Kamis, 22 Oktober 2015

Gak mau Antri? Apa Kata Dunia?

Gak mau Antri? Apa Kata Dunia? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Oleh: Pratama Puji

Antri? mendengar kata antri tentunya tak asing lagi di telinga kita, karena antri memang sudah biasa kita hadapi sehari-hari. Antri beli bensin, antri macet, antri naik lift, antri ketika di toilet, dan sebagainya. Rasanya aktivitas kita sehari-hari tak bisa dipisahkan dari antri. Nah yang menjadi pertanyaan apakah kita termasuk orang-orang yang mau antri?

Pada dasarnya antri bisa dikatakan ”sabar menunggu giliran”, memang hal ini bisa menjadi suatu hal yang menjemukan ataupun menyenangkan. Menjemukan karena kita memang tidak terbiasa antri/tidak mau antri, atau kita memang sibuk/sok sibuk. Namun kondisi ini bisa menjadi hal yang menyenangkan bagi orang-orang yang memang bisa ”menikmatinya”. Di situlah tantangannya. Seperti orang memancing, yang sabar menunggu ikannya dan strikeeee…

Dan dari situasi antri inilah, bisa dijadikan ajang mencari rezeki bagi orang-orang yang mampu memanfaatkan celahnya. Contohnya: calo STNK di samsat, pungli oleh oknum tertentu untuk mempercepat pelayanan publik, dan masih banyak lagi.

Melihat orang tidak mau antri, saya pun menjadi geregetan. Hal itu saya jumpai ketika mengurus surat pengantar di perusahaan pembiayaan untuk keperluan BPKB. Saya mewakili Bapak. Saya memang telat datang, jam 9 saya b
... baca selengkapnya di Gak mau Antri? Apa Kata Dunia? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 18 Oktober 2015

Senandung Indah Untuk Tiara

Senandung Indah Untuk Tiara Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Musik selalu menemani hari-hariku, ia menempati urutan nomor satu dalam hidupku. Menurutku ga ada musik itu pertanda ga ada kehidupan. Sayangnya suaraku tidak begitu merdu, bisa dibilang suaraku itu pas-pasan.
Tapi aku tetep nekad masuk paduan suara di sekolahku, karena ga ada ekskul lain yang aku suka selain paduan suara.

“Sekolah kita akan mengikuti lomba paduan suara tingkat regional, jadi kalian perlu latihan lebih keras dari biasanya, semangat anak-anak. Buatlah sekolah kita semakin berjaya.”
“Siapppp bu.”
Dia adalah ibu marina, guru kesenian dan pelatih paduan suara. suaranya bagus, dia Juga memiliki metode yang baik dalam mengajar, sehingga dia menjadi guru favorit anak-anak SMA 5.
“Tiara.”
“Iyah bu, hadir.”
“Bisa ibu bicara sebentar?”
Dag dig dug der rasanya. Saat bu marina memanggil namaku. rasa penasaran pun menyelimuti ruang batinku.
“Ara, kamu yang jadi dirijennya yah.”
“Kenapa saya bu? Suara saya tidak terlalu bagus.”
“Ini bukan permasalhan suara ara, tapi kamu memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Kamu mampu mengendalikan mereka, cuma kamu yang bisa.”

Hari itu entah kenapa aku merasa bunga-bunga yang layu itu bermekaran kembali. Anai-anai yang beterbangan itu pun seolah merekat kembali. Dan Suara burung itu
... baca selengkapnya di Senandung Indah Untuk Tiara Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sabtu, 17 Oktober 2015

