Minggu, 25 Desember 2016

Hari Terakhir Untuk Salma

Hari Terakhir Untuk Salma Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Hari ini cukup cerah, hari yang sangat menyenangkan untuk pergi ke sekolah. Namun tidak untuk salma. seorang gadis kecil yang imut dan lucu itu tak bisa bersekolah karena harus menjaga kakeknya yang sakit keras. Sebenarnya ia ingin masuk sekolah tapi ia tidak ingin kakeknya kenapa-napa. Jadi ia urungkan niat sekolahnya.

“salma, kamu tidak sekolah?” tegur sang kakek.
“tidak kek. Salma ingin jaga kakek.” jawab salma sambil mengusap air mata.
“kakek istirahat dulu ya?. Salma mau beli nasi uduk dulu.” Lanjut gadis kecil itu.

Salma pergi ke tempat penjual nasi uduk lalu membelinya dan pulang. Sampai di tengah jalan ada sebuah mobil menabrak tubuh salma. Aaakkkhhh!!!. saat itu juga salma pingsan. Pengemudi mobil itu segera turun dan melihat keadaan salma yang tergeletak di depan mobilnya dengan luka di bagian kepala dan tangan lecet-lecet.
“pa! gimana ini?” Tanya seorang wanita panik.
“sekarang kita bawa ke rumah sakit saja, ma?” tegas sang suami.
“ayo pa?!” ajak sang istri dan membukakan pintu mob
... baca selengkapnya di Hari Terakhir Untuk Salma Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Jumat, 23 Desember 2016

SODOKAN KARAMBOL PENURUNAN SUKU BUNGA

SODOKAN KARAMBOL PENURUNAN SUKU BUNGA Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

02 Desember 2006 – 07:27 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 0 / 0 votes) Serial News for Wealth

Dalam beberapa bulan terakhir kita dibombardir oleh berita bahwa Bank Indonesia tengah dan akan terus menurunkan suku bunga. Apa makna penurunan suku bunga ini bagi kita orang per orang?

Pertama sekadar sebagai latar belakang, kita perlu mengingat kembali mengapa Bank Indonesia harus menaikkan atau menurunkan suku bunga. Bank Indonesia melakukan hal itu dalam tugasnya sebagai pengendali moneter, termasuk di dalamnya tugas mengendalikan laju inflasi dan nilai tukar mata uang. Untuk mengendalikan inflasi, yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah mengatur jumlah uang yang beredar di masyarakat. Logikanya, semakin banyak uang yang beredar, maka kecenderungan belanja masyarakat akan meningkat. Kalau belanja meningkat, maka harga-harga akan naik. Inilah inflasi. Sebaliknya kalau jumlah uang yang beredar sedikit, maka masyarakat cenderung berhemat, dan karena itu harga-harga akan cenderung turun. Ini yang dinamakan deflasi.

Nah, bank sentral mengatur jumlah uang yang beredar dengan suku bunga. Suku bunga adalah besaran imbalan yang diberikan kepada pihak yang menempatkan sejumlah uang. Bank Indonesia mengendalikan uang yang beredar dengan dua suku bunga. Yang pertama adalah suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI adalah surat berharga yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, yang bisa dibeli oleh bank ata
... baca selengkapnya di SODOKAN KARAMBOL PENURUNAN SUKU BUNGA Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Tentang Cinta Dalam Kehidupan Kita

Tentang Cinta Dalam Kehidupan Kita Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“There is a comfort in the strength of love: ‘Twill make a thing endurable, which else would overset the brain, or break the heart. – Ada kedamaian dalam kekuatan cinta: ‘Mereka (cinta) akan menjadikan sesuatu berjalan dengan baik, dimana yang lain dapat menyebabkan pusing atau patah hati.” ~ William Wordsworth

Pada 23 November 2006 saya diundang dalam sebuah seminar motivasi National Achievers Congress 2006. Kebetulan dua di antara empat pembicara dalam seminar tersebut adalah teman lama saya, yaitu Happy S. Tjandra, penulis buku Motiv-8, dan Darmadi Darmawangsa, penulis buku Fight Like A Tiger, Win Like A Champion. Sedangkan dua pembicara yang lainnya adalah Tony Christiansen dari Selandia Baru dan Dwi Krismawan.

