana melalui perjalanan ini kita berusaha untuk mencapai tempat tertentu. Rekonsiliasi adalah tempat untuk saling bertemu, dimana Allah hadir dalam setiap diri manusia.
Dalam rekonsiliasi antara Esau dan Yakub, tempat pertemuan bukanlah tujuan akhir dari mereka. Perjalanan mereka masih terus berlangsung dan kedua bersaudara ini tidak tnggal bersama lagi. Memang rekonsiliasi selalu diwarnai tempat dan pertemuan tertentu, akan tetapi tempat dan pertemuan ini akhirnya selalu menjadi titik awal untuk suatu perjalanan yang baru, sebagai hidup baru yang harus ditempuh.
Dengan demikian, dari metafor ke tiga ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa tempat merupakan titik balik untuk kembali menghadapi konflik yang sempat ditinggalkan. Setelah menarik diri dan melakukan refleksi, konflik kembali dihadapi dengan sikap yang sama sekali baru. Tempat tidak lagi menjadi pertemuan yang memperuncing konflik, tetapi berubah menjadi ruang untuk saling berdamai dan menjalani hidup yang baru.
c. Spiritualitas rekonsiliasi
Rekonsiliasi pada akhirnya mampu menciptakan kedamaian hidup. Konflik dan kekerasan berubah menjadi persaudaraan, ancaman berubah menjadi berkat. Kalau kita berani menyikapi konflik dalam kacamata kedalaman spiritual, maka kita akan mampu mentransformasikan hidup dari ketakutan dan ketidaknyamanan menjadi keadilan dan damai. Melalui rekonsiliasi, Allah mengundang kita pada relasi damai yang baru.[20]
Hidup dalam Roh Allah yang penuh kedamaian adalah suatu peziarahan hidup yang terus-menerus mengalir. Maka spiritualitas rekonsiliasi berarti hidup dalam kehadiran Allah sehingga kita mampu mencintai orang lain, bertahan dalam segala rintangan, dan berani berdamai dengan lawan. Di sini, rekonsiliasi bukanlah pertama-tama suatu strategi untuk menciptakan perdamaian, melainkan spiritualitas hidup yang menuntun pada perdamaian. Ketika kita mencari dimensi spiritual perdamaian, baik di dalam hati dan jiwa kita sendiri maupun di dalam diri orang lain, maka kita memasuki transformasi dalam diri Allah yang terus menerus, yaitu transformasi dari kehancuran diri menuju pada kerajaan Allah yang penuh kedamaian dan keadilan.[21]
Dengan demikian, rekonsiliasi kita pahami harus kita pahami sebagai spiritualitas hidup. Robert J. Schreiter mengungkapkan bahwa ada tiga karakteristik dari spiritualitas rekonsiliasi sebagai spiritualitas hidup ini, yaitu: [22]
1. Sikap mendengar dan menunggu
Pada sikap ini kita harus memberi kesempatan kepada para korban kekerasan dan penderitaan untuk menceritakan kembali kisah hidup mereka. Hal ini bertujuan untuk memetakan kekerasan dan penderitaan agar kita mampu membatasi atau mengurangi kekerasan itu. Maka pelayan rekonsiliasi pada taraf ini adalah menjadi seorang pendengar yang setia. Disamping itu, kita harus bersikap menunggu. Menunggu adalah suatu kemampuan aktif untuk membedakan antara ilusi dan kenyataan hidup[23]. Menunggu berarti menjadi tenang dan senang dengan diri sendiri dan dengan sesama, sekaligus sambil menantikan Allah dan perdamaian rahmat Allah. Menunggu juga merupakan sikap untuk membiarkan kenangan-kenangan yang menyakitkan untuk muncul kembali supaya luka-lukanya dapat disembuhkan, dan dengan demikian, maka terciptlaha rekonsiliasi di dalam hati.
2. Perhatian dan keprihatinan
Perhatian itu tumbuh dari sikap belajar menunggu. Perhatian ini harus dibangun jika rekonsiliasi benar-benar ingin terjadi. Karenanya, perhatian membutuhkan ketenangan hati. Sebagaimana setiap spiritualitas tidak dapat diharapkan berkembang tanpa secara teratur mengarahkan perhatiaannya pada Allah, demikian juga perhatian untuk menyembuhkan kenangan-kenangan yang sakit merupakan inti dalam pelayanan rekonsiliasi. Dengan demikian, perhatian merupakan dasar keprihatinan, dasar suatu kemampuan untuk menunggu dan berada bersama, agar bisa berjalan berdampingan bersama para korban kekerasan dan penderitaan.
3. Spiritualitas rekonsiliasi adalah mental pasca-pembuangan[24]
Di sini Schreiter menandaskan bahwa masyarakat baru itu harus terbentuk di atas puing-puing masyarakat lama. Pengalaman pembuangan akan memberi suatu pandangan baru terhadap orang-orang yang kembali dari pembuangan. Kalau kita merenungkan peristiwa pembuangan pada saat sekarang, maka hal ini dapat mendukung spiritualitas rekonsiliasi, yaitu rekonsiliasi yang mengalir dari dalam hati.
Dari ketiga karakteristik spiritualitas rekonsiliasi ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa rekonsiliasi bukanlah semata-mata suatu tugas dan kewajiban, melainkan juga suatu panggilan hidup bagi kita semua. Dengan spiritualitas rekonsiliasi, kita mampu membangun semangat rekonsiliasi di dalam diri kita sendiri sekaligus menjadi pelayan rekonsiliasi bagi orang lain.
Di samping itu, rekonsiliasi bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan konkret. Rekonsiliasi adalah suatu spiritual yang berhubungan langsung dengan pengalaman nyata manusia. Rekonsiliasi bukan hanya menjadi urusan keagamaan saja tetapi juga menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk ekonomi, sosial, budaya dan politik. Mahatma Gandhi mengatakan bahwa agama dan politik bukanlah dua entitas yang terpisah, kedua-duanya merupakan pelayanan hidup bagi Allah dan bagi kemanusiaan.[25]
V. Penutup
Kisah Esau dan Yakub merupakan salah satu contoh bibles dari perjalanan manusia dalam relasinya dengan sesama. Dari kisah ini kita tidak hanya menemukan konflik semata-mata, tetapi juga kita menemukan bagaimana konflik itu diatasi. Konflik merupakan kisah hidup yang harus dihadapi sekaligus dilalui. Rekonsiliasi adalah proses bagaimana konflik itu direfleksikan dan diolah di hadapan Allah dalam terang kehendak-Nya sehingga konflik pada akhirnya dapat diatasi. Maka, rekonsiliasi merupakan suatu perjalanan dalam dan melalui konflik. Hanya kehendak Allah sendirilah yang mampu membawa manusia pada rekonsiliasi sejati yaitu damai baru dan hidup baru dalam ikatan kaih.
Rekonsiliasi akhirnya merupakan proses yang hanya bisa dicapai dengan bantuan rahmat Allah. Manusia tidak bisa mengendalikan konflik tanpa adanya campur tangan dan penyertaan Allah karena manusia seringkali tidak terlepas dariself-interest yang bersembunyi di balik tindakan-tindakannya, termasuk tindakan rekonsiliasi itu sendiri. Allah yang telah menciptakan alam semesta ini baik adanya tidak menghendaki adanya kekacauan dan perpecahan yang merusak. Dengan demikian, Allah sendirilh yang menjadi tumpuan kita dalam mentransformasi konflik menjadi suasana hidup yang damai dan tenteram.
Di samping itu, rekonsiliasi juga mengandung misteri ilahi yang tidak dapat terselami sepenuhnya oleh manusia. Konflik seringkali menjadi sarana Allah untuk menyampaikan kehendak-Nya. Hal ini tampaknya paradoksal karena Allah yang menghendaki perdamaian malah menggunakan konflik untuk menciptakan perdamaian itu. Allah yang memilih Yakub untuk menjadi penerus perjanjian-Nya, telah mengakibatkan Yakub harus berkonflik dengan saudaranya dan juga dengan dirinya sendiri sehingga ia harus mengalami “petualangan” panjang untuk sampai pada kesadaran akan kehendak Allah tersebut. Demikian pun dengan kita. Konflik menjadi titik balik iman dan harapan kit terhadap Allah. Berbagai pengalaman dalam perjalanan hidup kita – termasuk di dalamnya konflik – menyadarkan kita bahwa kita ini sedng berziarah menuju “tanah terjanji” yaitu kerajaan surgawi di mana tidak ada lagi perseteruan.
Dengan demikian, rekonsiliasi merupakan perjalanan eskatologis menuju kerajaan surgawi. Kalau kita membandingkan kisah Esau dan Yakub dengan Mzm 23, maka kita akan menemukan tujuan akhir rekonsiliasi ini. Rekonsiliasi itu bagaikan perjalanan dalam lembah kelam yang menakutkan; tanpa penyertaan Allah tidak mungkin dapat dilewati. Karena penyertaan Allah inilah, kita bisa sampai pada perjamuan di mana kita bisa duduk sehidangan dengan musuh-musuh kita. Pengalaman masa lalu yang menakutkan dan musuh yang semula menjadi ancaman, berubah menjadi kedamaian yang penuh cinta, di mana Allah hadir bersama-sama dengan kita dalam perjamuan-Nya yang kudus.
Akhirnya, rekonsiliasi menjadi panggilan bagi kita semua. kita dipanggial untuk membangun spiritualitas rekonsiliasi di dalam diri kita sendiri sekaligus menjadi pelayan rekonsiliasi bagi orang lain. Semangat rekonsiliasi yang kita timba dalam “pergumulan” dengan Allah hendaknya diimplementasikan dalam hidup sosial-kemasyarakatan kita agar tercipta tatanan dunia baru sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian, mengahayati rekonsiliasi sebagai perjalanan berarti membangun semangat “sehati sejiwa.”[26] Kita semua dipanggil untuk membangun persaudaraan sejati dalam perjalanan menuju Allah dengan cara menyediakan diri bagi pelayanan rekonsiliasi di dunia ini.
Dafta Pustaka
Bergant, Dianne dan Robert J. Karris, ed., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yoryakarta: Kanisius, 2002.
Brown, Raymond E., S.S., dkk., ed., The New Jerome Biblical Commentary, New Jersey: Prentice Hall, Inc, 1990.