Say Nothing Of Sorry and Love

Say Nothing Of Sorry and Love Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Jantungku tak henti-henti berdegup kencang. Lagi-lagi surat dari orang yang tak dikenal. Suratnya selalu berisi ancaman yang mampu membuatku bengong-bengong sendiri. Aku tahu aku punya pacar yang tampan kata orang dan pernah dekat juga dengan orang-orang yang cukup populer di sekolah. Tapi haruskah mereka senorak itu menanggapinya? dasar anak-anak lebay. Sepertinya mereka tak kan berhenti mengirim surat-surat itu sampai aku putus dengan pacarku. Ya mau bagaimana lagi, tak mungkin aku memutuskan hubungan hanya karena masalah seperti ini. Kalau aku putus dengannya, tentunya mereka akan tambah senang. Inilah jalan yang sudah kupilih selama setahun, tetap bertahan walaupun dengan berbagai tantangan. Aku bukannya takut dengan surat-surat itu, tapi aku risih aja. Untungnya aku selalu dilindungi teman-teman sekelas yang saling menyayangi. Dan tim basket yang salah satu anggotanya adalah pacarku, kayak orang penting ya dilindungi segala (LEBAY pisan).

Pagi ini begitu menguras tenaga, karena aku telat (lagi-lagi) akhirnya aku disuruh lari keliling lapangan yang kupastikan berukuran XXL (extra extra large) sebanyak sepuluh putaran. Aku lari sekuat tenaga menuju kelas. Aku rasa Pak darso sudah menerangkan materi
... baca selengkapnya di Say Nothing Of Sorry and Love Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 15 Oktober 2015

Kisah Seribu Kelereng

Kisah Seribu Kelereng Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Semakin tua, aku semakin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi bagiku yang pertama bangun di pagi hari, atau mungkin juga karena perasaan gembira sebab tidak perlu masuk kerja hari ini. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan bagiku.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku untuk bangun dan ke dapur untuk membuat secangkir kopi hangat. Apa yang bermula dari suatu hal biasa yang kulakukan di Sabtu pagi hari itu, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidupku. Beginilah kisahnya?

Aku putar channel radioku untuk mendengarkan suatu acara berita pagi, sambil menikmati kopi. Dan terlintas dalam sebuah bincang-bincang pagi, terdengar suara seseorang yang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara dengan seseorang mengenai teori ?seribu kelereng? miliknya.

Aku tertarik dan ingin mendengarkan lebih lanjut. ?Tom, sepertinya kamu memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup baik, tapi sangat sayang sekali kamu harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit dipercaya
... baca selengkapnya di Kisah Seribu Kelereng Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sabtu, 26 September 2015

Nasib di Langit

Nasib di Langit Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Pada jaman dahulu ada seorang Jendral dari negeri Tiongkok kuno yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan melawan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat lebih banyak.

Mendengar kondisi musuh yang tak seimbang, seluruh prajuritnya gentar kalau-kalau akan menderita kekalahan dan mati sia-sia.

Di tengah perjalanan menuju medan perang, Jendral itu singgah di sebuah kuil kecil. Ia sembahyang dan berdoa meminta petunjuk para dewa.

Sedangkan prajuritnya menanti di luar kuil itu dengan harap-harap cemas.

Tak lama kemudian, sang Jendral keluar dari kuil tersebut.

Ia berteriak pada seluruh pasukannya, “Kita telah mendapat petunjuk dari langit.”

Lalu ia mengeluarkan koin emas simbol kerajaan dari sakunya. Sambil mengacungkan koin itu ke udara ia berkata,

“Sekarang, kita lihat apa kata nasib. Mari kita adakan toss. Bila kepala yang muncul, maka kita akan menang. Tapi bila ekor yang muncul, kita akan kalah. Hidup kita tergantung pada nasib.”

Jendral lalu melempar koin emas itu ke udara. Koin emas pun berputar-putar di uda
... baca selengkapnya di Nasib di Langit Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Selasa, 22 September 2015

