Kamis, 11 Juni 2015

Pikiran Positif Menghasilkan Sesuatu Yang Positif..

Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus.Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.

Cara Berpikir Positif...KLIK INI SAJA
Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
  • Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel.Tetapi Pygmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini."
  • Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu".
  • Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, "Ah,sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu." Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion,yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.
Misalnya,
  • Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
  • Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
  • Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.
Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.
  • Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
  • Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur,akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
  • Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. 

PIKIRAN POSITIF 
Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu berorientasi pada diri sendiri maka selalu akan melihat yang lain sebagai rival,musuh, lawan yang mesti ditaklukan..

Maka, mari kita memulai dengan berpikir positif  dengan cara yang sederhana..
Salam Positif

Selasa, 09 Juni 2015

Tas Kecil dan Sebuah Kenangan Masa Silam



TAS KECIL
Pertigaan itu masih seperti saat beberapa tahun yang lalu aku ada di kota ini. Kota yang dahulu terkenal dengan kesejukannya, kota yang terkenal dengan toleransinya, kerukunan antar masyarakat yang sangat beragam. Lampu pengatur lalulintas itu masih seperti dahulu, dari arah Semarang langsung bisa lurus ke kota, sementara yang berbelok kanan,arah Solo harus bersabar menunggu giliran. Kulangkahkan kakiku menuju kampus yang masih cukup sejuk, sama seperti saat aku ada di dalamnya, pada sebuah waktu yang telah berlalu.

KLIK SAJA


Beberapa hal belum berubah di kampus ini,hanya beberapa bangunan ATM nampak semakin banyak dibandingkan saat aku dahulu di sini. Semilir angin kemarau siang ini cukup menolongku mengatasi  terik mentari yang ternyata sudah sepanas Jakarta,rambutku yang aku biarkan terurai berkibar dipermainkan semilir angin ini, kadang kusibakkan agar tidak menghalangi pandanganku. Rambut yang terurai ini mengingatkanku akan seseorang yang setahuku tinggal di sekitar kota ini, yang selalu memujiku saat melihat rambutku yang terurai begini.
Langsung aku menuju ke kantor administrasi dan kutunggu giliranku menyelesaikan urusan administrasiku. Beberapa karyawan masih aku kenal,meski mereka aku yakin sudah lupa dengan aku. Berisiknya masih sama dengan jamanku dahulu, beberapa mahasiswa asyik dengan Gadged dan alat komunikasi canggih lainnya, beberapa lagi duduk termenung. Aku merasa semakin panas di ruangan ini dan kemudian mencoba bergegas keluar, dan setelah itu aku tahu, mati lampu ternyata. Akhh, Listrik di kota ini, masih saja seperti jamanku kuliah dahulu, sering tiba-tiba mati sehingga mengacaukan semua nafas aktifitas kota ini.
“Bakalan lama nih urusan jika mati lampunya juga lama, padahal aku harus segera kembali ke kota metropolitan,pesawat terbang pukul 17.00.”. Kemudian kuputuskan untuk menuju kantin, yahh..kantin itu,tempat favoritku dahulu,pasti lebih sejuk,seperti namanya, Kantin Rindang.  Segera kuajak kaki ini menuju ke kantin itu,meski aku sendirian,karena memang ini sudah bukan duniaku lagi. Keluar ruang administrasi itu aku belok kiri, melewati deretan mobil-mobil yang sedang parkir, dibawah sejuknya pepohonan rimbun itu.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah bola yang bergulir tepat di arah langkah kakiku. Aku coba berhenti, kuambil bola plastik itu dan kumenunggu untuk melihat, siapa yang bermain bola plastik di area Kampus ini. Mana mungkin ada mahasiswa bermain bola plastik di siang hari seperti ini? Lamunanku sirna saat seorang bocah lelaki berlari sambil terengah, mengejar dan hendak mengambil bola plastik yang sekarang ada dalam penguasaanku ini.
“Astaga, sepertinya aku pernah melihat anak ini, namun di mana ya?Apakah aku pernah bertemu?Atau aku menjumpainya di sebuah mimpi?”hmmmm..
“Maaf tante, boleh saya minta bola itu?”Sapa anak itu santun. Usianya sekitar 7 tahun, hidungnya mancung,rambutnya kriwil. Sepertinya aku kenal atau setidaknya pernah melihat wajah anak ini, namun di mana ya?