Dear, John, The God of Peace: Toward A Theology of Nonvolence, New York: Orbis Books, 1994.
Guthrie, D., dkk., ed., Tafsiran Alkitab Masa Kini 1(Kejadian-Ester), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998.
Lederach, John Paul, The Journey Toward Reconciliation, Waterloo: Herald Press, 1999.
Schreiter, Robert J., Reconciliation: Mission and Ministry in A Changing Social Order, New York: Orbis Books, 1992.
———–, Rekonsiliasi: Membangun Tatanan Masyarakat Baru, Ende: Nusa Indah, 2000.
Seputra, A. Widyahadi, dkk., ed., Rekonsiliasi: Menciptakan Hidup Damai dan Sejahtera – Tinjauan Perspektif Religius. Jakarta: APP-KAJ, LDD-KAJ dan Komisi PSE-KWI, 2001.
O’Colllins, Gerald dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 1996.
[1] Dianne Bergant dan Robert J. Karris, ed., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yoryakarta: Kanisius, 2002, hlm. 62.
[2] Tafsiran Alkitab Masa Kini 1(Kejadian-Ester). Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998, hlm. 115.
[3] Dianne Bergant, Op. Cit., hlm. 62.
[4] Tafsiran Alkitab Masa Kini, Op. Cit., hlm. 116.
[5] Raymond E. Brown, S.S., dkk., ed., The New Jerome Biblcal Commentary. New Jersey: Prentice Hall, Inc., 1990, p. 30.
[6] Ibid., p. 30.
[7] Ibid., p. 30. Lih. Mal 1:3, “Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau”. Ungkapan cinta dan benci di sini bukanlah soal perasaan atau emosi melainkan menunjuk pada kepastian bahwa Israel-lah yang dipilih Allah, bukan Edom.
[8] Ibid., p. 29.
[9] Ibid. p. 30.
[10]Tafsiran Alkitab Masa Kini, Op. Cit., hlm. 119.
[11] Dianne Bergant, Op. Cit., hlm. 64.
[12] Ibid., hlm. 75.
[13] A. Widyahadi Seputra, ed., Rekonsiliasi: Menciptakan Hidup Damai dan Sejahtera – Tinjauan Perspektif Religius. Jakarta: APP-KAJ, LDD-KAJ dan Komisi PSE-KWI, 2001, hlm. 79.
[14] John Paul Lederach, The Journey Toward Reconciliation. Waterloo: Herald Press, 1999, p. 20-21.
[15] Ibid., p.22-26.
[16] Ibid., p. 21.
[17] Ibid., p. 23.
[18] Ibid., p. 25.
A. Jenis Konflik:
Dalam konflik Yakub dengan Esau terjadi konflik substansial, Yakub yang artinya ‘penipu’ (‘memegang tumit seseorang’; Kej 25:26; 27:36; Hos 12:3; Yer 9:4), telah memulai konflik mengenai fakta (perebutan hak kesulungan dan warisan keluarga), nilai (Esau kehilangan pengakuan social bahwa dirinya adalah pengganti orangtua secara social dan keagamaan[i]) dan tujuan (Ribkah agar Yakub yang diberkati) terhadap kakaknya Esau.
B. Penyebab Konflik[ii]
Perbedaan Pendapat yang mengakibatkan perlakuan diskriminatif. Perbedaan pendapat orangtua Yakub menjadi pemicu terjadinya konflik. (Ishak lebih suka Esau dan Ribka lebih menyukai Yakub) Kej 25:28.
Salah satu dari keduabelah pihak merasa dirugikan. Dalam Hal ini Esau merasa dirugikan karena merasa ditipu hak kesulungannya dan direbut hak waris yang disiapkan Ayahnya Ishak kepadanya, serta secara tidak langsung diturunkan dari pengakuan social/masyarakat bahwa dirinya seharusnya sebagai pengganti kepala keluarga dalam mengemban tanggung jawab social dan keagamaan.[iii]
Dipengaruhi pihak lain baik secara sengaja maupun tidak. Ketika Yakub menggeser Esau dan memperoleh berkat ayahnya, Ribka mengambil prakarsa dan merencanakan tindak penipuan itu (Kej 27:5-17). Setelah berhasil, karena takut Esau akan membunuh Yakub, Ribka menyuruh Yakub lari ke Haran kepada paman Yakub, Laban. Ribka membenarkan perbuatan itu kepada Ishak dengan saran, Yakub harus mencari istri dari kaum mereka sendiri (Kej 27:42-28:5).[iv]
C. Tahap-tahap Terjadinya Konflik.
1) Berawal perlakuan orangtua yang diskriminatif (Yakub selaku ayah lebih suka kepada Esau dan Ribka sebagai ibu lebih menyukai Yakub) terhadap kedua anaknya, Kej 25:28. 3) Kelicikan Yakub, berakibat Esau menjual hak kesulungan, Kej 25:29-34 dan berakibat Ishak salah memberikan berkat, Kej 27:27-29. 4) Kelicikan Ribka, mempengaruhi Yakub supaya mengelabui Ishak, Kej 27:5-17. 5) Kecerobohan Esau, mengakibatkan hak kesulungannya jatuh ke tangan Yakub, Kej 25:29-34 6) Tidak bertanya kepada Tuhan, Sempat ragu terhadap siapa orang yang akan diberkati tetapi tetap memberkati, Kej. 27:18-19. 7) Terjadilah kesalahan fatal, berkat yang semestinya diterima oleh Esau menjadi milik Yakub, Kej 27:27-29. Inilah yang akhirnya menjadi pemicu terjadinya konflik sehingga Esau kecewa terhadap Yakub, Kej 27:36.
D. Akibat Konflik
Akibat Positif.: Rencana Tuhan tetap berlaku, rekonsiliasi antara Yakub dan Esau, dalam masa keterpisahan masing-masing mengalami pematangan rohani, dan pada akhirnya terjadi perubahan sikap yang positif pada keduanya.
Akibat Negatif. Esau : marah, benci, dendam dan keinginan untuk membunuh adiknya Yakub (Kej.27:41) Bagi Yakub: Hidup dihantui ketakutan, bersembunyi dan terpisah dari keluarga, masyarakat dan orang-orang yang dikasihi. Terjadi permusuhan yang berkelanjutan di antara kedua suku. (Bil 20:18-21;1Raj 11:14; Mazm 137:7)
E. Penyelesaian Konflik/Managemen Konflik.
Fakta
ESAU YAKUB
Anak Sulung, Secara hukum berhak menerima warisan, Tidak berhak
Arti teologis “penolakan” tidak dipilih Allah;. Mal 1:2; Rom 9:13; Ibr 12:16 Melambangkan orang yang dipilih Allah (dipilih sebelum lahir); Mal 1:2; Rom 9:13; Ibr 12:16
Hidup rohani kurang baik (kawin campur dengan perempuan kanaan); meremehkan hak kesulungan Hidup rohani baik (tidak seperti Esau, sekalipun banyak kekurangannya).
Janji lisan seorang ayah kepada anaknya dapat dipertahankan di pengadilan (lih ANET, hlm 220). Maka berkat yang sudah diberikan Ishak tak dapat ditarik kembali, seperti ditekankan oleh Alkitab (Kej 27:33).
Gaya manajemen konflik yang diterapkan Ribkah dan Yakub adalah “Gaya Tanpa Konfrontasi, yaitu dengan menghindar atau menarik diri dari konflik. Ribkah mendapat izin dari Ishak supaya Yakub lari menghindari amarah Esau ke kampung asalnya di Padan Aram (Kej 28:1) untuk menikah dengan anggota sukunya.
Kategori gaya manajemen konfliknya adalah:”menghindari (kura-kura) dan kompromi (rubah)” asumsi dasar nya adalah : semua pihak yang sedang konflik akan mendapatkan titik temu dari konflik tersebut.
Taktik penanganan konflik Yakub adalah sebagai berikut: a) penundaan: Yakub menghindar dari Esau ke Laban dengan tujuan agar emosi Esau dapat reda (terlihat ketika mereka bertemu ‘Esau menangis’) b) Mengendalikan proses: Lalu Yakub sekeluarga tiba di Mahanaim. Di situ Yakub berjumpa dengan malaikat-malaikat Allah. Sesudah itu ia menyuruh beberapa orang untuk mengetahui bagaimana sikap Esau (Kej 32:1 dab). Begitu Yakub mengetahui bahwa Esau datang menjumpai dia, ia berusaha menyelamatkan setengah dari harta miliknya dan segera mengirim banyak hadiah untuk kakaknya itu.
D. Kesimpulan.
1. Pesan : Dari sudut pandang teologis, kedudukan Yakub sangat kuat karena mempunyai backup Janji Tuhan, tetapi faktor dosa, ego dan kelemahan manusia telah menyamarkan Janji Tuhan tersebut sehingga Yakub harus memperolehnya dengan caranya sendiri. Akibatnya konflik terjadi dengan Esau yang berbuntut Yakub harus menanggung akibat dari kesalahan dalam pengambilan keputusan.
Sekalipun demikian “Jalan Tuhan” tidak dapat dihalangi oleh kelemahan dan kesalahan manusia, Allah menyatakan kehendak-Nya kepada Yakub, Allah memberi kekuatan bagi Yakub untuk mengambil keputusan tepat pada tempat yang tepat untuk memanaging konflik. Dengan keterbatasan dan karakternya Yakub mengambil pendekatan ‘persuasif’ dalam manajemen konfliknya. Tuhan memberkati dan rekonsiliasi terjadi.
2. Aplikasi : Konflik akan terus terjadi dalam kehidupan ini, menciptakan konflik untuk mendapatkan keuntungan bukanlah jalan ‘bijaksana’. Mengerti rencana Tuhan dan berhikmat dalam mengambil keputusan meminimalisir risiko akibat munculnya konflik.
Sekalipun konflik terjadi dalam hubungan kakak beradik, tidak perlu kuatir dan takut seperti apa yang dialami Yakub, dengan pemilihan pendekatan manajemen konflik yang relevan (situasi dan kondisinya), dengan berpegang pada fakta dan firman Tuhan, seyogyanya kita (jangan seperti Yakub) mengawalinya dengan konfrontasi secara pribadi dulu, dengan tetap memperhitungkan agar ‘kemungkinan terburuk’ dapat diminimalisir atau bahkan tidak terjadi, Dengan kepekaan dari Tuhan, kita dapat mendeteksi akar konflik dan segera memberikan tanggapan atas konflik sedini mungkin, dalam penanganannya tetap berpusat pada isu konflik, mengembangkan beberapa alternative untuk penyelesaian konflik, dan bersama sama berkomitmen untuk menjaga hasil rekonsiliasi.
