Sabtu, 30 Januari 2016

Kekuatan dari Minat

Kekuatan dari Minat Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Ketika saya memotivasi para mahasiswa di Ponorogo beberapa hari yang lalu, seorang mahasiswa bertanya pada saya: ” Kenapa Mbak Eni memilih untuk menulis, kok gak yang lain?”

Saya menjawab, karena bidang yang saya minati adalah menulis. (Karena banyak yang bertanya soal menulis, maka kolom selanjutnya saya membahas tentang menulis).

Ketika saya balik bertanya kepada mereka: “Apa bidang yang paling diminati sebagai bekal untuk hidup?” Kebanyakan dari mereka belum siap dengan pertanyaan saya. Hanya beberapa gelintir saja yang telah memiliki tujuan yang jelas.

Saat menjadi mahasiswalah saat yang paling tepat untuk menekuni bidang yang paling diminati. Masa menjadi mahasiswa adalah masa belajar dan berlatih sehingga ketika lepas kuliah diharap telah menjadi ahli di bidangnya. Nyatanya, kebanyakan dari mereka -yang mungkin bisa mewakili rekan-rekan mahasiswa dari perguruan tinggi lain- masih santai, sebagian lagi masih bingung. Hal ini dikarenakan oleh kondisi mereka yang belu
... baca selengkapnya di Kekuatan dari Minat Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

DUA CARA BERPIKIR

TERBUKA DAN TERTUTUP

Lawan dari kata terbuka adalah tertutup. Jika tertutup adalah sebuah keadaan yang mana semua akses terbatasi maka terbuka adalah sebuah akses yang tidak ada batasnya. Tertutup identik dengan kesendirian,ketidakmauan,keengganan dan keegoisan yang tidak mau memberi ruang untuk yang lain. Sementara keterbukaan adalah sebuah keadaan di mana kebersamaan, kerelaan,kesediaan berbagi menjadi bendara yang terkibarkan.
Terbuka dan tertutup,tidak saja berkenaan dengan benda namun juga berkenaan dengan keberadaan atau cara pandang/cara berpikir manusia. Cara berpikir yang terbuka akan selalu berupaya menempatkan semua keadaan sebagai buku yang harus di baca dan dipelajari untuk dipetik inti sari hidup yang baik. Cara berpikir tertutup adalah sebuah keadaan di mana yang dianggap benar adalah diri dan kelompoknya. Yang di luar diri dan kelompoknya adalah salah,dosa dan karena ini layak untuk dimusuhi.
Bagi orang yang bergaya pikir tertutup, melihat semua yang di sekitarnya adalah ancaman. Karena ancaman maka dia menutup diri,menjaga diri supaya tidak dipengaruhi oleh lingkungan,meskipun sejatinya dia selalu berjuang mempengaruhi lingkungan. Cara berpikir yang demikian ini menjadikan sebuah relasi yang kaku,kolot dan beku. Semua diukur dengan salah dan benar. Aku benar kamu salah!
Berbeda dengan cara berpikir terbuka, manusia yang memiliki cara berpikir terbuka akan terlihat lebih lentur dalam hidupnya. Lentur berelasi,lentur berkomunikasi, lentur melihat lingkungan. Cara berpikir demikian menjadikan rasa hidupnya renyah, lingkungan sekitar (apapun keadaannya) dijadikan sebagai guru kehidupan.baik dan tidak baik keadaan dipahami sebagai guru kehidupan.  Karena dijadikan sebagai guru kehidupan, maka seburuk apapun perlakuan dan pengalaman kehidupan selalu diterima oleh yang berpolapikir terbuka dengan sesungging senyum. baca juga..http://ppsetyasemesta.blogspot.co.id/2015/04/bukalah-pintu-kehidupanmu.html
Suatu waktu, saat Sang Guru Agung kembali ke kampung halamanNya, kemudian mengajar terjadilah pergolakan. Permasalahannya sepele, Sang Guru memberi contoh tindakan baik yang dilakukan oleh orang lain. Tindakan baik dan tercatat sejarah itu justru tidak dilakukan oleh kelompok atau sukunya,maka marahlah orang-orang di tempat itu. Mengapa mereka marah?Karena mereka berpikir tertutup, sehingga orang yang berbuat baik juga harus dalam kelompoknya, kalau bisa juga se-Agama dengannya.
Orang Indonesia juga sangat suka berpola pikir demikian. Kalau ada yang berbuat baik,mestinya yang sekelompok dan seagama dengan aku,jika tidak akan di doakan biar menjadi sekelompok dan seagama dengan aku. Cara berpikir demikian adalah racun yang berbahaya, virus ganas yang bisa mengancam keutuhan kehidupan bersama.
Nahhh, jika benar pikiran saya, bahwa cara berpikir tertutup itu membahayakan kehidupan, ayolah...kita membukanya biar lebih segar, pengetahuan dan pengalaman selalu baru..Bagaikan ruangan yang pintu dan jendelanya selalu terbuka,udaranya segar....segar..seperti pagi ini..
Catatan umum persiapan sermon esok pagi,