SEHAT ITU MAHAL


“Oh, maaf, tante ngalamun. Ini bolamu ya nak?Kamu kok main bola di sini,kamu sekolah di mana?”Aku meneternya dengan beberapa pertanyaan. Dia diam, dan saat kuperhatikan dengan seksama, sepertinya aku pernah melihat guratan wajah yang sama dengan anak ini, tapi siapa,dan di mana?Bingung aku. Anak itu kemudian menerima bola yang kuserahkan, sambil berterima kasih ia mencoba hendak berlari, namun tanganku masih mencoba menahannya.
“Tante, aku mau main bola,juga takut adikku nangis nyari aku.., lepasin tanganku tante...”Santun sekali anak ini. Kemudian aku lepaskan dan entah mengapa, aku tiba-tiba mengikuti jalan di mana anak itu berlari kembali untuk bermain bola. Aneh, tiba-tiba aku seperti dihipnotis anak lelaki itu,anak berusia sekitar tujuh tahun yang seolah mengingatkanku akan sebuah waktu. Iya, waktu dahulu yang telah berlalu dan mungkin telah membatu. Dan kemudian kulihat, anak lelaki itu sedang bermain bola di halaman sebuah Playgroup, dan riang sekali aku melihatnya. Aku mencoba menghindari kecurigaan beberapa ibu-ibu yang sepertinya mengantarkan anak-anak itu bersekolah. Niatku ke kantin aku urungkan. Kuamati wajah anak laki-laki itu,dalam kesibukannya bermain bola, kuyup keringatnya,nada bercandanya,teriakannya,sepertinya aku sangat kenal.
Kucoba membuka ipad dari tas kecilku. Aku akan mencoba mencocokan wajah itu dengan sebuah gambar di dalam salah satu media sosial. Dan,,, Astaga..ternyata dia.....
Aku ingat waktu sekitar duabelas tahun silam. Waktu itu aku sadar, dia mencoba mendekatiku dan aku mencoba menjaga jarak, bukan berarti aku tak respek, aku hanya ingin mengetahui sejauh mana dia menginginkanku. Selama itu aku hanya tahu dari orang lain dan belum pernah terucap langsung, meski pada suatu waktu, dia mengungkapkannya kepadaku. Namun saat itu aku dalam keadaan bingung, pergumulan batin remajaku sepertinya menolak, meski jiwaku terdalam merintih dalam tangisan. Itu semakin diperparah oleh bujuk rayu sahabatku bahwa dia bukan terbaik untukku.
“Lho, tante kok masih di sini?Nunggu anak tante ya?Sekolah di sini juga?”Anak laki-laki itu memudarkan lamunanku, saat mendekatiku serta menyapaku. Dia sudah tidak bermain bola lagi, namun menuntun seorang anak perempuan berusia sekitar 4 tahun yang sudah usai sekolahnya di Playgroup itu. Gadis kecil itu merengek minta minum karena bekal minumannya tumpah terkena bola yang dimainkan kakaknya.
“Iya, eh, tidak, tante sedang nyari teman tante”Jawabku sekenanya.
“Lho, tante ki pie ta, katanya iya kok tidak?”, Anak laki-laki itu menyadarkan kekalutanku. Akhh, kecerdasan itu sungguh aku kenal.
“Dik, makanya lain kali hati-hati naruh tempat minumannya,biar tidak kena bola. Mas ga bawa uang untuk beli minuman”
“Sudahlah, jangan nangis, ayo tante belikan di kantin. Mau kan?” Aku mencoba menawari kedua bocah itu minuman dengan membelinya di kantin.