Di sisi lain, dalam kapasitas-Nya, Allah meneguhkan dan memberikan kehendakNya serta menguatkan kita untuk keluar dari konflik, seperti Ia meneguhkan Yakub melalui pergumulan dengan malaikat di tepi sungai Yabok sebelum bertemu Esau sekaligus mempersiapkan hati Esau untuk menerima rekonsiliasi dari Yakub.
Disampaikan dalam PA GKJ Salatiga
Doni Setyawan
Semua Gerak Alam ini adalah Bahasa Illahi..maka..Bacalah!!
MEMBACA BAHASA ALAM
Sebuah kemestian dalam dunia relasi komunikasi adalah bahasa. Entah itu bahasa verbal,bahasa tulis, bahsa tanda, bahasa isyarat, bahasa tubuh dan (mungkin) masih ada lagi model bahasa yang pernah digunakan makluk hidup membangun komunikasi dalam hidupnya. Dari sekian bahasa itu, tentunya ada kekurangan,kelebihan yang menyebabkannya perlu upaya tersendiri di dalam memahaminya. Sulit dan tidak itu tergantung pada bebeapa aspek,salah satunya adalah budaya. Jika dalam sebuah komunitas, ada budaya berbahasa isyarat dan meninggalkan bahasa tulis, tentu akan lebih mudah mengerti tanda daripada bahasa tulis dan verbal. Namun jika yang terjadi adalah kebalikannya, maka bahasa tanda akan sulit dipahami mereka yang dalam kesehariannya menggunakan bahasa tulis.
Setiap komunitas manusia, atau makluk hidup pastilah memerlukan komunikasi, demikian pula dengan manusia. Dan seperti yang saya tuulis di atas, alat komunikasi yang popular adalah bahasa, dan itu adalah bahasa verbal serta bahasa tulis. Maka, tidak mengherankan jika Negara ini dahulu mewajibkan semua warganya untuk bisa membaca dan menulis,dalam slogan B3B (Bebas Tuga Buta). Nah, akibat dari upaya ini maka sekarang ini hampir semua warga Negara ini bisa membaca dan menulis, sehingga memudahkan membangun komunikasi. Namun, agak sedikit aneh adalah ketika manusia yang selalu berinteraksi dengan ala mini enggan belajar membaca bahasa alam yang sejatinya senantiasa bersenandung, dan bahkan berteriak lantang mendendangkan sebuah kabar.
Yahh…manusia mulai mengabaikan salah satu bahasa dalam hidupnya, itulah bahasa tanda. Dalam jaman yang berberak cepat dan tak terkendali (Sindhunata mengekspresikannya dengan Mrucut, bahasa Jawa yang artinya lepas takterkendali), manusia hanya menyukai yang serba instan dan mungkin dalam istilah bahasa adalah verbal. Komunikasi verbal dan vulgar, dan itu sudah menjadi sebuah mentalitas sebuah masyarakat, bahkan sebuah bangsa bernama Indonesia ini. Akibat dari semuanya ini adalah korban dan kerugian yang datang seolah tiba-tiba, padahal sejatinya ala mini telah jauh-jauh hari memberi kabar lewat bahasanya. Bahasa tanda. Bahasa tanda dari ala mini yang tidak jua segera dimengerti manusia, karena manuia selalu sibuk menumpuk materi dan uang ada di dalamnya. Akibatnya adalah lupa. Lupa dan melupakan segalanya.
Kembali ke persoalan bahasa, tanda dan cara membacanya. Andai manusia mau sedikit bersabar dan mau bersahabat dengan alam semesta ini, maka mereka akan bisa membaca bahasa ini. Dalam salah satu sayir lagunya, Ebiet G Ade mengungkapkan bahwa titik embun adalah pelita dan lumpur kering adalah pedoman, dan itu benar. Hanya sayangnya manusia sudah gagap bahasa alam yang sejatinya juga verbal dan vulgar. Juga terkait dengan itu semua,bahwa mempelajari bahasa tanda,bahasa alam semesta itu tidak serta merta menghasilkan uang dan uang, sehingga manusia enggan mempelajari bahasa tanda dari alam semesta ini.
Sejatinya pula, manusia ini adalah makluk beragama, dalam bahasa latin semens relegions, memiliki warisan rasa keagamaan. Dan di dalam dunia agama juga dikenal, bahkan diajari membaca bahasa Illahi. Namun ironisnya, manusia beragama justru malah terpenjara dalam pemahaman picik bahwa Yang Illaho itu hanya berbicara dahulu dan hanya dengan Kitab Sucinya. Sungguh memuakkan dan memalukan
Bencana alam terus dan terus saja menghinggapi kehidupan semesta, itu adalah kewajaran. Wajar karena itu hak alam untuk melakukan apa saja sesuai dengan hukumnya. Mungkin bencana itu hanya sebuah ungkapan bahasa bagi manusia, karena bagi makluk lain (mungkin) itu adalah karunia. Entahlah, namun biarlah saya sepakat dengan manusia bahwa itu (banjir,tanah longsor dan saudara-saudaranya) adalah bencana. Namun jika sebuah Tanya lain diungkapkan, apakah benar itu bencana jika jauh sebelumnya, manusia mampu membaca tanda Illahi dengan segala berisik dan gemuruh serta lembutnya, bahwa alam telah berkabar?Jangan-jangan ini seperti sebuah kasus lucu dalam masyarakat. Seorang anak sekolah mau ada pelajaran tambahan dan untuk itu ia berkabar melalui sms (short message service) ke ibunya di rumah. Isi sms itu dengan bahasa gaul,dan ibunya membuka sms itu namun tidak bisa membacanya. Maka saat jam pulang belum pulang, si ibu itu bingung dan meraung-raung dalam tangis bahwa anak gadisnya yang duduk di bangku SMU hilang. Semua heboh, tetangga bingung. Tangis si ibu masih meraung,meski volumenya berkurang. Allu, ada salah seorang tetangga yang meminta untuk menghubungi nomer HP si anak. Dan HP si Ibu itu diambil,dan secara kebetulan membaca inbok. Kemudia diketahui bahwa si anak itu sudah memberi kabar, namun dalam bahasa anak muda.
Dalam beberapa hari ini, kita dajak untuk melihat dan ikut merasakan kesedihan saudara-saudara sesama ciptaanNya di sekitar kita. Kepedihan dan kedukaan karena tanah longsor yang merenggut banyak korban, baik manusia dan makluk lain. Tangis dan kesedihan berbaur menjadi bahasa pilu yang menyedihkan. Hampir semua sepakat menyebut itu bencana yang datang tak terduga, namun benarkah demikian? Sedemikian kejamkah Sang Illahi itu mempermainkan alam semesta dengan kekuasaanNya?Bukankah Dia dalam segala keberadaanNya telah menyusun hukum alam, yang dengannya semua berjalan dalam ritme tertentu?
Beragkat dari sini, saya yakin bahwa sejatinya Yang Illahi itu telah berkabar, telah berkirim tanda sebagai bahasa untuk kita semua, makluk yang bernama manusia ini. Namun masalahnya adalah, adakah dari kita yang bisa membaca bahasa tandaNya?Atau kalaupun tidak bisa, mengapa kita tidak berjuang bersama mengerti bahasa tanda Illahi itu?Jangan-jangan kita ini seperti kisah ibu tadi yang enggan mencari tahu lalu segera meraung dalam tangis ketika sesuatu yang takdiinginkan terjadi?
Bencana itu adalah tanda. Dan tanda itu adalah bahasa. Bisa jadi itu adalah tanda kemarahan alam karena rintik dan keluh kesahnya sepanjang waktu takjua didengar oleh manusia yang sibuk mengeruk kekayaan tanpa pernah memikirkan alam sebagai rumah bersama ini. Baik untuk kemudia, semua komponen semesta ini memasuki alam permenungan, supaya dengannya semua menjadi tahu kehendak Illahi dalam bahasa tanda alami ini. Supaya kepedihan manusia tidak terulang dan terulang lagi. Mari berjuang bersama membaca tanda Illahi dalam tanda-tanda semesta.
salam cinta untuk semesta
Senin, 27 April 2015
Sebuah Refleksi...
SETELAH LEBARAN
“Mbok,aku sesuk balik Jakarta”, (Bu, besok aku balik Jakarta) Sambil mengambil sepotong ayam goring buatan simboknya, Sastro berucap. Kemudian melangkah ke sudut ruangan, di pintu kemudian ia terlihat lahap menyatap makanan khas masakan simboknya. Duduk menghadap ke selatan, kea rah perbuitan yang masih tegar seperti dulu, saat ia kanak-kanak,saat ia sering main layangan dengan teman—temannya. Bersama si Dalijo yang sering nagis,Si Marto yang kerap urik, si Jamali yang selalu berwajah muram, ia ingat kenangan-kenangan manis masa lalu itu.
RAIH MASA DEPANMU DI SINI
“Lha arep numpak apa?”, (Lha mau naik apa) Simboknya menayakan dengan bahasa datar, sambil membenarkan kayu bakar yang hampir habis dipakai memasak itu.
“Mbuh sesuk, wong yo rung pesen tiket” Masih sambil menggigit daging ayam kampung goreng yang terlihat agak alot.
“Mbok gek pesen, selak kentek’an, mengko malah raisa leren yen telat”,Ibunya memberi pengarahan.
Sastro diam. Sambil mengunyah dia menatap kosong ke pohon-pohon pinus yang melambai-lambai termainkan tiupan angin. Pohon-pohon pinus itu selalu hijau sedari dulu. Ia ingat,bagaimana saat kecil dulu, waktu SD, selalu sepulang sekolah ia angon sapi. Sekitar jam dua siang, saat orangtuanya mengingatkan, wis wayahe cah icul, meski belum sempat istirahat, ia langsung membuka kandang,angon dan berbaur dengan banyak teman-teman.