Jumat, 29 Januari 2016

AWASSS...ADA YANG CURIGA..

 PENJARA bernama CURIGA

Rasa ini sepertinya dimiliki oleh semua manusia,atau bahkan semua makluk hidup. Karena dengannya, Si Makluk hidup itu bisa memiliki sistem pertahanan diri dari kemungkinan ancaman dari musuh-musuhnya. Dengan rasa curiga maka setiap makluk hidup akan mencoba mengamati gerakan apapun yang ada  di sekelilingnya. Seekor Jangkrik akan berhenti mengerik manakala mendengar ada gerakan aneh di sekitarnya.
Pun demikian dengan manusia. Rasa curiga bisa membawanya pada dua situasi. Yang pertama, dia akan selalu waspada terhadap apapun kemungkinan ancaman yang mendekatinya, sehingga berhati-hati. Sewaktu merasakan ada hawa panas, maka manusia akan mencoba mencari tahu sumber panas itu dan jika sudah tahu, pastilah akan menghindarinya. Dengan demikian, amanlah ia dari ancaman sengatan panas itu.
Itu perihal curiga yang bernuansa positif. Lalu seperti apa yang bernuansa negatif? Nahh, ini dia. Jika manusia selalu berpikiran negatif, maka ia akan selalu menaruh curiga pada keadaan apapun. Ada orang ngobrol dicurigai bahwa mereka sedang membicarakan dirinya, lalu mendekat dan mencoba mengklarifikasi. Ada orang diam, dicurigai tidak mau diajak komunikasi dan bekerjasama.
Orang yang berpikiran negatif akan dikendalikan oleh perasaan curiga untuk selalu melindungi diri. Segala upaya dilakukannya, bahkan sering tidak manusiawi demi perasaan nyaman dan aman diriny dan kelompoknya. Curiga telah menjadi pakaian kehidupan manusia yang berpikir negatif. Semua dianggap salah dan menjadi ancaman untuk dirinya.
Perasaan curiga adalah baik, sepanjang dipakai manusia untuk menjaga dan melindungi kebaikan. Karena memang hidup  manusia dilengkapi dengan perasaan curiga. Saat melihat mendung, manusia curiga bahwa akan turun hujan, maka manusia akan mempersiapkan payung untuk menjaga dirinya. Kalau curiga dipergunakan untuk hal seperti ini,  baiklah keadaan yang terjadi.
Namun seringkali manusia menaruh rasa curiga dan dikalahkan oleh kekuatan curiga demi keselamtan dan kenyamanan diri. Dengan keadaan seperti ini,semua gerak alam adalah ancaman, sehingga manusia akan berupaya mencari seribu satu macam cara mencari tahu sedetail-detainya tentang hal-hal yang mencurigakan itu.
Jika curiga telah bertahta di dalam pikiran manusia, maka hakekatnya sebagai manusia semakin sirna. Orang yang dikuasai oleh perasaan curiga akan melihat yang lain sebagai musuh. Karena musuh maka semua gerak-geriknya perlu dipantau, perlu diawasi. Ini berarti hidupnya tidak bebas, manusia ada dalam penjara yang namanya curiga.
Nahh..siapa manusia yang normal dan sadar mau hidup di dalam penjara?Kalau ada itu berarti keanehan atau keajaiban. Namun realitanya memang ada. Demi perasaan nyaman dan aman, suami akan selalu mencari tahu tentang semua gerak-gerik istrinya yang tidak bisa dipantaunya setiap saat. Demikian halnya dengan istri, akan selalu mencari informasi tentang gerak-gerik suaminya. Nahh, yang seperti inilah yang dinamakan terpenjara di ruang curiga.
Orang yang dikuasai rasa curiga akan mengerahkan seluruh tenaga dan energinya demi kepuasan hasrat  sakit hatinya. Semua dicurigai. Hidupnya habis  hanya untuk memlihara curiga itu...kasihan dia..