“Mau tante, tapi, saya tidak bawa uang”Jawab bocah laki-laki itu.
“Tidak mengapa, nanti Tante belikan. Oiya, kalian rumahnya mana,nanti pulang jalan kaki atau dijemput?,Sambil jalan dan menuntun tangan gadis mungil itu aku mencoba menyelidik.
“Rumahku jauh tante, nanti dijemput bapak. Sekarang bapak masih ada urusan, katanya rapat gitu. Bapak tadi bilang nanti jam setengah satu baru selesai”, Anak itu mejawab dengan cerdas dan lancar. Sekali lagi, persis dengan seseorang yang aku kenal dahulu. Aku menuntun gadis kecil itu, dan dia menerimaku seolah sudah kenal dalam waktu yang lama sekali. Waktu terlihat kepayahan, aku dengan cepat menggendong gadis kecil itu. Kurasakan ada sesuatu yang aneh merasuk dalam batinku. Anganku tiba-tiba melambung jauh ke waktu yang kuanggap telah membatu. Ke sebuah kenangan dan yang membawaku pada pilihan. Seandainya dahulu...seandainya waktu itu, nalar dan rasaku bisa sedikit berdamai, mungkin apa yang aku alami ini tidak hanya sekejab dan kebetulan, namun aku akan melakukannya selalu...namun....
“Tante aku jus tomat ya..adik milo saja”, Pinta bocah lelaki itu membuyarkan lamunanku yang kesekian kalinya.
“Iya, minta apa lagi kalian?Kamu nok (aku mencoba memanggil panggilan untuk anak perempuan), mau minta apa lagi?” Tanyaku.
Kemudian kami menikmati minuman dan makanan dalam canda dengan dua bocah yang baru aku kenal itu. Canda tawa mereka seolah memanggil kenanganku akan sebuah waktu yang telah berlalu. Kenangan akan harapan yang pernah terlontar dari mulut seseorang yang ternyata begitu dekat dengan kedua bocah ini. Kemudian, sambil mengamati dua bocah yang asik minum dan makan itu, kutanya nama mereka berdua. Dan ternyata benar. Tidak salah. Gadis kecil itu malah terlihat manja denganku saat kakaknya menggodanya, medekat ke arahku, dan segera kuraih tubuh mungil itu. Kudekap dengan erat. Kemudian aku memangkunya sambil menyuapkan beberapa makanan yang sudah ditunjuknya dan kubayar dengan lunas. Tiba-tiba dadaku terasa sesak,bukan desakan tubuh mungil gadis kecil ini, namun oleh sebuah luka kecil yang pernah kurasakan. Luka yang aku buat sendiri,bukan oleh siapapun, luka yang kubuat karena kearogananku, karena kesombonganku melihat sesuatu hanya dari kilasan pandang dan tidak mencoba melihat jauh lebih kedalam. Celoteh dua bocah itu tidak bisa mengusir sesak dadaku dan itu kemudian memanggil butir-butir air mata bening dari ujung pelupuk mataku. Segera aku mengambil tissue dan kuseka.
“Tante, mengapa tante nangis?”Apa aku salah?Maaf ya tante kalau aku salah”, Gadis kecil itu menyadarkanku. Buru-buru aku tersenyum, meski mungkin terlihat aneh dan kujawab sambil membelai rambut lembut gadis kecil itu.
“Enggak, tante tidak apa-apa”. Jawabku sekenanya. Aku tidak ingin melukai suka cita dua bocah ini dengan air mataku. Dan aku juga tidak ingin bercerita tentang apapun juga kepada keduanya. Biar aku sendiri yang menikmati semua ini.