Materi motivasi dari pembicara terakhir yang saya sebutkan tadi benar-benar menginspirasi saya tentang peran cinta dalam kehidupan. Dwi Krismawan mengungkapkan bagaimana ia terbebas dari jurang keterpurukan dan berhasil menciptakan kehidupan yang penuh kebahagiaan. Cinta telah berperan sangat penting dalam kehidupannya.

Sebenarnya cinta begitu penting bagi siapa pun di dunia ini seperti tubuh memerlukan oksigen. Seorang filosof seperti Plato menyebutkan, “Siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita.” Ia menyatakan begitu penting cinta bagi kehidupan kita. Hanya saja selama ini kita tak cukup memahami pengertian cinta itu sendiri, karena cinta memiliki makna yang begitu
... baca selengkapnya di Tentang Cinta Dalam Kehidupan Kita Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Rabu, 21 Desember 2016

BELAJAR MERENCANAKAN DAN MENGATUR HIDUP



Malam hampir mengakhiri tugas abadinya. Gelap masih menguasahi alam semesta, kokok ayam jantan terdengar sesekali di kejauhan,memberi tanda, alam semesta hendak berganti rupa. Di ufuk timur, bintang pagi mulai menampakkan wujudnya, orang selalu bilang itu bintang kejora, meski ilmu pengetahuan mengatakan itu planet Venus. Siapa yang benar, entahlah,tidak usah diperdebatkan,tidak usah demo demo membela kebenaran sepihak..
Ingin usaha rumahan..semua ada si  SINI
Udara dingin masih sangat terasa, namun tidak bisa menepiskan keindahan pagi. Rembulan akhir bulan nampak malas di atas bukit barat daya kampung kami, sesekali nampak malu-malu menyelinap diantara daun-daun pohon duren. Tanah di jalan kampung kami masih agak basah,gerimis semalam meninggalkan jejeaknya,selah seperti manusia, selalu ingin dikenang..meski sejatinya gerimis tidak hendak minta dikenang.

Di dekat tikungan,dekat tempat pemandian umum, masih dalam remang, aku berjumpa dengan seorang bapak, usia paruh baya. Dalam remang pagi nampak tubuh kekarnya masih mampu menepiskan dingin udara pagi. Kami saling menyapa, dan kemudian aku tahu, bapak ini hendak ke kolam ikannya. Bapak itu hendak mengontrol keadaan kolam ikannya, mempersiapkan makanan ikannya serta membersihkan kotoran yang menganggu kolam ikannya.

Aku mengikuti hingga ke kolamnya dan keketahi betapa rapi dan menyenangkan kolam itu, meski masih dalam remang suasana. Dari perbincangan kami, sepanjang perjalanan dan sesaat kami duduk di gubug kecil di pinggir kolam itu, aku menjadi tahu, betapa kolam ikan milik si bapak itu, bukan sekedar kolam ikan, namun sebuah symbol kehidupan.
Jaman semakin melaju kencang, manusia semakin banyak dan semakin serakah. Berbeda dengan jaman lampau, saat semua masih tersedia dengan sangat banyak,sehingga saat butuh, tinggal mencarinya. Saat ini, ketersediaaan apapun di alam semesta ini semakin terbatas, dan kesadaran itu yang juga dirasakan si bapak. Dahulu kerjaannya mencari ikan di sela-sela pekerjaan pokoknya sebagai petani. Dahulu dalam hitungan jam, mencari ikan di sungai bisa dijadikan sandaran hidup. 