Catatan malam setelah menyaksikan tindakan berdasar kecurigaan..

Salam 

BELAJAR DARI HEWAN YANG SEDANG BEREBUT

REBUTAN


SOLUSI INSOMNIA

Pagi ini, usai bangun tidur, berkemas sejenak kemudian membuka pinta tempat tinggal. Hal yang terlihat pertama saat membuka pintu adalah beberapa ekor anjing (Kiriq) yang berisik. Saling berdengus, saling mengejar, saling mengejar dan mencoba saling melukai. Usut punya usut, ternyata mereka sedang berebut. Mereka, si anjing-anjing itu, sedang berebut tulang.


Demi tulang yang menjadi makanan mereka (diantara makanan-makanan yang lain), anjing-anjing itu rela bertarung,rela bertengkar, rela berkelahi dan saling melukai. Mereka tidak peduli, bahwa diantara ‘lawan main’ itu ada kerabat,anak,adik atau siapa saja. Yang penting bagi anjing-anjing itu adalah memperebutkan makanan mereka.
Terkadang ada yang terluka,tercakar,ada yang tergigit dan kemudian sakit,sampai sakitnya dipenuhi dengan belatung karena tidak ada yang merawat. Itulah akibat kesenangan mereka, REBUTAN.
Terkadang, manusiapun dalam hidupnya juga memperebutkan sesuatu. Demi harta, harga diri, kenyamanan, kewibawaan,gengsi dan juga (bagi mereka KEBENARAN), manusia saling melukai. Tidak selalu dengan taring dan cakar seperti anjing-anjing itu, melainkan dengan perkataan,dengan hasutan,dengan persengkokolan. Demi haga diri, demi harta,demi kekayaan, manusia saling menusuk dan membunuh. Oiya, jangan-jangan anjing itu tidak saling membunuh dalam perhelatan REBUTAN mereka ya?
Jika diperhatikan di sekitar kita, polah tingkah manusia terkadang lebih menjijikan dibandingkan ciptaan yang lain, dalam hal REBUTAN. Demi kekuasaan, manusia rela menipu, bermunafikria,mengorbankan yang lain. Demi kekuasaan yang di dalamnya ada kekayaan, manusia rela menggadaikan harkatnya sebagai manusia. Bertindak bak artis di panggung atau di depan kamera, menangis dan meng-iba-kan diri. Manusia selalu rebutan apa saja. Rebutan pengaruh, rebutan waktu, rebutan kesempatan, rebutan kebenaran,
Di dalam mereka, si manusia itu, berebut, mereka lupa akan sahabat,sanak saudara, kerabat,rekan dan yang utama sesama ciptaan yang Illahi. Bagi yang sedang berebut, tidak sudi mereka mengalah karena bagi mereka, rebutan mengaku salah itu haram. Demi  REBUTAN sesuatu itu akhirnya banyak korban-korban. Ada korban perasaan,korban waktu, korban relasi, korban harta juga, namun manusia tidak segera sadar. Manusia seperti kehilangan jati diri sebagai manusia saat sedang bertarung demi REBUTAN sesuatu itu.






Oiya, sebentar...ternyata setelah tulang itu dikuasai oleh salah seekor anjing itu, mereka usai berebutnya. Beberapa yang ikut gelanggang rebutan tadi perlahan menyingkir,menjauh dan (mungkin) mencari yang akan mereka jadikan Ajang Rebutan lagi. Namun apakah manusia juga bisa diam setelah “tulang” yang diperebutkan itu dikuasai yang lain?TIDAK.
Manusia tidak mudah menerima kekalahan,meski benar-benar kalah. Manusia akan mencari seribu satu macam cara untuk membalas kekalahan itu. Tidak percaya?Lihat saja “Panggung Drama” bernama perpolitikan Indonesia, setelah tulang kekuasaan itu dipegang sang pemenang, yang lain masih sibuk saja mencari peluang merampas Tulang itu lagi.
Itu di ranah politik yang katanya boleh berbuat salah, lha di institusi agama saja juga lebih parah. Beberapa tahun belakangan, banyak sekali gereja berkonflik, atau dalam bahasa essei sederhana ini REBUTAN TULANG. Dan ternyata lebih mengasikkan daripada yang benar-benar rebutan tulang seperti pagi ini.
Mereka bertarung laksana babak final liga champions eropa, bertarung sampai titik darah penghabisan. Semua cara ditempuh,semua calan dilewati. Pembatas yang namanya pranata normatif tabrak, kasih dibongkar, relasi dipendam di makam kehidupan. Semua ditinggalkan, demi Tulang itu. Sampai kapan?sampai waktu yang tak termaklumi.