“Tante, jam berapa ini?”, Tanya anak lelaki itu dan kemudian segera kulihat arloji di tangan kiriku. “Waduh, sudah jam setengah satu lebih nak,ayo kembali ke tempat yang tadi, nanti ayahmu mencari lho”.
“Kami memanggil bukan ayah Tan, tapi bapak”, Jawab anak lelaki itu polos. Akh,,,kembali teringat aku akan sebuah harap yang dikhayalkan oleh seseorang dalam sebuah malam saat camping bersama di sebuah liburan. Bahwa dia nanti tidak akan mau mengajari anak-anaknya memanggil selain bapak dan itu ternyata dijaganya dengan setia.
“Ooo..gitu ta, ya gapapalah, tante ngerti”, Sambil beranjak aku menjawab dan kemudian yang membuatku semakin terharu, gadis mungil itu meminta gendong. Aku menggendongnya menuju ke arah tempat anak kecil itu bermain bola. Namun tiba-tiba ada yang aneh, ada perasaan gemuruh di dadaku. Perasaan yang membuatku seolah sulit melangkah.
“Tante, ayo,jangan ngalamun!”, teriak bocah laki-laki itu. Aneh, sungguh berat aku melanjutkan langkah dan kemudian ingin kurayu gadis mungil itu berjalan sendiri. Dalam anganku akan ada sebuah hal berat yang akan kujumpai jika aku mengantarkan kedua anak ini. Aku tidak siap bertemu dengan bapak dari kedua bocah ini.
“Tante, ayo,,,pasti bapak sudah menunggu dan bingung mencari kami!”, Bocah lelaki itu menarik tanganku. “Nanti aku mau bilang ke bapak bahwa tante sudah membelikan kami minuman dan jajan”. Anak laki-laki itu menjelaskan. Kemudian berlari anak laki-laki itu ke arah awal dia bermain bola. Kemudian, gadis mungil itu ikutan melepaskan diri dari gendonganku dan berlari mengejar kakaknya. Lega rasanya batin ini untuk tidak bertemu dengan bapak dari kedua bocah itu. Namun, astaga...Tas ini.... Tas si gadis kecil itu masih aku bawa. Berarti....?
Kutata hati ini untuk mengantarkan Tas Kecil ini kepada Gadis kecil yang telah membuatku terhisap pada sebuah kenangan masa silam. Harapku, bapak dari kedua anak itu belum datang menjemputnya dan amanlah aku. Kebergegas menuju tempat kedua bocah itu, kulihat mereka tengak-tengok sepertinya mencari sesuatu, mungkin mencari bapaknya. Kudekati anak itu dan kuberikan Tas Kecilnya. “Nak, ini tasnya, kelupaan nanti kebawa Tante lho...”,Sambil memberikan tas kecil itu aku selidik ke segala arah mencoba mendeteksi agar tidak segera datang Bapak kedua bocah ini. Sepi dan aku merasa aman, segera kutinggalkan dua bocah itu meski agak tidak tega aku meninggalkannya sendiri menunggu bapaknya. Namun ini  jalan terbaik,aku tidak mau melihat perubahan dalam diriku jika bertemu dengannya dan itu dilihat anak-anak kecil itu. Biarlah mereka mengenalku dengan bersih dan tidak ada apapun yang membuat mereka kemudian  berbeda sikap. Kutinggalkan dengan menoleh ke arah dua bocah itu, tidak melihat ke arah depan.
Dan kemudian...
Dukkkk...aku menabrak sesuatu,kupandang sesuatu yang aku tabrak itu, Astagaaaaa.......
Bersambung..