Hati-hati dengan Tindakan BAik



Awas, dibalik Tindakan baik sering ada bahaya !
Semnjak kecil kita senantiasa diajarkan untuk berbuat baik. Menolong sesama,memberi bantuan sesama saling menyapa sesama. Kita diajak untuk peduli satu dengan yang lainnya. Dan memang, akibat atau buah dari ajaran berbuat baik itu bisa terkristalisasi hingga dewasa,hingga kita berusia tua bahkan. Namun, benarkah berbuat baik itu selalu  berujung baik?Benarkah bertindak baik itu senantiasa mengasilkan buah yang baik pula?
Alkisah, di sebuah desa, ada satu keluarga yang sudah menikah dan belum memiliki anak hingga usia pernikahan mereka hampir 9 tahun. Bisa dibayangkan kegundahan mereka, dan sewaktu mereka kemudian diberi anak (Teologi Anugerah), mereka sangat berbahagia,mereka senang bukan kepalan. Hingga tiba saatnya lahir anak itu. Saking senengnya, maka diadakan syukuran, semacam bidston untuk sanak saudara, tetangga dan handai taulan. Namun masalahnya bukan di sini, namun saking senangnya mendapatkan momongan, keluarga ini justru teramat sangat hati-hati memperlakukan anak mereka, hingga senantiasa digendong. Bahkan hingga usia yang semestinya mulai belajar berjalanpun anak ini masih saja digendong,diemban oleh keluarga itu dengan alasan takut jatuh, takut kena pecahan kaca,takut nabrak pintu dll. Semua “Tindakan Baik” kedua orangtua si anak itu berakibat fatal, si anak menjadi lambat pertumbuhan fisiknya. Disaat anak-anak seusianya sudah bisa brmain dan berlarian. Ia belum bisa berjalan karena terlalu seringnya digendong oleh orangtuanya.
Tindakan baik orang tua diatas menghasilkan bencana bagi si anak. Dan sepanjang  sejarah peradaban manusia di dunia ini, narasi kehidupannyapun juga sering ditandai dengan “Tindakan Baik” yang berujung petaka bagi yang lain. Atas nama kemuliaan bangsa Arya, Hitler memusnahkan Etnis Yahudi, Atas nama kejayaan Republik Indonesia, berapa ribu jiwa dihempaskan Soeharto? Sekarang ini, ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) membunuh, menyiksa dan memperkosa warga di Irak dan Suriah. Mereka melakukannya atas nama agama. Mereka mengira, perbuatannya adalah perbuatan baik untuk agama dan bangsanya. Pola yang sama ditemukan di kelompok teroris Islam radikal Boko Haram di Nigeria Utara. Mengapa Semua ini bisa terjadi?
Semua bisa terjadi karena orang yang (merasa) sedang berbuat tidak memiliki  kejernihan berpikir. Kejernihan berpikir di sini berarti, mencoba melihat segala sesuatu masalah dengan jelas dan utuh, tidak hanya sepotong-sepotong. Tidak bisa hanya demi kasih sayang karena 9 tahun tidak memiliki anak lalu menggendong terus anak yang seharusnya  sudah bisa berlarian. Biarkan saja anak belajar berjalan dan berlari, JATUH dan LUKA itu bagian dari pengalaman hidup.
Sebuah nasehat dari Enomiya-Lasalle, Zen Master dari Jerman, mungkin perlu diangkat demi menolong kita melihat apa itu kejernihan, Enomiya-Lasalle, mengatakan bahwa kejernihan hanya mungkin, jika orang sudah memahami jati diri sejatinya. Jati diri sejati terletak sebelum segala bentuk pikiran, bahasa dan konsep. Seluruh ajaran filsafat, mistik dan agama di seluruh dunia mengajarkan kita untuk menyadari jati diri sejati kita sebagai manusia. Sayangnya, kita lebih terpaku pada ajaran moral dan ritual, daripada jati diri sejati kita sebagai manusia.
Seringkali kita sudah merasa benar saat mendengar jeritan minta tolong orang dan kemudian menolong dia/mereka. Di sini kejernihan tidak diajak bicara,tidak dilibatkan. Ini semua terjadi karena di dalam konsep berpikir manusia hanya dipenuhi dengan “Yang penting menolong”. Menolong itu baik, namun melihat masalah dengan lebih jelas dan jernih juga sangat penting. Sama dengan kasus di atas, menggendong anak itu tidak salah,dan juga tidak ada pidana,karena itu baik, namun akibat dari selalu menggendong itu adalah petaka bagi si anak itu sendiri. Mencampuri urusan orang lain  mungkin baik, namun dengannya ada ruang yang hilang batas demarkasinya, sehingga bias semua.
Kembali ke ajaran Enomia-Lasalle, sebagai pertimbangan berpikir kita, berbuat baik itu ada empat kategori. Berbuat baik secara fisik seperti memberi bantuan saat ada yang (merasa) terluka dan tersakiti, yang kedua bertindak baik dengan memberikan inspirasi pada orang lain untuk mandiri. Orang lain memperoleh inspirasi, supaya ia lalu bisa bekerja sendiri. Ia juga bisa memotivasi dirinya, ketika keadaan menjadi sulit. Ia menjadi api bagi dirinya sendiri untuk berkembang.
Yang ketiga adalah berbuat baik dengan menjelaskan kepada orang lain hakekat sesungguhnya dari kenyataan yang ada. Artinya, kita mengajarkan kepada orang lain tentang kebenaran dari kenyataan sebagaimana adanya. Kita tidak menipu mereka dengan ajaran maupun konsep yang terlihat indah, namun palsu. Dengan kata lain, kita memberikan “kebenaran” kepada orang lain.
Yang keempat, dan tertinggi, adalah berbuat baik dengan menjelaskan fungsi yang tepat dari segala sesuatu kepada orang lain, sehingga orang lain bisa menggunakan segala hal yang ia punya untuk menolong semua mahluk. Di dalam tradisi Zen, ini disebut juga jalan Bodhisattva. Orang tidak menolak apapun. Orang menerima segalanya, termasuk hal-hal yang dianggap jelek oleh masyarakat, dan kemudian menggunakan semuanya untuk menolong semua mahluk.
Dari pemaparan yang diangkat Enomia di atas, jelas bahwa kita sering hanya terpaku pada kategori pertama, bertindak baik secara fisik. Dan itu bisa berakibat kategori dua sampai empat musnah. Kita berbuat baik tanpa berjuang memberi inspirasi,kita menolong tanpa tujuan memberi penjelasan, persis seperti seorang bapak yang menggendong anaknya yang menangis karena bertengkar dengan temanyya, lalu marah-marah kepada anak tetangga, padahal sejatinya anaknya yang salah. Si Bapak memiliki pamrih, yaitu puas dan anaknya ada dipihak yang benar, sebagai korban. Jika kita berbuat baik mash dengan pamrih, artinya kita manusia yang belum selesai dengan diri sendiri.oleh karenanya,jangan BERBUAT BAIK dulu, akibatnya berat, gaswat bin medeni.

