Minggu, 09 April 2017

Belajar Dari Nyala Lampu Listrik



“Sudah berapa kalikah saudara mencoba, hingga berani mengatakan selalu gagal?”, Demikian sebuah Tanya diungkapkan sahabat kepada rekan yang lain terkait keengganannya mencoba usaha untuk menata kehidupannya.


“Aku sendiri belum pernah mencoba kawan, hanya cerita dari beberapa rekan serta sahabatku yang membuat aku yakin bahwa jika aku mencobanya pasti akan gagal”, Jawab rekan yang murung meratapi nasip hidupnya.

“Janganpernah mengaku gagal kawan jika engkau belum pernah mencoba”, Jawab sahabat yang nampak lebih matang dan dewasa itu.

Sering kita langsung mengatakan gagal atau tidak berhasil meskipun belum pernah mencobanya. Atau baru sekali mencoba dan gagal lalu mengambil sebuah kesimpulan. Ini adalah virus bahaya yang ganas, yang bisa melumpuhkan kehidupan dengan semangat yang dipudarkan. Setiap manusia memiliki perbedaan, juga tentang pengalaman. Dan banyak yang enggan mencoba namun langsung berkesimpulan bahwa apa yang pernah dialami orang lain akan menimpanya juga.


Manusia sering gagal meniti jalan proses dan dengannya manusia menjadi makluk malas tanpa kreatifitas. Mentalitas dan etos kerja lembek sehingga selalu pasrah dengan keadaan. Memperbaiki kehidupan bukan seperti menyalakan lampu listrik yang sekali pencet menyala. Namun harus mengerti proses pembuatan daya listrik. Dari air, generator, sistem dan kemudian berbagai mesin yang dipergunakan mengubah daya listrik menjadi nyala lampu.
Jangan pernah hanya melihat cepatnya lampu menyala namun pahami proses pembuatan daya listrik. Dengan demikian niscaya manusia akan siap berproses. Gagal adalah keindahan meniti proses. Dan nanti setelah merasakan keberhasilan maka akan menikmati nikmatnya keindahan. Tekunilah dengan semangat usaha apapun yang ada disekitarmu. Doa dan upaya menjadi sangat penting untuk proses ini.
Jika gagal sekali cobalah dua kali. Jika dua kali gagal maka lakukan kali ketiga dan seterusnya sampai berhasil, karena di dalam setiap proses ada kekuatan Illahi yang sedang bekerja. Berpikirlah proses membuat daya listrik dan jangan hanya berpijak dari nyala lampu setelah saklar dinyalakan.

Salam Sukses

Jumat, 07 April 2017

Mentalitas Kepiting

Saya mendapat istilah mentalitas kepiting ini dari sahabat sekaligus guru saya, mas Zaim Ukhrowi, pada tahun 1995. Ketika itu, ia baru baru pulang dari Philipina menyelesaikan kuliah S-2 di Asian Institute of Management. Meski ilmu ini sudah lama, namun masih terekam baik dalam benak saya. 
Mas Zaim memberikan ilustrasi kurang lebih begini: Coba Anda masukkan satu kepiting ke dalan satu keranjang, maka dengan cepat ia akan naik untuk keluar dari keranjang. Nah, sekarang masukan puluhan kepiting ke dalam keranjang itu. Apa yang terjadi? Saat satu kepiting akan naik maka kepiting yang lain akan segera menariknya agar kepiting tersebut tetap di dalam keranjang. Itulah mentalitas kepiting.

Banyak manusia yang memiliki mentalitas kepiting, ia akan "menarik" temannya untuk tidak naik kelas. Upaya menarik orang lain ini bisa dalam bentuk kata-kata yang menyindir atau menghalangi ketika temannya sedang bekerja dengan baik. Misalnya "tumben kamu semangat."  "Gak usah terlalu ngoyo, pinter goblok penghasilan sama." "Ngapain kamu semangat amat, emang ini perusahaan nenek moyang kamu." Dan kata-kata lain yang senada dan serupa.
Di dalam dunia bisnis jaringan, orang yang bermental kepiting sering disebut "pencuri mimpi" tugasnya menghalangi orang atau menarik orang yang mau tumbuh atau naik kelas. Sungguh sangat berbahaya apabila orang yang punya mentalitas kepiting ini seorang leader. Karena tugas utama seorang leader seharusnya adalah mengangkat dan memberdayakan anggota timnya bukan memghambatnya.

Seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan tentu pengaruh negatifnya sangat besar apabila ia memiliki mentalitas kepiting. Mengapa? Karena selain menggunakan kata-kata, ia bisa menggunakan kekuatan dan jaringannya untuk menghambat orang lain bertumbuh dan maju. Saya berharap, para pembaca tidak ada yang bermental kepiting, karena itu mengundang penyakit dan kebencian.

Adakah yang bermental kepiting di kantor Anda? Bila ada, segera ingatkan dan nasehati. Apabila tidak manjur, jaga jarak Anda dengan orang tersebut. Waspadalah, kepiting bisa "menjepit" Anda sewaktu-waktu.


dari sebuah sumber

Selasa, 04 April 2017

Kisah Burung Pung




"Di Laut Utara Cina," demikian awal dari kisah legenda ini, "konon ada seekor ikan bernama Kun yang panjangnya mencapai ribuan meter.
Ikan raksasa ini ini dapat berubah bentuk menjadi seekor burung yang bernama Pung, yang juga memiliki panjang ribuan meter. Ketika mengepakkan sayapnya mengarungi angkasa, sayap tersebut membentang seperti awan yang menutupi langit. Pung terbang mengarungi angkasa melintasi samudra: menuju Kutub Selatan
"Pung raksasa terbang menuju Laut Selatan, menggerakkan air dengan sayapnya yang luar biasa sepanjang tiga ribu kilometer, namun lebih dulu ia harus memutar angin menjadi tornado sampai mencapai ketinggian sembilan puluh ribu kilometer.