10 KEMAMPUAN UNTUK SUKSES MENJALANKAN BISNIS DENGAN INTEGRITAS

10 KEMAMPUAN UNTUK SUKSES MENJALANKAN BISNIS DENGAN INTEGRITAS Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

02 Desember 2007 – 11:01   (Diposting oleh: Editor)

”Strategi bukan hanya perkara menjadi yang baik pada apa yang Anda lakukan-Strategi adalah perkara menjadi berbeda dalam hal apa pun yang Anda lakukan. ~Michael Porter Professor di Harvard Business School

Hampir sebagian besar orang lebih senang menjadi pewirausaha. Menjadi wirausahawan atau pebisnis dianggap cara yang paling tepat dan cepat untuk mencapai kebebasan waktu dan keuangan. Realitasnya memang sumber penghasilan orang-orang terkaya di dunia 74 persen berasal dari berbisnis.

Tetapi berdasarkan statistik, kurang dari 20 persen pebisnis berhasil melewati tahun ke-5. Sebuah pepatah bijak mengatakan, “Bukan soal menang atau kalah, melainkan bagaimana Anda memainkan bisnisnya.” Artinya memang tak mudah menjalankan sebuah bisnis, karena tak hanya butuh modal keuangan maupun mental, melainkan kemampuan agar dapat menjalankan bisnis dengan baik hingga mencapai sukses dan berintegritas. Berikut ini beberapa kemampu
... baca selengkapnya di 10 KEMAMPUAN UNTUK SUKSES MENJALANKAN BISNIS DENGAN INTEGRITAS Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Senin, 08 Juni 2015

Membuat Saluran Air lebih Bijaksana daripada mengangkut dengan ember selalu

Selamat pagi kawan,sahabat,saudara..
Semoga kalian semua baik keadaanya selalu....
tempo hari melalui web ini,saya memposting sebuah artikel sederhana namun penuh makna, yaitu filsafat membangun saluran air daripada mengangkutnya dengan ember selalu. Terkadang kita terlanjur apatis dengan segala hal yang sejatinya belum kita alami dan hanya mendengar dari cerita orang-orang yang belum pasti kadar kebenarannya. Semisal info bahwa dengan internet bisa menghasilkan,banyak yang mencibir, namun sejatinya mereka belum mencoba. Mencoba sebuah info,ide,pengalaman baru adalah kunci utama, kalau tidak percaya coba yang ini   http://uangvisitor.com/semesta, 
hanya dengan menghadirkan pengunjung saja ada tambahan penghasilan. Atau juga  program-program PTC yang bertenaran di dunia maya internet, semisal
Beberapa di atas hanya contoh dari sebuah pengalaman. Juga yang paling heboh ini http://donise305.vip.nomor1.com/
Intinya adalah mencoba dan dengan sadar menempatkan semuanya sebagai alat dan bukan sebagai Tuan atas hidup. Banyak juga yang mencibir bahwa itu hanya akal-akalan,karena masih tetap bekerja dan repot. Maka pertanyaannya adalah, adakah didunia ini penghasilan yang tanpa pekerjaan?
Semoga Bermanfaat..

Minggu, 07 Juni 2015

Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati

Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : KEMBALI KE TANAH JAWA

TUBUH SI NENEK BERGETAR KERAS, BASAH OLEH KERINGAT. RACAU DARI MULUTNYA SEMAKIN KERAS PERTANDA APAPUN YANG TENGAH DILAKUKAN PEREMPUAN TUA INI AKAN SEGERA MENCAPAI PUNCAKNYA. DALAM KEADAAN SEPERTI ITU MENDADAK DI UDARA PAGI TERDENGAR SUARA BERDESING. SATU BENDA HITAM MELESAT SEPERTI JATUH DARI LANGIT, MELAYANG TURUN DAN BLUKK! JATUH TEPAT DI PANGKUAN SI NENEK. SUARA RACAU SI NENEK LENYAP, BERGANTI DENGAN JERITAN KERAS. TUBUHNYA TERHENYAK JATUH KE BATU BESAR, LALU TERGULING KE BAWAH DAN TERJENGKANG DI TANAH. DI PANGKUANNYA SAAT ITU, SEOLAH LENGKET, MELINGKAR SOSOK SEORANG ANAK LELAKI BERUSIA SEKITAR DUA BELAS TAHUN, BERPAKAIAN HITAM, BERAMBUT JABRIK. "BOCAH JAHANAM! KAU YANG JADI GARA-GARA! KUBUNUH KAU!".