 


Kamis, 17 September 2015

Dia Ibuku

Dia Ibuku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Seperti biasa ketika aku sedang dilanda masalah yang berkaitan dengan urusan hati atau lebih suka ku sebut dengan perasaan, aku akan duduk di atas atap genteng rumah yang bewarna hijau lumut dan melamun disana. Melipat kedua kaki di dada dan memeluknya erat. Ku goyangngkan tubuh ke depan dan ke belakang. Aku yakin bila ada seseorang yang melihatku pasti akan mengira aku sedang ditiup angin. Hal itu di karena tubuhku yang kurus dan kecil. Bolehkah aku menggantinya dengan kata imut? Kata ‘kecil’ rasanya terlalu tidak aku sukai untuk sebutan fisikku.

Kembali ke cerita awal bagaimana aku bisa terdampar di atas genteng dan memandangi sekumpulan wanita disana yang mengelilingi gerobak si Mamang penjual sayur keliling di desaku. Aku melihat mereka tertawa, dan suara yang paling aku kenali adalah suara ibuku. Yah, beliau disana berkumpul dengan teman-temannya dan bergosip. Membicarakan masalah suami-suami mereka atau membicarakan anak-anak mereka. Saling menebar kesombongan dan keangkuhan. Aku benci saat-saat seperti itu. Aku benar-benar benci, karena ajang pamer kehebatan masing-masing akan membawa dampak bagiku.

Bagaimana caranya?

Ku beritahu kau, itulah alasan aku berada
... baca selengkapnya di Dia Ibuku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

FIKSI Di Malam PASKAH