Angon adalah kehidupan khas bocah dusun waktu itu. Namun, sekarang pangonan itu telah sirna, berganti hutan lindung. Kemarin sewaktu ia berjalan sore ke tampat ia dulu biasa angon, semua sudah berubah. Belik itu sudah hilang, pohon duwet di atas belik juga sudah tumbang, tinggal belukar. Jejak-jejak gembira masa kanak-kanak itu seolah terhapus oleh belukar liar itu. Dan juga batu, tempat biasa ia berebut engan kawan-kawannya,sudah dipecahpecah,dijual untuk kesenangan salah seorang ttertentu. Memang hanya sebuah abut, kotor dan tidak menarik, namun dari dan di batu itu terlukis kisah-kisah riang gembira kanak-kanak di waktu dahulu.
“Aja, ngalamun lhe!” (jangan ngalamun nak). Sastro tersentak kaget, terbangun dari alam lamunannya. Ia bingung, uangnya telah habis. Gaji bulan ini dan THR telah ludes untuk membeli Ipad, Camera digital,jaket,baju,celana dan juga untuk membayar cicilan motor miliknya. Juga untuk membeli oleh-oleh, supaya kepulanganya di lebaran ini menjadikan kenangan orangtuanya. Ia sadar, sesungguhnya berat pulang karena uang yang minim dan kebutuhan metropolitan anak muda yang takjua menurun. Namun ia ingin orangtuanya bangga,ingin orangtuanya juga menceriterakan anaknya yang pulang membawa oleh-oleh. Ia ingin seperti kawan-kawannya yang lain.
“Eh,,hapemu muni tro,,,kae lho…”Embahnya tergopoh memanggilnya. Kemudian dengan masih memegang piringnya, Sastro menuju ke meja di mana HPnya terletak. Ia angkat HP itu,lalu terjadilah percakapan.
“Pie ana apa?”
Dari seberang sana ada suara yang berbicara,”Sida bali sesuk ra?”
“Iyolah,,aku balik sesuk, lha pie melu apa?”
“Aku sidane melu Gajah Mungkur”,Jawab suara dalam telefon itu.
“Pira tiket Gajah Mungkur?”
“Jik larang, 200,Pie bareng ya?”
Sastro diam, kemudian ia menjawab. “Iyo,,aku bareng koe,,sisan pesenke tiket yo!”
“Oke, Bro”,Demikian akhir dari percakapan itu.
Kemudian,Sastro melanjutkan makan yang belum habis. Tidak kembali ke tempat duduknya semua. Namun ke arah dapur. Sambil mengunyah makanannya, Sastro berpikir. Bagaimana ia akan balik ke Jakarta, sementara uang di dompetnya habis, tinggal 15.000 rupiah. Mana cukup. Ia bingung, mau ngutang temannya, dia ga enak, hutang bulan yang lalu saja belum ia bereskan. Dia kemudian menoleh kea rah ruang tamu. Ada tape rekorder yang ia beli, sebagai oleh-oleh bapaknya. Ia ingin bapaknya mengenalnya dengan bangga, bahwa ia sukses di kota. Televise itu juga baru saja ia beli, yang lama sudah rusak.
Sampai sore, Sastro tenggelam dalam kegundahan dan kegelisahan. Ia semakin bingung......................................selengkapnya...di
Mbah’e…tepian juli 14
www.cintasemesta.org
Kado Untuk Sahabat..
Putriku, Silvya
“Sedang menggambar apa sayang?” Andre mendekati Silvya yang tengah asyik menggoreskan crayonnya di atas kertas. Ia mengelus lembut rambut Silvya.
“Ini,” Silvya menunjukkan gambarnya. Sebuah rumah, dan ada empat orang yang berdiri di depan rumah itu. Tiga orang saling bergandengan tangan, dan satu lagi terpisah dari mereka.
“Wauu!! Bagus sekali! Ini gambar apa sayang?”
“Ini aku, Papa, Mama,” ia menunjuk satu-persatu gambar itu.
“Lalu ini siapa?” Andre menunjuk gambar seseorang yang terpisah itu.
“Itu seseorang yang belum aku temui.” Ia tersenyum lebar.
“Kekasih kamu di masa depan?”
“Bukan. Seorang paman yang membutuhkan kasih sayang.”
Andre tersenyum, “kamu putri papa yang luar biasa!” Ia memeluk Silvya.
“Aku sayang Papa dan Mama!” Ia tertawa.
~ ~ ~
“Ayah.” Silvya berdiri di taman itu, dan tersenyum.
Andre terbangun dari mimpinya. Ini kali kedua ia bermimpi yang sama. Disingkapnya selimut dan turun dari ranjang. Ia menyalakan lampu tidur di meja, dan sinarnya segera menerangi sebuah pigura yang terletak di sana. Ada satu kenangan yang terabadikan dalam pigura itu. Begitu manis. Begitu menyentuh. Moment ketika Ia dan istrinya mencium sisi pipi Silvya, pada ulang tahunnya yang ke 10.
* * *
“Selamat siang Jendral!” seru seorang Polisi dengan suara tegas, ketika mobil Andre masuk ke dalam gerbang kantor kepolisian.
Andre seorang polisi. Jendral. Selama bekerja, ia meraih banyak penghargaan atas prestasi dan pengabdiannya terhadap masyarakat. Jujur, adalah mottonya. Keadilan, adalah janjinya. Melindungi, adalah sumpahnya. Sudah banyak kejahatan yang ia tangani. Entah sudah berapa banyak penjahat yang ia tangkap. Tak tanggung-tanggung, ia juga pernah meringkus beberapa anggota pemerintah yang tertangkap basah berpesta ganja, juga nama sejejeran kalangan artis. Namanya sangat dikenal di dunia kepolisian. Ia sangat disegani dan dihormati oleh para polisi. Dan ia juga sangat ditakuti dan dibenci di kalangan penjahat. Namanya, bukan lagi hal yang baru, namun tabu untuk disebut sembarangan.
“Pak, kami menemukan kecurigaan adanya komplotan teroris yang bersarang di desa Baynura. Para anggotanya adalah buron dan selalu berhasil lolos. Mereka semua merupakan tersangka pembunuhan berencana, penyeludup narkotika, penjualan organ, dan pelaku pemboman.”
Andre diam sejenak. Dagunya berpangku pada topangan tangan kanannya. Hal yang selalu ia lakukan ketika sedang berpikir. Dan hasil dari pikirannya, selalu mengejutkan.
“Itu hanya jebakan. Mereka adalah keparat-keparat dunia mafia. Tidak mungkin mereka akan begitu ceroboh untuk mengambil sarang. Selidiki tiga desa di sekitar desa itu. Aku yakin, salah satunya pasti adalah sarang mereka. Kirim para mata-mata dan penyamar terbaik! Aku tidak mau mereka lolos lagi! Bubar!” Ia mengakhiri rapat malam itu.
“Siap, laksanakan, Pak!”
Kali ini, kau tidak akan lolos!
Andre masuk ke mobilnya, dan menutar stir menuju rumah. Pukul delapan, ia telah tiba di kediamannya, disambut oleh wanita terhebat dalam hidupnya. Amanda, istri sekaligus ibu baginya.
“Sudah pulang, sayang?” Amanda mencium dahi Andre dan mengambil tas kerja itu dari tangan Andre.
“Ya. Terima kasih, sayang.” Ia tersenyum.
Amanda berjalan menuju dapur. Andre mengikuti dari belakang, memperhatikan jalan istrinya yang sedikit timpang. Kaki kiri itu. Ia-lah Jendral yang sesungguhnya.
~ ~ ~
Tiga tahun lalu. 02 Mei 2011.
Di taman kesukaan Silvya.
“Happy Birthday Silvya, Happy Birthday Silvya, Happy Bithday, Happy Birthday, Happy Birthday Silvya!”
Andre, Amanda, dan para tamu undangan lainnya, menyanyikan lagu ulang tahun untuk putri kesayangan mereka, Silvya. Usianya 15 tahun. Dan sebentar lagi ia akan mengenakan seragam putih abu-abu. Sudah lama ia memimpikan hal itu.
Silvya mendekatkan kepalanya pada kue tart. Menarik nafas dan bersiap untuk meniup.
“Eitt!” Seru Ibunya. “Berdoa dulu dan bikin permohonan!”
“Iya,” ia tersenyum. Kemudian menyatukan ke sepuluh jarinya. Memejamkan mata dan berdoa.
Ia membuka mata.
“Tiup lilinnya! Tiup lilinya! Tiup lilinnya!” Sorak para tamu.
Silvya menarik nafas panjang dan meniup nyala lima belas batang lilin itu. Semuanya bertepuk tangan dan bersorak riuh.
Tapi tiba-tiba sebuah bola basket bergelinding ke arah mereka. Dan,, Duuaarrrrr!!!
Sebuah bom meledak dan membunuh beberapa orang. Menciderai beberapa lainnya, termasuk Amanda. Kaki kirinya melepuh. Dan,, Dor!! Dor!! Dor!!
Seseorang menembak dari kejauhan. Membunuh dua orang komandan, dan seorang anak perempuan. Silvya.
“Silvya!” Andre berlari mendapatkan putrinya. Mengangkat kepala gadis itu. Darah mengalir deras dari dadanya. Jantungnya memakan peluru itu. Ia tersedak darah.
“Silvya! Jangan takut! Papa di sini! Kamu akan baik-baik saja, sayang!”
Silvya tersenyum. Ia mengangkat tangan kanannya dengan sisa tenaga yang ada, mengusap lembut pipi ayahnya. Kemudian tangan itu terjatuh ke tanah. Ia meninggalkan segala kesakitan itu.
“Tidak! Bangun sayang! Silvya!!!” Ia histeris.
“Andre,,” Amanda memanggilnya.
Andre segera tersadar. Ia meletakkan kepala Silvya. Meraih senjatanya dari sabuk. Dan lincah menyelidik segala sisi. Emosinya membara.
“Semua merunduk!” teriaknya.
Dorr!! Sebuah peluru menyerang. Tapi Andre berhasil menghindar. Ia menemukan asal datangnya peluru itu, dan tanpa ragu menembak.
Dorr!! Seorang kriminal segera jatuh berdebam ke tanah. Tewas.
Amanda melihat ujung senapan lain di atas sebuah pohon. Berada jauh dari belakang Andre. Bersiap menembak.
“Andre!” Amanda bangkit berdiri, merampas pistol itu dari tangan Andre.