PERAPIAN telah lama padam. Dinginnya udara men-jelang pagi itu terasa semakin mencucuk. Di samping perapian tergolek bergelung sosok seorang pemu
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sabtu, 06 Juni 2015

Gadis itu membuka...

Wanita Kertas

Sebuah catatan kecil seorang wanita yang memiliki sifat seperti kertas, lembut dan penuh lekukan. sebuah cerita seorang wanita yang hidup sendiri tanpa ada 1 cinta pun yang ia punya saat ini, hingga suatu saat cinta itu datang dan membuat hidupnya berubah.
Suara hujan begitu berisik membangunkan gadis kecil yang tertidur pulas pagi itu, dia terbangun terbangun dari tempat tidur kardusnya, gadis kecil ini memarah kecil kepada hujan “hujan tolong kau basahkan tempat lain asal jangan rumah ku yang tak kuat menampung airmu hujan” ucap gadis itu dengan raut wajah sedih, gadis ini sempat menutup mukanya karena ia malu kepada hujan karena dia terlalu cengeng, gadis ini bangkit dari tempat kumuhnya menuju kolong jembatan mencari sisa botol minuman, mungkin gadis kecil ini haus, dan tidak lama dia mendapatkan botol air minum tetapi airnya hanya 1 tetes tidak pun membasahi lidah kecilnya, dia menangis dia membuang botol itu, dan dia tidak sadar bahwa botol yang ia buang bisa menampun air hujan, yang bisa ia minum untuk saat ini, dia melihat botol tadi itu tertampung air sampai penuh, dia berdiri dan berlari mengambil botol air, ketika dia meminum air itu dia mengucap syukur pada tuhan yang menurunkan hujan pagi ini “maafkan aku tuhan, ternyata hujan yang engkau turunkan begitu berarti untukku”.
Sekarang gadis kecil ini berjalan membawa tas karung berisi barang barang tak layak, setelah dia jalan dia menemukan buku buku yang terbuang berserakan, dia mengutip buku itu tapi bukan untuk ia jual melainkan dia ingin membaca buku itu, gadis ini tak sekolah bagaimana dia bisa membaca?, gadis kecil ini sungguh pintar, setiap hari dia pergi ke sekolah sekolah untuk mendengarkan guru berbicara, dia terlihat senang tapi teman temannya selalu mengejeknya meludahinya, dia begitu tertekan dia hanya ingin seperti mereka ingin sekolah dan ingin pandai membaca, dia pulang dengan wajah sedih, tapi pulang kemana?, dia tidak punya rumah, rumahnya sudah rubuh karena hujan tadi, dia juga tidak punya ibu apalagi ayah yang menjaga dan membelainya layaknya malaikat dalam hidupnya, terlihat dia membentangkan kerdus kecil sebagai alas tempat ia beristirahat malam ini.
15 tahun berlalu, gadis kecil ini bukan lah gadis kecil lagi tetapi dia seorang gadis remaja yang sangat cantik, dia mendapatkan sebuah beasiswa di jakarta, entah dari mana dia mendapatkan beasiswa, tapi sedikit ia bercerita, waktu umurnya 9 tahun dia pernah mengikuti lomba puisi perjuangan di depan presiden indonesia, presiden begitu bangga dengan anak yang membacakan sebuah puisi di depan dengan muka yang kusam tak pernah mandi itu, presiden menyuruh menteri pendidikan memberikan dia beasiswa SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi negeri, gadis itu terlihat berubah dia adalah seorang wanita dengan rambut panjang sebahu, matanya yang begitu indah dan alisnya begitu tertata, dia terlihat seperti anak pejabat, dia sudah mempunyai rumah, rumahnya begitu besar dia tinggal bersama adik angkatnya dan 3 wanita tua yang pernah menolongnya, sekarang dia kuliah di universitas indonesia fakultas sastra, dia menyukai buku, ia masih menjadi seorang gadis kecil, semangatnya untuk sukses begitu bergejolak, selain kuliah dia juga seorang yang bergelut dalam bidang bisnis, dia membuka toko permen di jakarta dan membuka 4 toko buku di jakarta selatan dan utara, dia begitu mensyukuri apa yang diberikan tuhan kepadanya waktu ia menjadi gadis kecil.
Malam ini gadis itu membuka.....silakan baca selengkapnya di...
http://goo.gl/in8rJh