Namun lambat laun semuanya itu menghilang. Ikan semakin habis, baik karena banyak yang mencari juga karena cara mencari yang mencerminkan keserakahan manusia. Maka, bapak itu membuat kolam ikan..
Dengan kolam itu, ikan bisa ditangkarkan, bisa dipelihara, bisa diatur semuanya. Memang ada mosal awal yang cukup besar untuk membuat kolam, namun setelah kolamnya jadi,ikan-ikan banyak yang dipelihara,semua kebutuhan mulai bisa diatasi kembali. Tidak perlu seperti dahulu, saat hujan dan banjir, karena kebutuhan maka mesti mencari ikan,sekarang semua bisa diperkirakan,lbih aman dan mudah.

Ingin membangun Kolam Harapan? Klik  INI

Dari bapak pemilik kolam ikan, di pagi ini, aku belajar tentang kehidupan. Tentang keberanian mengambil pilihan, tentang ketekunan, tentang kecerdasan melihat situasi dan tentang semangat meniti kehidupan. Perencanaan hidup yang matang menandakan iman seseorang dan ilmu kehidupa bapak ini, perlu ditularkan kepada siapapun juga, demi kehidupan hari esok yang lebih baik..

Di ufuk timur, semburat merah pagi semakin napak jelas. Di ujung kolam, dekat dangau mungil nan sederhana, nampak bening embun menggelantung di ujung daun pisang. Pohon pisang yang subur, dua batang, yang satu sudah berbuah, menandakan harapan kehidupan yang menyenangkan.. Tiba-tiba semilir angina bertiup, agak aneh memang, di musim hujan, di bulan desember ini, ada semilir angina saat pagi..pertanda apakah ini?Akh..tidak usahlah dicari sampai pusing, diikuti saja langkah semesta ini..

Aku pamit ke bapak dengan senyuman persaudaraan yang sederhana.. diiringi gemerisik tetes embun di daun bamboo, aku melangkah kembali ke rumah..Tanah semakin jelas terlihat,karena terang semakin menguashi alam, mengusir gelap ke peraduan sementarana, karena saat senja nanti, gelap itu yang kembali akan berkuasa..
Rencanakanlah Kehidupan ini sebaik mungkin..

Selasa, 20 Desember 2016

KAFIR VERSI DALIJO bagian I



Dingin malam terasa menusuk tulang. Meskipun jam belum menunjukkan waktu terlalu malam, namun suasana dusun kecil itu semakin terasa sepi. Hanya suara air hujan menerjang dedaunan dan sesekali serangga hutan dan serangga malam mengisi panggung malam. Dalijo nampak sibuk menyalakan api di perapian khas dusunnya, warisan almarhum kedua orangtuanya. Hidup membujang, awalnya terasa berat dan aneh, namun kelamaan menjadi menyenangkan. Hidup dalam kemerdekaan yang sejati. 
Saat masih terengah menyalakan blarak untuk pemancing api,karena masih basah terkena air hujan kemarin lusa,mendadak pintu samping rumah pawonnya terbuka. Kemudian muncul Jamali, tetangganya yang juga sahabatnya. Jamali dan Dalijo tidak segera saling menyapa, Jamali langsung duduk di kursi kuno di ruangan dapur itu. Setelah duduk, menyalakan rokok andalannya, kemudian Jamali nampak mengambil gelas, mencari-cari sendok dan gulan. Kemudian membuka termos namun tiada menemukan apapun.

“Dal, renek banyu panas ya?”, Tanya Jamali dalam Bahasa Jawa yang sangat kental nuansa jawa ndesonya.

“Lha kamu itu nyawang apa enggak? Aku lagi ngurupne blarak,lagi mau ngrebus banyu. Nduwe mata mbok digunakne, jangan seperti mata walang. Melek dan merem sama saja”, Dalijo menjawab agak kesal.