Saya jadi berpikir, jika saja kelak dikemudian hari, para anjing itu tidak berebut tulang, lalu mereka berdialog,bermufakat dan kemudian sepakat untuk berbagi waktu mendapatkan tulang, apakah manusia mau meneladani?Mbuhhlah...Yang jelas, saya mau mengantar anak ke sekolah dahulu...

Sampai nanti kawan..


SOLUSI SAKIT GIGI




Jumat, 22 Januari 2016

Cermin Moralitas

MEMBACA MASA DEPAN BANGSA DARI CARA MAKAN

Riuh suasana pesta di sebuah gedung yang terbilang megah untuk kota kecil nan sejuk ini. Dan seperti biasa, dalam sebuah pesta,kemewahan dan kemeriahan selalu menjadi hal yang utama. Ujung pesta adalah makan.
Seperti biasa, makan dalam pesta jaman sekarang semua sudah swakarsa,mandiri atau dalam bahasa populer prasmanan. Semua tamu undangan yang datang dipersilakan mengambil sendiri  semua menu yang tersedia. Iya, mengambil sendiri sepuas-puasnya. Jadilah yang hadir bergerilya mencari menu yang menjadi kesukaannya. Mereka mengambil sesukanya dan memakan senyaman mungkin. Bisa sambil ngobrol,sambil berdiri, sambil duduk dan seterusnya.
Setelah usai makan, biasanya mereka akan meletakkan alat makan senyaman mereka, jarang yang mencari tempat piring dan gelas kotor. Dan yang membuat perhatian saja tertarik adalah, adanya sisa-sisa makanan di tempat makan yang mereka tinggalkan. Ini yang ironis. Mengapa ironis?
Karena mereka yang hadir dan mengambil makanan itu atas kehendak sendiri, tidak diambilkan dan tidak dipaksa untuk makan. Namun toch, meski mengambil sendiri tetap saja tidak dihabiskan alias tersisa di tempat makan. Ini gaya hidup atau memang gagalnya mereka menggunakan logika dan rasa untuk bersikap?
Jika itu gaya hidup, gaya hidup model apakah yang menghambur-hamburkan makanan dengan seenak perutnya sendiri tanpa pernah berpikir dan merasa bahwa di banyak tempat yang lain masih ada saudara dan handai taulan yang sangat membutuhkan makanan?Yang demi sesendok nasi mereka mesti menunggu senja?
Jika anak-anak bangsa ini masih mempertahankan sikap dan tindakan demikian, akan seperti apakah bangsa ini dikemudian hari?mereka orang-orang dewasa yang tentunya tindakan mereka akan diteladani oleh anak-anak mereka, jadi jika orang tua saja masih bergaya hidup boros dan tidak menghargai makanan, jangan salahkan generasi muda yang juga boros dalam segala hal dan tidak menghargai banyak hal pula.
Dari tempat pesta itu, sejatinya masa depan bangsa ini bisa dibaca. Bisa dilihat akan seperti apa nasip negeri ini di kelak kemudian hari. Mentalitas boros dan tidak saling menghargai sudah tertanam dari semua tindakan.
Salam hangat