Sebuah Keunikan..

Salon Spiderman

Peter Parker (Spiderman) kegirangan. Nomer togel yang ia pasang tembus. Gak tanggung-tanggung, 4 angka sekaligus. Dalam perjalanan ke tempat bandar untuk mengambil uang, ia terus berpikir mau dipakai untuk apa uang tersebut nantinya. Yang jelas, berhubung selama ini hidupnya serba pas-pas-an, kemungkinan besar ia akan menggunakannya untuk membuka usaha.
Setelah memutar otak, akhirnya Peter memutuskan, ia akan membuka usaha salon! Ya, salon potong rambut. Kebetulan saat ini sudah mendekati musim panas. Pasti banyak orang yang akan potong rambut agar tidak gerah, pikirnya.
Begitulah.
Tidak sampai seminggu salon yang diimpikan telah usai dibangun. Maklum, ia minta bantuan kepada Flash yang bisa bergerak secepat kilat itu. Salon itu ia beri nama “Salon SiLabi”, singkatan dari “Si Laba-laba Imut”.
Selain mempersiapkan peralatan-peralatan salon, Peter turut ‘menyesuaikan’ penampilannya. Karena ia tahu salon tersebut baru akan laku apabila Spiderman sendiri yang menjadi tukang potongnya, ia pun mengenakan kustom merah birunya. Ia juga membuat wig rambut panjang dari jaring laba-labanya, menatanya dengan tren 2010, dan mengenakannya. Gak lucu dong kalau ada tukang potong yang gundul.
Begitulah.
Salon SiLabi ternyata laku keras. Branding Spiderman ditambah dengan momen pembukaan serta lokasi salon yang tepat terbukti sebagai adonan kesuksesan yang tepat. Tidak kurang 100 pengunjung tiap harinya harus Peter layani. Dari yang sekedar ingin keramas, creambath, mengeriting rambut, potong botak, shaggy, hingga memanjangkan rambut (emang bisa?). Yang jelas, hampir setiap hari salonnya penuh sesak dengan pelanggan yang antri.
Suatu hari, Bruce Wayne (Batman) lewat di depan salon Silabi. Tertarik dengan kelarisan salon Spidey, otak bisnis Bruce mulai bekerja. Ia segera menghubungi Alfred untuk mengurus pembangunan salon potong rambut yang baru, dengan peralatan yang lebih canggih dan lokasi tepat di seberang salon milik Peter. Salon tersebut ia beri nama salon “Sikeli”. Singkatannya? Tentu saja, “Si Kelelawar Imut”.
Untuk memberi nilai tambah pada salonnya, agar dapat membajak pelanggan-pelanggan Silabi, Bruce tidak hanya mengenakan kostum Batman-nya. Ia juga memanfaatkan kepandaiannya untuk menciptakan robot pemotong rambut otomatis! Dengan robot ini, orang tinggal duduk manis di kursi, tekan tombol pilihan potongan rambut yang diinginkan, dan dalam 5 menit, langsung beres. Praktis kan? Supaya keren, Bruce memberi nama robotnya “RPRSKDSC v1.14254?.
Untuk mempromosikan salon barunya, Bruce......selengkapnya
di..http://nomor1.com/donise305....   http://goo.gl/394Pvf

FIKSI Di Malam PASKAH