“Ngono wae ngamuk Dal.. Jangan gampang marah, susah lakumu. Nanti cewekmu selalu kamu marahi, gondol butha lor kali”, Jawab Jamali, juga dengan nada mengejek, namun tidak membuat mereka bermusuhan.
Kemudian  mereka saling asyik dengan keasyikan mereka sendiri-sendiri. Dalijo segera menata nyala api di pawon dan menempatkan ceret yang warnanya sangat hitam. Sementara Jamali melanjutkan menimati sigaretnya sembari membolak-balik majalah Bahasa jawa, Panjebar Semangat. Sembari asyik mengurusi api dan ceret di tungku itu, setengah berguman, Dalijo  berkata, “Iki kok ceret ireng temen ta ya..ya..ngalahke raine Jamali”

“Walah..lha kok nggodok banyu  jik sempet nggarapi kancane, kaya awake kui putih-puitha Dal..”, Jawab Jamali dengan santai. Kemudian mereka melanjutkan keasyikannya, tanpa pernah saling terluka ataupun tersinggung, meski sering ungkapan-ungkapan mereka terasa menusuk perasaan. Mereka sudah saling mengenal, saling memahami sehingga tidaklah mungkin saling melukai. Karena menurut mereka, luka dan sakit itu bergantung dari yang merasakannya,bukan dari yang membuat luka itu.

“Dal, menurutmu pie, ini kan bulan desember, lha aku dapat undangan natalan. Aku jan-jane pengen ikut, wong sebagai wujud kebersamaan kita sebagai saudara dan sebagai sesame warga desan ini. Lha tapi kok menurut Lik Barjo,kalau aku ikut haram. Karena menurut Lik Barjo, kaum nasrani itu kapir. Pie Dal, kamu kan Kristen?”, Tiba-tiba Jamali melontarkan pertanyaan yang sangat serius.

Dalijo masih sibuk dengan air panas yang sudah ia seduh dengan gula batu dan kopi. Minuman damai mereka, dan biasanya sebentar lagi, Sareh, Panggah dan yang lain akan bergabung. Mereka setia, setiap malam berkumpul di rumah Dalijo, selain mencari kawan juga sering bercakap soal kehidupan.

“Jam, haram dan tidak serta kafir ataupun tidak itu, buka terletak pada benda atau peraturan. Namun terletak di dalam hati dan pikiranmu. Memang saat ini banyak yang mengatakan kami kapir, antribut perayaan agama kami haram dan kapir, namun apakah itu kehendak Sang Maha Kuasa?Bukankah semua diciptakan dalam keadaan baik? Kita manusia sering merampas hak Sang Maha Esa dengan kepicikan cara berpikir kita. Kita seolah lebih suci dan lebih berwenang dariNya. Padahal semua itu adalah kemunafikan”, Jawab Dalijo sembari menyalakan rokok andalannya.

Malam semakin sepi, sementara sahabat-sahabat mereka belum juga bergabung. Dalijo kemudian melanjutkan pembicaraanya.

“Ini Sareh,Maruta,Panggah dan yang lain belum nampak dan kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maka kita tidak boleh menuduh mereka tidak setia kawan,hanya karena sampai jam segini belum bersama kita. Kita harus memahami orang lain Jam… Tidak boleh kita menilai orang lain hanya dengan sudut pandang kita. Itu sombong, itu orang kemaki”
Jamali menagangguk-angguk,nampaknya mulai paham dan mengerti apa yang mesti dilakukannya. Kemudian, setelah menyertuput kopi buatan Dalijo sahabatnya, Jamali melanjutkan tanya.

“Dal, jadi kita dosa yang mengatakan kopar-kapir kepada orang lain?” Ungkap Jamali.
“Dosa dan bukan itu juga bukan hak kita. Kita tidak bisa mengatakan sesuatu dosa atau tidak hanya dari SUSUt..eh salah Jam, sudut pandang kita,kita harus paham alasan orang melakukan tindakan itu. Tuhanpun tidak pernah mengatakan ini itu dosa, manusia sajalah yang sok keminter, mengatakan dosa ataupun tidak.” Jawab Dalijo.