Doni Setyawan

PERJUMPAAN

 Memaknai Perjumpaan

Kehidupan ini diawali dengan satu kata, yaitu perjumpaan. Perjumpaan antara dua anak manusia yang kemudian saling membangun komunikasi,saling menjajaki dan kemudian saling memperjumpakan cinta mereka. Itu belum cukup, masih ada perjumpaan-perjumpaan yang lain. Salah satunya adalah perjumpaan antara sel telur dengan sperma yang dipakai Sang Illahi membentuk makluk bernama manusia.
Setelahnya, manusia akan menjalani kehidupannya dengan aneka macam perjumpaan. Perjumpaan yang langsung, perjumpaan tidak langsung, perjumpaan terencana atau sengaja maupun perjumpan tidak sengaja. Semua akan terjadi dan masalah makna, semua kembali kepada manusia itu, akan termaknai apa perjumpaan itu untuk hidupnya.
Perjumpaan selalu menghadirkan keindahan, karena denganya akan ada ruang untuk saling melihat, mendengar dan mungkin meraba antara satu dengan yang lain. Dengan berjumpa, maka sekat itu akan teruntuhkan. Bahasa tubuh atau gestur akan menolong dua subyek saling mengerti aksentuasi kata dan kalimat, yang dengannya akan segera merubah sikap dan tindakan.
Ini berbeda dengan model komunikasi yang lain, semisal komunikasi via media sosial,via surat,via HP dan yang lain. Dalam model komunikasi tanpa perjumpaan langsung ini, gestur dan aksentuasi tidak tertangkap,dan karenanya intepretasi bahasa komonikasi sering jauh dari tujuan semula.
Di sini penting mengerti dunia komunikasi, bahwa antara komunikan,komunikator dan bahan komunikasi perlu (paling tidak) sesuai dengan tujuan pada dirinya sendiri. Jika tidak ada perjumpaan langsung, apa yang terjadi bisa berbanding terbalik dengan yang diharapkan.
Sebuah perjumpaan adalah kemestian kehidupan. Kapan, di mana,dengan siapa itu buka persoalan, namun dengan mengupayakan memaknai atau memberi arti setiap perjumpaan, akan menolong manusia mengerti kehidupan ini dengan lebih dalam. Perlu dipahami juga, jika manusia sudah bisa mengunyah menu kehidupan yang  bernama perjumpaan ini, maka ia akan mampu berkomunikasi dengan apa saja.
Ingat, perjumpaan tidak harus dan hanya dengan manusia. Semua hal di maya pada ini bisa dan terbuka untuk dijumpai. Tinggal bagaimana manusia mampu memberi makna atas setiap perjumpaan itu. Dan juga, dalam setiap gerak dunia ini, sejatinya ada Sang Illahi yang bersedia dijumpai oleh siapa saja. Maka, ayo kita berjuang untuk saling berjumpa dan memaknai perjumpaan itu untuk kehidupan yang lebih baik.
Perjumpaan, selalu dinantikan jika itu memberi makna mendalam bagi pelakunya. Oiya, saya juga berharap lho, suatu waktu ada perjumpaan dengan seseorang yang saya harapkan...hehe
Selamat pagi..selamat berjumpa dengan apa saja dan selamat memaknainya untuk kehidupan

Salam 

Untukmu…

Untukmu… Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kulempar tas ke atas amben kamar, kusertakan diriku kemudian, meluncur, tanpa daya. Ku biarkan lelahku memudar, nafasku berangsur normal. Ku pejamkan mata, satu detik, dua detik, tiga detik, ah, tidak bisa!

Pikiranku masih terpenuhi bayangan wanita itu. Wanita yang baru saja membelai lembut pipiku yang kini basah oleh peluh, lembab oleh debu, yang mungin sebentar lagi akan tumbuh jerawat. Benar saja, karena sudah tiga hari ini malas rasanya membersihkan muka dengan facial foam, atau apalah namanya. Hhmmhh, siapa peduli? Biasanya wanita itu, wanita itu yang selalu peduli! Sebentar – sebentar bilang, “Sudah mandi? Jangan lupa pakai facial foamnya!”, “Rambutmu sudah mulai gondrong. Kau akan terlihat lebih tampan jika kau potong rambutmu!”, “Jambangmu sudah mulai lebat, apa tidak lebih baik jika kau rapikan?” dan bilang, “kau terlihat kurus bulan ini! Makanlah sedikit banyak! Jaga kesehatanmu!”

Oh, wanita itu. Sepertianya dialah satu – satunya manusia di dunia yang paling perhatian padaku, melebihi diriku sendiri. Wanita itu, yang kini terbaring lemah, sendiri di ruang serba putih itu, sepi
... baca selengkapnya di Untukmu… Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

FIKSI Di Malam PASKAH