Perlu waktu enam bulan untuk mencapai ketinggian tersebut dan  hanya jika burung itu siap. Kini, hanya bentangan langit luas nan biru yang di belakangnya dan tak ada satu pun penghalang di depannya, Pung bisa langsung terbang ke selatan dengan leluasa.
Bagaimana para makluk berakal bisa membandingkan kemegahan semacam itu dengan kabut pagi, debu, dan makhluk-makhluk tak berarti?

"Bila airnya dangkal, tentu takkan mampu menampung sebuah kapal besar, tapi tuangkanlah air dalam cangkir pada suatu tempat yang dangkal, dan batang jerami pun akan mengapung seperti kapal.
Jika Anda menempatkan cangkir di tempat itu tentu akan tenggelam. Begitu pula, jika kurang hembusan angin maka ia takkan mampu membentangkan sayap raksasanya.
Hanya dengan ketinggian sembilan puluh ribu kilometer, baru tercipta ketinggian ideal untuk bisa menampung Pung.
Akhirnya Pung pun bisa mengawali perjalanan pentingnya.
Ketika seekor cicada (semacam jangkrik) mendengar kisah itu, ia berkata pada burung merpati, "Kalau aku bisa terbang, aku akan cepat hinggap di sebuah pohonelm. Kadang aku tidak dapat mencapainya dan malah terjatuh lagi ke tanah. Namun, aku selalu membuat kemajuan.

Tapi kenapa Pung harus berjuang keras lebih dulu untuk bisa melampaui sembilan puluh ribu kilometer, padahal dengan itu ia tak menciptakan kemajuan apa-apa sebelum memulai perjalananya ke selatan."
"Ketika seseorang terpaksa harus pergi ke hutan di dekat daerahnya dan akan segera kembali beberapa jam kemudian, ia tak perlu menyiapkan bekal makanan apa2.
Jika Anda berniat pergi ratusan kilometer jauhnya, mungkin harus menyiapkan bekal semalaman.
Dan jika harus pergi ribuan kilometer, ia harus menyiapkan bekal untuk tiga bulan. Apa yang bisa dimengerti cicada dan burung merpati tentang hal itu? Cicada tidak pernah merasakan musim semi atau gugur karena umurnya pendek."
Sama seperti Pung yang tetap berjuang keras untuk naik keatas tanpa mencapai kemajuan sedikitpun dalam meraih takdirnya, walaupun dicemooh oleh burung dan serangga lain, ia tetap mengepakkan sayapnya ke atas hingga pada ketinggian yang besar di atmosfer bumi.
Sementara burung2 kecil lainnya masih sibuk membicarakan ketololannya, ia berhasil membentangkan sayapnya dan terbang tinggi sekali tanpa kesulitan ke arah selatan dan akhirnya tiba di Kutub Selatan.

sumber:nomor1.com

Nyanyian Kesunyian Angkasa



Sisa hujan sepanjang sore masih nampak jelas di sekitaran rumah tempat tinggal kami. Semua tentang hujan pastilah ada hal yang basah, juga dengan malam itu. Dingin tiada terkira, seolah panah salju yang dilemparkan langsung ke tulang sunsum.
Dengan kaki tertatih karena sedang  bermasalah, kubuka pintu belakang tempat tinggal kami. Di tangga  agak sulit aku turun, selain rasa sakit yang masih mesra memelukku, juga licin serta gelap. Namun akhirnya aku bisa sampai ke ruang terbuka. 

Ada gemelap bintang di angkasa, takterhitung jumlahnya. Sebuah keajaiban semesta. Dan malam itu sungguh sangat sempurna, cerah langit menanda semesta berbinar. Rembulan tanggal 6 bulan Rejeb bergulirke balik daun duren di halaman sebelah rumah tetangga, sebelah barat sebuah gedung gereja tua.
Kembali kutengadahkan wajah, menikmati sempurnanya langit. Kurasakan semua bintang itu tersenyum, meskipun alam pikirku sadar, bintang tiada bermuka. Namun rasa, siapa yang bisa menepiskan?Sungguh semua bintang di angkasa itu tersenyum. Mereka seolah mengajakku menikmati nyanyian angkasa, nyanyian alam ya yang sepanjang masa selalu bersenandung indah. 
Mereka tanpa beban apapun juga, mereka ingin menikmati hidup. Hujan dan panas bukan urusan mereka, juga siang dan malam karena bagi mereka, sesungguhnya tiada pembagian waktu. Yang ada hanyalah menikmati hidup.
Dan malam itu,aku diajari nyanyian indah dari kesunyian. Ternyata dalam kesunyian malam, bintang-bintang dan penghuni angkasa, penghuni semesta selalu bernyanyi indah. Nyanyian merdu yang hanya bisa di dengar mereka yang merindukan keheningan.mereka yang merindukan kekayaan bendawi, niscaya tidak akan sanggup mendengar nyanyian keheningan semesta.

FIKSI Di Malam PASKAH