“Terus yang di tipi-tipi itu, menurutmu piye, kana da saudara seagamaku yang kaya orang meteng, buanyak lagi, sering seweping.sering maksa orang manut keinginan mereka, apa mereka berdosa Dal?”, Tanya Jamali. Saat Jamali hendak menjawab, pintu rumah depan terbuka…

Bersambung..

Senin, 19 Desember 2016

Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa

Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : 113 LORONG KEMATIAN

WULAN Srindi buka sepasang matanya yang sejak tadi dipejamkan. Tubuhnya terasa lemas, saat itu sudah tiga kali dia mendengar ada langkah-langkah kaki di depan pintu kamar, tempat di mana sekian lama dia disekap. Ini kali ke empat. Perlahan-lahan gadis murid Perguruan Silat Lawu Putih ini bangkit dari berbaringnya, duduk di tepi tempat tidur, memandang nanar ke arah pintu yang terkunci. Untung sebelum pergi manusia pocong yang membawanya ke dalam kamar itu mau berlaku baik melepaskan totokan. Tapi totokan tidak dilepas penuh, hanya dua pertiganya. Sisa tenaga yang ada hanya sekedar bisa menggerakkan tangan dan kaki. Tidak mungkin menggerakkan tenaga dalam atau menyalurkan hawa sakti, apa lagi menjebol pintu mencoba melarikan diri.

Perlahan-lahan Wulan Srindi melangkah ke pintu. Dia perhatikan keadaan pintu itu sejenak. Tidak dapat dipastikan apakah terbuat dari batu atos atau besi karena dicat putih. Pada daun pintu tepat di arah kepala ada sebuah lobang berbentuk kotak empat persegi. Tak diketahuinya lobang apa itu adanya dan apa kegunaannya. Wulan tempelkan telinga kiri ke daun pintu. Lagi-lagi dia mendengar suara langkah itu. Mungkin pengawal, pikir si gadis. Ketika untuk kesekian kalinya dia mendengar suara langkah orang, Wulan m
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 18 Desember 2016

TENTANG KEBERANIAN MENGHADAPI RESIKO PILIHAN HIDUP



“Ibukk….ujung jariku terluka.. berdarah..sakitt…!”, Teriak seorang gadis kecil, berusia sekitar 5 tahun, saat merasakan sakit dan perih. Ujung ibu jarinya, dekat kuku terlihat ada garah merah. 
 Ingin tampil cantik dan juga kaya?Ini  JALAN ITU

“Iya…Sebentar ibuk ambilkan obat merah dan alcohol”, Jawab ibu gadis mungil itu. Masih nampak wajah merasakan sakit dari gadis kecil itu. Kemudian ibunya melihat sumber rasa sakit yang dirasakan anak gadisnya. Ternyata, sumber nyeri dan sakit itu disebabkan oleh terlukanya bagian kulit dan kuku di ujung ibu jari gadis itu.

Gadis kecil itu, memang sedang menikmati manisnya buah rambutan. Dan karena diajari kemandirian oleh kedua orangtuanya, maka dia mencoba sendiri membuka buah rambutan itu. Kulitnya yang penuh duri lembek memerah menampakkan keranumannya. Dan untuk membukanya, dibutuhkan tekanan dari kuku jemari demi melukai kulit buah itu. Semua itu awalnya dilakukan dengan gembira, namun saat sakit dirasakan, rintih lembut yang terdengar.

“Tidak apa-apa lukamu nak..nanti ibu beri alcohol dan diberi obat erah biar tidak infeksi. Meskipun sakit namun kau telah berani membuka vuah rambutan itu nak, berani dengan jemari dan kuku-kukumu membuka kulit buah itu. Luka itu hal yang biasa,nikmati saja”, Ibu itu membersihkan luka anak gadisnya sembari memberikan kata-kata petuah sederhana, sesuai Bahasa dan nalar anak gadis itu. Sambil masih terlihat merasakan sakit serta perih, gadis mungil itu manggut-manggut, entah apa yang ada di pekirannya.