Doorr! Dua peluru beradu. Dorr! Peluru lain menyusul secepat kilat. Kriminal itu jatuh dari atas pohon. Sekarat.
Amanda jatuh ke tanah. Ia melihat tubuh putrinya yang kaku di sana. Ia menyeret tubuhnya mendekati Silvya.
“Silvya?” Ia mengusap pipinya. “Silvya?!” Ia mulai mengguncang wajahnya. “Silvya!!” Ia mengangkap kepalanya. “Siilvyaa!!” Ia tahu, telah kehilangan putrinya.
“Amanda..” Andre meranggkul bahu Amanda.
Beberapa saat kemudian, puluhan polisi datang ke tempat itu. Mengamankan lokasi, menyelamatkan para korban, menyeret tersangka. Orang-orang mengerumini tempat itu. Amanda dibawa ke dalam ambulance. Andre mengikuti para perawat membawa tubuh putrinya. Sebelum masuk ke ambulance, ia melihat seseorang yang terlihat aneh. Berdiri di belakang kerumunan orang banyak itu. Mengenakan baju dan celana hitam, memegang beberapa tali balon udara. Kemudian melepas balon-balon itu, dan menyunggingkan senyum menjijikkan. Andre segera berlari mengejar maniak itu. Menembus kerumunan orang. Tapi sayang, ia kehilangan jejak.
~ ~ ~
“Kamu sudah makan, sayang?” Amanda bertanya. “Sayang.” Andre tampak menghayal. “Pa,” ucapnya sedikit lebih keras.
“Ya, eh, belum! Hahaha!” Ia kembali dari kenangan pilu masa silamnya.
“Ayo mandi dulu. Selesai itu, kita makan malam.”
“Ya.”
Selesai mandi. Mereka duduk di meja makan itu dan menyantap makan malam.
“Apa yang mengganggu pikiranmu?” Amanda bertanya setelah selesai makan.
“Tidak apa-apa.”
Amanda menghela nafas. “Aku merindukan gadis kita.”
Andre tersenyum. Kemudian wajahnya berubah serius.
“Kami berhasil menemukan dugaan lokasi para buron. Mafia-mafia papan atas. Aku tak sabar ingin melihat wajah-wajah mereka. Mungkin iblis itu ada bersama mereka.”
Hening sejenak..
“Andre. Berjanjilah, kamu akan pulang. Berjanjilah kamu akan menangkap laki-laki itu dalam keadaan hidup.”
“Kenapa?!” Suaranya sedikit keras. “Dia yang mem-“ Ia tak melanjutkan perkataan itu. “Tidak ada hukuman yang lebih pantas diterimanya, selain kematian!”
“Untuk kali ini. Hanya kali ini saja. Aku mohon, tangkap dia hidup-hidup.” Amanda menggenggam kedua tangan Andre. Andre tak mengatakan apa pun. Hanya bingung. Dan masih berduka.
* * *
“Pak, kami berhasil menemukan lokasi mereka. Desa Daron. Desa ketiga setelah desa Baynura. Kita harus segera menyergap tempat itu, Pak, sebelum mereka berpindah sarang lagi.”
“Ya. Kita akan melakukan penyerangan, besok. Tengah malam. Ketika mereka berganti posisi jaga. Kita hanya punya waktu sepuluh menit. Siapkan semua pasukan. Kita kepung ke empat desa itu. Perhatikan tanah di desa-desa itu, karena kemungkinan mereka menggali lubang untuk jalan meloloskan diri. Hari ini juga, kita harus bergerak menyelidikinya. Lakukan secara tersembunyi dan serapi mungkin. Kita akan bekerjasama dengan para tentara.”
“Siap, laksanakan, Pak!”
“Besok, jam dua pagi, kita berkumpul kembali untuk mempersiapkan strategi penyergapan. Bubar!”
~ ~ ~
Pukul dua pagi.
Setibanya di kantor, Andre dan seluruh pasukannya berkumpul di aula pertemuan. Ratusan anggota kepolisian dan tentara berkumpul di sana lengkap dengan senjata mereka.
“Ini penyerangan yang membutuhkan strategi dan kelihaian. Kita akan memasuki sarang para penjahat kelas kakap. Perlengkapi diri dengan pertahanan dan perlindungan. Aku tidak mau membawa mayat ke tempat ini, selain mayat para kriminal itu! Begini rencananya.”
Rencana penyerangan dan penanggkapan disusun sebaik mungkin. Berbagai kemungkinan telah diketahui dan cara penanganannya. Seluruh pasukan pengamanan itu telah mencapai kesepakatan. Mereka akan menyerang tepat tengah malam. Beberapa petugas pergi ke desa-desa itu, mengamati dan menyelidiki. Beberapa lagi menyamar untuk masuk dan berkomunikasi dengan beberapa kriminal. Para penembak jitu sudah bersiap di tempatnya. Yang lain, memasangi senjata bawah tanah. Sisanya bersiap untuk berperang.
Pukul 10.00.
“Kita berangkat!” seru Andre.
“Siap, laksanakan tugas!” Gemuruh seluruh pasukan itu.
Mereka masuk ke dalam kendaraan. Melaju cepat menuju lokasi. Andre meremas ujung gagang senjatanya. Ia akan menghabisi semua iblis itu tanpa ampun. Darah mereka akan membayar jerit tangis para korban tak berdosa yang tinggal di dalam tanah. Dan lagi, putrinya, orang itu akan meratapi nasibnya di api abadi, geramnya.
Pukul 11.00.
“Kita sudah di lokasi, Pak!”
“Baik, segera berpencar. Siaga di setiap titik yang telah ditentukan. Tunggu aba-aba! Jalan!”
Mereka semua berpencar dengan cepat, lihai. Meringkuk di bawah rerumputan. Memanjat pohon-pohon. Bersembunyi di balik gundukan-gundukan tanah. Mengokang senjata. Membidik. Sang Jendral berada di garis pertahanan paling depan. Maut bukan lagi hal yang perlu ditakuti.
Mereka sudah bersiap di tempat masing-masing. Menunggu aba-aba. Hening. Suara nyanyian jangkrik menyempurnakan penyamaran para pejuang itu dalam persembunyian mereka. Titik-titik kecil air hujan jatuh ke tanah. Mengurangi gerah dari panasnya hati yang membara. Sergap! perintah itu yang mereka tunggu-tunggu.
00.00.
Dua orang yang berjaga di depan rumah itu masuk ke dalam.
“Sergap!” Perintah Andre.
Semua pasukan itu bergerak mengepung rumah bercat kuning kusam itu. Mereka berlari mendekati rumah itu dengan gerakan hati-hati.
“Masuk!”
Pasukan depan mendobrak pintu. Terlihat 5 orang kriminal sedang membungkus pil-pil ekstasi.
“Angkat tangan!” Petugas-petugas itu langsung menyerang tanpa ampun dan memborgol.
“Periksa bawah tanah! Tembak siapa saja yang melarikan diri!” Perintah Andre.
Mereka masuk ke dapur. Melompat-lompat di semua sisi lantai. Andre masuk ke salah satu kamar. Mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung senapannya.
Tak! Tak! Tak! Ada ruang kosong di bawah kakinya.
“Beberapa ke sini! Bantu aku memecahkan lantai ini!”
Pasukan itu segera datang. Menghancurkan keramik bagian atas. Menarik susunan papan yang ada di bawahnya. Dan terlihatlah susunan anak tangga di sana. Andre yang pertama sekali turun. Cahaya lampu di bawah sana remang-remang. Dan ketika tiba di dasarnya, ia menemukan pemandangan yang sangat mengerikan.
Ada begitu banyak tumpukan karung daun ganja. Beberapa toples berisi organ mata. Ada banyak alat-alat bedah. Di bagian depan ruangan, ada sebuah meja dan kursi putar mewah yang membelakangi meja itu. Kursi itu berputar perlahan, memperlihatkan sosok seseorang. Si maniak. Andre tak akan pernah melupakan wajahnya.
“Kau!” Andre segera membidik senjatanya. “Menyerahlah! Kalian sudah tamat!”
“Ternyata ingatanmu sangat kuat. Kupikir kau sudah melupakanku. Hahahahaha!! Aku suka perasaan terdesak seperti ini. Rasanya sangat menyenangkan ketika jantungku berdebar kencang dan hampir melompat keluar dari mulutku!” Ia meraih sesuatu dari bawah dan dengan cepat mengeluarkan tangannya. “Matilah!”
Dor! Peluru pertama mengenai bahu kiri Andre. Dorr! *Andre, berjanjilah. Bawa orang itu hidup-hidup.* Dor! Tembakan kedua dan ketiga, melubangi tangan dan bahu kanan maniak itu.
“Tangkap!” Seru Andre.
Mereka menyergap maniak itu, memborgol tangannya, dan menyeretnya keluar tanpa ampun. Darah mengalir dari bahu kiri Andre. Beruntung ia memakai rompi anti peluru, sehingga peluru itu tak menembus terlalu dalam.
Ia berdiri sejenak di sana. Air matanya mengalir. Ia kembali teringat pada putrinya, Silvya. Kematian maniak itu tidak akan mengubah keadaan. Setelah itu ia naik ke atas dan keluar dari rumah itu. Mereka membawa semua buronan itu ke markas, beberapa sudah menjadi mayat.
~ ~ ~
Pagi. Bel di pintu berbunyi. Amanda bergegas melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Ia membukanya.
“Andre!” Amanda segera merangkul suaminya. Ia tak dapat menahan air mata.
“Kenapa kamu menangis? Aku sudah berjanji akan pulang, kan.” Andre membawa istrinya duduk di sofa. Mencium dahinya. “Kami berhasil.”
“Bagaimana dengan orang itu?”
“Ada di balik jeruji.”
“Andre, aku ingin menemuinya. Ada sesuatu yang ingin aku berikan untuknya. Bukan dariku, tapi dari putri kita, Silvya. Mari, aku ingin menunjukkannya padamu.”
Mereka berdua berjalan menuju kamar Silvya. Amanda membuka laci meja belajar Silvya, dan mengambil sebuah kotak berwana merah muda dari sana.
“Silvya, sepertinya sudah tahu kalau ia akan pergi.”