Resiko atau konsekwensi logis dari apapun pilihan hidup adalah kemestian. Semenjak semesta ini terbuka untuk didiami makluk hidup, hukum alam itu tidak pernah sekalipun ada yang mampu menaklukannya. Tidak juga kaum yang selalu menganggap diri suci dan merasa sebagai pewaruis “Dunia Indah” yang sering diteriakan sebagai surga. Tidak. Mereka tidak mampu merusak irama hukum alam.

Ketika orang memilih makan buah pete atau jengkol, maka resiko yang pasti akan dialaminya adalah kencing baud an mulut beraroma buah itu. Bisa jadi, teman atau sahabat serta orang di sekitar mereka akan berteriak atau paling tidak menyingkir, demi menghindari “Bau yang tidak senonoh” itu. Itulah resiko,konsekwensi dari nikmatnya pete dan jengkol.  Masih banyak lagi contoh yang bisa ditemukan, silakan pembaca menemukannya sendiri.

Perihal resiko inipun mesti dihadapi Yusuf, tunangan Maria. Saat mengetahui tunangannya hamil,dan ia belum menikahinya serta merasa belum “Mengapa-ngapain” tunangannya, Yusuf brhak menghindari tanggungjawab. Apapakh dengan menghindari tanggungjawab, tidak ada resiko?Ada. Yusuf mesti menghadapi kenyataan bahwa orang yang sangat dicintainya (mungkin lho ya  karena narasi Alkitab tidak ada yang memebri laporan tentang kisah cinta Yusuf dan Maria), akan sendirian menanggung derita,menerima makian serta hujatan ataupun sindiran. Yusuf mungkin aman secara tanggungjawab social-dengan membuat jumpa pers bahwa dia tidak melakukan apa-apa terhadap tunangannya-, namun nuraninya akan dikejar dengan tuduhan tidak bertanggungjawab. Dan pilihan itu tidak Yusuf ambil, dia memilih menikahi Maria tunangannya.

Apakah dengan demikian, menikahi tunanganya, tidak ada resiko?Ada, semua pasti ada resikonya. Resikonya adalah, mesti menjaga, melindungi, menghidupi tunangannya serta bayi yang ada di dalam kandungan tunangannya. Beratkah tanggungjawab itu?Persoalan berat dan tidak berat sejatinya tidak terletak pada obyek yang mesti dipikul,tidak terletak pada persoalannya, melainkan ada pada cara menyikapi persoalan itu.

Jalan Untuk merancang masa depan.. SIAPKAN ANAK ANDA

Yusuf menerima resiko dari pilihannya taat kepada Suara Tuhan yang ia yakini. Dan karenanya, dia mesti menghadapi berbagai “luka” disekitar menjalankan tanggungjawab itu. Bagaimana kemudian sikap dan tanggapan keluarganya,sahabat-sahabatnya, komunitas sosialnya,semua pasti ada yang bersikap negative terhadap pilihan Yusuf. Namun Yusuf tegar, apapun resiko dari pilihan hidup yang diambilnya, dia berani menghadapi. Itulah keteladanan, sebuah contoh keberaqnian mengambil sikap.

Pilihan hidup yang kita ambil tidak selalu tepat atau benar dalam ukuran trtentu, meski secara universal mengandung kebenaran yang tinggi. Namun, buka soal benar atau salah , melainkan sejauh mana kita mampu mempertanggungjawabkan apapun pilihan yang kita ambil. Keberanian mempertanggungjawabkan pilihan hidup yang kita ambil, itulah kedewasaan yang sesungguhnya.

Oiya..anak kecil tadi, gadis mungil berusia 5 tahun itu juga tidak kapok kok membuka sendiri buah rambutanitu..Nahh, anak kecil saja tidak kapok meski pernah mengalami luka, masak yang baca ini, yang pintar dan pandai serta sudah dewasa, sering kapok melakukan tindakan positif?Ayo bangkit..maju..jika ada yang pernah berusaha namun gagal, lalu kapok, jangan harap akan mengalami kebrhasilan.
Selamat Advent ke IV

FIKSI Di Malam PASKAH