Amanda membuka kotak itu. Mengeluarkan isinya. Hanya sebuah gambar crayon. Itu gambar yang pernah dibuat Silvya ketika berumur tujuh tahun. Gambar sebuah rumah dan empat orang. Tiga orang bergandengan dan satu yang terpisah. Ada juga sebungkus plester luka, dan selembar surat kecil. Isinya,
“Untuk Paman yang belum sempat kutemui. Aku harap kita bisa menjadi teman suatu hari nanti. Semoga plester ini dapat menyembuhkan luka di kulit Paman, dan luka di hati Paman. Salam manis, Silvya.”
Andre tak kuasa menahan air matanya ketika membaca tulisan putrinya itu. Kini ia benar-benar siap untuk merelakan dan memaafkan kejadian itu. Ia bangga menjadi ayah dari seorang anak perempuan yang hebat. Silvya.
Esok pagi, mereka berdua bergegas pergi ke penjara. Mengunjungi sel pria itu. Morze, nama aslinya. Pria itu meringkuk di sudut ruangan.
“Tuan Morze,” panggil Amanda.
Morze menoleh kepada mereka berdua. Ia menatap penuh kebencian.
“Kami membawakan sesuatu untukmu. Ini dari mendiang putri kami, Silvya,” lanjut Amanda.
Air muka Morze segera berubah. Ia mulai berdiri, dan berjalan mendekati Amanda dan Andre. Amanda menyelipkan kotak merah muda itu melalu celah jeruji. Dengan tangan gemetar karena luka tembakan, Morze menerima kotak itu.
Ia membukanya dan mengambil isinya. Ia mengamati gambar crayon yang dibuat oleh Silvya, kemudian membaca surat sederhana yang ditulis oleh gadis itu. Dan saat itu juga, kakinya bergetar. Ia terduduk di lantai yang dingin. Pipinya basah karena air mata. Dipeluknya erat gambar dan surat itu. Tangisnya pecah.
“Putri kami sangat mengasihimu. Ia sudah bertemu denganmu, bahkan sebelum kamu bertemu dengan dia,” kata Andre.
“Ma.. maaf.. Maafkan aku! Maafkan aku!!”
The End
Untuk sahabat dan saudari terkasihku, Tuty Hardina Sihombing.
Hadiah tertunda untuk ulang tahunmu yang ke-23.
Puspita Sandra Dewi
22 April 2014
http://www.cintasemesta.org/admin/home.php
“Sedang menggambar apa sayang?” Andre mendekati Silvya yang tengah asyik menggoreskan crayonnya di atas kertas. Ia mengelus lembut rambut Silvya.
“Ini,” Silvya menunjukkan gambarnya. Sebuah rumah, dan ada empat orang yang berdiri di depan rumah itu. Tiga orang saling bergandengan tangan, dan satu lagi terpisah dari mereka.
“Wauu!! Bagus sekali! Ini gambar apa sayang?”
“Ini aku, Papa, Mama,” ia menunjuk satu-persatu gambar itu.
“Lalu ini siapa?” Andre menunjuk gambar seseorang yang terpisah itu.
“Itu seseorang yang belum aku temui.” Ia tersenyum lebar.
“Kekasih kamu di masa depan?”
“Bukan. Seorang paman yang membutuhkan kasih sayang.”
Andre tersenyum, “kamu putri papa yang luar biasa!” Ia memeluk Silvya.
“Aku sayang Papa dan Mama!” Ia tertawa.
~ ~ ~
“Ayah.” Silvya berdiri di taman itu, dan tersenyum.
Andre terbangun dari mimpinya. Ini kali kedua ia bermimpi yang sama. Disingkapnya selimut dan turun dari ranjang. Ia menyalakan lampu tidur di meja, dan sinarnya segera menerangi sebuah pigura yang terletak di sana. Ada satu kenangan yang terabadikan dalam pigura itu. Begitu manis. Begitu menyentuh. Moment ketika Ia dan istrinya mencium sisi pipi Silvya, pada ulang tahunnya yang ke 10.
* * *
“Selamat siang Jendral!” seru seorang Polisi dengan suara tegas, ketika mobil Andre masuk ke dalam gerbang kantor kepolisian.
Andre seorang polisi. Jendral. Selama bekerja, ia meraih banyak penghargaan atas prestasi dan pengabdiannya terhadap masyarakat. Jujur, adalah mottonya. Keadilan, adalah janjinya. Melindungi, adalah sumpahnya. Sudah banyak kejahatan yang ia tangani. Entah sudah berapa banyak penjahat yang ia tangkap. Tak tanggung-tanggung, ia juga pernah meringkus beberapa anggota pemerintah yang tertangkap basah berpesta ganja, juga nama sejejeran kalangan artis. Namanya sangat dikenal di dunia kepolisian. Ia sangat disegani dan dihormati oleh para polisi. Dan ia juga sangat ditakuti dan dibenci di kalangan penjahat. Namanya, bukan lagi hal yang baru, namun tabu untuk disebut sembarangan.
“Pak, kami menemukan kecurigaan adanya komplotan teroris yang bersarang di desa Baynura. Para anggotanya adalah buron dan selalu berhasil lolos. Mereka semua merupakan tersangka pembunuhan berencana, penyeludup narkotika, penjualan organ, dan pelaku pemboman.”
Andre diam sejenak. Dagunya berpangku pada topangan tangan kanannya. Hal yang selalu ia lakukan ketika sedang berpikir. Dan hasil dari pikirannya, selalu mengejutkan.
“Itu hanya jebakan. Mereka adalah keparat-keparat dunia mafia. Tidak mungkin mereka akan begitu ceroboh untuk mengambil sarang. Selidiki tiga desa di sekitar desa itu. Aku yakin, salah satunya pasti adalah sarang mereka. Kirim para mata-mata dan penyamar terbaik! Aku tidak mau mereka lolos lagi! Bubar!” Ia mengakhiri rapat malam itu.
“Siap, laksanakan, Pak!”
Kali ini, kau tidak akan lolos!
Andre masuk ke mobilnya, dan menutar stir menuju rumah. Pukul delapan, ia telah tiba di kediamannya, disambut oleh wanita terhebat dalam hidupnya. Amanda, istri sekaligus ibu baginya.
“Sudah pulang, sayang?” Amanda mencium dahi Andre dan mengambil tas kerja itu dari tangan Andre.
“Ya. Terima kasih, sayang.” Ia tersenyum.
Amanda berjalan menuju dapur. Andre mengikuti dari belakang, memperhatikan jalan istrinya yang sedikit timpang. Kaki kiri itu. Ia-lah Jendral yang sesungguhnya.
~ ~ ~
Tiga tahun lalu. 02 Mei 2011.
Di taman kesukaan Silvya.
“Happy Birthday Silvya, Happy Birthday Silvya, Happy Bithday, Happy Birthday, Happy Birthday Silvya!”
Andre, Amanda, dan para tamu undangan lainnya, menyanyikan lagu ulang tahun untuk putri kesayangan mereka, Silvya. Usianya 15 tahun. Dan sebentar lagi ia akan mengenakan seragam putih abu-abu. Sudah lama ia memimpikan hal itu.
Silvya mendekatkan kepalanya pada kue tart. Menarik nafas dan bersiap untuk meniup.
“Eitt!” Seru Ibunya. “Berdoa dulu dan bikin permohonan!”
“Iya,” ia tersenyum. Kemudian menyatukan ke sepuluh jarinya. Memejamkan mata dan berdoa.
Ia membuka mata.
“Tiup lilinnya! Tiup lilinya! Tiup lilinnya!” Sorak para tamu.
Silvya menarik nafas panjang dan meniup nyala lima belas batang lilin itu. Semuanya bertepuk tangan dan bersorak riuh.
Tapi tiba-tiba sebuah bola basket bergelinding ke arah mereka. Dan,, Duuaarrrrr!!!
Sebuah bom meledak dan membunuh beberapa orang. Menciderai beberapa lainnya, termasuk Amanda. Kaki kirinya melepuh. Dan,, Dor!! Dor!! Dor!!
Seseorang menembak dari kejauhan. Membunuh dua orang komandan, dan seorang anak perempuan. Silvya.
“Silvya!” Andre berlari mendapatkan putrinya. Mengangkat kepala gadis itu. Darah mengalir deras dari dadanya. Jantungnya memakan peluru itu. Ia tersedak darah.
“Silvya! Jangan takut! Papa di sini! Kamu akan baik-baik saja, sayang!”
Silvya tersenyum. Ia mengangkat tangan kanannya dengan sisa tenaga yang ada, mengusap lembut pipi ayahnya. Kemudian tangan itu terjatuh ke tanah. Ia meninggalkan segala kesakitan itu.
“Tidak! Bangun sayang! Silvya!!!” Ia histeris.
“Andre,,” Amanda memanggilnya.
Andre segera tersadar. Ia meletakkan kepala Silvya. Meraih senjatanya dari sabuk. Dan lincah menyelidik segala sisi. Emosinya membara.
“Semua merunduk!” teriaknya.
Dorr!! Sebuah peluru menyerang. Tapi Andre berhasil menghindar. Ia menemukan asal datangnya peluru itu, dan tanpa ragu menembak.
Dorr!! Seorang kriminal segera jatuh berdebam ke tanah. Tewas.
Amanda melihat ujung senapan lain di atas sebuah pohon. Berada jauh dari belakang Andre. Bersiap menembak.
“Andre!” Amanda bangkit berdiri, merampas pistol itu dari tangan Andre.
Doorr! Dua peluru beradu. Dorr! Peluru lain menyusul secepat kilat. Kriminal itu jatuh dari atas pohon. Sekarat.
Amanda jatuh ke tanah. Ia melihat tubuh putrinya yang kaku di sana. Ia menyeret tubuhnya mendekati Silvya.
“Silvya?” Ia mengusap pipinya. “Silvya?!” Ia mulai mengguncang wajahnya. “Silvya!!” Ia mengangkap kepalanya. “Siilvyaa!!” Ia tahu, telah kehilangan putrinya.
“Amanda..” Andre meranggkul bahu Amanda.
Beberapa saat kemudian, puluhan polisi datang ke tempat itu. Mengamankan lokasi, menyelamatkan para korban, menyeret tersangka. Orang-orang mengerumini tempat itu. Amanda dibawa ke dalam ambulance. Andre mengikuti para perawat membawa tubuh putrinya. Sebelum masuk ke ambulance, ia melihat seseorang yang terlihat aneh. Berdiri di belakang kerumunan orang banyak itu. Mengenakan baju dan celana hitam, memegang beberapa tali balon udara. Kemudian melepas balon-balon itu, dan menyunggingkan senyum menjijikkan. Andre segera berlari mengejar maniak itu. Menembus kerumunan orang. Tapi sayang, ia kehilangan jejak.
~ ~ ~
“Kamu sudah makan, sayang?” Amanda bertanya. “Sayang.” Andre tampak menghayal. “Pa,” ucapnya sedikit lebih keras.
“Ya, eh, belum! Hahaha!” Ia kembali dari kenangan pilu masa silamnya.
“Ayo mandi dulu. Selesai itu, kita makan malam.”
“Ya.”
Selesai mandi. Mereka duduk di meja makan itu dan menyantap makan malam.
“Apa yang mengganggu pikiranmu?” Amanda bertanya setelah selesai makan.
“Tidak apa-apa.”
Amanda menghela nafas. “Aku merindukan gadis kita.”
Andre tersenyum. Kemudian wajahnya berubah serius.
“Kami berhasil menemukan dugaan lokasi para buron. Mafia-mafia papan atas. Aku tak sabar ingin melihat wajah-wajah mereka. Mungkin iblis itu ada bersama mereka.”
Hening sejenak..
“Andre. Berjanjilah, kamu akan pulang. Berjanjilah kamu akan menangkap laki-laki itu dalam keadaan hidup.”
“Kenapa?!” Suaranya sedikit keras. “Dia yang mem-“ Ia tak melanjutkan perkataan itu. “Tidak ada hukuman yang lebih pantas diterimanya, selain kematian!”
“Untuk kali ini. Hanya kali ini saja. Aku mohon, tangkap dia hidup-hidup.” Amanda menggenggam kedua tangan Andre. Andre tak mengatakan apa pun. Hanya bingung. Dan masih berduka.
* * *
“Pak, kami berhasil menemukan lokasi mereka. Desa Daron. Desa ketiga setelah desa Baynura. Kita harus segera menyergap tempat itu, Pak, sebelum mereka berpindah sarang lagi.”
“Ya. Kita akan melakukan penyerangan, besok. Tengah malam. Ketika mereka berganti posisi jaga. Kita hanya punya waktu sepuluh menit. Siapkan semua pasukan. Kita kepung ke empat desa itu. Perhatikan tanah di desa-desa itu, karena kemungkinan mereka menggali lubang untuk jalan meloloskan diri. Hari ini juga, kita harus bergerak menyelidikinya. Lakukan secara tersembunyi dan serapi mungkin. Kita akan bekerjasama dengan para tentara.”
“Siap, laksanakan, Pak!”
“Besok, jam dua pagi, kita berkumpul kembali untuk mempersiapkan strategi penyergapan. Bubar!”
~ ~ ~
Pukul dua pagi.
Setibanya di kantor, Andre dan seluruh pasukannya berkumpul di aula pertemuan. Ratusan anggota kepolisian dan tentara berkumpul di sana lengkap dengan senjata mereka.
“Ini penyerangan yang membutuhkan strategi dan kelihaian. Kita akan memasuki sarang para penjahat kelas kakap. Perlengkapi diri dengan pertahanan dan perlindungan. Aku tidak mau membawa mayat ke tempat ini, selain mayat para kriminal itu! Begini rencananya.”
Rencana penyerangan dan penanggkapan disusun sebaik mungkin. Berbagai kemungkinan telah diketahui dan cara penanganannya. Seluruh pasukan pengamanan itu telah mencapai kesepakatan. Mereka akan menyerang tepat tengah malam. Beberapa petugas pergi ke desa-desa itu, mengamati dan menyelidiki. Beberapa lagi menyamar untuk masuk dan berkomunikasi dengan beberapa kriminal. Para penembak jitu sudah bersiap di tempatnya. Yang lain, memasangi senjata bawah tanah. Sisanya bersiap untuk berperang.
Pukul 10.00.
“Kita berangkat!” seru Andre.
“Siap, laksanakan tugas!” Gemuruh seluruh pasukan itu.
Mereka masuk ke dalam kendaraan. Melaju cepat menuju lokasi. Andre meremas ujung gagang senjatanya. Ia akan menghabisi semua iblis itu tanpa ampun. Darah mereka akan membayar jerit tangis para korban tak berdosa yang tinggal di dalam tanah. Dan lagi, putrinya, orang itu akan meratapi nasibnya di api abadi, geramnya.
Pukul 11.00.
“Kita sudah di lokasi, Pak!”
“Baik, segera berpencar. Siaga di setiap titik yang telah ditentukan. Tunggu aba-aba! Jalan!”
Mereka semua berpencar dengan cepat, lihai. Meringkuk di bawah rerumputan. Memanjat pohon-pohon. Bersembunyi di balik gundukan-gundukan tanah. Mengokang senjata. Membidik. Sang Jendral berada di garis pertahanan paling depan. Maut bukan lagi hal yang perlu ditakuti.
Mereka sudah bersiap di tempat masing-masing. Menunggu aba-aba. Hening. Suara nyanyian jangkrik menyempurnakan penyamaran para pejuang itu dalam persembunyian mereka. Titik-titik kecil air hujan jatuh ke tanah. Mengurangi gerah dari panasnya hati yang membara. Sergap! perintah itu yang mereka tunggu-tunggu.
00.00.
Dua orang yang berjaga di depan rumah itu masuk ke dalam.
“Sergap!” Perintah Andre.
Semua pasukan itu bergerak mengepung rumah bercat kuning kusam itu. Mereka berlari mendekati rumah itu dengan gerakan hati-hati.
“Masuk!”
Pasukan depan mendobrak pintu. Terlihat 5 orang kriminal sedang membungkus pil-pil ekstasi.
“Angkat tangan!” Petugas-petugas itu langsung menyerang tanpa ampun dan memborgol.
“Periksa bawah tanah! Tembak siapa saja yang melarikan diri!” Perintah Andre.
Mereka masuk ke dapur. Melompat-lompat di semua sisi lantai. Andre masuk ke salah satu kamar. Mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung senapannya.
Tak! Tak! Tak! Ada ruang kosong di bawah kakinya.
“Beberapa ke sini! Bantu aku memecahkan lantai ini!”
Pasukan itu segera datang. Menghancurkan keramik bagian atas. Menarik susunan papan yang ada di bawahnya. Dan terlihatlah susunan anak tangga di sana. Andre yang pertama sekali turun. Cahaya lampu di bawah sana remang-remang. Dan ketika tiba di dasarnya, ia menemukan pemandangan yang sangat mengerikan.
Ada begitu banyak tumpukan karung daun ganja. Beberapa toples berisi organ mata. Ada banyak alat-alat bedah. Di bagian depan ruangan, ada sebuah meja dan kursi putar mewah yang membelakangi meja itu. Kursi itu berputar perlahan, memperlihatkan sosok seseorang. Si maniak. Andre tak akan pernah melupakan wajahnya.
“Kau!” Andre segera membidik senjatanya. “Menyerahlah! Kalian sudah tamat!”
“Ternyata ingatanmu sangat kuat. Kupikir kau sudah melupakanku. Hahahahaha!! Aku suka perasaan terdesak seperti ini. Rasanya sangat menyenangkan ketika jantungku berdebar kencang dan hampir melompat keluar dari mulutku!” Ia meraih sesuatu dari bawah dan dengan cepat mengeluarkan tangannya. “Matilah!”
Dor! Peluru pertama mengenai bahu kiri Andre. Dorr! *Andre, berjanjilah. Bawa orang itu hidup-hidup.* Dor! Tembakan kedua dan ketiga, melubangi tangan dan bahu kanan maniak itu.
“Tangkap!” Seru Andre.
Mereka menyergap maniak itu, memborgol tangannya, dan menyeretnya keluar tanpa ampun. Darah mengalir dari bahu kiri Andre. Beruntung ia memakai rompi anti peluru, sehingga peluru itu tak menembus terlalu dalam.
Ia berdiri sejenak di sana. Air matanya mengalir. Ia kembali teringat pada putrinya, Silvya. Kematian maniak itu tidak akan mengubah keadaan. Setelah itu ia naik ke atas dan keluar dari rumah itu. Mereka membawa semua buronan itu ke markas, beberapa sudah menjadi mayat.
~ ~ ~
Pagi. Bel di pintu berbunyi. Amanda bergegas melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Ia membukanya.
“Andre!” Amanda segera merangkul suaminya. Ia tak dapat menahan air mata.
“Kenapa kamu menangis? Aku sudah berjanji akan pulang, kan.” Andre membawa istrinya duduk di sofa. Mencium dahinya. “Kami berhasil.”
“Bagaimana dengan orang itu?”
“Ada di balik jeruji.”
“Andre, aku ingin menemuinya. Ada sesuatu yang ingin aku berikan untuknya. Bukan dariku, tapi dari putri kita, Silvya. Mari, aku ingin menunjukkannya padamu.”
Mereka berdua berjalan menuju kamar Silvya. Amanda membuka laci meja belajar Silvya, dan mengambil sebuah kotak berwana merah muda dari sana.
“Silvya, sepertinya sudah tahu kalau ia akan pergi.”
Amanda membuka kotak itu. Mengeluarkan isinya. Hanya sebuah gambar crayon. Itu gambar yang pernah dibuat Silvya ketika berumur tujuh tahun. Gambar sebuah rumah dan empat orang. Tiga orang bergandengan dan satu yang terpisah. Ada juga sebungkus plester luka, dan selembar surat kecil. Isinya,
“Untuk Paman yang belum sempat kutemui. Aku harap kita bisa menjadi teman suatu hari nanti. Semoga plester ini dapat menyembuhkan luka di kulit Paman, dan luka di hati Paman. Salam manis, Silvya.”
Andre tak kuasa menahan air matanya ketika membaca tulisan putrinya itu. Kini ia benar-benar siap untuk merelakan dan memaafkan kejadian itu. Ia bangga menjadi ayah dari seorang anak perempuan yang hebat. Silvya.
Esok pagi, mereka berdua bergegas pergi ke penjara. Mengunjungi sel pria itu. Morze, nama aslinya. Pria itu meringkuk di sudut ruangan.
“Tuan Morze,” panggil Amanda.
Morze menoleh kepada mereka berdua. Ia menatap penuh kebencian.
“Kami membawakan sesuatu untukmu. Ini dari mendiang putri kami, Silvya,” lanjut Amanda.
Air muka Morze segera berubah. Ia mulai berdiri, dan berjalan mendekati Amanda dan Andre. Amanda menyelipkan kotak merah muda itu melalu celah jeruji. Dengan tangan gemetar karena luka tembakan, Morze menerima kotak itu.
Ia membukanya dan mengambil isinya. Ia mengamati gambar crayon yang dibuat oleh Silvya, kemudian membaca surat sederhana yang ditulis oleh gadis itu. Dan saat itu juga, kakinya bergetar. Ia terduduk di lantai yang dingin. Pipinya basah karena air mata. Dipeluknya erat gambar dan surat itu. Tangisnya pecah.
“Putri kami sangat mengasihimu. Ia sudah bertemu denganmu, bahkan sebelum kamu bertemu dengan dia,” kata Andre.
“Ma.. maaf.. Maafkan aku! Maafkan aku!!”
The End
Untuk sahabat dan saudari terkasihku, Tuty Hardina Sihombing.
Hadiah tertunda untuk ulang tahunmu yang ke-23.
Puspita Sandra Dewi
22 April 2014
http://www.cintasemesta.org/admin/home.php
Hati-Hatilah dengan Hidup Anda
Gabah dan Tampir
Dua benda ini sangat akrab bagi masyarakat pedesaan, utamanya yang berprofesi sebagai petani. Bagi petani, gabah adalah barang atau benda yang sangat didambakan,sangat diharapkan kehadirannya dalam musim tertentu setelah sekian waktu ditanam dan dipelihara dengan sangat cermat. Hampir tiga bulan lebih, Petani menunggu sembari menjaga dan merawat tanaman padi demi hadirnya Sang Pujaan dan Dambaan hidup Gabah. Namun waktu menuai gabah inipun sering harus menghadapi sebuah realita, bahwa gabah yang ada dijung pohon padi itu semua berisi dan baik, adakalanya tidak berisi dan berisi namun tidak baik. Nachhh… dalam kondisi yang demikian, Petani tidak mungkin memilah gabah-gabah yang jumlahnya ribuan atau malah jutaan itu satu persatu. Maka, ide kreatif muncul,dibuatnyalah sebuah alat yang bahan dasarnya dari bamboo. Didesain sedemikian rupa dan rapi sehingga terbentuklah alat yang mengandung nilai seni yang luar biasa, dialah Tampir.
Tampir bentuknya sederhana, biasanya berbentuk lingkaran. Semua sisinya ada pengikat yang dalam bahasa jawa dinamakan gapit,tujuannya untuk menguatkan satuan anyaman bambu itu. Tampir berfungsi untuk banyak hal,bisa untuk tempat menjemur sisa nasi,menampung bahan-bahan rumah tangga, menampung bumbu-bumbu dan masih banyak lagi, namun di saat usai musim panen padi tiba, tampir punya aktifitas lembur, yaitu menjadi alat penampi gabah. Tujuannya untuk memisahkan dari yang berisi dan baik dengan yang tidak baik dan berisi tidak baik. Yang baik akan dimasukkan ke lumbung sementara yang tidak baik akan dibuang ke perapian terdekat.
Pelajaran Yesus untuk orang banyak di Matius 25 ayat 31-46 berkisah tentang keadaan manusia di akhir jaman. Bahwa akan ditampi untuk memilah dan memilih dari yang baik dan berisi dengan yang tidak baik dan tidak berisi. Yang akan dipilah dan dipilih dalam perumpamaan yesus itu sejatinya adalah kita. Maka sebaiknya kita sekarang ini mulai merawat dan berjuang menjadi “beras yang berisi dan baik” dengan segala macam upaya. Waktu masih longgar dan kesempatan masih terbuka sangat lebar, maka marilah kita berupaya mengisi kehidupan kita dengan baik dan benar, supaya nanti kita menjadi beras-beras yang berisi penuh dan akan dimasukkan ke dalam lumbung abadi milik Sang empunya Kehidupan.
Salam..cinta untuk alam SEMESTA
http://www.cintasemesta.org/
Dua benda ini sangat akrab bagi masyarakat pedesaan, utamanya yang berprofesi sebagai petani. Bagi petani, gabah adalah barang atau benda yang sangat didambakan,sangat diharapkan kehadirannya dalam musim tertentu setelah sekian waktu ditanam dan dipelihara dengan sangat cermat. Hampir tiga bulan lebih, Petani menunggu sembari menjaga dan merawat tanaman padi demi hadirnya Sang Pujaan dan Dambaan hidup Gabah. Namun waktu menuai gabah inipun sering harus menghadapi sebuah realita, bahwa gabah yang ada dijung pohon padi itu semua berisi dan baik, adakalanya tidak berisi dan berisi namun tidak baik. Nachhh… dalam kondisi yang demikian, Petani tidak mungkin memilah gabah-gabah yang jumlahnya ribuan atau malah jutaan itu satu persatu. Maka, ide kreatif muncul,dibuatnyalah sebuah alat yang bahan dasarnya dari bamboo. Didesain sedemikian rupa dan rapi sehingga terbentuklah alat yang mengandung nilai seni yang luar biasa, dialah Tampir.
Tampir bentuknya sederhana, biasanya berbentuk lingkaran. Semua sisinya ada pengikat yang dalam bahasa jawa dinamakan gapit,tujuannya untuk menguatkan satuan anyaman bambu itu. Tampir berfungsi untuk banyak hal,bisa untuk tempat menjemur sisa nasi,menampung bahan-bahan rumah tangga, menampung bumbu-bumbu dan masih banyak lagi, namun di saat usai musim panen padi tiba, tampir punya aktifitas lembur, yaitu menjadi alat penampi gabah. Tujuannya untuk memisahkan dari yang berisi dan baik dengan yang tidak baik dan berisi tidak baik. Yang baik akan dimasukkan ke lumbung sementara yang tidak baik akan dibuang ke perapian terdekat.
Pelajaran Yesus untuk orang banyak di Matius 25 ayat 31-46 berkisah tentang keadaan manusia di akhir jaman. Bahwa akan ditampi untuk memilah dan memilih dari yang baik dan berisi dengan yang tidak baik dan tidak berisi. Yang akan dipilah dan dipilih dalam perumpamaan yesus itu sejatinya adalah kita. Maka sebaiknya kita sekarang ini mulai merawat dan berjuang menjadi “beras yang berisi dan baik” dengan segala macam upaya. Waktu masih longgar dan kesempatan masih terbuka sangat lebar, maka marilah kita berupaya mengisi kehidupan kita dengan baik dan benar, supaya nanti kita menjadi beras-beras yang berisi penuh dan akan dimasukkan ke dalam lumbung abadi milik Sang empunya Kehidupan.
Salam..cinta untuk alam SEMESTA
http://www.cintasemesta.org/
Minggu, 26 April 2015
Memasak, itu bukan hanya dunia perempuan..
Spiritualitas Memasak
Karena sesuatu hal,sebuah pekerjaan yang selama ini jarang aku lakukan, akhirnya “terpaksa” aku kerjakan. Pekerjaan yang sepanjang aku tahu,bukan wilayahku,karena aku laki-laki, dan juga perkerjaan yang kurang aku sukai. Memasak.
MASAKAN MASA DEPAN
Pagi itu, aku bangun pagi, hendak ke pasar untuk membeli bahan bahan memasak sayuran. Istriku telah membuat catatan apa saja yang harus aku beli. Jam 4 pagi,dalam dingin dan kantuk,aku ke pasar, sekitar 7km dari tempat di mana aku tinggal. Kecari apa saja barang yang dicatat istriku. Setelah kudapatkan semua yang ada dalam catatan itu,bergegas aku pulang. Dingin dan kantuk masih menemaniku dengan sangat akrab.
Sesampainya di rumah, segera kuracik bumbu, kusiapkan sayuran dan semua keperluan. Bawang merah, bawang putih,lada,garam,semua kusiapkan. Bahan-bahan itu berbeda,baik bentuk,aroma dan juga manfaatnya. Semua harus memainkan peran dan fungsinya masing-masing,harus memposisikan diri sesuai komposisinya masing-masing. Kemudian semua itu ditempatkan dalam satu tempat dalam waktu memasukkan bebeda-beda. Setelah beberpa waktu,diiringi aroma khas masakan itu, akhirnya selesailah seluruh proses memasak sayur pagi itu dan setelah semua selesai juga,akhirnya bisa di makan,bisa dinikmati.
Terasa enak,gurih,nikmat masakan yang telah matang itu. Rasa dari masing bahan tidak saling mendominasi,semua melebut menjadi satu aroma. Sedap.
Dalam kehidupan manusia ini, keberbedaan adalah sebuah kemestian. Semua berbeda dalam segala hal,dan semua tidak bisa hidup sendiri. Kehidupan bersama adalah sebuah kemestian. Nach, belajar dari spiritualitas memasak sayur, akan sangat indah jikalau masing-masing manusia mau meleburkan diri demi berjuang “menghadirkan” rasa sedap kehidupan bersama. Rasa yang bisa membuat orang lain merasakan senang dan terkagum. Namun sering manusia enggan mau meleburkan diri,enggan mau berkorban sedikit demi rasa yang sama. Semua sering malah berjuang mendominasi rasa,akibatnya, kacaupah rasa kehidupan bersama itu. Hidup terasa berat dan sulit.
Jika semua mau seperti bahan-bahan masakan itu,maka kesejahteraan bersama bisa dinikmati seluruh makluk denga sukacita. Masalahnya, banyak yang enggan mau meleburkan diri, semua ingin dominan dan mendominasi. Maka,belajar dari spiritualitas masakan,baik kalau manusia mau dalam hidp bersamanya saling menyatu da saling melebur.
Semua demi kesejahteraan bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Senen Wage 3 Juni 2019 BENINGE EMBUN ESUK dalijo in eksen Pangentasan 40:16-38 Jabur 29 Yokanan 15:26-16:4a “Nanging...
-
Selasa Legi 20 April 2021 BENINGE EMBUN ESUK Hosea 5 : 15- 6:6 Jabur 150 2 Yokanan 1 : 1-6 Mulane payo padha tetepungan lan mb...






